23 September 2015

Cerita Penerbit Lily & Eddy

Selain membawa para penulis dan karyanya, gelaran Frankfurt Book pun melibatkan para penerbit. Dan posisi penerbit di pameran buku tertua ini memang sangat penting. Selain menjual buku kepada para pembaca seperti layaknya pameran buku di Indonesia, di Frankfurt Book Fair pun terjadi komunikasi dan transaksi yang terkait dengan jual-beli copy right buku antar penerbit beda negara. Di titik ini jelas penerbit sangat penting kehadirannya.
Komite Nasional telah mengumumkan 33 penerbit--termasuk di dalamnya literary agency, yang akan berangkat ke Frankfurt membawa buku-buku andalannya. Salah satu penerbit itu adalah Lily & Eddy.
Penerbit yang baru berdiri di tahun 2012 ini fokus pada buku dan penyediaan materi-materi edutainment bagi anak-anak (materi pendidikan yang menghibur), yang berkualitas dan secara harga terjangkau. Menyambut pameran buku di Frankfurt bulan Oktober yang akan datang, Lily & Eddy sedang mempersiapkan produknya sebaik mungkin.
Dihubungi via surat elektronik, penerbit Lily & Eddy menjelaskan, “Partisipasi kami kali ini adalah yang pertama di Frankfurt Book Fair. Kesempatan untuk berpartisipasi di ajang perbukuan dunia ini merupakan sesuatu yang membanggakan, karena kami bisa menjadi bagian dari kontingen Indonesia yang menjadi Guest of Honor . Sebagai sebuah perusahaan baru, ini merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi kami. Oleh karena itu, kami sedang mempersiapkan diri kami dengan sebaik mungkin agar buku-buku anak yang kami akan hadirkan di sana bisa setara dengan buku-buku anak dari berbagai penjuru dunia.”
Oktober nanti, Lily & Eddy minimal akan membawa sekira 20 judul buku anak-anak yang akan mereka perkenalkan ke publik Jerman. Beberapa buku terbitan Lily & Eddy tersebut, salah satunya yaitu; serial “The Tales of Didgit Cobbleheart” yang hadir dalam enam jilid. Media sosialisasi buku ini dilengkapi oleh berbagai bentuk media. Untuk membuat pembaca lebih tahu tentang buku tersebut, telah disediakan situs bukubudipekerti dot com, yang fungsinya sebagai jendela pembaca untuk memasuki dunia Didgit Cobbleheart.
Sebagai penerbit buku-buku anak, Lily & Eddy pun mengoptimalkan media sosialnya untuk lebih dekat dengan para pembaca. Di Facebook dan Twitter, hadir akun Didgit Cobbleheart yang setiap hari menghadirkan ilustrasi-ilustrasi baru yang menarik. Sedangkan tiap hari Rabu ada komik interaktif yang menyapa para pengunjung akunnya.
“Sebagai bentuk inovasi, kami memberikan sesuatu yang unik bagi para penggemar, di antaranya; animasi-animasi singkat dan soundtrack “My Name is Didgit” di channel YouTube- Didgit Cobbleheart Channel, dan blog “Soul Snacks by Didgit” yang banyak memiliki artikel kerajinan tangan sederhana untuk seluruh keluarga,” tutur A’ang Muljanto, sebagai perwakilan Lily & Eddy.
A’ang melanjutkan, “Selain itu serial Didgit Cobbleheart memiliki versi khusus Indonesian Heritage’ yang menghadirkan buku-buku berilustrasi cantik, bernuansa Indonesia yang bertujuan untuk mengajak sebanyak mungkin anak Indonesia untuk mencintai warisan alam dan budaya bangsa kita. Tiga buku dalam versi ini didedikasikan untuk mengenal, mencintai dan melestarikan alam Indonesia (laut, flora dan fauna) dan buku keempat akan mengajak anak-anak berinteraksi dengan baju-baju daerah dari 34 propinsi di Nusantara.
Terkait dengan Frankfurt Book Fair, meskipun sampai saat ini buku-buku dari Lily & Eddy belum dilirik oleh penerbit asing, yang artinya belum ada pembelian copyright dari pihak luar, namun proses penerjemahannya terus berjalan. Hal ini disebabkan karena sebetulnya buku-buku Lily & Eddy, sebelum ada versi bahasa Indonesia-nya, telah hadir mula-mula dalam bahasa Inggris. Di Frankfurt, mereka berharap buku-bukunya menarik penerbit asing dan terjadi pembelian copyright. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai