28 July 2014

Sembuh dari Sunyi

Meski sebetulnya enggan, tapi saya kutip juga lirik ini, demi barangkali ada padu padan dengan muaranya :
Di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu
Kalimat paradoks tersebut menguar menembus station kereta api, terminal bus, bandara, pelabuhan, dan jalanan. Mudik telah berdiri di tubir titik didihnya yang paling riuh; berbondong-bondong dan dirayakan. Jika sejengkal dari kata “mudik” ada pertanyaan, maka saya hendak menawarkan; “demi apa mudik itu?”
Dari kuliah subuh di mesjid kampung ternyata jawabannya tidak rumit, agama menyediakan kata “silaturahim”. Dan kata tersebut tak main-main faedahnya, katanya dapat memperpanjang usia dan meluaskan rejeki. Namun saya tak hendak berjejak di ranah ini. Ada setapak lain yang coba saya catatkan.
Penulis yang menemukan lampu sorot pada aksaranya agak terlambat tak seperti pada karir musiknya, sempat mengurai sesuatu dengan manis. Pada “Spasi”, Dee menulis begini :
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang jika ada ruang?
Anggaplah kita setuju dengan Dee, maka mudik dengan segala kesemramutan dan pesta niaga para pemilik korporat, sejatinya adalah hendak menuai kasih sayang dari para pemberani yang telah merelakan dirinya berjarak, yang pada hidupnya telah mengikhlaskan ada ruang antara satu titik dengan titik yang lain. Antara dirinya dengan kampung halaman. Bila ruang itu bernama rindu, maka mudik adalah hajat sosial yang massal demi melabuhkan rindu yang selama setahun menggantung entah di mana.
Kita tahu bahwa mudik ialah sebuah gerak meninggalkan kota yang dengan segala kemajuannya adalah tempat yang ramai, riuh, sekaligus berisik. Namun naluri kembali ke kampung selalu tak terbendung. Kota yang menawarkan gemerlap, di titik ini hanyalah sebuah paradox; keramaian yang sepi. Sebagian orang mungkin berpendapat, bahwa kesunyian yang mencekik bukanlah dari yang nampak, tapi bersemayam di tempat yang dalam dan tersembunyi. Dia virtual, perubahan cuaca terjadi di langit jiwa.
Sekali waktu penyair Joko Pinurbo pernah menulis sekerat puisi :
Kamu adalah jalan menuju sembunyi, sembuh dari sunyi
Di titian kecemasan manusia yang berparade, kata “Kamu” pada puisi tersebut bisa bermakna Tuhan, Kekasih, Kawan, atau apa pun. Namun pada mudik, “Kamu” di sini berarti kampung halaman, tempat mula-mula ari-ari ditadah, yang kerap berhasil melarung rindu sekaligus membebaskan diri dari sunyi kehidupan kota yang mencekik. [ ]

Salvador Allende

Beberapa minggu sebelum pemungutan suara pilpres di tanah air digelar, sempat juga saya membaca buku yang ditulis oleh peraih hadiah Nobel Sastra tahun 1982 dari Kolombia; Gabriel Garcia Marquez. Sebetulnya buku tersebut berkisah tentang petualangan klasdestin seorang sutradara film yang menembus jantung pemerintahan diktator Jenderal Augusto Pinochet di Chile dengan maksud mengolok-olok, namun ada satu fragmen yang membuat saya tercenung, yaitu bagaimana ingatan kolektif masyarakat begitu kuat menempel dalam kehidupan sehari-hari tentang pemimpin yang dicintainya.
Tanpa dimaksudkan untuk mencari referensi ihwal presiden ideal, atau bergenit dengan niat menggembosi salah satu calon presiden, pembacaan pada buku tersebut mulanya murni karena cara berkisahnya yang menawan.
Adalah Miguel Littin, salah seorang pelarian dari sekira 5.000 orang yang namanya masuk dalam daftar manusia yang tidak boleh kembali ke negerinya. Dia selama enam minggu menyelinap di negeri yang dicintainya melalui kamuflase yang sangat canggih dan rumit. Dalam petualangannya tersebut Littin berhasil membuat sekitar 100.000 kaki film tentang negaranya yang selama 12 tahun berada di bawah cengkeraman rezim militer.
Dengan dukungan tiga crew film asal Eropa (Italia, Prancis, Belanda), Littin melakoni petualangannya dalam intaian bahaya yang menegangkan. Ketika tiba di kantong-kantong kemiskinan Chile (poblaciones), Marquez menyebutnya sebagai “teritori yang tidak dapat diganggu gugat”, Littin dan timnya berhasil mendokumentasikan tentang kenangan masyarakat kepada presiden yang digulingkan oleh rezim militer, dialah Salvador Allende.
Allende masih hidup dalam kenangan masa lalu dan telah menjadi legenda. Secara spontan dan jujur, orang-orang kerap menjawab pertanyaan dengan antusias. Beberapa pengakuan sering terlontar dan hampir sama, “Saya selalu memilih dia, tidak pernah memilih lawan politiknya.”
Jika politisi lain dikenal hanya lewat surat kabar, televisi, atau radio, Allende justru melakukan kampanye secara hangat; datang ke rumah-rumah dan berlaku seperti seorang dokter keluarga. Littin mengakui bahwa selama melakukan perjalanan di Chile, dia tidak pernah menemui satu tempat pun yang tidak pernah dikunjungi oleh Allende. Dia pernah menyembuhkan seseorang dari batu rejan yang parah dengan meracik teh dan rempah-rempah yang didapati di halaman rumah warga. Atau sekali waktu sempat juga menjadi wali baptis bagi seorang anak. Beberapa orang pernah ia beri pekerjaan atau ia kalahkan dalam permainan catur. Dan selalu ada saja yang disalaminya.
“Salvador Allende adalah satu-satunya presiden yang memperhatikan hak-hak perempuan,” demikian kata beberapa orang perempuan. Hal-hal sederhana yang ia sentuh seolah menjadi keramat. Beberapa orang menunjukkan benda dan mengatakan, “ia memberi kami ini.”
Bersama penyair Pablo Neruda yang juga banyak dipuja rakyat Chile, kisah kenangan masyarakat terhadap Allende seolah menggulirkan satu kenyataan bahwa pemimpin harus dekat dengan rakyat adalah suatu keniscayaan. Memang semua menjadi sempurna karena justru junta militer yang menggulingkan presiden pujaan rakyat itu. Kondisi berbalik drastis dan pembanding begitu kontras. Maka tak heran jika pada sebuah tembok pagar di sekitar rumah Neruda terdapat tulisan, yang bahkan polisi pun tak dapat melarangnya :
Cinta tak pernah mampus, Jenderal. Allende dan Neruda tetap hidup. Satu menit dalam kegelapan takkan membuat kami buta. [ ]

23 July 2014

Postulat Keseimbangan




Di bulan Juni-Juli ini setidaknya ada sekira empat peristiwa besar yang nyangkut di ruang informasi dan emosi kita. Dari Piala Dunia, Pilpres, serangan ke Gaza, sampai Bulan Puasa. Tentu setiap orang berbeda-beda ihwal mana yang hanya sebatas informasi, dan mana yang mula-mula hanya informasi tapi kemudian dibarengi dengan emosi. Pada kedua sikap itu hampir selalu ada gemuruh, entah hanya sebatas komentar alakadarnya, ataupun respon hiperbola yang meluap-luap. Di seluruh gorong-gorong media, empat peristiwa tersebut berparade di titian waktu pemirsa; menggelontorkan informasi, basa-basi, rayuan-rayuan niaga, sampai dusta terang-terangan. Di tengah keramaian itu, jika saya tak silap, ada beberapa potong mozaik yang bila disatukan akan menerbitkan dugaan tentang kebenaran yang remang-remang.  

Saya sempat menyangka bahwa Piala Dunia 2014 akan menjelma menjadi semacam pesta bangsa tiran. Dominasi yang keterlaluan. Bagaimana tidak, Brazil yang sudah menempelkan lima gambar bintang di atas logo federasi sepakbolanya, masih juga hendak menambahnya dengan jalan yang hampir sempurna. Bertindak selaku tuan rumah, memiliki skuad yang rata-rata merumput di seantero liga-liga nomor wahid, terbiasa dengan cuaca tropis, dan berada di group yang tidak terlalu berbahaya, membuat Brazil seolah tinggal selangkah menempelkan gambar bintang yang ke enam. Pada fase group, penonton televisi yang tak senang kepada timnas Brazil mungkin melihat wajah-wajah supporter tuan rumah begitu yakin dan sekaligus menyebalkan. Mereka begitu jumawa. Inilah konco-konco kesebelasan tiran.

Namun pada akhirnya kita tahu, tim tuan rumah yang didukung mayoritas itu mesti mengubur dalam-dalam mimpi agungnya. Dan tak cukup di sana, sebuah noktah memalukan pun terpaksa masuk ke dalam arsip sejarah sebuah bangsa sepakbola yang begitu cemerlang tersebut. Bagi masyarakat Brazil, barangkali kekalahan 7-1 dari Jerman di laga semifinal bukanlah kekalahan yang biasa. Itu adalah trauma yang tak bakal sembuh dengan cepat. Drama berdarah-darah Brazil kemudian ditutup dengan sempurna ketika mereka dibungkam Belanda 3-0 pada perebutan juara ketiga.   

***

Tak ada yang memekakkan ruang informasi, di bulan-bulan ini, melebihi hiruk-pikuk Pemilu Pemilihan Presiden. Dari kampanye sampai hitung cepat, semuanya dikemas dengan perang terbuka skala nasional. Mungkin karena calonnya hanya dua pasang, jadi warga dipaksa berhadap-hadapan, terpolarisasi, berjejak di kutub-kutub yang berlawanan.

Namun terlepas dari serunya pertempuran di “padang kurusetra”, ada satu hal yang menurut hemat saya cukup mengagetkan. Seperti ada dominasi yang cair kemudian luruh. Meskipun kubu Jokowi cenderung akan memenangkan Pilpres, namun jika dilihat dari angka yang beredar di mana-mana, selisih antara dua calon tidak begitu jauh. Dugaan saya, atau mungkin juga banyak orang, Jokowi akan memenangkan pertarungan ini dengan mudah. Alasannya sederhana saja; sebagai anak emas media (jauh sebelaum pilpres berlangsung) yang melalui corong-corongnya berhasil mempengaruhi ruang olah informasi massa, Jokowi tidak akan sulit menyentuh alam bawah sadar masyarakat. Namun kenyataan berbicara bahwa Jokowi dan segenap tim suksesnya mesti berjibaku, mati-matian dalam mengamankan peluang kemenangan.

Di sini ada hantaman yang mengagetkan. Ada pukulan sporadis yang membuat goyah harapan-harapan. Ada sesuatu yang nampaknya lambat disadari oleh kubu Jokowi.

***

Sebetulnya tanpa ada serangan Israel ke Gaza pun media sosial kita sudah sangat ramai oleh Piala Dunia dan Pilpres yang berlarut-larut. Namun begitulah jadinya, militer berbendera Bintang David terus membombardir sekerat tanah Palestina di Jalur Gaza. Israel tidak akan kaget dengan hujan simpati dan kutukan; simpati untuk Palestina, dan kutukan untuk dirinya. Yang membuat gusar Israel adalah roket-roket Hamas yang berliweran di langit dekat rumahnya. Maka operasi militer jilid 2 (setidaknya dari tahun 2008) pun digelar.

Di benak tentara-tentara Israel sepertinya ada keheranan yang berlapis-lapis; mengapa sekerat tanah itu tak kunjung tunduk dan menyerah?. Pada perang kota militant Hamas begitu menakutkan dan kerap memukul mundur pasukan Israel yang bersenjata lengkap. Ada semacam kekuatan tak kasat mata yang merintangi niat bangsa Netanyahu untuk melumat tanah tersebut.

***

Di hampir empat hari tengah Ramadhan saya menimbang hal-hal di atas. Entah kenapa seperti ada “kasih tak sampai” yang berulang. Dari Brazil sampai Israel. Dari sepakbola sampai senjata. Ada beberapa dominasi yang melemah; Brazil yang gagal juara, Jokowi yang tidak “menang” mudah, dan Israel yang kesulitan menembus tanah jajahan. Sampai kemudian kesadaran itu merayap juga ke bulan puasa; bukankah di bulan ini banyak katup-katup keinginan yang gagal meledak? Hasrat yang tertahan? Dan ambisi yang mereda? Kemudian saya teringat dengan sekerat tulisan Andrea Hirata di novel Padhang Bulan:

“Kurasa itulah postulat pertama hukum keimbangan alam. Jika kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, seseorang akan naik ke puncak bukit, lalu meniup sangkakala, dunia kiamat.”

Jika pada Piala Dunia 2018 Belanda menjadi juara, saya kira kiamat tidak akan lagi terlalu lama ditunda. Wallu’alam. [irf]

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai