23 September 2015

"Dan Perang pun Usai" yang Belum Usai

Menjelang Frankfurt Book Fair 2015, ada beberapa buku karya pengarang Indonesia yang telah, tengah, dan akan diterjemahkan ke dalam bahasa asing, salah satunya adalah buku "Dan Perang pun Usai" karangan Ismail Marahimin. Ini satu-satunya Roman yang pernah ditulis pengarang kelahiran Medan, 23 April 1934.
Roman ini akan diterbitkan penerbit Jerman, Angkor Verlag, dengan judul "Und der Krieg is Vorbel". Roman yang menjadi pemenang kedua sayembara mengarang roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1977 ini adalah salah satu naskah Indonesia yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa asing jauh sebelum Indonesia menjadi tamu kehormatan Frankfurt Book Fair 2015.
Dalam versi Bahasa Inggris, "Dan Perang pun Usai" diterjemahkan John McGlyn menjadi "And The War is Over". Roman ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang menjadi "Soshite Senso wa Owatta" dengan penerjemah Takadono Yoshihiro.
Inilah satu dari sedikit teks yang mengabadikan dan memotret keadaan Indonesia di masa pendudukan Jepang. Periode 1942-1945, ketika Jepang menguasai Indonesia, memang sedikit ditulis dibandingkan, misalnya, periode kolonial 1900-1942. Roman ini salah satu dari sedikit naskah fiksi yang mengambil latar belakang pendudukan Jepang.
Buku ini bercerita tentang para tawanan perang yang hendak melarikan diri di masa ketika Jepang akan hengkang dari Indonesia. Dalam proses mematangkan rencana, tawanan yang mayoritas berbangsa Belanda dan hanya menyisakan satu bangsa pribumi tersebut terhambat oleh kekalahan Jepang di perang Pasifik. Kondisi ini menuntut para komandan Jepang untuk segera berkoordinasi, celakanya tampuk pimpinan kamp tawanan mengalami pergantian sementara. Dan horor penyiksaan kemudian berlangsung.
Kewajiban Jepang sebagai pihak yang kalah adalah menjaga tawanan dengan baik, sambil menunggu kedatangan tentara Sekutu untuk menyelesaikan beberapa persoalan yang timbul akibat perang. Pesan tentang kewajiban ini kemudian sampai ke para prajurit Jepang yang tengah bertugas di kamp tawanan. Namun hal ini rupanya disalahpahami oleh para tawanan, mereka mengira pesan tersebut adalah perintah untuk pembantaian. Dan mereka pun tetap pada kesepakatan awal; melarikan diri!
Di perjalanan menuju tempat yang telah ditentukan mereka berhasil ditemukan oleh tentara Jepang. Mayoritas berhasil meloloskan diri, sementara tiga orang tewas meregang nyawa dihantam peluru para tentara Jepang. Tak lama setelah itu perang pun menuju usai.
Kisah ini mula-mula terbit di tahun 1982 oleh Penerbit Sinar Harapan. Dua tahun berselang mendapat penghargaan The Pegasus Prize for Literature, penghargaan ini diberikan kepada karya sastra suatu bangsa yang dianggap mempunyai nilai sastra tinggi, oleh sebab itu layak untuk diperkenalkan ke seluruh dunia.
Meskipun tidak banyak dibaca lagi sekarang, namun dalam rentang waktu 38 tahun dari mula lahirnya, roman ini terus mengisi khazanah sastra dunia. "Dan Perang pun Usai", sekali lagi, belum usai, setidaknya sampai Oktober nanti. [ ]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai