23 September 2015

Dengan Puisi Aku ke Frankfurt

Dalam riwayat dunia sastra di Indonesia, terjadi "pembelahan" beberapa periode yang menandai lahirnya generasi pengarang dan penyair baru. Hal itu ditandai peristiwa yang menjadi pembabakan riwayat perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Sebagai contoh, angkatan 66 adalah periode yang lahir dari masa transisi peralihan kekuasaan dari pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru.
Salah satu penyair yang lahir dari angkatan ini adalah Taufik Ismail. Ia yang sekarang telah menginjak usia 80 tahun ini, di Frankfurt nanti, termasuk penyair yang akan hadir dengan membawa karya-karyanya.
Taufik telah melahirkan beberapa buku puisi, dan karyanya dikenal masyarakat secara luas. Hal ini, selain karena puisi-puisinya memang banyak tersebar di beberapa buku pelajaran sekolah, juga karena ia bekerjasama dengan grup musik yang melagukan beberapa puisinya, terutama dengan Bimbo. Langkah musikalisasi puisi ini kemudian banyak juga dikerjakan oleh grup-grup musik terhadap puisi-puisi para sastrawan Indonesia yang lain.
Hari Jum’at, tanggal 14 Agustus 2015, ketika ditemui di gedung Kemendikbud pada acara pertemuan antara penulis dan Komite Nasional Frankfurt Book Fair, ia menunjukkan selembar catatan tentang sejarah penerjemahan karya-karyanya ke dalam berbagai bahasa asing. Ia orang paling tua yang datang di acara tersebut, namun juga salah satu yang datang paling awal, sangat amat tidak terlambat, jauh lebih tepat waktu ketimbang para pengarang lainnya (yang lebih muda) yang banyak datang belakangan.
Berikut riwayatnya:
Tahun 2013 dan 2015, sejumlah puisinya diterjemahkan ke Bahasa Bosnia oleh Prof. Ferid Muhic dan Edin Hadzalic dengan judul “Prah na Zrnu Praha”. Lalu masih pada tahun 2015, diterjemahkan ke Bahasa Prancis oleh Prof. Etienne Naveau dengan judul “Cendres sur Cendres”. Terjemahan ke Bahasa Belanda oleh Prof. E. P. Wieringa dengan judul “Stof op Stof” dikerjakan juga pada 2015. Sedangkan terjemahan ke Bahasa Arab oleh Prof. Nabilah Lubis dengan judul “Turab Fauqat Turab” dilakukan pada 2013.
Riwayatnya tidak berhenti sampai di situ, karena masih pada 2015 sejumlah puisinya diterjemahkan pula ke Bahasa Farsi oleh Prof. Vahed Semnani dan Bastian Zulyeno, Ph.D. dengan judul “Khak rouy-e Khak”. Terjemahan ke Bahasa Jerman diberi judul “Staub auf Staub” dikerjakan Prof. E. P. Wieringa dan Carsten U. Beermann juga pada 2015. Tahun 2013 pernah juga diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Prof. Amin Sweeney dengan judul “Dust on Dust”.
Satu buah puisinya yang berjudul “Dengan Puisi, Aku” diterjemahkan ke 80 bahasa asing pada 2015 dengan diberi pengantar oleh Prof. Victor A. Pogadaev.
Tahun 1966, ketika demo-demo mahasiswa menentang rezim Orde lama mencapai titik didihnya yang paling panas, Taufik Ismail melahirkan “Tirani” dan “Benteng”; dua kumpulan puisi yang berhasil merekam suasana di sekitar peristiwa tersebut.
Waktu mahasiswa Universitas Indonesia tewas dalam sebuah bentrokan dengan aparat keamanan, Taufik Ismail menulis puisi yang lirih dan murung, puisi yang mengantar jenazah dari almamaternya itu diberi judul “Salemba”.
“Almamater, janganlah bersedih / bila arakan ini bergerak perlahan / menuju pemakaman / siang ini. / Anakmu yang berani / telah tersungkur ke bumi / ketika melawan tirani.”
Keberhasilan Taufik merekam setiap cemas dan cekam yang terjadi di sekitar demo dan bentrok para mahasiswa dengan alat negara, juga keresahan masyarakat yang dihimpit situasi ekonomi yang tak pasti, membuat penyair ini cukup ikonik, setidaknya untuk periode 1966.
Di sekitar 1998, ketika akhirnya Orde Baru tumbang, Taufik pun kembali membuat beberapa karya yang menjelentrehkan kondisi kehidupan berbangsa yang sudah keropos di berbagai sektor. Ya, di luar karya-karyanya yang lahir di beberapa titimangsa lain, namun ia lagi-lagi hadir di tahun-tahun ketika bangsa ini berada di situasi pelik yang begitu menentukan.
Meskipun sampai sekarang ia masih terus berkarya, namun riwayat kepengarangannya penting juga untuk dihadirkan di Frankfurt. Ini akan menjadi semacam mosaik perjalanan bangsa yang berhasil direkam oleh puisi. Di titik ini, sastra telah terbukti menjadi penjaga ingatan kolektif bangsa. Taufik dan karya-karyanya, adalah juga bagian dari keragaman Indonesia yang hendak ditampilkan itu

“Dengan puisi aku berdoa, perkenankanlah kiranya”. Sepenggal puisi Taufik itu, terkait dengan Frankfurt Book Fair, barangkali adalah juga harapan si penyair terhadap perkembangan literasi dunia. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai