11 February 2015

Kahatur Komunitas Bambu

Semoga dalam haribaan sehat-sentosa senantiasa,

Pada Pesta Buku Bandung yang digelar dari tanggal 30 Januari sampai 5 Februari 2015, saya sempat membeli beberapa buku dari stand Komunitas Bambu. Dua di antaranya adalah buku “Kepulauan Nusantara” karya Alfred Russel Wallace dan “Semangat Baru” karya Mikihiro Moriyama. Pada kedua buku tersebut terdapat kesalahan cetak dan kekurangan cetak. Untuk “Kepulauan Nusantara” pihak penerbit (Kobam) menyertakan secarik kertas yang berisi ralat yang terdiri dari lima poin ihwal kekeliruan cetak, artinya hal tersebut sudah diketahui oleh pihak penerbit. Sedangkan pada “Semangat Baru”, penerbit sepertinya tidak mengetahui kekurangan cetak pada buku yang diterbitkannya.

Di halaman 302, 303, 306, dan 307 tidak ada teks sama sekali alias kosong melompong. Halaman-halaman kosong tersebut tepat berada di lampiran 2 yang isinya adalah ringkasan Wawacan Panji Wulung. Sebagai pembeli dan pembaca, hal ini tentu sangat saya sayangkan. Terlepas dari kewajiban bahwa setiap penjual harus memberikan yang terbaik kepada konsumennya, hal ini pun jadi pertaruhan Komunitas Bambu yang selama ini dikenal sebagai penerbit buku-buku sejarah bermutu, yang dari segi produksi pun nyaris tanpa cela.

Saya tak hendak menukar buku “cacat” ini dengan yang lebih lengkap, hanya saja ke depan mungkin kesalahan-kesalahan seperti ini bisa diperbaiki agar pihak pembeli tidak merasa dirugikan. Lantas barangkali ada pertanyaan, kenapa catatan seperti ini dipublikasikan di blog pribadi, dan bukan dikirim saja via surel ke alamat yang bersangkutan? Saya berpendapat bahwa inilah sejarah, surat sederhana seperti ini pun adalah bagian dari perjalanan Komunitas Bambu, dan saya (si penulis surat) merasa berhak untuk menyimpannya di laman pribadi sebagai arsip.

Sekian saja dari saya, semoga Komunitas Bambu tetap jaya dan mampu konsisten menjadi penerbit buku-buku sejarah berkualitas. Hatur nuhun kana sagala perhatosanna.

Salam,

Irfan Teguh Pribadi  




Foto : Arsip Irfan TP

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai