23 September 2015

Literasi Batu Api

Sejak tahun 1999, di Jatinangor telah “menyala” sebuah kantong literasi yang bernama Batu Api. Perpustakaan yang didirikan oleh Anton Solihin ini tidak hanya menyediakan buku, namun juga media film dan musik. Meskipun hadir di pinggiran Bandung, namun karena konsisten dan tegar sampai hari ini, “semerbak” Batu Api sampai dan terus mewangi ke se-antero Bandung Raya.
Sejak dibuka sampai hari ini, di Batu Api telah tercatat sekira 5 ribu anggota, dan yang aktif masih berjumlah ratusan. Dengan biaya pendaftaran yang hanya Rp 15,000.-dan satu buku yang dipinjam berbiaya Rp 3,000.-, bagi pengunjung, harga tersebut relatif murah. Dalam seminggu, rata-rata ada 30 pengunjung yang meminjam buku-buku koleksi Batu Api. Dan setiap pengunjung itu rata-rata meminjam dua buku, jadi dalam seminggu kurang lebih ada 60 buku yang singgah di ruang baca para anggotanya.
Buku-buku yang tersedia di Batu Api terdiri dari sejarah, humaniora, komunikasi, sastra, dan banyak referensi lainnya. Jam bukanya dari hari Senin sampai Sabtu, dan buka dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore.
Karena bukan hanya buku yang tersedia di sana, maka perpustakaan yang dikelola oleh Anton Solihin ini, mengadakan juga pemutaran film. Hal ini dilakukan sejak tahun 2001; sekitar lima film dalam sepekan, dengan beragam tema dan berganti-gantian.
Pada tahun 2011, ketika pemimpin Republik Demokratik Rakyat Korea, Jenderal Besar Kim Jong Il meninggal, perpustakaan yang terletak di Jl. Raya Jatinangor No. 142A, yang kemudian oleh pengelola dan para pengunjungnya disebut sebagai Jl. Pramoedya Ananta Toer, sempat mengadakan pemutaran film-film Korea Utara sebagai bentuk simpati dan duka cita.
Seperti yang pernah diliput oleh sebuah laman daring--gresnews.com, film-film tribute itu di antaranya; “Pulgasari” (1985, film monster favorit Kim Jong Il), “President Kim Il Sung Met Foreign Heads of State and Prominent Figures” (1970), “Pyongyang Concert” (2008, yang menceritakan bagaimana New York Phil. Orchestra memainkan fol song tradisional arirang di depan 1500 elite ibukota Korea Utara), dan sebuah film documenter berjudul “Inside North Korea” (2006).
“Film-film ini dapat ditonton gratis dan juga pemutaran musik tradisional Korea,” tutur Anton.
Koleksi film di batu Api sendiri, selain yang diputar pada acara tribute tersebut, ada juga film-film Iran, Perancis seperti “Bande A Part” karya Jean Luc Godard, “Jules and Jim” karya Francois Truffaut, atau film dari Robert Bresson, Jacques Tati, Jem Renoir, dll. Sementara film-film Indonesia yang tersedia di antaranya “Bandung Lautan Api” (Alam Surawidjaja), “Kabut Sutra Ungu” (Sjuman Djaja), hingga “Secangkir Kopi Pahit” dari sineas terkemuka Teguh Karya. Iran, dll. Di beberapa sudut ruangannya tertempel poster-poster promosi festival film asing.
Waktu novel best seller karangan Habiburrahman El Shirazy yang berjudul “Ketika Cinta Bertasbih” (2007), diadaptasi ke dalam film di tahun 2011, dan respon pasar sangat bagus terhadap film tersebut, Batu Api mengadakan pemutaran film dunia Islam yang diproduksi negeri-negeri Islam di berbagai pelosok dunia. Di antaranya seperti film “Xala” besutan Ousmane Sembene dari Senegal, “Father was Away on Bussines” film Yugoslavia berlatar Bosnia, film Mesir buatan tahun 1958, dan film “And Life Goes On” dari Iran, besutan tahun 1992.
“Selain memutar film Islami dari negeri sendiri seperti ‘Ketika Cinta Bertasbih’, kami juga ingin tunjukkan bahwa ada juga film islami lain dari luar negeri yang juga bagus namun sulit diakses," jelas Anton.
Setiap selesai pemutaran film, para penonton yang hadir kerap tergerak untuk mendiskusikan apa yang baru saja mereka tonton. Seperti yang diungkapkan Anton Solihin kepada annida-online.com, ia menerangkan, “Diskusi akan terjadi alami saja, habis nonton pasti gatal pengen ngomong, mengapresiasi dan menangkap apa yang diibrahkan."
Untuk musik, koleksi yang tersedia, selain nomor-nomor populer, juga tersedia musik etnik yang “aneh” dari berbagai suku tertentu yang relatif sulit ditemukan di tempat lain.
Meski terletak di daerah kampus, yang artinya banyak diakses oleh para mahasiswa, namun Batu Api pun kerap dikunjungi oleh ibu-ibu rumah tangga dan para buruh. Karena mulanya “dunia baca” di Jatinangor dan sekitarnya hanya didominasi oleh warung rental komik, maka kehadiran Batu Api benar-benar menjadi sebuah alternatif yang menarik.
Enambelas tahun perjalanan Batu Api dalam berkhidmat pada dunia buku, film, dan musik—yang Anton Solihin berjaga di garis depannya, tentu adalah sebuah aset berharga bagi perkembangan dunia literasi di tanah air. Apresiasi patut diberikan bagi seorang “die hard” seperti ini. Kehadiran Anton di gelaran Frankfurt Book Fair 2015, tentu bukan untuk berbangga dengan apa yang telah ia kerjakan, namun sebuah kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan para pegiat literasi dari berbagai penjuru dunia.

Batu Api, sebagai sebuah perpustakaan “keras kepala yang terus menyala”, barangkali bisa menginspirasi banyak orang. Pendar semangat dari sebuah pojok kota legendaris itu (Bandung), akhirnya akan sampai juga di Frankfurt. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai