09 July 2015

POLBAN dari Kacamata Seorang Lulusan Paria


Membaca mojok.co tentang kampus-kampus, kok ya rasa-rasanya tidak ada yang menulis tentang kehidupan kampus di Bandung. Padahal jelas di Bandung juga banyak sekali ruang untuk para mahasiswa belajar. Tapi entah kemana catatan itu, teks seperti hilang di ruang hampa. Seolah anak-anak Bandung tak biasa menulis, ga doyan berlarat-larat dengan aksara. Astaghfirullah, ini adalah bahaya laten. Kondisi ini bakal menegaskan stereotif tentang Bandung yang cuma terkenal konsumtif. Iya jelas, memproduksi tulisan saja ga becus kok. Maka sebagai anak kandung kampus Bandung, saya tergerak untuk ancrub ke medan ini. Berjihad di ruang publik yang selo ini.

Saya katakan jihad sebab memang tak mudah bagi saya, yang lulus dari kampus dengan kondisi setengah alien. Memangnya Bung dan Nona tahu POLBAN? Apa coba? Tak jarang orang menyebut bahwa POLBAN adalah singkatan dari Polisi Bandung. Dan banyak lagi yang mengkerutkan kening, sebab bagi mereka nama tersebut barangkali seperti rima-rima zaman Orba.

Kondisi ini mewajibkan saya untuk bergerak taktis layaknya Menteri Penerangan, menyuluh masyarakat dengan informasi-informasi yang benar tentang kampus tercinta itu, walaupun sedikit pahit. Tak apa, toh obat juga pahit namun pada akhirnya bisa menyembuhkan. Aih, klasik sekali!

Terlahir sebagai Anak Gajah Duduk Beraroma Tentara

Ketika pemerintah dan industri merasa ada jarak yang begitu jomplang antara lulusan S1 dengan lulusan Sekolah Menengah Atas, maka lahirlah Politeknik. Lembaga pendidikan ini terutama dibentuk untuk menjadi semacam kawah candradimuka bagi para calon buruh berkualitas nomor wahid. Bagaimana tidak, pada mula kelahirannya calon mahasiswa baru ditempa dengan ospek semimiliter lengkap dengan seragam dan kepala botak khas tentara. Kemudian jam perkuliahan dibuat sangat ketat. Dari pagi sampai sore mahasiswa bertungkuslumus di bengkel-bengkel, lab-lab ujicoba, dan ruang-ruang praktek. Semuanya ikhlas demi memenuhi kebutuhan dunia industri.

Konon, lulusan POLBAN gampang diserap oleh pabrik-pabrik. Para pemilik modal tertarik dengan alumninya sebab tampil dengan wajah peranakan. Setengah gajah duduk setengah tentara. Begini penjelasannya : pada awalnya politeknik-politeknik negeri belum mampu berdiri sendiri, sebab infrastruktur dan sistem belum memadai. Maka mereka dititipkan di kampus-kampus besar yang usianya sudah bangkotan. Dan begitulah pada akhirnya, di Bandung hadir sebuah politeknik dengan nama Politeknik ITB, ya Politeknik Gajah Duduk.

Para Aktivis HMSC

POLBAN berdiri di desa Ciwaruga, sebuah desa yang terletak di perbatasan tiga wilayah; Kota Bandung, Kab. Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Posisinya sebagai salahsatu jalan perlintasan para wisatawan yang hendak indehoy di Lembang dan di sekujur Bandung Utara yang adem-adem. Jam delapan malam angkutan kota sudah tidak bisa mengangkut warganya yang hendak pulang.

Kampus paling banter hidup sampai maghrib, setelah itu mati. Sisa mahasiswa yang masih berkeliaran bisa dihitung dengan jari. Mereka adalah para aktivis HMSC (Himpunan Mahasiswa Student Centre) yang sangat guyub dan selo. Ngobrol, main gitar, diskusi, makan, mandi, main domino, dan tidur di kampus. Pagi-pagi ketika hari baru datang, dan para mahasiswa serta mahasiswi tengah harum-harumnya, mereka para pejuang HMSC ini kadang masih asyik sarungan sambil ngorehan singkong yang mereka masukan ke bara sisa pembakaran tadi malam.

Mereka, anak-anak HMSC itu layaknya kaum oposan bagi ritme hidup yang kaku di kampus dengan jadwal mirip di barak tentara; dapat E satu saja bisa bikin DO. Atau nilai D melebihi tujuh biji dalam satu semester, siap-siap ditendang. SKS dipaket, dan mesti lulus tepat tiga tahun, tak boleh lebih jika nama ingin tetap harum. Toleransi setahun bagi para pemalas dan kaum lemah iman, lebih dari itu jangan harap masih bisa kuliah di sini!

Anak-anak Ndeso Calon Mesin

Diberkahi letak geografis yang posisinya di pinggiran kota, POLBAN betul-betul pas untuk menempa para peserta didiknya. Ciwaruga, sebuah desa yang dikepung oleh sawah dan kuburan, juga akses transportasi publik yang sangat minim, cocok untuk melatih mahasiswa agar tidak konsumtif. Ah sodara, bukankah Bandung yang gemerlap ini kerap menggoda tunas-tunas penerus bangsa? Maka menjauhkan bibit-bibit unggul ini dari pusat-pusat hiburan dan perbelanjaan adalah langkah mulia.

Anak-anak dicetak ndeso dari pergaulan hedonisme, yang kelak akan mereka panen jika sudah bergaji besar di pabrik-pabrik raksasa nan terkenal. Untuk sekadar tetap menjadikannya manusia, di kampus hadir beberapa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan Organisani Intra Kampus macam BEM, Himpunan, dan lain-lain. Sementara KAMMI, HMI, LMND, dan antek-antek kepentingan politik yang lain ditentang habis-habisan. Apa perlunya mereka? Toh, arahnya sudah jelas, begitu lulus mesin-mesin industri sudah siap untuk menampung mereka. Buat apa pula ikut-ikutan politik? Maaf ga ada waktu!

***

Dari kampus inilah saya lulus beberapa tahun ke belakang sebelum tahun 2015. Tiga tahun pas, ga kurang ga lebih, dengan IPK ga jelek-jelek amat. Lumayanlah sebagai balasan bagi kuliah yang tidak terlalu serius, alias asal lulus. Beberapakali sempat bekerja di tempat oranglain, namun nganggur juga ga sebentar, sisanya menghabiskan waktu dengan menulis hal-hal yang saya sukai. Kawan-kawan telah moncer di pabrik-pabrik besar dan lembaga-lembaga pemerintah dengan tingkat kesejahteraan yang bikin calon mertua keras hati lumer pendiriannya. Saya memang tidak suka penyeragaman, jadi menempuh jalan hidup yang berbeda.

Bagi almamater, saya barangkali seorang lulusan paria. Kacingcalang kalau kata orang Sunda, alias penerus tradisi yang tidak diharapkan kehadirannya karena terkena cacat bawaan. Tak apa, toh saya juga tetap punya kontribusi dengan menuliskan ini. Menyuarakan almamater agar orang-orang tak salah lagi dengan menyebutnya sebagai Polisi Bandung. [ ]      

Ingatan yang Berarak di Pujasera POLBAN

31 comments:

Unknown said...

Mantap Brother, POLBAN memang senyap tapi kiprah di Dunia Industri jangan ditanya lagi, mulai dari tukang bubut ampe Direktur loba pian! dan tidak sedikit juga dengan keahliannya mereka mendirikan perusahaan2 bahkan jadi pengusaha SUKSES!! asli gw bangga sama ini kampus =D

BRAVO POLBAN!!

Hendra GW a.k.a Manuk
HMM 2002

writing always help said...

waah kang baru baca nih, saya juga mahasiswa Polban nih kang, insyallah tahun ini lulus. Doakan ya kang :)

Unknown said...

Sebagai slh satu alumni ciwaruga, kadang kita trlalu melihat keatas, teman2 seangkatan udh jadi org, di lembaga ngara, atw pun prusahaan besar, tp ingat lh, ksuksesan tdk dlihat dari dmn dia bkerja, atw pun sebesar apa nilai ipk nya, tp dari ksungguhan kita mnjalani hdp dg cara kita sndiri, asalkan kita bisa mrubah pmikiran kita, wlwpun kita di didik untuk mnjadi seorang pkerja, tp apa salahnya kita berpikir seolah kita akan membuat tugas akhir, mnyiapkan konsep2 yg blm pernah ada sblm ny, mncoba mmbuat inovasi.. brbanggalah jd seorang lulusan POLBAN
��

Unknown said...

Sebagai slh satu alumni ciwaruga, kadang kita trlalu melihat keatas, teman2 seangkatan udh jadi org, di lembaga ngara, atw pun prusahaan besar, tp ingat lh, ksuksesan tdk dlihat dari dmn dia bkerja, atw pun sebesar apa nilai ipk nya, tp dari ksungguhan kita mnjalani hdp dg cara kita sndiri, asalkan kita bisa mrubah pmikiran kita, wlwpun kita di didik untuk mnjadi seorang pkerja, tp apa salahnya kita berpikir seolah kita akan membuat tugas akhir, mnyiapkan konsep2 yg blm pernah ada sblm ny, mncoba mmbuat inovasi.. brbanggalah jd seorang lulusan POLBAN
��

Irfan Teguh said...

To Hendra : Halo kawan seangkatan :))

To Shela Novianti Gumilang : Ga mau pending dulu Shel? Lumayankan itung-itung pengalaman heheh..

To Deni Umbara :
"Begitulah, Yana, setiap orang mengandung dalam dirinya pengalaman yg hebat, sederhana, dalam atau tinggi, datar atau menggelora. Yang bagi papa hebat adalah pengalaman itu an sich, pengalaman itu sendiri. Sedang kehebatan, kesederhanaan, kedalaman, ketinggian, kedataran, dan penggeloraannya hanya penilaian atasnya dari orang yg mengalami sendiri atau orang ketiga, mungkin juga kedua.

Maksudku hanya hendak mengatakan padamu; setiap pengalaman yg tidak dinilai, baik oleh dirinya sendiri ataupun oleh orang lain, akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yg tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain dari fondasi kehidupan.

Maka belajarlah kau menilai pengalamanmu sendiri."

--Pramoedya Ananta Toer, "Surat untuk Yana", dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II.

Ghumi said...

Salam kenal dari angkatan 2004... keren euy...

Baca aja said...

salam kenal ��
saya alumni polban dlu hampir d ancam DO wkt ikut ospek ilegal wkwkwk
polisi bandung meskipun mencetak buruh berkualitas tp ada alumninya yg jd vice president d bumn minyak lho ��terharu saya mah asa kabungbungah pny kaka almamater yg bs naikin harkat haha *lah malah curhat

Unknown said...

salam alumni polban.. !!!

mesin 2006..

Unknown said...

Halo. Saya alumni polban. Analis Kimia 2010.
POLBAN ituuu warna-warni. Dimana lagi coba nemu kampus yg himpunan2nya seseru kampus kita. Meskipun terasing dikelilingi sawah dan kuburan, meskipun hidup njelimet dengan laporan dan tugas, alhamdulillah gak nyesel kuliah di polban.
Kenangan banget :)

Anonymous said...

Walaupun sekolah lagi di kampus gajah duduk. Kalo ada org yg nanya lulusan mana? Dengan bangga Saya jawab POLBAN. Hidup Polban!

Kanipatra said...

POLBAN......

kampus yg sejak saya daftar, hingga wisuda (ga ngalamin wisuda jg sih, keburu dipanggil kerja) dan lulus, kedua org tua saya ga tau ni letak kampus ada dimana..
*sambil nyanyi... "all by myself....
*padahal ortu rumah di bandung loh :))))

Irfan Teguh said...

To Ghumi : Halo Bung, 2004 ya? Berarti masih ngalamin diospek sama saya heheh.. ORION kalo ga salah namanya :))

To brand.newday: Ospek ilegal itu terbaik Nona, mengukur keberanian dan kecemasan :))

To Unknown : Mesin 2006? Bung masuk setahun setelah saya lulus, tak pernah bertemu kita. Tapi bung mungkin kenal anak2 HMM 2002; Abah, Iwenk, Deki, Alex, Hendra, dll

To elmus rahma : Halo Nona. Analis Kimia? Dulu adik saya kuliah di Teknik Kimia POLBAN 2003. Saya kira nona melanjutkan ke UNJANI dan sekarang kerja untuk Pak Menteri ESDM, barangkali begitu :)

To Anonymous : Kata Pidi Baiq, "Dulu kampus menjadi besar karena para mahasiswanya. Sekarang para mahasiswa berlindung di balik nama besar kampus."

To Ahonk : Blog Bung diupdate sampai Agustus 2014? Saya selalu menganggap blog sebagai rumah yg kini banyak ditinggalkan :)

opipolla said...

Uwaaaa~~ i lap yuuhh~~

uwa, yang polisi bandung mah si ngenge, hihihi
jangan pada salah ya wa :D

jadi pengen nulis juga tentang polban

Irfan Teguh said...

i lap yuuhh too Opi...

Sok atuh nulis ttg Polban, kulinerna weh, sing maknyus nulisna siga nu jalan2 di Klaten :))

Ngenge legend yes, namanya teh easy listening banget hahah...

othemz said...

salam kenal kang..
saya alumni 2006 akuntansi d4 angkatan pertama, tulisannya bikin kangeeen POLBAN beserta segala isinya *lope lope di udara*

Anonymous said...

beruntunglah asup polban. padahal cadangan ka 10. lucky bastard hha xD

Irfan Teguh said...

To othemz : Salam kenal bung! Saya lulus thn 2005 :)

To ebit90 : Saya juga masuk Polban cadangan bung, entah nomor berapa hahah..

Unknown said...

hallo kang.. sy alumni akuntansi D3 angktn 2007.
baca tulisan akang senyam senyum nginget jaman-jaman kuliah dulu. kangen pujas. kangen ciwaruga. kangen suasana ademnya pohon-pohon kampus.
jaman saya gak ada ospek kang. adanya PPKK. duduk manis seharian di pendopo selama 3 hari kalau gak salah mah *lupa euy*. ospek dilarang saat itu kang. terus ada himpunan dan forum mahasiswa daerah. naahh di himpunan itu tuh baru seru. meski gak aktif-aktif banget sih yaa :))
waktu itu sy aktifnya di forum mahasiswa daerah.
tapi beneran itu mental jadinya kuat pas kerja. kepake pisan lah. jadi gak cengeng. gak ngeluh jam kerja (secara di polban mah SMA+).
terus berkarya kang.
kalau kata orang mah "senangi apa yang kamu kerjakan."
:D

Irfan Teguh said...

Hallo Amel,

Pada kalimat "baca tulisan akang senyam senyum nginget jaman-jaman kuliah dulu" menjelentrehkan satu hal bahwa manusia tak pernah bisa melepaskan dirinya dari ingatan dan kenangan.

Semenjak nulis tentang Polban, blog saya yang biasanya sepi tiba-tiba dilihat ribuan pengunjung yg semuanya tertuju pada entry tulisan tsb. Artinya para alumni, calon alumni, orang2 DO, orang2 pending, dan siapa pun yg merasa punya ingatan dan kenangan dengan Polban dan Ciwaruga, semua memutar ulang memorinya.

Apa artinya? Kalau saya jelaskan akan terlalu panjang :)

Btw, saya baru denger ada Universitas Al Azhar di Indonesia :))

Unknown said...


betul kang. karna masa lalu & kenangan akan selalu mengikuti. tergantung gimana kita menyikapinya. bisa belajar, bangkit & berusaha lagi atau terpuruk dalam kenangan.

oh ya? waaahh.. the power of Polban tuh kang. :D
mereka punya ceritanya masing-masing kang sama polban.
meski pas kuliah jungkir balik ngikutin ritme kuliahnya, gak nyesel kuliah di polban.

hehehee..saya jg baru tau kang pas di tawarin kerja di sini. ini univ umum ko kang. yg non muslim juga ada.
lokasinya di jakarta selatan, deket bunderan senayan, arah mau ke blok m kang. yang ada masjid agung al azhar. nahh satu komplek situ tuh.. :))

Irfan Teguh said...

oh ya i see, jaksel mah lumayanlah ga terlalu panas, deket pula ke Blok M bisa borong buku bajakan :))

Unknown said...

iyah. masih banyak pohon di sini. kata orang, untuk tempat tinggal yg nyaman ya di sekitaran jaksel. tapi harga tanah di sini gak manusiawi. mahaaaalll gilaaaa per meternya. *eh jadi ke mana2 bahasannya. punten kang :))

iyah. kang irfan sering maen k blok m ya? banyak tempat jajan beneran & jajan hore2 juga kang. hahaaaa

Unknown said...

setuju bangeeeeeet lah. sebagai lulusan POLBAN yg menghabiskan waktu hidup hmpir 12 jam di kampus. tidur siang beralaskan kardus di SC kalo gak ada dosen, malem nyanyi di PSM sampe gerbang tanjakan ciwaruga dttup. Melatih pola hidup lembur di kantor, mental kuat menerima berbagai beban pekerjaan. Begitu lanjut S1 pun mendapat penghargaan mahasiswa berprestasi. Lulus ti POLBAN tepat waktu ge dh sykur alhmdllh. Di kmps lain bs dpt bonus predikat mapres.

Unknown said...

Halo temab seangkatan seperjuangan dan sekopian seudutan dan sesetrikaan ( urg nga nu sok nginjem setrikaan).. Polban sampai sekarang masih bisa membuat senyum2 klo lg inget..padahal 11 thn kita keluar dari saNa.. Hidup HMSC..

Anonymous said...

Salam Pergerakan Mahasiswa!!!
itu salam kedua setelah Ass. wr.wb
biasanya diungkapkan oleh para aktivis tangguh POLBAN tanpa bayaran

Salam manis teramat sayang buat neng seorang !!!
itu biasa diucapkan oleh para aktivis orayer muda POLBAN

Salam ampun-ampunan !!!
itu biasanya di gaurkan oleh para aktivis POLBAN bari gagauran saat katewak ku Polisi
Bandung gara gara demo memperjuangkan kepentingan masyarakat (turunkan harga sembako, kembalikan negara kepada konstitusi)
bari ampun-ampunan tapi angger we diGEbugan.

"ada saatnya kita bersama
ada kalanya kita berpisah
mungkin inilah waktu untuku tinggalkan kamu disini (di POLBAN)
yakinlah kami pasti kembali menyapamu disini (di POLBAN)"

sukses versi "UA":Sukses adalah kemampuan untuk menjalani hidup Anda sesuai dengan
keinginan Anda, melakukan apa yang yang paling dinikmati, dikelilingi oleh orang-orang
Anda senangi dan hormati.

Congratulations on your succes!!!
Selamat berjuang saudaraku...hidupmu adalah tumpuanmu!
"darahku ORANGE"

Unknown said...

To Teguh: Waahh aya anu saangkatan eung, hayu kapan lagi ada temu Alumni nich!

Unknown said...

Om dan tante...yg udh alumni dan senior
Doa'in saya tes polbannya lulus... aminn
Saya milih jurusan tehnik mesin:)

Unknown said...

Halo kang! Saya senang baca post ini ditambah komen-komen diatas yang menambah rasa cinta thd polban Heheh.
Btw, saya masih tingkat dua prodi d3 teknik kimia.

Anonymous said...

kang pujas kebakaran

Unknown said...

Hallo kang lucu bangett ceritanya wkwk,salam kenal saya angkatan 2017 baru maba wkwkwk

Indonesian Hotels said...

Saya angkatan kedua terakhir yg masih menyandang nama Politeknik ITB di ijasah, dgn tandatangan Rektor ITB Prof. Lilik Hendrajaya.
Jadi ketahuan kan betapa sdh tuwirnya saya... Hahaha

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai