20 November 2014

Berumah di Kineruku

Dulu namanya Rumah Buku. Sekira tahun 2008 saya terdaftar sebagai anggota. Kemudian angin berhembus ke Jakarta, membawa saya ke negeri antah-berantah yang panas, keras, sekaligus berdebu. Rahmat kerja. Ya, rahmat semestinya menjadi semangat, bukan malah memperkosa waktu dengan rutinitas yang beku. Pada pertengahan musim kemarau saya ucapkan sayonara kepada semesta ibu kota. Bagaimana pun lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ada riwayat yang tercatat di sana; tentang cuaca yang rudin, festival film, pasar buku, dan jiwa-jiwa yang saya cintai. 

Pagi ini saya mendapati diri tengah duduk di sebuah meja kayu panjang di teras belakang Kineruku. Masih seperti dulu, udara sejuk menguasai Bandung. Pepohonan berdiri tegar dengan rimbunnya. Deretan buku, film, dan t-shirt band memenuhi ruangan. Ah, saya menghembuskan nafas dan menghirupnya kembali dalam-dalam. Bukankan suasana seperti ini yang saya cari?

Beberapa mahasiswa tengah membaca dan menulis. Mereka yang kampusnya di jalan Setiabudi itu ada sekira tiga orang, perempuan semuanya. Tak lama kemudian ada obrolan mencuat, tapi dalam bisik yang sangat sopan, seperti enggan mengganggu ribuah huruf yang bersemayam. Indah sekali.

Di sini, di sudut Kineruku ini seperti ada sesobek mozaik yang ditemukan. Tentang cinta yang dirawat dalam-dalam pada paragraph-pragaraf hidup yang memancar dari huruf-huruf. Orang-orang selalu bilang, “kau menulislah untuk menambah penghasilan.” Ingin rasanya saya bisikkan kepada kuping-kuping mereka, “kawan, ini adalah minat yang ditakar tanpa pamrih, bukan ambisi saya mengejar pundi-pundi, biarlah dia datang sendiri tanpa mesti dikejar.”

Barangkali saya dianggap naïf, absurd, bahkan munafik. Tapi kejujuran adalah sewujud riasan menor yang tak perlu lagi ditambah kosmetik. 

Kini sudah hampir dzuhur, namun cuaca seperti masih jam tujuh pagi. Oksigen melimpah dari celah-celah hijau daun. Wedang jahe tinggal setengah, dan baru habis batang ke tiga. Kawan-kawan sudah bertelur, dan hidup terus berjalan. Dalam ritus yang pasang surut, ketulusan menjadi urat nadi yang berdenyut. Di sini, di Kineruku saya berumah, dan mencoba merawat apa-apa yang saya cintai. [ ]

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…