23 September 2015

Di Frankfurt, Singa pun Akan Tertawa di Rumah Kopi

Dalam khazanah sastra Indonesia, banyak cerita pendek yang ditulis oleh para penuturnya dengan kelihaian berkisah yang beragam. Sebagian kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku kumpulan cerita pendek. Dalam rentang waktu yang cukup panjang, pada perjalanannya banyak cerita pendek yang berhasil merebut perhatian khalayak pembaca; baik pembaca umum maupun para kritikus sastra.
Sekadar menyebut contoh, berikut beberapa buku kumpulan cerpen yang kehadirannya tidak hanya memperkaya sastra Indonesia, namun juga berhasil menohok para pembacanya; “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” karangan Idrus, "Percikan Revolusi" karangan Pramoedya Ananta Toer, “Robohnya Surau Kami” dari A. A. Navis, “Godlob” karya Danarto, “Orang-orang Bloomington” karangan Budi Darma, sampai “Rumah Kopi Singa Tertawa” buah tangan Yusi Avianto Pareanom, dan masih banyak lagi.
Dalam ajang Frankfurt Book Fair 2015, ada beberapa cerpenis yang karyanya akan ikut hadir di sana, salah satunya adalah Yusi Avianto Pareanom. Kumpulan cerita pendek dari penulis yang mengelola Penerbit Banana itu, berasal dari karya-karyanya dalam kurun waktu 1989-2011.
“Rumah Kopi Singa Tertawa” sendiri seperti layaknya keriuhan interaksi di tempat-tempat ngopi, terdiri dari cerita-cerita yang beragam, seringkali tidak memiliki tema yang saling berkait, dan dikemas dengan gaya bertutur yang menarik.
18 kisah yang semula bertebaran di berbagai surat kabar ini, dari “Cara-cara Mati yang Aduhai” sampai “Hukum Murphy Membeli Orang-orang Karangapi”, semuanya menampilkan kelihaian si penutur dalam mengolah segala informasi yang diterima, lalu diendapkan, kemudian terlahir kembali dalam wujud cerita.
Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Anwar Holid (seorang editor dan penulis), Yusi menjelaskan tentang karyanya:
“Cerita-cerita itu bermula dari apa yang saya lihat dan baca, atau dengan kata lain pemantiknya adalah keseharian yang berlangsung di depan mata, ataupun peristiwa besar yang terjadi di belahan dunia sana, yang bisa saja terjadi sekian puluh tahun yang lalu.”
Cerita-cerita Yusi, oleh sebagian pembacanya kerap disebut absurd, ajaib, dan mempunyai selera humor yang aneh. Terkait hal tersebut, Yusi tidak membantahnya, namun ia menambahkan bahwa yang paling dibutuhkan dalam bangunan cerita fiksi adalah logika yang baik dan jelas.
Kepada Idhar Resmadi (penulis beberapa buku musik dan budaya populer), Yusi bertutur, “Premis cerita dibuat ajaib itu boleh, sepanjang ada logikanya. Kalau tidak begitu, cerita akan wagu atau nggak jelas.”
Buku kumpulan cerita pendek Yusi ini hadir di tengah situasi sastra koran kontemporer yang cukup menggembirakan. Jika kita menyambangi surat kabar edisi Minggu, setiap pekannya hampir semua koran, baik nasional maupun daerah, menyediakan ruang untuk rubrik sastra, dan cerita pendek mendapatkan tempatnya yang cukup lapang. Di ruang ini, selain para penulis lama masih terus produktif, juga melahirkan para pencerita baru yang kerap hadir dengan ide-ide segar, dan percobaan gaya bertutur yang patut disimak.
Dalam kondisi seperti inilah, cerita-cerita Yusi yang dihimpun dari kurun 1989 sampai 2011, dan terhimpun di buku “Rumah Kopi Singa Tertawa”, dengan segala pilihan tema dan gaya bertuturnya —meskipun secara publikasi seolah tak terlalu hirau--salah satunya adalah untuk menjadi semacam pembanding bagi karya serupa yang lahir dalam tahun-tahun yang kurang lebih berdekatan.

Sementara bagi publik luar, khususnya Jerman, kedatangan karya Yusi dan juga buku-buku cerita pendek karya para pengarang Indonesia yang lain, lengkap dengan informasi kelahiran dan perkembangannya, barangkali bisa menegaskan tentang sastra Indonesia yang memang beragam. Ya, ia tak melulu novel dan puisi, namun ada juga cerita pendek yang ikut menghidupkan denyut nadi sastra Indonesia.[irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…