11 November 2014

Yang Bergerak di antara Puncak, Jarak, dan Debur Ombak (Prolog)


“Kau ada nasi tidak? Aku sudah beberapa hari tidak makan.” Demikian yang diucapkan Pram waktu datang ke rumah Ajip Rosidi di tahun 50-an. Waktu itu Ajip mengontrak rumah di daerah Kramat Pulo, Jakarta Pusat. Dan pada suatu siang, waktu dia mengetik di ruang depan, terdengar pintu rumahnya diketuk. Waktu ia membuka, Pramoedya Ananta Toer muncul di balik pintu. Karena istri Ajip sedang pulang kampung, maka yang ada hanya nasi dingin tanpa lauk-pauk, lalu Pram makan nasi tersebut hanya dengan mentega.

Kalau ada kawan, yang saya berani berbicara kepadanya seperti Pram bertanya soal nasi kepada Ajip, maka orang itu adalah bung Bawal. Entah kenapa saya selalu tak pernah merasa sungkan untuk meminta tolong dan bantuan kepada dia, sampai pada soal mengisi isi perut sekali pun. Rasa-rasanya dia sudah saya anggap seperti saudara kandung sendiri.

***

Apabila waktu telah sempurna menggerogoti usia, dan ingatan mulai tercerabut dari kenangan masa muda, maka beberapa paragraf yang terbuhul dalam catatan ini barangkali bisa membantu, mungkin sekadar menepismu dari mengerutkan dahi atau menggaruk kepala demi mengingat suara yang ada di ujung ponsel, atau memastikan siapa orang yang berdiri di depanmu itu.

Kita telah selesai membicarakan kecemasan tentang masa depan, tepat sehari setelah buku Laskar Pelangi berada di genggaman. Di halaman 455 formula absurd mencuatkan kebenarannya. “Satu titik dalam relativitas waktu; saat inilah masa depan itu.” Maka apa-apa yang akan dinarasikan selanjutnya, lebih kepada jejalin cerita yang berarak di belakang. Waktu ibarat busur yang ditarik dan siap dilepaskan menembus parade milisekon kejadian yang tidak bisa diulang dalam presisi yang mengagumkan.

Seorang esais di tweetland pernah menghimpun sejumlah catatan ke dalam buku yang dijadikannya sebagai cinderamata di hari pernikahannya. Judulnya tak kurang dari : Traffic Blues; Saat Hujan Menderas dan Jalanan Mulai Tergenang. Dalam segugus keyakinan, saya percaya bahwa tak ada yang lebih puitic melebihi huruf yang hidup. Saya tak sepenuhnya dibesarkan oleh angka-angka, bahkan saya telah memproklamasikan diri di penghujung masa sekolah, bahwa eksakta bukan jalan yang akan saya lalui. 

Prolog ini dimaksudkan sebagai apologi, atau mungkin basa-basi, bahwa saya tidak bisa hadir langsung di hari pernikahanmu; di hari perjanjian yang kuat itu.

Setelah ini pun saya tetap minta maaf, bahwa paragraph selanjutnya adalah parade kata tentang jenak-jenak waktu yang telah banyak mengabarkan peristiwa. Demikian.
Kalau ada rokok di tangan, boleh kita sebatang lagi.

***

Saya bukan sejenis kawan yang pandai menulis surat dengan diksi yang syahdu penuh penghormatan layaknya Hamka dalam roman Di Bawah Lindungan Ka’bah. Begini beliau menulis :

“Sudah saya terima surat Sahabat yang terkirim bulan yang lalu. Mula-mula saya sangat bersedih hati, sebab semenjak kita bercerai-cerai di Jedah, tak pernah saya menerima surat dari engkau lagi. Tetapi setelah surat itu saya terima dan saya baca, hilanglah kesedihan dan kedukaan hati dan merawankan pikiran, yang kerap kali benar kejadian dalam kalangan pemuda-pemuda kita.”    

Tidak. Surat semacam itu hanya dihasilkan oleh seorang ulama cum sastrawan yang kenyang pengalaman di palagannya.  Saya hanya datang dalam compang-camping bahasa, belajar pun baru sehari-dua, tak punya keunggulan di wilayah itu. Tapi jika saya tak silap, bung tentu masih ingat, siapa yang bermain gitar di lorong kosan pak Rauf itu? Malam-malam pula.

Dengan wajah memprihatinkan, seorang pemuda berani-beraninya memainkan beberapa lagu dalam takaran fals yang menjengkelkan, ah tentu saja : itulah bung sendiri!.

Ciwaruga tidak pernah sama lagi setelah itu. Sebab ada yang menghabiskan kacang dalam kondisi sakit gigi menahun, atau kasur busa yang dibuang setelah ada yang muntah dan tumbang di atasnya. Ikan asin memang menyebalkan, dibuatnya seisi perut keluar lagi dengan syahdu, lalu tertawa kekuda-kudaan. Sementara seorang kawan yang kelebihan berat badan doyan sekali nitip membeli makan, dan tak lupa ada seorang pemuda gondrong tanggung yang keranjingan mendengarkan lagu Utopia; Sampai Habis Waktu.

Mula-mula, layaknya layangan yang diproyeksikan angin, kau sewujud anak muda yang gemar menaklukkan puncak-puncak gunung. Tak kurang dari Semeru, Slamet, Sindoro, Sumbing, sampai Rinjani pernah kau daki. Jangan tanya saya ihwal Manglayang, bukankah puncak tak terlalu tinggi itu sudah menjadi rumah kedua bagi kawan-kawan bersyal merah? Ah, maafkan saya yang terlampau payah waktu kita bertiga dengan seorang kawan kosan Sarijadi mencoba menyapa Manglayang.

Dalam kondisi kaki yang sakit, saya bahkan tak sempat ingat sesobek puisi Idhan Lubis yang terkenal itu. Selera melankolik menguap entah ke mana. Padahal dengan posisi saya yang baru saja terjungkal dari medan laga pekerjaan, dan kau masih berjuang dengan beban akademik yang menekan, barangkali cocok juga kalau mengutip puisi itu. Tak lebih begini bunyinya :

Turuti kelok-kelok jalan
Atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan

Kini puncak-puncak yang pernah kau taklukkan tengah merindukan anak kandungnya sendiri: seorang pecinta alam yang tak pernah mendandani diri dengan basa-basi. Perjalanan adalah obat mujarab bagi jiwa yang sibuk meladeni rutinitas. Ayahmu bilang, “pergilah jalan-jalan, lepaskan kejenuhanmu itu.” [irf]  

2 comments:

Marjo[RBB] said...

kalau ada sumur diladang bolehlah kita menumpang mandi, kalau ada rokok ditangan bolehlah kita bakar sebatang lagi....

pada akhirnya menjadi warga negara dengan KTP "like earth" adalah perjalan panjang yang tidak terduga sebelumnya. nanti...jika kamu bersilaturahmi ke gubuk kami, maka akan kau dapati samar-samar puncak gede pangrango ketika segelas "liong bulan" yang masih berasap ditemani bala-bala.

[RBB]

Irfan Teguh said...

aih liong bulan dan bala-bala, sesajen yg mantap!

kalau saja tidak ada koran berbahasa sunda yg terbit seminggu sekali, yg di sana saya kerap menulis, mungkin sudah jauh-jauh hari saya meninggalkan bandung. syukurlah, meskipun tidak besar, tapi tulisan2 yg dimuat cukup membantu melanjutkan perjalanan di bandung.

dan ihwal sukabumi, suatu saat saya akan merapat ke sukaraja!

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai