30 June 2015

Satrio Piningit dan Kaum Oposan

Sejak era reformasi bergulir yang ditandai dengan lengsernya pucuk pimpinan Orde Baru, media tiba-tiba rajin menulis ihwal Satrio Piningit. Tokoh ini tentu saja lahir dari literatur Jawa namun mampu mengusai isu nasional. Tersebutlah seorang sakti mandraguna yang saking saktinya sampai bisa memprediksi tentang akan datangnya seorang pemimpin yang cerdas, jujur, dan tingkah lakunya lurus dan benar.

Pasca amuk massa 1998, masyarakat rindu dengan pemimpin yang digadang-gadang hendak datang sebagai penyelamat kehidupan yang terlanjur sudah remuk. Ekonomi hancur, hukum doyong berderak-derak, pergaulan sosial memanas dengan konflik, dan lain-lain. Maka isu Satrio Piningit menemui titik didihnya yang paling massif.

Isu yang sangat empuk ini kemudian digoreng oleh media dengan cukup brutal. Dengan kalkulasi keuntungan yang menggoda dan tenaga pemberitaan yang bergenit-genit dengan tema dan materi, maka banjir deraslah kabar tentang pemimpin keren ini. Bagaimana tidak, Orde Baru yang waktu kerusuhan itu sah untuk dilekatkan kepadanya nama-nama busuk, bajingan, dan bangsat, adalah pembanding yang sempurna untuk melahirkan siapa saja yang dianggap lebih mulia untuk diangkat menjadi Satrio Piningit.

Namun karena peta politik yang terjadi kemudian masih jalan di tempat, maka setidaknya sampai Mas Bambang menyelesaikan jatahnya memimpin negeri ini selama 10 tahun rampung, kabar Satrio Piningit agak adem ayem. Ketika penguasa Cikeas beres-beres administrasi, isu pemimpin setengah dewa ini kembali meruyak.

Tak ada yang lebih terkenal melampaui wong Solo yang konon tukang dagang kayu. Dia digadang-gadang sampai menyentuh titik yang paling mencengangkan. Bayangkan, tiga palagan dia menangkan dengan ketangguhan yang tiada banding. Pertempuran di Solo, Jakarta, dan Nasional dia sudahi dengan keunggulan gilang-gemilang. Bangkai-bangkai para pesaing politiknya hanya bisa menelan empedu pahit.

“Pahlawan” yang lahir itu kemudian membibitkan pendukung yang luar biasa gemuk secara jumlah, dan garang secara tingkah. Para fansboy ini menyerupai laskar-laskar di zaman revolusi. Kanal-kanal daring berdenyut dengan para pembela jika sang pahlawan ada yang menghina. Sampai pada batas tertentu fenomena ini sangat menyebalkan. Celakanya kasus serupa kemudian mulai bergulir di beberapa daerah—Bandung contohnya, dan bahkan menginfeksi beberapa pejabat BUMN dan Para Menteri.    

Orang-orang yang secara manajemen, sikap, dan kebijakan bagus, lalu kemudian berhasil menduduki jabatan-jabatan publik; di sini, di tumpah darah ini, kok ya tiba-tiba dijadikan kaya selebritis. Mereka seolah-olah ma’sum alias terpelihara dari dosa dan kesalahan. Pada kondisi seperti ini ruang untuk kritik sangat minim atau bahkan nihil. Orang-orang dipaksa larut dalam situasi pengkutuban antara kawan atau lawan.

Gempita pemimpin yang digambarkan mendekati ideal ternyata membuat masyarakat lupa, bahwa junjunannya itu tetap membutuhkan kaum oposan, para petarung dengan sengatan yang tajam agar dia tidak lena. Di ruang-ruang publik yang sehat, seyogyanya tetap terbangun diskusi yang masuk akal dan egaliter.  Jika ini tidak terbangun, maka jangan heran jika para pemimpin yang diidamkan itu sangat bersemangat dalam membantah setiap kritikan, berkobar-kobar memaparkan keberhasilan demi menihilkan suara miring.


Konon pemimpin mencerminkan masyarakat yang dipimpinnya. Jika pemimpinnya ga selo, kurang woles, maka kira-kira begitulah masyarakatnya. Kritik dan otokritik memang membutuhkan hati yang lapang, kedewasaan mental yang baik, dan piknik jiwa yang cukup. Ketika pra kondisi itu tidak terpenuhi, maka frasa “kurang piknik” kemudian dilekatkan. Di titik ini, Satrio Piningit dan para fansboy kiranya mesti berbanyak rekreasi, agar bisa menganggap kaum oposan bukan semata setan. [ ]   

25 June 2015

Jakarta Harus Segera Istirahat


Salahsatu hal yang kerap saya syukuri adalah bahwa ibukota Indonesia tidak jadi pindah ke Bandung. Puji Tuhan untuk krisis ekonomi dunia yang membuat Belanda keteteran dalam dana. Anggaplah kantor pusat Pos, Telkom, dan Kereta Api sebagai pemerataan tak sengaja dari sebuah musibah rencana. Zaman yang bergegas—tak perlu jadi ibukota negara-- kini menyeret Bandung menjadi kota yang—seperti juga Jakarta, ringkih dengan segala persoalan kontemporernya. Tapi karena skalanya belum terlalu luas, dan eskalasi konflik sosial masih tidak terlalu tinggi, maka saya masih bisa menyisakan beberapa rindu pada kota ini.

Tapi lihatlah Jakarta. Rindu macam apa yang bisa nyangkut di kota itu? Kanal-kanal program televisi diolah di Jakarta, lalu mengusai langit Nusantara. Gosip-gosip rumahtangga dianggap risalah mulia sehingga mesti tersebar di segenap tumpah darah. Jurnalis saling tuduh tentang siapa yang bermental “korang kuning”, tapi kita tahu bahwa berita bocah malang Angeline disajikan sedemikan rupa layaknya infotainment-infotainment teman ibu-ibu rumahtangga haus hiburan. Di tv, ulangtahun dan persoalan Jakarta dibahas berulang-ulang, ngana pikir orang-orang di provinsi lain butuh tahu? Toh, satu gerbong kereta api bernuansa Jakarta pun tak berarti apa-apa buat orang-orang di Atambua, yang untuk makan pun susah.

Logika berpikir ibukota yang serba terpusat telah membuat orang-orang tv mabuk kleyengan. Dia lupa—sekadar contoh--bahwa di TVRI Cibaduyut-Bandung, tak peduli sehebat dan seseru apa pun pertandingan olahraga yang tengah berlangsung di SEA Games Singapura kemarin, jika sudah pukul 16.00 WIB, acara harus segera diganti dengan berita berbahasa Sunda. Daerah punya kuasa, sebab di langit Bandunglah saluran itu mengudara. Preman Pensiun adalah contoh telanjang, bagaimana cerita ini sangat di nanti warga Bandung sebab sedikit-banyak mewakili kondisi budaya kota.

Cara Jakarta memperlakukan daerah ibarat peraturan yang memaksa PNS sehingga tak bisa menolak budaya seragam. Padahal ayam negeri itu rentan sakit massal, dan tak ada sisi otentik. Berbondong-bondong anak muda mengikuti seleksi idola demi dunia gebyar yang kerap cepat berlalu. Mereka dibaiat di Jakarta dengan lampu sorot kamera, lalu lima menit setelah itu mereka sudah merasa menjadi selebritis. Sementara di berbagai pelosok daerah, para pelaku kebudayaan yang gigih terseok dengan idealisme tinggi, namun kurang gizi.

Akan tak baik jika sumpah serapah ini saya teruskan, lagi pula barangkali Jakarta sebetulnya tidak punya salah, hanya kebetulan saja dia menjadi ibukota negara. Di titik ini wacana pemindahan ibukota mesti dibakar lagi, kasihan Jakarta sudah letih. Dia butuh istirahat untuk meredakan penistaan yang telah dan tengah berlangsung selama berabad-abad. Tidak mudah memang, namun saya percaya pada semangat hijrah. Bukankah air yang mengalir tidak akan busuk daripada dia tergenang?


Tapi yang mula-mula harus diubah adalah cara berpikir. Bukankah adil itu harus sudah sejak dalam pikiran? Nusantara kerap disebut sebagai bentang kain centang perenang yang dirajut untuk kemudian menjadi satu, bersatu; bukan segalanya berkumpul di Jakarta. Hal itu tak akan berarti apa-apa jika slogan hanya berhenti sebatas ludah. Ibukota negara yang mudah-mudahan nanti baru, jangan lagi mengulang seperti Jakarta. Sebab jika terperosok lagi pada lubang yang sama, bersiaplah untuk menjadi keledai. [ ] 

20 June 2015

Kulkas jeung Listrik


Sok sanajan teu pati jauh, nepika anyeuna kuring geus ngumbara leuwih ti genep belas taun. Nya ti harita, ti mimiti kuring ninggalkeun lembur, mun kabeneran bulan puasa, aya hiji kabiasaan nu matak nyieun hěmeng pikeun kuring sakuringeun.

Kuring ngumbara těh pikeun nuluykeun sakola, ari ngudagna nyaěta ka daěrah pakotaan, da puguh gě kuring mah urang lembur. Naha bet kitu? Enya apanan sarěrěa ge geus pada nyaho yěn di lembur mah sakola těh teu rěa kawas di kota, tuluy kualitasna bisa disebut ělěh ku sakola-sakola nu aya dipakotaan mah. Tah sual ěta nu ngajadikan kolot nitah kuring pikeun ngumbara těh.

Balik deui kana hiji kabiasan nu nyieun kuring hěmeng, nyaěta di kota mah mun bulan puasa těh, tukang sop buah, tukang ěs cincau, jeung sakur-sakur nu jualanna makě ěs sok geus dagang ti beurang kěněh mula, jeung nu mareuli gě tara burit-burit teuing barang beulina těh. Sok kapikiran ku kuring, naha ěta nu mareuli těh teu sieun mun kadaharan nu makě ěs těh kaburu teu tiis jeung ěs na kaburu lenyur?

Di lembur kuring--baheula basa kuring keur leutik kěněh, nu daragang samoděl kitu těh tara ieuh ti beurang, engkě we mun waktu kana buka geus deukeut, kira-kira jam lima sorě. Nu mareuli gě tara tanginas jeung teu paboro-boro deuih, sanajan nu jarualan mah ti jam lime gě geus aya. Di imah kuring gě kitu, kira sapuluh menit deui kana waktu buka, ema sok nitah meuli ěs caruluk di warung Wa Onah.

Jadi dina waktuna buka těh ěs can leyur, masih kěněh tiis, anu antukna matak ni’mat basa diinum kunu paruasa těh, da puguh gě hanaang teu nginum sapopoě

Kitu nu kapikiran těh. Tapi pamanggih ěta heubeul pisan, geus ampir genep belas taun ka tukang, baheula basa mimiti nincak bulan puasa nu munggaran di lembur batur. Jawabanna sabenerna babari pisan, nyaěta kulkas jeung listrik!

Kuring teu sadar yěn tětěla di kota mah ti baheula kěněh listrik gěus bruy-bray beurang jeung peuting, teu kawas di lembur nu PLN na masih kěněh ngandelkeun děsel jeung hurungna ti peuting hungkul. Anapon kulkas, sok sanajan anyeuna mah ampir kaběh imah miboga, tapi baheula mah—utamana di pilemburan, masih kěněh kasebut banda nu mahal, mun teu beunghar-beunghar teuing mah pamohalan kudu boga kulkas.

Tah hal ieu pisan anu saěstuna nyieun běda kaayaan bulan puasa—utamana nu daragang ěs, antara di lembur jeung di kota belasan taun ka tukang. Anyeuna mah tingtrim da geus sarua, meuli jam sabaraha ogě kari diasupkeun ka jero kulkas, engkě pas ngong adan magrib kari dipurak. “Jeung ni’mat ti Pangěran nu mana nu baris maněh bohongkeun?” [ ]     

Foto : kangentang.blogspot.com

18 June 2015

Pembuktian Andrea Hirata


Setelah menyelesaikan International Writing Program 2010 di IOWA University, Andrea Hirata datang lagi ke gelanggang sastra Indonesia dengan novel terbarunya yang berkisah tentang hubungan ayah dan anak, namun sekaligus dibalut dengan cerita perkawanan dan cinta yang getir.

Kali ini dari segi bangunan cerita lebih bisa dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan Laskar Pelangi yang melambungkan namanya namun penulisannya tidak fokus, atau bahkan dengan novel-novel dia yang lainnya, Ayah menampilan ramuan kisah, plot, dan twist yang cukup kokoh.

Namun meskipun demikian, tokoh-tokoh yang didadarkan di dalamnya masih kental dengan karakter-karakter komikal yang sangat mudah untuk die hard.

Ide ceritanya sebetulnya sederhana, bagaimana seorang laki-laki—seperti kata penulisnya; “bertelinga wajan dan bergigi tupai” begitu mencintai seorang perempuan yang sorot matanya seperti “purnama kedua belas”.

Adalah Sabari lelaki malang itu. Mulanya dia dikenal sebagai seorang anak yang “anti perempuan”, cinta baginya tak lebih dari tipu muslihat, atau merpati di tangan pesulap. Namun pada satu jenak hidup, tepatnya ketika diadakan ujian masuk SMA, dia terpesona oleh mata seorang anak perempuan yang merebut lembar jawabannya. Sejak itu dia berubah, dan sampai mati, Sabari tak pernah memalingkan cintanya kepada si perebut lembar jawaban tadi.

Sedangkan Marlena—anak perempuan “pemberani” itu, tak sedikit pun menaruh hati pada Sabari. Maka terjadilah kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang abadi, yang baru berakhir di liang lahat.

Di lembar sebelum kisah digulirkan, Andrea Hirata menulis, “seperti dikisahkan Amiru kepadaku.”  Amiru alias Zorro tak lain adalah tokoh yang menjadi anak Marlena dari laki-laki entah, yang kemudian diasuh oleh Sabari sebab dia mau menumbalkan diri dengan menikahi Malena yang tengah mengandung Amiru di luar nikah.

Bayangkan, laki-laki mana yang sampai ikhlas menyerahkan hidupnya demi menolong status sosial seorang perempuan yang justru tak mencintainya, bahkan membencinya. Derajat cinta seperti ini hanya akan kita temui di komik-komik penuh fantasi. Namun terlepas dari bangunan tokoh yang kurang realis, semenjak pembuka sampai kisah itu khatam, Andrea Hirata memperlihatkan kepiawaiannya dalam mengatur ritme, membolak-balik waktu, dan menutupnya dengan manis.  

“Di bawah namaku, tulislah, purnama kedua belas.” Demikian pesan Marlena kepada Amiru, untuk menuliskan sesuatu di pusaranya. “Purnama kedua belas” adalah panggilan Sabari kepada cinta pertama dan terakhirnya, yang sepanjang hidup tak pernah hirau kepadanya.

***

Nurhadi Sirimorok pernah menghujam karya Andrea Hirata tepat di jantungnya. Dalam buku berjudul Laskar Pemimpi yang isinya mengobrak-abrik Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor, Andrea disebut sebagai seorang novelis yang di batok kepalanya menancap ide-ide Orientalisme. Dengan menjelaskan sejarah bagaimana orang Barat menjadikan Timur sebagai ruang percobaan, lalu menuliskannya dengan sudut pandang Barat, Nurhadi mengkritisi pemujaan Andrea terhadap kehidupan akademik Barat dan alur cerita yang bermuara di Paris; tempat para orientalis menggodok temuan-temuannya.

Sedangkan dari hetih Rusli—seorang editor buku, dia menyoroti ihwal trend buku bestseller yang terjadi di Indonesia. Pada waktu hampir bersamaan, selain Laskar Pelangi yang penjualannya meroket, ada juga Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi, dan 9 Summers 10 Autumns karya Iwan Setyawan. Jika diperhatian, ketiga buku tersebut menceritan tentang anak kampung yang berhasil ke luar negeri. Anak Belitong ke Paris, anak Padang ke Amerika Serikat dan London, serta anak Batu-Malang ke New York.

Hetih menulis bahwa, “pergi ke luar negeri dan pulang lalu menjadi seseorang masih menjadi impian sukses orang Indonesia.”

Karya-karya awal Andrea Hirata terjebak dalam dua hal di atas. Pembaca yang tanpa disertai dengan tulisan-tulisan penyeimbang (untuk tidak menyebut kritik), akan jatuh pada lumpur puja-puji akan kisah yang memang sangat menghibur, dan bisa dibilang berbeda dengan karya-karya penulis fiksi Indonesia sebelumnya.

Sebenarnya Andrea sudah punya ciri yang sangat khas. Dalam balutan tokoh-tokoh komikal, selalu menyala obsesi yang pantang padam. Sebagai contoh sebut saja Arai di Sang Pemimpi, Enong di Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas, serta Sabari di novel Ayah. Tokoh-tokoh tersebut tipikal orang yang pantang mundur bila layar telah terkembang. Ini selaras dengan jargon “mimpi” yang menjadi ruh di setiap karya Andrea.


Di karya ke sembilan inilah, selepas dari program menulis di Amerika Serikat, Andrea Hirata seperti hendak membuktikan bahwa dia adalah seorang yang cepat belajar. Meskipun kerap seolah tak hirau terhadap kritik, namun diam-diam Andrea menambal beberapa kekurangannya. [ ]


08 June 2015

Budaya Cetak, Daring, dan Para Pengeluyur


Generasi yang tumbuh di tengah zaman yang memuliakan budaya cetak adalah mereka yang punya pengalaman tentang kesabaran. Seseorang mencetak satu esai lalu memasukkannya ke amplop, kemudian mengirimnya ke redaksi sebuah harian via kantor pos; hanya untuk menerima surat penolakan. Demikian berulang-ulang, lalu pada pengiriman yang ke-44 tulisannya baru dimuat.

Para penulis tamu surat kabar biasanya hanya punya tempat di rubrik Opini, selebihnya jangan terlalu berharap. Dan rubrik ini bukanlah medan laga yang mudah, saingannya beratus Profesor dan dari kalangan akademik lain dengan gelar berderet-deret, serta dengan kemampuan menulis analisa yang bukan main-main. Maka para penulis pemula mesti bersiap merangkak di titian kesabaran selama berbulan-bulan dengan surat penolakan yang datang tiada henti.

Dulu para penulis beradu tulisan demi merayu para editor sehingga bisa meloloskan tulisannya. Di buletin, koran, dan majalah, mereka berdaki-daki dengan segala jurus tulisan dan kantong-kantong kesabaran yang telah dipersiapkan. Namun proses merayu dan menunggu itu sesungguhnya relatif mudah, sebab di fase sebelumnya mereka telah melakukan kerja-kerja lain yang lebih berkeringat.

Menulis pada mulanya adalah pekerjaan kaki. Sebelum jaringan internet berkuasa seperti sekarang, dan warnet masih sebentuk jajanan mahal bagi para penulis kere, serta USB belum dijajakan di kios-kios; para penulis kerap keluar dari rumah atau kamar kostnya, untuk mengamati kehidupan sosial sekeliling, lalu menangkap kisah yang menarik darinya. 

Referensi bacaan tanpa disertai kehadiran di lapangan tak lebih dari sebuah tulisan yang berjarak; gagap dalam menangkap pengalaman, dan kering tendensi personal. Manusia adalah makhluk yang otentik, jika sisi itu tidak digali dengan cermat maka setiap tulisan akan rentan pada kategori penyeragaman. Dan setiap yang tak berbeda tak ubahnya laku menabur garam di lautan.

Pengalaman manusia, betapa pun terjadi pada waktu dan tempat yang sama, pastilah akan tetap berbeda. Terlebih jika memiliki sudut pandang yang kaya terhadap pengalaman tersebut. Di titik inilah perjalanan personal para pengeluyur mendapatkan tempatnya yang istimewa. Tulisan mereka belum tentu bagus, tapi berbeda adalah kepastian. Namun perlu ditegaskan, karena yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah budaya berkisah dan bercerita, maka pada prakteknya perjalanan itu harus tak melupakan manusia.

Jika menilik para penulis catatan perjalanan, atau lebih dikenal dengan travel blogs; kita tak bisa menampik bahwa yang kerap ditemui pada tulisan-tulisannya adalah benda mati. Kita jarang sekali menemui manusia dengan kehidupannya yang beragam, porsinya kalah dengan debur ombak, sinar mentari, kilau air laut, semilir angin gunung, gemerlap kota, anggunnya bangunan, dan kata-kata keindahan lainnya. Catatan perjalanan seperti punya tendensi untuk menuliskan surga. Para pengeluyur mesti menghindari kecenderungan bunga-bunga seperti itu.

Kini dengan jaringan internet di genggaman, para penulis tinggal duduk manis dan menggerakkan jemari. Perpustakan raksasa yang menjelma di mesin-mesin pencari perlahan menjauhkan para penulis dengan dunia sekitarnya. Ironisnya, dengan kemudahan yang tak perlu menumpahkan keringat itu, bibit kemalasan justru tumbuh subur. Tak sedikit ketika menjelajah mesin pencari, para penulis hanya mampu bertahan di page 3. Jika sampai halaman itu tak mendapatkan apa yang dicarinya, mayoritas langsung mengganti kata kunci dan mencari lagi yang lain, yang lagi-lagi biasanya hanya kuat bertahan di angka yang tak pernah menyentuh belasan.

Jika ada seribu penulis yang mencari dengan kata kunci yang sama, dan semuanya hanya bertahan sampai halaman 3, bisa kita bayangkan kesamaan sumber data dan perspektifnya. Sekadar contoh, sampai hari ini sudah berapa tulisan tentang Jalan Braga? Jalan legendaris di Kota Bandung itu barangkali sudah bosan dengan catatan tentang dirinya sendiri. Namun jika kita coba datang ke Braga, berjalan, dan mengamati apa pun, tentu selalu ada kisah berbeda yang bisa kita tangkap. Setiap perjalanan adalah perjumpaan, dan setiap perjumpaan tidak pernah akan sama.

Maka arus informasi yang bergerak di genggaman daring sesekali mesti disegarkan dengan pengalaman-pengalaman personal yang berkeringat; berbicara dengan orang asing yang dijumpai di jalan, mencium aroma kopi dari warung, menahan bau pesing di toilet umum, berdesakan di pasar tradisional, bermain catur dengan tukang rokok, atau berbagi kisah dengan pelukis jalanan, dan masih banyak lagi.

Kemudahan bukan untuk kita bekukan dan lalu terbenam di masalalu, kita bahkan mau tidak mau mesti menumpang pada lajunya, namun arus deras itu sesekali mesti melempar jangkarnya di pelabuhan. Mengembalikan lagi laku menulis pada permulaannya, yaitu pekerjaan kaki. [irf]  

07 June 2015

Bung, Saya Hendak Menulis Bandung

Agak getir sebetulnya, kami—saya dan Bung Ali Zaenal, sore itu di bilangan Senayan dalam rehat selepas berburu buku, untuk pertama kalinya kopi darat; justru setelah media sosial yang menghubungkan kami gulung tikar. Ya, pasca Multiply tak aktif lagi, di tengah dua gelas kopi dan asap tembakau, kami ngobrol-ngobrol ringan; dari dunia buku, penulisan, sampai si kulit bundar.

Kawan saya ini sudah melahirkan beberapa buku, sementara catatan saya tercecer di blog. Barangkali ini persoalan berpikir. Bagaimana pun, tulisan yang dipublikasikan lalu dibandrol dengan sejumlah harga, mestilah menyajikan pemikiran atau setidaknya mempunyai cara bertutur yang sistematis, terstruktur, dan terukur. Berbeda dengan blog, meskipun disajikan juga untuk publik, namun karena tidak berbayar, maka cenderung lebih longgar. Di titik ini, saya kira kami berjarak.

Namun karena sama-sama mengakrabi aksara, dan –waktu itu saya masih tinggal di Jakarta, maka dari perbincangan sore itu lahirlah semacam kesepakatan; kami hendak berkolaborasi dalam sebuah laman daring menuliskan kehidupan sehari-hari di Jakarta.

Pada Seno Gumira Ajidarma, saya pikir kami punya kemiripan; karib dengan beberapa bukunya dan kerap mengutip kata-kata “sakti”-nya. Lagi pula, Seno pun seorang yang dekat dengan kehidupan Jakarta. Inilah simpul yang saya prediksi. Namun bagi saya sendiri, seekor serangga telah masuk ke telinga dan tak hendak keluar, persis seperti terperangkap dalam sebuah toples tertutup. Serangga itu adalah sehimpun ucap dari seorang sutradara lokal, “Jakarta yang kacau namun selalu puitis.”  

Ketika menyepakati tema dan menulis pengantar untuk laman daring ini, ada kesombongan tersirat yang terlambat saya sadari. Saya seolah hendak selamanya tinggal dan beranjak tua di Jakarta. Siapa yang bisa melawan waktu? Pada pusarannya, ternyata dari pertemuan sore itu, tak sampai satu tahun; saya hijrah ke Bandung.

Dari letak geografis yang berjauhan, bagaimana mungkin saya bisa menghirup kehidupan Jakarta? Lupakan media mainstream, di sini para kontributornya kerap mengeluh ihwal berita yang ketat dalam penyaringan; tak berdaya jual jangan harap bisa tayang! Saya menghadapi jalan yang majal.

Maka dari keadaan demikian, Bung Ali kemudian mengundang kawan-kawan yang lain untuk ikut menulis di laman ini. Saya sepakat saja, bukankah itu langkah yang produktif? Dan ihwal produktifitas, baiknya saya kenang sepotong cerita tentang Pramoedya Ananta Toer yang mengubah kolam renang menjadi kolam ikan. Karena tak betah melihat sepetak tanah hanya dipakai untuk bersenang-senang, maka tempat berenang cucu-cucunya itu kemudian dipenuhi ikan mas.

Jika tak silap, tulisan terakhir saya di laman ini berjudul “Enam Alinea Untuk Alina”. Dan ya, itu bukan kehidupan di Jakarta, melainkan di Bandung. Saya memotret suasana sekerat sore di Jalan Asia-Afrika yang ramai oleh pengunjung. Lama setelah mengunggah tulisan itu, saya kemudian berpikir, menimbang, dan memutuskan; saya hendak menulis Bandung!

Bandung di sini saya tafsirkan dengan luas, artinya jika suatu saat saya hijrah lagi ke kota entah, maka tanah yang menadah itulah yang akan saya tuliskan kehidupannya. Sederhana saja, anggaplah ini sebuah ejawantah dari kredo “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Kiranya Bung Ali berkenan, juga kawan-kawan yang lain. Dan di atas segalanya, mari seduh lagi kopi dan angkat gelas tinggi-tinggi; kita berjalan di atas rel produktif yang tak pernah sudah. Semoga. [ ]

Anak Muda dan Media Sunda


Di tengah gairah kampanye Kesundaan yang divisualkan dengan baju pangsi, iket, kebaya, dan hal-hal yang tak esensial lainnya, media Sunda yang berusaha menjaga budaya literasi justru hampir sekarat tanpa perhatian yang signifikan. Sebagai contoh, Majalah Mangle yang kini berusia 58 tahun berjalan terseok dengan tren jumlah pembaca yang kian turun. Juga mingguan Galura yang jika dilihat dari sisi bisnis hampir pasti tidak menggembirakan. Dengan jumlah penutur kedua terbesar di Nusantara, Bahasa Sunda mestinya adalah pasar yang jelas bagi media Sunda itu sendiri, namun kenyataannya adalah paradok yang semakin buruk.

Kondisi ini tentu menjadi tanggungjawab Ki Sunda yang peduli dengan perkembangan medianya. Jika dipetakan secara sederhana berdasarkan usia, demografi pengembannya mencuatkan satu identitas yang khas, yaitu anak muda. Di luar kata dan kalimat yang kerap dilekatkan kepada anak muda seperti “pembaharu”, “pelopor”, “agent of change” dan lain sebagainya, dalam kontek Bahasa Sunda, anak muda ini adalah generasi pertengahan yang diapit oleh dua tubir jurang.

Jurang pertama adalah anak-anak yang kini terperangkap dalam sistem pengajaran bahasa yang terdegradasi. Di rumah, di lembaga yang mula-mula menadah pemahamannya terhadap bahasa, para orangtua (ibu dan ayah) yang keduanya pituin Sunda, yang dalam komunikasi antar keduanya menggunakan Bahasa Sunda, justru berbahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anaknya. Ihwal ini, Ajip Rosidi pernah menulis dalam buku “Kudu Dimimitian di Imah” (Harus Diawali dari Rumah).

Dalam pendadaran pengalamannya, Ajip menemukan dan menyimpulkan, bahwa lembaga utama dan pertama dalam pewarisan bahasa adalah mutlak harus dimulai dari rumah. Laku komunikasi sehari-hari akan menghasilkan pemahaman bahasa yang jauh lebih baik daripada hanya belajar di sekolah, atau pun dari lingkungan pergaulannya. Jika hal penting ini tidak disadari oleh para orangtua, lalu abai, maka Ajip menegaskan, “Lamun para indung-bapa Sunda henteu ngajak nyarita ku Basa Sunda ka barudakna, tanwandě hirupna Basa Sunda ngan baris nepi ka generasina.” (Kalau para ibu dan ayah Sunda tidak mengajak bicara memakai Bahasa Sunda kepada anak-anaknya, tentu keberlangsungan hidup Bahasa Sunda hanya sampai pada generasinya).

Anak-anak Sunda yang dilahirkan dan besar di tengah kedua orangtua yang merasa lebih bangga jika anaknya--dalam percakapan sehari-hari, berbahasa Indonesia, adalah generasi yang tercerabut dari bahasa sěkěsělěr-nya. Ikatan batin luntur, keterampilan lumpuh, lalu harapan seperti apa yang hendak disandarkan kepada anak-anak ini dalam melanjutkan estafet pengelolaan media Sunda? Pondasi yang lemah seperti ini adalah tubir yang punya kengeriannya sendiri dalam keberlangsungan hidup bahasa dan media Sunda.

Sementara di kalangan para senior (untuk tidak mengatakan tua), usia adalah sesuatu yang tak bisa di lawan. Meskipun ada beberapa yang masih produktif sampai di titik yang sudah senja sekalipun, namun satu-persatu barisan ini mulai pensiun dari medan laga kerja media, juga tak sedikit yang sudah kembali ke hadirat-Nya. Tentu jarak antara generasi ini dengan generasi yang seusia dengan para cucunya cukup jauh, dan perlu jembatan untuk menghubungkannya. Di sinilah letak angkatan muda itu.

Dari cerita dan pengalaman para senior, bahwa pada pengelolaannya, media Sunda kerap terabaikan sebagai anak tiri yang seolah tak pernah sudah. Pemerintah sebagai perwakilan negara selalu berada di posisi yang kurang jelas dalam ngamumulě bahasa dan media Sunda. Seperti yang sudah ditulis di atas, pemerintah justru lebih mementingkan tampilan daripada menyentuh persoalan yang sesungguhnya.

Karena di satu sisi pewarisan bahasa menemui jalan yang keliru, dan di sisi lain dukungan dari pemerintah pun kerap membentur setapak buntu, maka tak heran jika media Sunda seolah hanya bertahan dari kematian.

Tapi perspektif di atas bagi anak muda adalah pandangan yang terlalu pesimis. Meskipun diapit oleh dua tubir jurang yang akhirnya memposisikan dirinya (seolah-olah) menjadi generasi—meminjam istilah Sjahrir, “yang apabila diam akan menjadi generasi yang hilang, dan apabila bergerak akan menjadi generasi yang kalah”, namun selalu ada celah untuk berkreasi dan terus produktif.

Anak muda Sunda hari ini, yang pernah dibesarkan di lingkungan keluarga yang masih memuliakan Bahasa Sunda, namun dihadapkan pada kenyataan tentang payahnya keberlangsungan media Sunda, tentu harus bersiasat dengan mengisi dan mengolah ceruk-ceruk lain untuk membebaskan media Sunda itu sendiri dari keterbatasan. Media sosial yang kini begitu memanjakan alur dan arus informasi, adalah salah satu celah untuk mengibarkan ajěn-inajěn Bahasa Sunda.     

Di blog, twitter, facebook, dan kanal-kanal lainnya, anak muda Sunda harus mulai produktif menulis dalam bahasa sěkěsělěr-nya. Di sini, di gorong-gorong media tak berbayar, anak muda tak perlu menengadah dan mengiba perhatian dari pemerintah, namun justru berdikari dengan keras kepala--bahwa dengan niat, minat, dan tekad yang bulat, media Sunda “independen” ini bisa terus hidup dan berkontribusi.

Kata “buntu” mesti segera dipensiunkan dari entry kamus anak muda. Masih banyak jalan yang bisa ditempuh, dan banyak cara yang bisa dilakukan. Di media Sunda formal, anak muda pun bisa berkontribusi dengan cara mengirim naskah-naskah segar dan trengginas. Bahwa media-media itu dinakhodai oleh para senior yang sudah legok tapak gentěng kaděk tak bisa dipungkiri, namun siapa yang bisa menjamin bahwa ketersediaan naskah begitu melimpah? Hal inilah yang perlu didukung oleh anak muda.


Dalam buku Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 karya Mikihiro Moriyama, tersirat bahwa sesungguhnya Bahasa Sunda ditemukan, dimurnikan, dan didayagunakan oleh Belanda untuk kemudian berkembang meniti gelombang modernitas. Jika media Sunda diibaratkan bahasa yang didayagunakan itu, maka di tengah keterpurukannya seperti sekarang,  anak muda sudah saatnya mengambil peran sebagai pelaku aktif, bukan malah menjadi pengekor tiada guna dan tanpa tendens. Dan pada muaranya, hirup-hurip bahasa dan media Sunda kita pertaruhkan. [ ]   

02 June 2015

Flaneur, Blog, dan Nasib Kata


Pada peringatan 100 tahun Albert Camus beberapa waktu ke belakang, di linimasa jejaring sosial tiba-tiba ramai dengan kata “flaneur”. Flaneur adalah bahasa Prancis yang artinya terkait dengan orang yang suka jalan-jalan, keluyuran di dalam sebuah kota tanpa tujuan yang begitu pasti. Camus adalah seorang flaneur, ini diperkuat dengan banyaknya foto dia yang ambil di ruang terbuka; trotoar, misalnya. Seseorang menulis di twitter untuk mempermudah memahami arti kata flaneur dengan mengutip puisi Chairil Anwar :

Flaneur, pengeluyur mana-suka, pelancong iseng. Mereka pasti ngeh dengan baris dari Chairil ini : “Waktu jalan, aku tidak tahu apa nasib waktu.”

Ihwal kenapa Camus begitu ramai dibicarakan di linimasa jejaring sosial di Indonesia, barangkali tidak cukup mengagetkan, setidaknya jika membaca kembali sebuah tulisan Goenawan Mohamad (selanjutnya ditulis GM) yang terhimpun di buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi. GM menulis bahwa ketika Asrul Sani pada tahun 1950-an berkunjung ke Eropa, dia menulis sepucuk surat yang kemudian dimuat di sebuah majalah kebudayaan di Indonesia tentang apa yang dialaminya. Dalam surat itu Asrul Sani menyebut Camus, dia terpikat dengan pemikirannya. Beberapa waktu kemudian Asrul Sani menerjemahkan sebuah lakon karya Camus : Caligula. Selain itu, La Paste, novel Camus, terbit di tahun 1984 yang diterjemahkan oleh Nh. Dini, salah seorang sastrawan Indonesia.

Flaneur, hanyalah sisi lain dari Camus, atau barangkali sisi lain yang hanya diperbincangan di Indonesia. Tapi ada yang menarik, setidaknya dalam imajinasi saya; jika linimasa diibaratkan kota, dan kata adalah manusia, kira-kira bagaimana nasib Kata (dengan ‘K’ besar)?

Karlina Supelli, dalam Pidato Kebudayaan yang disampaikan pada tanggal 11 November 2013, di Teater Jakarta, menyebutkan bahwa “informasi menggantikan kebenaran.” Kata, sebagai alat untuk menyampaikan informasi (benar ataupun salah) dan kebenaran, di titik ini bisa dimaknai lebih dalam. Dia bisa saja hanya sehimpunan ucap “aborsi” yang tertulis, terhambur prematur, atau muntah begitu  saja tanpa terbebani apa pun yang mengalir dari lereng pikiran dan pemahaman. Dia bisa juga menjadi “seorang” flaneur di linimasa berkapasitas 140 karakter. Ya, di kota yang sempit itu, dia bisa melancong iseng, bebas, sekaligus terbatasi.

Jika menilik ke beberapa linimasa jejaring sosial yang beragam, ada satu kecenderungan bahwa Kata sebagai pelaku penyampai komunikasi, kerap bernasib lemah. Dia seringkali hanya dipakai untuk menyampaikan komentar (sebuah pengertian untuk sesuatu yang kurang menitikberatkan gagasan), curhat, keluhan banal, dan adu argumen tak lengkap (twitter menyebut ini dengan ‘tweetwar’).

Salahsatu pokok dari delapan poin Siasat Kebudayaan yang disampaikan Karlina Supelli adalah; “Membangkitkan kembali kebiasaan berpikir serius, bukan sekadar melempar komentar.” Jika ‘berpikir serius’ diidentikkan dengan kemauan untuk memilih kata dengan baik, berusaha menyampaikan gagasan dengan jelas, dan ada jeda untuk berpikir yang dalam dan terukur, maka barangkali mayoritas lalulintas linimasa memposisikan sebaliknya.

Dalam ruang publik Kata, sebelum kita larut dalam linimasa seperti sekarang, kita terlebih dahulu mengenal yang namanya blog. Meskipun bisa diakses oleh siapa saja seperti halnya jejaring sosial yang dikenal belakangan, namun blog lebih memberikan ruang untuk menuangkan gagasan secara lengkap. Kalau pun “gagasan” dianggap terlampau “mengawang-awang”, setidaknya curhat pun bisa lebih leluasa mengalirkan hujan emosi dan sensasi-sensasi. Blog memberikan ruang untuk menakar Kata, di sana segala yang ingin disampaikan bisa dihela perlahan-lahan. Jika linimasa adalah jalan, maka blog ibarat rumah. Jika linimasa adalah arena berlari, maka blog adalah tempat istirahat untuk memulihkan energi. Jika linimasa arus deras, maka blog adalah aliran yang bergerak perlahan. Bila linimasa tempat rantau, blog adalah kampung halaman.

Mengertilah kita, kenapa Irwan Bajang--seorang pegiat buku--membuat semacam proyek “mudik” ke blog. Dia mengajak siapa saja yang “pernah” punya blog, untuk kembali ke rumah lamanya untuk sekadar mencabuti rumput liar di halaman rumah. Saya tidak bisa membuktikan dengan angka, namun sekarang ini meninggalkan blog dan bergiat di linimasa bukan lagi sebuah gejala, namun barangkali sudah menjadi budaya. Kita dengan begitu masif menjelma menjadi penikmat respon cepat yang bermujud dalam hujan komentar dan perang argumentasi tawar.

Seorang kawan bilang, “dulu beberapa saat setelah bangun tidur, kita biasanya menulis di blog, sekarang langsung berselancar di linimasa.” Ibarat panggung, blog tidak terutama dibangun dengan gebyar penonton, tempik-sorak, dan hingar-bingar tetabuhan. Dia laksana mimbar kuliah subuh di mula pagi, tempat orang-orang meniti jalan sunyi, mengais sebisa-bisa “arti” yang tersembunyi. Tidak semua memang, sebab di perpustakaan digital raksasa bernama Google pun kita bisa dengan mudah menemukan blog yang berisi cerita-cerita pembangkit birahi. Namun justru semakin menguatkan, bahwa blog bisa sangat leluasa untuk mendedahkan hasrat purba sekalipun. Sebagaimana rumah, kita pun mengenal yang namanya rumah bordil.

Perkembangan piranti digital yang bersemayam dalam gadget, yang kita mengikuti (salahsatunya) untuk sekadar berkomunikasi dalam lautan linimasa, mencuatkan satu identifikasi; bahwa hal yang paling dekat dengan kita, hari ini, adalah Kata. Frase “siasat kebudayaan” sangat mungkin untuk diawali dari yang paling dekat itu. Kata adalah jalan, yang siapa pun bisa menempuhnya. 


Dalam dua ruang yang berbeda, blog dan linimasa, setiap kita dan Kata selalu punya pilihan; menjadi flaneur atau merawat rumah sendiri. Atau mungkin keduanya; keluyuran dulu sepuasnya, untuk kemudian pulang meredakan lelah. Dan di atas keduanya, nasib Kata dipertaruhkan. [ ]

Pernah dimuat di Tribun Jabar edisi Sabtu, 23 mei 2015

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai