23 September 2015

John Mc Glynn dan Usaha Menerjemahkan Indonesia

Jelang Frankfurt Book Fair 2015 isu tentang penerjemahan buku, terutama buku sastra Indonesia ke dalam bahasa asing ramai diperbincangkan. Dengan bantuan pemerintah lewat dana subsidi penerjemahan, beberapa buku sastra para pengarang Indonesia akhirnya berhasil diterjemahkan ke bahasa asing. Ini adalah capaian yang akan memperkenalkan karya-karya pengarang kita ke publik luar.
Namun jika melihat ke belakang, kerja penerjemahan karya sastra Indonesia sesungguhnya bukanlah hal baru. Yayasan Lontar, yang didirikan oleh Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, serta John McGlynn, telah melakukan penerjemahan terhadap ratusan karya sastra Indonesia.
John McGlynn, nama asing dari ke empat orang tersebut punya peranan penting dalam penerjemahan karya sastra Indonesia selama ini. Mula-mula, ia sebetulnya mahasiswa Fakultas Seni dan Desain di Universitas Wincosin, Amerika Serikat. Tahun 1970-an, ia tertarik dengan wayang kulit yang diperkenalkan oleh seorang gurunya di kampus. Pada perjalanannya, ketertarikan itu membawanya sampai ke Indonesia.
Setelah tiga bulan tinggal di Malang, ia kemudian pindah ke Jakarta untuk lebih mendalami bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Indonesia. Di sini ia kemudian bertemu dengan Sapardi Djoko Damono, lalu dimulailah persentuhannya dengan beberapa sastrawan Indonesia yang lain.
Pada acara temu penulis, penerbit, dan Komite Nasional baru-baru ini, ketika ditemui John menjelaskan mula persentuhannya dengan kerja penerjemahan.
“Sebenarnya, awalnya bukan karena sastra tapi seni. Dan saya sendiri adalah dalang, dalang Amerika. Saya suka wayang kulit, dan bagaimana untuk mendalaminya? Saya harus datang ke sini. Lama kelamaan bisa fasih bahasa Indonesia. Kemudian sering diminta untuk menerjemahkan,” tutur John.
Sekali waktu di tahun 1985, ketika Sapardi Djoko Damono terpilih menjadi pemenang SEA Write di Thailand, ia diminta oleh penyair tersebut untuk menerjemahkan kumpulan puisinya. Mengingat waktu itu buku sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing sangat minim, maka ia bersama beberapa sastrawan Indonesia yang lain, kemudian mendirikan Yayasan Lontar pada tanggal 28 Oktober 1987. Tujuan pendirian yayasan ini adalah untuk menerjamahan karya sastra Indonesia sekaligus mempromosikan sastra dan kebudayaan Indonesia ke dunia luar.
“Kami menanyakan kenapa sampai sekarang tidak ada lembaga yang dibiayai pemerintah, untuk menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa asing. Di seluruh dunia banyak negara-negara yang punya lembaga penerjemahan atau lembaga yang dibiayai oleh pemerintah untuk mempromosikan kebudayaan melalui sastra. Tapi karena di Indonesia tidak ada lembaga seperti itu, jadi Sapardi, Goenawan, saya, dan Subagio Sastrowardoyo kemudian mendirikan Yayasan Lontar,” terangnya.
Sampai sekarang, setelah 28 tahun perjalanannya, Yayasan Lontar telah menerjemahkan sekira 200 karya Sastra Indonesia ke dalam bahasa asing, dan peran John sebagai penerjemah--meskipun ia bukan penerjemah tunggal, tidak bisa dipandang kecil. Ia telah sering menjadi “pintu gerbang” bagi karya-karya Sastra Indonesia untuk masuk ke dalam pergaulan internasional untuk diapresiasi secara luas.
Ihwal proses penerjemahan karya para pengarang Indonesia ke dalam bahasa asing, John menjelaskan bahwa hal tersebut tidaklah mudah. Sebagai contoh, ia sendiri butuh waktu sampai 18 bulan untuk menerjemahkan “Pulang” karya Leila S. Chudori.

Ia menambahkan bahwa secara teknis menerjemahkan karya sastra relatif lebih sulit, sebab si penerjemah mesti punya rasa bahasa. Jika hal itu tidak terpenuhi, John mengatakan bahwa buku yang bersangkutan akan dianggap remeh meskipun aslinya bagus.

Kini pada perhelatan Frankfurt Book Fair, ia pun ikut berkontribusi dengan mendukung Komite Nasional dalam mempersiapkan Indonesia yang menjadi tamu kehormatan. Ibarat sayap, John lagi-lagi bersiap membawa karya-karya sastra Indonesia untuk terbang jauh ke dunia luar, berkeliling menyinggahi ruang-ruang baca publik dunia. Dan Oktober nanti, sayap itu akan hinggap di Frankfurt. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai