23 September 2015

Kami Tidak Mengarahkan Buku-buku Tertentu Kepada Penerbit Luar

Jelang Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di perhelatan Frankfurt Book Fair (FBF) bulan Oktober mendatang, beberapa buku karya para pengarang Indonesia menarik perhatian penerbit luar negeri, khususnya Jerman. Ada 18 buku sastra yang diterjemahkan dan hak ciptanya terjual. 16 di antaranya diterjemahkan ke Bahasa Jerman, dan 3 di antaranya ke lebih dari satu bahasa. "Pulang" karya Leila S. Chudori ke dalam Bahasa Jerman, Belanda, dan Italia. Lalu "Lelaki Harimau" karya Eka Kurniawan ke dalam Bahasa Jerman dan Italia. Sedangkan "Amba" karya Laksmi Pamuntjak diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman dan Belanda.
Husni Syawie, Ketua Komite Penerjemahan yang dibentuk untuk mengoptimalkan kesempatan menjadi tamu kehormatan di FBF 2015, menjelaskan bahwa hampir semua buku yang akan diterbitkan para penerbit luar tersebut terkait (langsung maupun tidak langsung) dengan program penerjemahan FBF yang disubsidi pemerintah. Namun ada beberapa buku yang jauh-jauh hari sudah dilirik para penerbit luar, seperti novel "Amba" dan "Pulang".
Untuk buku-buku lain, proses komunikasinya rata-rata hampir bersamaan dengan hadirnya program penerjemahan yang disponsori pemerintah, walaupun Komite Buku dan Komite Penerjemahan tidak mengarahkan penerbit luar kepada buku tertentu.
“Saya tegaskan, kami selaku Komite Buku dan Penerjemahan tidak mengarahkan buku tertentu kepada para penerbit luar. Proses komunikasi antar penerbit sampai selesainya urusan copyright berjalan sewajarnya,” ujar Husni.
Komite penerjemahan, kata Husni, hanya membantu memfasilitasi program penerjemahannya. Syaratnya, karya tersebut sudah dibeli copy right-nya oleh penerbit luar negeri. Pembelian copy right-nya bisa langsung kepada pengarang dan penerbit Indonesia yang memegang right, atau melalui literary agent.
Husni melanjutkan, Komite Penerjemahan mempunyai daftar buku rekomendasi sejak tahun lalu, tapi itu hanya pengantar bagi penerbit asing untuk memilih buku Indonesia yang bagus. Pada dasarnya, program pendanaan/subsidi penerjemahan karya Indonesia memfasilitasi buku Indonesia apa saja yang dibeli hak ciptanya oleh penerbit asing, baik ada dalam daftar rekomendasi atau pun tidak. Dengan demikian, buku apa yang dibeli hak bahasanya, maka berhak mendapat dana penerjemahan. Pendeknya, kata Husni lagi, buku apa yang hendak diterbitkan oleh penerbit asing diputuskan seratus persen oleh penerbitnya itu sendiri.
Meskipun program penerjemahan berperan penting dalam menghubungkan antara penerbit luar dengan penerbit lokal, namun sebetulnya komunikasi antar penertit itu sendiri sudah terbangun sebelumnya. Jadi untuk beberapa buku, Komite Nasional bukan yang mula-mula menjadi penghubung antar penerbit. Komite Nasional juga tidak hendak serba mengklaim bahwa penerbitan karya-karya Indonesia melulu karena agenda Frankfurt Book Fair 2015 ketika Indonesia didapuk sebagai tamu kehormatan. Keberhasilan novel Eka Kurniawan yang lain, “Cantik Itu Luka”, yang edisi Inggris-nya diterbitkan oleh New Direction dengan judul “Beauty is Wound”, misalnya, bisa dibilang tidak terkait program penerjemahan yang disubsidi pemerintah.
Ihwal buku-buku yang berhasil menarik minat para penerbit luar Husni menjelaskan bahwa hal itu bukan soal promosi semata. Mereka juga pasti mempertimbangkan kelayakan buku-buku tersebut, bukan hanya secara mutu kesusastraan, tapi juga kelayakannya untuk bersaing di pasar Jerman dan luar negeri.
“Saya yakin, para pelaku perbukuan itu tentu sudah mempertimbangkan mutu dari buku-buku yang hendak mereka beli copyright-nya,” sambung Husni lagi.
Kepada Andy Budiman, ketua Komite Media, Barbara Weidle dari penerbit Weidle Verlag mengutarakan hal senada. Keputusan Weidle untuk menerbitkan dan men-Jerman-kan novel Leila S. Chudori, “Pulang”, juga semata karena pertimbangan mereka sendiri, yang mengambil keputusan secara independen tanpa diarah-arahkan oleh pihak Indonesia.
“Kami memilih karya Leila melalui riset dan agen,” kata Barbara, di Koln (29 Juni 2015).
Untuk meningkatkan perhatian publik dunia terhadap buku-buku karya penulis Indonesia, tentu akan sangat riskan jika hanya mengandalkan perhelatan Frankfurt Book Fair. Di titik ini pemerintah, penerbit, dan para pengarang Indonesia mesti mempunyai agenda yang jelas. Husni sendiri mempunyai beberapa pendapat ihwal kondisi ini.
“Saya kira sekurangnya mesti ada lima poin yang harus dikerjakan oleh kita untuk mendongkrak perhatian publik dunia, diluar acara FBF ini. Pertama, mambentuk Komite Nasional yang menyeleksi buku-buku bermutu yang berpihak kepada pasar internasional. Kedua, penerbit harus menerjemahkan buku-bukunya ke dalam Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Ketiga, lakukan promosi dengan cara mengikuti beberapa event buku internasional seperti; Bologna, New Delhi, Tokyo, dll. Keempat, harus membangun website yang kokoh secara pengelolaan sebagai sarana interaksi, promosi, dsb. Dan yang terakhir harus mengadakan event buku internasional di Jakarta.”
Peluang Indonesia di kancah perbukuan internasional sangat terbuka. Khusus untuk pasar Eropa, Husni memprediksi bahwa buku-buku fiksi masih mendominasi. Sedangkan untuk genre lain kemungkinan akan lebih terserap oleh pasar Asia dan Timur Tengah. “Untuk genre non fiksi; kuliner, fashion, dan buku anak, saya kira akan menarik pasar juga,” tambahnya. [irf.]
Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai