12 February 2015

Kenangan Seorang Pelanggan Koran

Pikiran Rakyat
Sebenarnya bukan saya yang berlangganan, tapi bapak. Eh, menyebut bapak pun sebenarnya kurang tepat juga, sebab yang berlanggan adalah sekolah yang pimpin oleh bapak. Begini alurnya : sekolah bapak berlanggan koran, tapi karena posisi desa saya berada sekira 150 km dari Kota Sukabumi, jadi koran pagi pun baru sampai ke kampung sekira jam satu siang, di mana sekolah sudah bubar. Nah, akhirnya tukang koran pun mengantarkannya ke rumah, dan saya biasanya menjadi pembaca mula-mula (kadang kalah cepat dengan kakak-kakak saya yang juga gemar membaca koran). Besok pagi, akhirnya koran itu baru sampai ke sekolah dan dibaca secara bergiliran oleh para guru.

Adalah Aa Dirman yang rumahnya dekat sawah yang menjadi agen Harian Pikiran Rakyat. Sawah itu kalau musim kemarau suka dipakai sepakbola, dan rumah Aa Dirman kerap menajdi korban; kadang genting atau kaca jendelanya pecah dihantam bola yang meluncur terlampau deras. Bocah-bocah yang main bola, termasuk saya, bisanya langsung melarikan diri seperti para kriminal. Dari kejauhan masih terdengar suara Aa Dirman atau Amih (istrinya) yang jengkel dengan ulah para begundal cilik.

Karena sudah bosan dengan kejadian yang berulang, akhirnya si empunya rumah memagari tempat tinggalnya dengan menanam pohon-pohon yang tumbuh tinggi dan rindang. Itu pun nampaknya dirasa masih kurang, sebab beberapa kawat kemudian dipasang dan ditanami tumbuhan rambat. Aman sudah. Kami tenang, Aa Dirman pun tenteram. Solusi yang brilian tepat pada waktunya.

Usia Pikiran Rakyat
Dari Pikiran Rakyat yang paling saya buru adalah tulisan tentang sepakbola. Dulu pernah juga menjadi bobotoh Persib dan AC Milan. Belakangan klub Italia itu sudah saya tinggalkan sebab muak dengan ulah para Mafioso yang ikut ancrub dalam pengaturan skor. Kalau orang-orang berkeyakinan bahwa klub pujaan masa kecil tak akan lekang oleh waktu, buat saya itu tidak berlaku, meskipun kadang-kadang—kalau melihat jersey AC Milan, ada juga selintas ingatan terbang ke masalalu. Untuk Persib tidak berubah, mungkin hal itu karena sudah lebur dalam budaya, bahasa, dan tradisi.

Dalam pikiran anak-anak, saya tidak begitu mengerti pesan apa yang disampaikan oleh Mang Ohle, selain tampilan kartun yang cukup jenaka saja yang saya lihat. Peci hitam, sarung, dan kumisnya masih terekam jelas sampai sekarang.

Kalau ada cerita epic tentang anak kecil yang belajar membaca dari bungkus sisa belanjaan, barangkali salahsatunya adalah saya. “Mun aya koran urut ngabungkus asin atawa tarasi tong dipiceun, anggursi diajar maca,” begitu kata mama. Hal ini menjadi tidak terlalu sulit buat saya, sebab kakak-kakak saya rajin menjadi mentor. Maka begitulah, sebelum masuk sekolah dasar saya sudah bisa membaca koran, yang kemudian sombong di hadapan teman-teman kelas 1 SD. Waktu mereka masih lělěngkah halu mengeja “INI BUDI, INI BAPAK BUDI”, saya diserang bosan yang hebat.

Tapi kemampuan membaca itu (buat saya) ternyata tak selamanya membawa berkah. Entah kenapa kalau membaca koran sambil duduk mata suka tidak kuat; ngantuk luar biasa. Maka saya bersiasat, akhirnya membaca koran sambil nangkarak di sofa. Kebiasaan itu akhirnya menyeret saya ke optic untuk membeli kacamata minus.

Datangnya koran ke rumah memang tidak selalu lancar, kadang-kadang telat sehari karena pengantarnya sakit atau ada keperluan yang mendesak. Suatu hari saya disuruh bapak mengambil koran ke rumah Aa Dirman, hal ini tentu saja melahirkan ketakutan, sebab saya adalah salahsatu kriminal yang kerap membuat jengkel si agen koran. “Dibantun ka bumi Aa Dirman, Pak? Pan biasana oge sok dijajapkeun ku si akang,” saya mencoba mengelak. “Si akangna keur gering meureun, jung buru bawa,” dan saya tak bisa menghindar lagi.

Tiba di halaman depan rumah agen koran saya menggigil. Sejenak hanya mematung seperti hendak mengemis. Tapi akhirnya dipaksakan juga mendekati pintu, “Punten.” Mesti beberapakali saya bilang permisi sebelum akhirnya ada suara menyahut dari dalam, “mangga.”

“Badě aya peryogi naon sěp?”, kata Amih yang muncul dari balik pintu. “Bade ngabantun koran piwarang bapak.” Sejenak Amih seperti tak percaya, ada kerut dikeningnya. “Nyak saha jenengan bapak těh?,”setelah saya kasih tahu akhirnya beliau masuk ke dalam dan balik lagi sambil membaca koran. “Punten kituh nyak wartoskeun ka bapak, nyěta si akangna nuju teu damang,” saya hanya mengangguk. Saya selamat, dan sepanjang perjalanan pulang yang terasa hanya perasaan ngemplong.

Selain berita sepakbola dan Mang Ohle, saya lupa lagi apa yang suka saya baca dari Pikiran Rakyat. Begitulah setiap hari selama bertahun-tahun, koran yang dibaca hanya Pikiran Rakyat, sampai saya sempat menyangka bahwa harian ini adalah satu-satunya yang ada di Indonesia. Kepompong kampung memang seperti barikade yang mengisolasi wawasan. Memang ada dua majalah yang saya tahu; pertama Media Pembinaan (majalah intern Departemen Agama, jatah bapak kalau sudah ngambil gaji dari Kota Sukabumi), dan yang kedua Tandang (entah majalah apa, saya hanya melihat sampul depannya, itu pun milik tetangga).

Dulu Asma Nadia belum ada
Entah tahun berapa, keyakinan ini perlahan runtuh (meskipun masih ragu) ketika tiba-tiba bapak berganti koran. Pikiran Rakyat diganti dengan Republika. Agen koran ini bukan lagi Aa Dirman, melainkan kawan bapak di partai politik yang bernama Pak Daday. Pergantian ini kemungkinan didasari karena konon Republika terkait erat dengan ICMI, yang dalam pandangan bapak berpihak pada Islam. Kekecewaan muncul karena Persib menjadi sangat jarang diberitakan, meskipun AC Milan masih muncul sesekali.

Kondisi ini akhirnya memaksa saya membaca beberapa rubrik yang tersedia. Mungkin karena sudah duduk di bangku SMP, saya mencoba membaca rubrik Resonansi. Dalam pemahaman yang menggapai-gapai karena maknanya dirasa terlalu susah, saya mulai berkenalan dengan beberapa tulisan Miranda Risang Ayu, Zaim Uchrowi, Sinansari Ecip, Zaim Saidi, dan Farid Gaban. Nama-nama ini akhirnya lebih melekat di ingatan daripada isi tulisannya.

Namun ada seseorang yang sangat pogot dalam membaca Republika. Namanya Didin, saya tentu saja memanggilnya A Didin. Masih saudara sebenarnya, sebab ibunya A Didin adalah bibi mama saya. Beliau lulusan Pesantren Gontor Ponorogo, wajahnya memancarkan aura kecerdasan. Hampir setiap hari dia selalu memanggil saya untuk meminjam koran, dia sendiri menunggu di Masjid Agung dekat Alun-alun desa. “Tong diwartoskeun ka bapa nyak isin,” dan saya hanya mengangguk. Setelah memberikan koran biasanya saya kembali bermain. Setelah shalat ashar koran itu dikembalikan.

Pertengahan tahun 1998, menjelang saya merantau ke Kota Sukabumi untuk melanjutkan sekolah, entah kenapa koran tidak pernah datang lagi ke rumah untuk selama-lamanya. Perpisahan dengan kampung hampir bersamaan dengan hilangnya koran yang telah menemani saya selama bertahun-tahun. Untunglah di kota media cetak begitu melimpah, dan di kota pula lahir sebuah titik balik keyakinan, bahwa koran sesungguhnya bukan hanya Pikiran Rakyat dan Republika. Namun kenang-kenangan akan media cetak yang dikenal mula-mula tidak pernah hilang sampai sekarang. [ ]


Foto :
  *  Arsip Irfan TP
 *  republika.co.id
 *  twitter.com/@JalanIslam 

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai