22 September 2015

100 Komik Indonesia Bersiap Menuju Frankfurt

Kesibukan Komite Buku dan Penerjemahan jelang perhelatan Frankfurt Book Fair ternyata masih berlangsung. Beberapa komik yang akan dipamerkan pada Oktober nanti masih digodok mutu penerjemahannya.
Heryani Wahyuningrum, salah seorang anggota Komite Buku dan Penerjemahan, menjelaskan bahwa proses penerjemahan memang mendapatkan bantuan subsidi dari pemerintah.
“Namun pada pelaksanaannya penerbitlah yang mengeksekusi sampai selesai,” ujar Heryani Wahyuningrum.
Dari gambaran itulah hasil penerjemahan (yang prosesnya dibantu oleh pemerintah melalui subsidi pendanaan) kemudian diperiksa kembali. Pemeriksaan itu mutlak dilakukan untuk memastikan bahwa mutu penerjemahannya relatif terjamin baik. Itu juga berlaku untuk komik-komik yang diterjemahkan secara mandiri oleh para penerbit.
Komik Indonesia yang nanti akan dipamerkan di sana terdiri dari beberapa bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jerman. Sampai hari ini setidaknya sudah ada 25 komik yang berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Salah satu komik yang sudah berhasil diterjemahkan adalah komik karya Beng Rahadian dan Sheila Rooswitha Putri.
Angka ini akan terus bertambah sampai akhir Agustus nanti. Pada akhir Agustus dan awal September itulah semua komik yang disiapkan sudah benar-benar siap untuk diberangkatkan ke Jerman. Target total komik yang akan dikirim ke Frankfurt, dengan berbagai varian bahasa, semuanya mencapai sekitar 100 buah.
Informasi di atas setidaknya bisa memberikan gambaran perihal pentingnya posisi buku komik Indonesia di mata Komite Nasional Indonesia sebagai guest of honor Franfkurt Book Fair 2015. Komnas menganggap komik adalah bagian penting dunia literasi, yang pantas mendapatkan perhatian yang tidak kalah dengan perhatian terhadap novel maupun karya-karya non-fiksi. Geliat dan pertumbuhan komik Indonesia dianggap mewakili salah satu wajah kekayaan kebudayaan kontemporer Indonesia.
Memasuki dekade 1990an, komik Indonesia memang mulai menggeliat. Di tengah serbuan komik-komik Jepang, beberapa komikus dari Jakarta, Bandung dan Yogyakarya menghidupkan komik Indonesia melalui jalur independen (baca: indie) yang memaksimalkan moda produksi fotokopian.
Memasuki alaf ke-21, geliat komikus Indonesia memasuki arah yang baru dengan berkembangnya internet dan dunia digital. Banyak komikus Indonesia menjadi juru gambar di judul-judul besar DC Comics dan Marvel Comics. Menjadi komikus profesional selanjutnya bukan lagi hal yang jarang.
Kehadiran komik di ajang Frankfurt Book Fair 2015 bukanlah yang pertama kali. Di tahun-tahun sebelumnya, sejak Indonesia hadir di Frankfurt pada 2011, komik sudah diikutkan dalam pameran buku tersebut. Pada gelaran Leipzig Book Fair 2015, yang dimaksimalkan oleh Indonesia sebagai pra-event untuk memperkenalkan diri sebagai guest of honor Frankfurt Book Fair 2015, komik Indonesia pun turut disertakan.

Jelang gelaran Frankfurt Book Fair 2015, sudah ada dua judul komik yang akan dan telah terbit dalam versi Jepang. 12 seri komik “Garudayana” karya Is Yuniarto diterbitkan oleh Digital Catapult, penerbit online dari Jepang. Untuk tahap awal Digital Catapult menerbitkan tiga jilid pertama serial komik ini. Jilid keempat dan kelima direncanakan akan terbit pada bulan November 2015. Satu komik lagi yaitu “Grey & Jingga” karya Sweta Kartika akan diterbitkan oleh penerbit yang sama. [irf ]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai