17 August 2015

Masa Depan Sastra

Oleh : Bre Redana

Di balik ingar-bingar meninggalkan yang lama dan menyongsong yang baru, old and new orang-orang kota menyebutnya, betapa mudah sebenarnya orang mengabaikan, melupakan, meninggalkan yang lama. Menyongsong milenium ketiga 15 tahun lalu, orang heboh, takut kehilangan pegangan ketika seluruh sistem digital konon akan bermasalah. Dokumentasi digital dan non-digital dispekulasikan akan hilang, dalam problem yang disebut problem Y2K. Peradaban sejatinya semata-mata pendokumentasian dan pewarisan memori. Kalau seluruh dokumentasi hilang, artinya akan terputus risalah peradaban.

Nyatanya? Tak ada problem digital waktu itu. Yang diam-diam terjadi kemudian: orang perlahan-lahan melupakan tradisi paling penting milenium kedua, yakni membaca. Media cetak, buku, literatur, yang memungkinkan manusia mengeksplorasi kekayaan ekspresi, kognisi, dan imajinasi dalam bahasa, menuju proses diabaikan. Sejumlah koran dan majalah, termasuk majalah internasional terkenal, menamatkan riwayatnya di dunia cetak, beralih menjadi media digital.

Langkah itu, terutama bagi pihak yang mengelola media sebagai semata-mata urusan bisnis, dianggap langkah paling masuk akal. Buat apa mempertahankan media cetak, kalau rugi, begitu alasan mereka. Kita memang semakin dikepung oleh rezim pemikiran untung-rugi. Terhadap rezim seperti itu, percuma bicara soal tradisi, kebudayaan, dan sivilisasi. Kategori-kategori semacam itu dianggap tak bisa dikuantifikasi dalam nilai uang. Investasi peradaban, oleh mereka telah disempitkan sebagai kapitalisasi modal.

Dunia literatur, sastra, meredup. Hakikat kontemplatif sastra digantikan oleh semangat dunia digital yang memiliki sifat harus serba aktual, cepat, mudah, enteng, segera, trendy (maka ada istilah trending topic), ramai. Keramaiannya seperti dunia sepak bola. Tak diperlukan kritikus, karena semua orang bisa berkomentar. Mereka bersorak-sorai melalui beragam modus instrumen digital. Kritikus, apalagi yang berotak, akan dihujat oleh barisan para penggemar yang agresivitasnya serupa kelompok hooligan. Pernah terjadi, seseorang berkomentar mengenai keraguannya tentang penerjemahan sebuah novel Indonesia ke dalam bahasa asing, orang ini diancam hendak dipidanakan oleh si pengarang novel. Ini era pengacara, bukan sastrawan.

Dalam situasi seperti itu, bagaimana dunia kritik hendak hidup? Adakah Anda menemukan kritik yang berbobot sekarang, entah terhadap sastra, film, dan lain-lain? Dunia kritik telah mati. Dengan matinya kritik, pada gilirannya akan menyusul mati penciptaan kreatif.

Itulah persoalan bagi masyarakat yang terbawa arus perubahan tanpa terlibat dalam proses yang melahirkan perubahan itu sendiri. Di Barat, masyarakat masuk ke era modernisme karena proses industrialisasi. Di sini, dan sebagian masyarakat negara berkembang, terikut dalam proses itu semata-mata sebagai konsumen.

Dulu masyarakat industrial Barat mematangkan diri dengan membaca. Anda pasti melihat sendiri, orang Eropa atau Amerika, liburan pun membaca buku. Kalau kami orang Indonesia bepergian membawa buku, akan ada saja yang berkomentar: kayak bule saja.... Orang Indonesia baiknya belanja saja.

Begitulah, dari fase dan tradisi agraris, sebelum melewati fase dan tradisi industrial, tradisi literer, tiba-tiba kita memasuki tradisi visual. Sebelum membaca menjadi kebiasaan banyak orang, televisi keburu masuk ke seluruh rumah tangga sampai kampung-kampung. Tak perlu heran kalau televisi kita kampungan. Empati, tepa selira, tidak ada. Anda lihat bagaimana mereka mewawancarai keluarga korban kecelakaan pesawat. Sebagai wartawan saya malu.

Sitor Situmorang, sastrawan penting kita, berpulang akhir tahun lalu. Dalam perubahan yang berlangsung cepat sekarang, saya merasa ada sesuatu yang hilang. Apa yang hilang? Hal-hal, yang hanya bisa diberikan oleh dunia sastra.... [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai