29 September 2015

Beberapa Kepiluan di Perpustakaan Ajip Rosidi


Kira-kira bulan April atau Mei 2015, saya berkunjung ke perpustakaan Pusat Studi Sunda di Jalan Garut No. 2 Bandung. Perpustakaan itu baru pindah dari daerah Buah Batu, kalau tidak salah di Jalan Karawitan. Di dalam, buku-buku belum tertata, dan hanya ada seorang petugas yang kemudian menginformasikan bahwa perpustakaan tersebut akan diresmikan sekitar bulan Juni 2015. Saya menunggunya dengan sabar. “Teu nanaonlah, sakeudeung deui gė da rėk diresmikeun,” begitu kata saya dalam hati.

Juni kemudian lewat, begitu pun Juli, dan perpustakaan itu belum kunjung diresmikan. Peresmian bagi saya penting, sebab saya berpikir bahwa itulah batu tapal untuk bisa mengakses buku-buku dan dokumen lainnya secara terbuka, termasuk meminjamnya untuk dibawa pulang ke rumah.

Di tengah Agustus, tepatnya hari Sabtu, tanggal 15 Agustus 2015; acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Dengan dihadiri Ajip Rosidi, Taufik Ismail, Usep Romli (penulis favoritnya Mang Alex), Deddy Mizwar aka Naga Bonar selaku Wakil Gubernur Jawa Barat, serta beberapa tokoh seni dan budaya Sunda lainnya, perpustakaan itu akhirnya diresmikan dan dan diberi nama “Perpustakaan Ajip Rosidi”.

Hari ini, tanggal 30 September 2015, saya berkunjung ke perpustakaan tersebut untuk mencari beberapa buku tentang sejarah dan kebudayaan Sunda, khususnya wilayah Ciamis dan Pangandaran. Saat masuk ke ruangan perpustakaan, saya langsung mendaftarkan diri untuk menjadi anggota. Prosesnya sebentar, hanya mengisi formulir singkat, difoto, dan membayar uang sebesar 100 ribu rupiah. Biaya untuk menjadi anggota dibedakan menjadi dua. Untuk pelajar dan mahasiswa cukup hanya membayar 50 ribu rupiah, sedangkan untuk dosen, peneliti, dan umum harus membayar dua kali lipatnya.

Ketika proses pendaftaran selesai, dan pembuatan kartu anggota sedang dikerjakan, saya bertanya kepada petugas, apakah saya bisa langsung meminjam buku untuk dibawa pulang atau tidak. Dan jawabannya sangat mengagetkan, bahwa semua buku dan dokumen di perpustakan tersebut tidak bisa dipinjam untuk dibawa keluar!

Bagaimana mungkin sebuah perpustakaan yang mempunyai anggota, dan data anggota tersebut sudah lengkap dimiliki, tapi tidak mengijinkan anggotanya untuk meminjam dan membawa pulang buku. Jadi buat apa segala identitas anggota itu? “Pemilik buku ini, yaitu Pak Ajip, tidak memperbolehkan buku-bukunya untuk dipinjam keluar, kata beliau takut hilang,” begitu terang si petugas. Saya hanya bisa tersenyum pahit.

“Jadi di sini hanya boleh difotocopy, itu pun proses fotocopy-nya harus sama petugas,” begitu lanjutnya. Kemudian saya bertanya, “Kalau misalnya ada pengunjung, dan dia tidak terdaftar sebagai anggota, apakah bisa memfotocopy juga?” Petugas langsung langsung menjawab, “bisa.” What? Naon maksudna ieu? Atuh euweuh bėdana antara anggota jeung nu lain anggota! Nyaho kieu mah kuring teu kudu jadi anggota!

Saya mencoba meyakinkan diri sendiri dengan bertanya lagi, “Yang bukan anggota bisa memfotocopy juga?!” Barulah kemudian petugas itu menyadari, dan memberikan jawaban yang bernada ralat, “Oh, kalau yang bukan anggota mah tidak bisa memfotocopy.” Har, ari tadi ngajawabna “bisa”. Inilah kepiluan yang pertama; buku yang tak bisa dipinjam ke rumah, dan petugas yang nampaknya tidak menguasai peraturan perpustakaan yang mereka buat—kalau ada ini juga.

Dengan kecewa saya akhirnya mencoba berdamai, “Geuslah teu nanaon teu bisa dibawa balik gė, nu penting bukuna aya.” Lalu mendekati rak yang berjajar untuk mencari buku yang dibutuhkan. Dan lagi-lagi timbul keprihatinan, ternyata buku-buku itu belum dikelompokan dan diklasifikasi. Semuanya masih bercampur. Dalam satu rak berjejal buku-buku sejarah, sastra, budaya, dan filsafat sekaligus!

Fiksi dan non fiksi campur aduk dalam satu rak. Selain itu, buku-buku itupun masih banyak yang belum tersusun rapi, beberapa malah tergeletak begitu saja. “Gusti, asa asup ka leuweung ari kieu carana mah, kuring kudu nėangan hiji-hiji sabari teu jelas kelompokna di mana.” Saya menggelengkan kepala. Begitu memilukannya perpustakaan ini. Tapi saya belum menyerah, saya dekati petugas dan menanyakan barangkali ada mesin pencari untuk memastikan bahwa buku yang saya cari ada, jadi kalau pun harus tersesat di rimba rak, tapi kalau bukunya ada, pencarian saya tak akan sia-sia.

“Oh ada, itu cari aja di komputer,” begitu jawabnya. Kemudian saya pun memasukan judul-judul buku yang dibutuhkan, dan semuanya tak ada. Entah memang tidak ada, atau mungkin belum dientry oleh petugasnya. Akhirnya saya angkat tangan. Harapan besar pada perpustakaan yang namanya diambil dari seorang yang sebagian besar hidupnya diabdikan kepada kebudayaan Sunda itu, akhirnya perlahan pupus.

Sebagai orang Sunda, dan berminat kepada kebudayaan Sunda--menghadapi perpustakaan yang koleksi bukunya sebagian besar milik budayawan Sunda itu, bagi saya sangat mengecewakan. Betapa buruknya pengelolaan, sedangkan statusnya sudah diresmikan. Saya sebetulnya amat bertoleransi sekiranya perpustakaaan itu belum diresmikan. Kalau belum siap, bo ya jangan dulu diresmikanlah, jangan php-in oranglah ya.

Sebelum pulang, akhirnya saya menulis beberapa buku di secarik kertas, dan diserahkan ke petugas. “Dua hari lagi, insyaAlloh saya kembali, dan usahakan bukunya sudah ada, sekalian kalau bisa mah boleh dipinjam ke rumah.” Kemudian saya turun ke tempat parkir, sementara kartu anggota belum juga selesai. Dan kepiluan semakin berparade. [ ]


Postscript :

Ini adalah catatan otokritik. Sebagai orang yang berkhidmat di ruang baca kecil yang bernama Pustaka Preanger—meski tak diresmikan oleh Wakil Gubernur dan tak pernah dikunjungi oleh para seniman kondang, saya juga belum berhasil mengelolanya dengan baik.               


No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai