15 January 2015

Sepotong Kenangan di Setiabudhi

Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus
—Amir Hamzah

Sekali ini, di jalanan yang padat merayap dan rintik hujan yang entah kapan akan berhenti, saya merasa sunyi.
Begitu belok dari arah Jl. Gegerkalong Hilir dan masuk ke Jalan Dr. Setiabudhi, jalanan sudah mulai basah. Antrian kendaraan memanjang sampai ke Rumah Mode.
***
Jalan Dr. Setiabudhi sesungguhnya cukup familiar buat saya, dulu semasa kuliah sering melewati jalan ini. Kampus dan kosan saya letaknya di Ciwaruga, dan saya sering memilih lewat Gegerkalong Hilir daripada lewat Sarijadi ataupun Cimahi. Maklum orang Sukabumi, kalau bis berhenti di terminal Leuwi Panjang memang lebih enak langsung naik DAMRI jurusan Leuwi Panjang – Ledeng yang sudah uzur dan mengeluarkan asap pekat dari pantatnya, saya bisa langsung turun di mulut Jalan Gegerkalong Hilir.
Ada beberapa kenangan di Jalan Dr. Setiabudhi ini. Dulu waktu kaset masih berjaya,Borma adalah pilihan utama saya untuk belanja musik. Beberapa kaset yang masih saya ingat di antaranya : Kompilasi Viking Persib Club, Iwan Fals, PHB, Blur, Fastball, The Cardigan, The Corrs, Padi, dan Pure Saturday.
Selain itu, ATM BNI yang letaknya sebelum Borma sering jadi andalan kalau ATM yang di kampus sedang rusak. Pernah suatu kali waktu saya mau ngambil uang, sebelumnya seorang ibu baru selesai dengan keperluannya dari dalam ATM tersebut. Nah, pas saya mau memasukan kartu, ternyata kartu si ibu tadi masih tertinggal di dalam. Asal tahu saja, dulu setiap transaksi yang hendak dilakukan tidak meminta pin berulang-ulang seperti sekarang, yang artinya kalau saja saya berniat menguras uang si ibu tadi, hal tersebut akan sangat mudah. Tapi saya merasa ngeri sehingga akhirnya memanggil si ibu tadi unuk mengambil kartunya yang tertinggal.
Ada perasaan lega setelah kejadian itu, ternyata sisi baik saya masih lebih dominan dibandingkan dengan sisi buruknya.
Selain kartu yang tertinggal, saya juga pernah menemukan sekantong kolak pisang yang masih hangat di mesin ATM tersebut. Waktu itu sedang bulan puasa, mungkin ada seseorang yang habis belanja untuk ta’jil lalu mengambil uang, dan waktu keluar dia lupa dengan belanjaannya. Meskipun harga kolak tidak seberapa, namun entah kenapa saya waktu itu tidak mengambilnya. Hanya dibiarkan saja, lagi pula tidak orang orang di sekitar, jadi tidak bisa menebak-nebak siapa sebenarnya pemilik kolak pisang yang masih hangat itu.
Di Jalan Dr. Setiabudhi juga saya biasanya membeli koran dan majalah. Tukang jualannya nge-lapak di sisi kiri persimpangan Jl. Gegerkalong Hilir – Jl. Setiabudhi. Yang paling sering saya beli adalah tabloid (kemudian menjadi majalah) Marketing yang sering muncul tulisan Hermawan Kertajaya. Kemudian beralih ke majalah Mix. Kedua majalah tersebut sama-sama membahas dunia pemasaran dan penjualan. Meski tak selalu paham semua apa yang ditulis di kedua media itu, namun saya termasuk rajin membeli setiap kali edisi baru terbit. Tadinya sih diniatkan untuk menambah pengetahuan dan membantu dalam mengerjakan tugas-tugas kampus, namun tetap saja prestasi akademik saya gak bagus-bagus amat.
Namun sore ini segala kenangan itu menguap ditelan jalanan yang menyebalkan. Macet di tengah hujan mengapungkan perasaan sunyi. Manusia-manusia sibuk keluar-masuk pusat perbelanjaan mode. Mata saya nanar menatap perempuan-perempuan bercelana pendek sambil menenteng belanjaan, dalam gumam : “euweuh katiris awėwė tėh…”
Sejak di Jl. Dr. Setiabudhi bawah dibangun banyak pusat mode, macet seperti ingin sambung-menyambung sampai Lembang. Seingat saya, dulu yang selalu macet parah di akhir pekan itu hanya dari Ledeng sampai ke Lembang, namun kini tembus sampai ke persimpangan Setiabudhi – Cihampelas – Babakan Siliwangi, bahkan macet sampai juga ke arah Ciumbuleuit.
Yang paling terkenal di jajaran pusat niaga mode itu memang Rumah Mode, namun saya lebih sering menyebutnya sebagai Rumah Macet.
Saat hampir sampai di Jl. Cihampelas, saya berbelok ke kiri. [ ]

6 comments:

Marjo[RBB] said...

dulu ada dua orang yang menyusuri jalan tersebut untuk mecari kosan

Irfan Teguh said...

Jauh-jauh ka Sadang serang tungtungna mah di Sarijadi hahaha...

Marjo[RBB] said...

setidaknya kita mendapat kos-an yang kalau pagi beradu pandang dengan putri pemilik kos, kemudian kita camping dilantai tiga

Irfan Teguh said...

joss! endos gandos...ngan tonk poho we basa malem taun baru tea :))

Unknown said...

ari baheula beres wisuda ngilu nongkrong teu di CK depan sorabi, jeung tiga dara cantak, bir,cooler, dan U-Mild (dulu eta rokok pang murahna) hahah

Irfan Teguh said...

Milu atuh. Pasca wisuda nu sedih pisan, membayangkan hari depan kosong...

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai