06 May 2014

Aktivis Buku itu Profesi, Bukan Harakiri!

Oleh : Ade Maruf

Status di Facebook bisa bermakna apa pun. Ini jagat maya, siapa pun bisa menulis (lihat: “menulis”, bukan “berkata”) apa pun. Kita bahkan boleh memajang gambar anak usia sekolah dasar sedang senggama, asli ataupun moda kreasi-duplikasi ala Photoshop, di tampilan situs jejaring sosial ini. Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) masihlah perlu sosialisasi, dan kita boleh sedikit memanfaatkan celahnya untuk bersenang-senang.

Lanturan awal saya itu sengaja saya ungkapkan karena saya merasa aneh dengan respons tidak langsung yang disampaikan oleh seorang teman—setidaknya “teman” karena saya menaruhnya di friendlist— ketika pada suatu hari saya menulis sesuatu di status saya. Waktu itu suasana hati saya sedang senang karena profesi saya sebagai pekerja di industri buku telah membuat saya bisa hidup dalam kadar yang cukup.

Sang teman ini kemudian menulis respons tidak langsung terhadap saya. Saya sebut “tidak langsung” karena dia justru menulis di statusnya, bukan mengomentari status saya. Maka muncullah status dia di halaman Facebook saya, intinya dia menyebutkan bahwa profesi yang saya, juga dalam hal ini banyak kawan-kawan partikelir buku, jalani hanyalah menggali kubur sendiri.

Mungkin dia sedang merasa menjadi Jucelino, Nostrodamus, atau Ronggowarsito. Mungkin dia tengah sibuk belajar meniup terompet Israfil hanya untuk mengingatkan saya bahwa ujung hari berada di tangannya. Atau jangan-jangan dia sedang kursus bahasa Indonesia sehingga repot memakai peribahasa sekadar demi menjewer saya yang berlatar belakang profesi yang serupa tapi tak sama dengan dia.

Saya mungkin suudzan terhadapnya. Bisa jadi dia tak bermaksud merespons status saya. Tapi, taruhlah saya berdosa karena suudzan, maka saya tetap merasa perlu berkomentar balik terhadapnya. Saya segera mengepalkan tangan ke angkasa dan memberikan cangkul justru kepadanya: “Anda justru akan mati duluan, Tuan Sastro!”

Orang-orang menjalani hidup dalam lokus kegemaran masing-masing. Setiap orang memilih bertahan hidup di belantara Indonesia nan kejam ini dengan ransel dan ransum sendiri-sendiri. Masing-masing orang harus berperang dengan senjata yang paling dekat pada jangkauan tangan serta kemampuannya. Maksud saya, siapa pun tak mungkin selamat dengan kehidupannya tanpa pernah tahu apa yang harus dilakukannya.

Zeus tak pernah sepenuhnya bisa mengendalikan Hercules, walau Hera adalah istri dan ibu yang tak bisa ditolak risalahnya oleh mereka. Isis akan selalu berpundak Horus, walau banyak jenis burung lain yang bisa saja bertengger di pundak sang dewi pagan. Rel hidup seseorang memang tidak sepasti matahari yang terbit pagi dan balik petang. Jalan hidup seseorang lebih mirip doorprize ala panitia lomba sepeda gembira: susah ditebak siapa pemenangnya.

Itulah sebabnya Kuda Troya menjadi siasat nan luar biasa setelah anak panah, pedang, tameng, dan baju zirah dianggap kurang sigap memenangi peperangan. Itulah mengapa Johan Untung di tahun 80-an rela memelihara kumis setebal ulat bulu seukuran dua ibu jari demi pencitraan publik bahwa Si Johan adalah penyanyi yang bisa menirukan suara siapa pun.

Life is a battle, bahkan tukang siomay pun memahami hal tersebut. Saya menempatkan hidup sebagai palagan. Untuk menyadari hal itu, saya merasa tak perlu merujuk pada diagnosis Marxis ortodoks tentang negasi buruh kontra majikan. Saya menaruh konteks pekerjaan sebagai perjuangan, tanpa harus mengeja catatan kaki seperti keyakinan kaum Wahabbi tentang negasi khilafah versus demokrasi.

Saya pikir, bangku sekolahan mengajarkan soal kompetisi yang higienis, tapi saya lebih memahaminya sebagai bahasa lain dari kenyataan bahwa kaum tetua kita sudah sejak awal mengingatkan: “Ini dunia, Nak. Onak beranak pinak, hambatan hidup meruyak. Bersiaplah kau untuk menghadapinya. Menanglah dengan caramu. Kalaupun kalah, terimalah biasa saja.”

Jadi, kalau ayah Anda adalah penjual obat palsu di pasar kecamatan, maka berbanggalah karena ayah Anda bukan pemilik pabrik ekstasi. Jika ibu Anda adalah pengepul rongsokan yang kadang-kadang mencuri sandal jepit milik orang, maka berbahagialah karena ibu Anda bukan sosialita yang sibuk arisan dengan uang hasil korupsi yang dilakukan suaminya.

Kalau Anda bisa sebangga dan sebahagia itu, berarti Anda paham bahwa “dosa” dan “kesalahan” memiliki kadar serta tingkatan yang tak sepadan. Maksud saya, tak semua hal di dunia ini melulu mesti dihujat dan disesali. Kalaupun ada yang Anda anggap kurang memuaskan, anggaplah saja sebagai kesialan. Dan sial adalah perkara yang bersahaja, tidak sama seramnya dengan komik yang menceritakan siksa neraka.

Saya tak sangat pintar dibanding kawan-kawan saya yang berada di jaringan industri perbukuan di Tanah Mataram: penerbit, penulis, penerjemah, percetakan, distributor, toko buku, dan seterusnya. Saya juga pernah berada di titik paling menjengkelkan dalam pilihan profesi sebagai pabrik buku.

Saya senang berada di arena bisnis barang bacaan yang kalah meriah dengan bisnis Kacang Garuda ini. Saya betah menggumuli kapitalisasi atas buku dalam kalkulasi yang paling masuk akal dibanding bisnis janji-janji ala investasi Bank Century. Dan senang itu mempunyai arti yang beragam. Dan betah itu memiliki makna yang tidak tunggal.

Kalau Anda pengusaha superkaya, memiliki harta yang membuat Anda mampu membeli negara-negara di Karibia, juga disembah oleh cantrik-cantrik yang bermuka palsu di hadapan Anda karena puas dengan besaran gaji mereka, lantas Anda menjadi bagian dari batalion elite selebriti bisnis tingkat Nusantara, maka saya pikir hidup Anda tak berkaitan dengan saya. Kalaupun ada kaitannya, mungkin itu hanya karena pada suatu hari saya bertemu Anda di jalan raya dan membantu Anda mencari tukang tambal ban untuk menambal Lamborghini tunggangan Anda yang dihunjam paku.

Kalau saya setiap hari mengerjakan buku, lalu menjualnya melalui jejaring rumit yang kadang-kadang sarat dengan gaya makelaran, sedangkan Anda adalah mahasiswa diploma tiga nan kere yang kerap menunggak uang kuliah, maka hidup saya tak berkaitan dengan Anda. Kalaupun ada kaitannya, mungkin itu hanya ketika kita bertemu di warung makan, memesan ikan bakar yang sama, dan meminum es jeruk yang tak beda kecutnya.

Diskusi adalah hal yang berbeda dengan poligami. Siapa pun bisa menyatakan apa pun dalam sebuah diskusi, tanpa perlu sangat meyakini kebenaran pernyataan dirinya ataupun orang lain. Lagi pula, kebenaran itu sebangsa hantu yang suka kencing sembarangan. Kebenaran sering kali merupakan ketidakjelasan. Sedangkan poligami adalah “kebingungan” yang memverifikasi diri sebagai “kecintaan”. Jadi, Anda tak mungkin berhak membenamkan kepala saya ke pasir penghisap hanya untuk meyakinkan saya agar menyetujui keyakinan Anda. Sama halnya dengan haramnya saya jika memaksa Anda menjadi makmum atas keimanan saya.

Anda menyukai Green Day sejak Dookie, sedangkan saya menghamba The Clash karena London Calling. Saya memilih Steve McQueen ketika Anda membela Johnny Depp. Anda memungut Pablo Neruda dan saya memamah Al Chaidar. Sama saja, bukan?.

Saya menyesalkan ayah saya yang pernah ikut pagar betis mengepung Darul Islam di gunung sekitar Kuningan, sementara Anda mengagumi barisan pemuda radikal pasca-Gestapu. Namun perbedaan itu bukan berarti saya adalah pendukung NII dan Anda pembela PKI.

Diferensiasi adalah sesuatu yang lebih dekat dengan komparasi, tapi berbeda dengan kompetisi. Artinya, jika saya dan Anda berbeda, begitulah faktanya, tapi tidak berarti kita saling melakkan agresi. Yang bermain bukanlah telunjuk, melainkan ibu jari. Muaranya: You’re OK, so I’m fine.

Dari tiga orang yang saya temui dalam rentang nine-to-five waktu kerja harian di tengah kepadatan bisnis buku, misalnya, tak satu pun rekan yang setahu saya berniat harakiri karena frustrasi. Benar bahwa keluhan, jumlah keringat yang kebanyakan, dan kompensasi atas hasil kerja yang belum seimbang, sering kali membuat mereka, juga saya, merasa kelelahan. Tapi, seperti kata ibu tua pemilik rumah kontrakan saya, “Nyambut gawe kuwi sing sabar, Mas.”

OMG, terima kasih atas semangat yang selalu tampak. Karena siang hari saya lebih banyak jalan-jalan, maka malam adalah waktu saya untuk mengerjakan tulisan dan terbitan. Nawaitu saya dalam hal profesi ini bersanding lunak dengan kuping saya yang banyak dihajar peringatan tentang sejumlah kewajiban: bahwa saya punya keluarga, bahwa saya punya anak, bahwa saya punya hutang cetak, bahwa saya harus bekerja keras.

Dalam lorong kesadaran yang serupa, malam hari bagi saya adalah saat yang sama untuk menekan tombol volume speaker ke derajat medium demi Lamb Of God, juga menonton unduhan Flight 666: Iron Maiden saat rehat dari tangan yang terus berkawan dengan notebook. Saya senang mengerjakan buku tanpa membuang kesukaan saya pada lelucon satanik musik keras khas Kabbalis.

Suudzan saya pada status teman saya di Facebook bahwa dia melakukan invasi atas pekerjaan yang saya lakukan, akhirnya saya anggap kesalahan. Mungkin saja dia tak bermaksud seperti dugaan saya. Mungkin saja dia tak berkaitan dengan saya. Lalu kenapa saya diam-diam harus repot menjadi fasis-dadakan dengan menilainya sebagai tersangka perusuh kebun sayuran milik saya?

Namun ternyata saya tetap menekan tombol keyboard, membuka friendlist, dan nama dia saya remove. Saya melakukannya bukan karena saya kesal atas cara dia berkomentar, tetapi karena ingatan saya atas sosok dia dan pengalaman buruk yang saya alami dengannya di masa lampau. Jika saya lalu bertemu dengan Abidin Bin Jalil, teman SMP saya, dan dia bertanya, “Kenapa?”, maka jawaban saya adalah: “Males, euy!”

Saya alhamdulillah tidak menjadi bagian dari fakta bahwa sejumlah orang yang mengais rezeki di bisnis buku adalah mereka yang akrab dengan scanner dan rental komputer. Syukurlah saya bukan penumpang di gerbong para penulis dan penerbit klepto-konten yang menyimpan celengan jago berisi rupiah berjuta-juta dari hasil proyek mencontek luar biasa.

Andai saya seperti mereka, barulah teman yang menulis status di Facebook itu menemukan relevansinya dengan diri saya. Tapi nyatanya saya tidak, itulah sebabnya kami perang suudzan: dia menduga saya, saya menerka dia. Ternyata kami sama-sama keliru.

Bisnis saya, juga kawan-kawan pelaku buku di kota penghasil Traktat Giyanti ini, bukanlah semacam korporasi literasi lokal nan besar seperti milik Jakob Utama. Kami entah kapan bisa membangun saluran pipa kejayaan sebagaimana kilang-kilang minyak kepunyaan Medco dan Prabowo Subianto di Kazakhstan. Ah, tak banyak lingkup profit dan skala pendapatan kami dibanding mereka, setidaknya untuk saat ini. Namun kami bertawakal menjalaninya.

Benar bahwa tak setiap isi kepala di antara kami bersepakat dengan idealitas sinkretisme produk bernama buku. Jangankan pabrik buku skala medioker macam kami, bahkan industri rumahan jamu tradisional ala Banyumasan pun tidak selalu seragam dalam meracik bahan baku. Jadi, saya tak menafikan bahwa penduduk Indonesia yang membeli lalu membaca buku sambil minum jamu mungkin saja akan muntah keracunan. Maksud saya, produk apa pun tak semuanya menyehatkan badan dan pikiran.

Saya tahu perniagaan barang bacaan memiliki demarkasi yang lebih tegas dibanding ijab konsinyasi untuk produk semisal Indomie. Kawan-kawan pengurus IKAPI dan para penggiat gerakan literasi menyebut marka tersebut sebagai “peningkatan minat baca”, “buku bermutu”, “masyarakat cerdas”, and any type shit of that. Entah berapa biji bola mata para pemilik pabrik buku yang selalu mengingat marka tersebut. Mungkin justru lebih banyak yang mengenangnya sebagai kampanye non-profit atas nama hukum, moral, masa depan, bangsa, dan negara. “Ah, kami sih berdagang saja,” kata para saudagar buku itu.

Saya akan berhenti menulis di paragraf ini. Jika setengah jam sesudah titik terakhir tulisan saya tiba-tiba saya bertemu dengan seorang kawan pemilik pabrik buku, maka saya akan mengatakan: “Jangan ikuti Legenda 47 Ronin. Mari kita selesaikan digram kombinasi dagang dan kesenangan.”

Lalu, jika lima menit kemudian saya berpapasan dengan seorang kawan penulis buku yang namanya tak pernah tercantum dalam deret hitung dan deret ukur kreator kebudayaan di negeri ini, maka saya akan berkata: “Jangan lanjutkan keimanan pada scanner. Rak-rak di toko buku masih bisa menunggumu untuk membuat sesuatu yang melebihi daya juang seorang copet di pasar malam.”

Tuan Sastro, semoga Anda terus berkarya di dunia yang tak saya pahami arogansinya. Kami akan tetap berada di sini, membangun rumah-aman yang menyenangkan pasca-banjir bandang teori-teori kebudayaan khas dunia perbukuan. Anda tak perlu khawatir karena saya tahu masih banyak kawan yang memiliki kesadaran tentang peradaban bacaan. Juga masih banyak teman yang mampu membedakan cara membuat barang layak dan barang apak.

Setelah ini, saya harap kita tak lagi saling suudzan.

* Ade Maruf adalah penulis buku Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja 1999-2004
* Dinukil dari Note Facebook Ade Maruf pada 3 September 2009 dengan judul asli: “Ini Profesi, Bukan Proyek Harakiri”

[ Disalin dari web kronik indonesiabuku.com ]

01 May 2014

Melarung yang Patah


Ini masih tentang kawan saya: Asan. 

Bosan di laut, akhirnya Asan pulang. Ada sebuah hotel baru di Kelapa Gading yang katanya baru buka. Asan didaulat menjadi pimpinan tukang masak di skuadron dapur bersuhu di atas rata-rata. Mula-mula saya tidak terlampau yakin kalau dia memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Saya pikir, mulanya, orang seperti dia tidak akan mengambil keputusan untuk menyerahkan sepenggal waktunya didera kota yang rudin macam Jakarta ini. 

“Kapan kau libur? Marilah kita bersua, sebelum berbanyak omong dilarang pemerintah,” dalam kelakar dia mengajak saya untuk bertemu. Maka tak lama setelah itu waktu pun mempertemukan. Siang menjelang sore saya sudah terduduk manis di kamarnya yang tidak terlalu luas. Tertawa adalah menu wajib bagi setiap ritus perkawanan yang dirayakan dengan gembira. Pun demikian pula sore itu.

Namun di antara gelak ada juga rima-rima melankolik tentang rencana berumah tangga. Dia kawakan dalam mengarungi samudera maha luas, namun di bahtera yang kompleks lembaga pernikahan dia masih hijau, bahkan tunas pun belum.  Sekira setahun yang lalu, katanya, pernah pula dia hampir naik pelaminan, namun calon mertua laki-laki menyembelihnya bagai tukang jagal. Dia pun mundur.

“San, kau ini sudah cukup bekal duniawi. Rumah kau punya tiga biji, tunggangan tak kurang, penghasilan lebih dari cukup, tak elok jika terus ditunda-tunda,” tipikal khotbah bumerang, sebab nyata, saya pun masih terkurung dalam rimba lalagasan. Dia terkekeh, seolah bosan mendengar petuah basi tersebut. Tak ada jawaban, hanya batang cigarette yang kembali dibakar.

Lalu tiba-tiba hari menjadi semakin senja setelah itu. Saya pamit, dan kami pun berpisah.

***

Entah berapa bulan setelah berpisah di Kelapa Gading, sampai juga selentingan kabar bahwa Asan akhirnya menikah dengan perempuan yang berasal dari perbatasan Jawa Barat. Saya konfirmasi kepada beberapa orang kawan, dan benar katanya. Alhamdulillah. Samudera geografis kini berganti menjadi samudera mental dan biologis. Komunikasi kemudian terputus, barangkali demikian tabiatnya; setelah rimbitan, siapa pun menjadi sibuk ditelan pusaran tanggungjawab keluarga, dan hal-hal lain menjadi sekunder. 

Namun pada sebuah keriuhan group BB anak-anak SMA, dia muncul lagi. Masih dengan kelakar yang khas. Reuni virtual itu sangat ramai, maklum mengungkit masa-masa kejayaan putih abu-abu seolah tak ada habisnya. Bahasa pun bersemayam pada lembah yang paling karib; tak ada segan, tak ada sungkan, semuanya begitu cair dan menyenangkan. 

Seminggu setelah kemunculannya tiba-tiba Asan menghilang, meninggalkan group. “Hp gua error, ntar gua masuk lagi,” kilahnya. Namun anak-anak yang menunggu tak juga mendapatkan kabar. Kemudian muncul berita; dia hendak berlayar lagi, start dari Inggris tepatnya. Rupanya laut kembali memanggil alam bawah sadarnya. Foto terakhir adalah sebuah nomor antrian di kantor Imigrasi. Seorang kawan bertanya, “San, lu ke laut lagi?” Dan sebuah jawaban pendek, sangat pendek, “iya.”

Ada sebuah pertanyaan di pikiran, kenapa Asan pergi lagi ke batas geografis yang sangat jauh, sedangkan dia belum lama menjemput impian panjangnya; pernikahan. Kawan-kawan yang lain pun demikian pula pertanyaannya, “Rek neangan naon deui atuh si eta teh? Pan geus boga pamajikan, ngadon abur-aburan wae.” 

Pertanyaan tinggal pertanyaan, karena prinsip dan keputusan adalah hak orang yang menjalankan. Saya dan kawan-kawan yang lain hanya bisa mendo’akan. Melepas seorang kawan karib kembali ke batas jauh ujung dunia. Setiap orang, di group BB anak-anak SMA melangitkan do’a yang merambat ke biru langit dan laut, untuknya, untuk Asan yang barangkali tengah bersiap di bandara Soekarno-Hatta. 

Rahman menulis, “Bung, hati-hati di perjalanan, Inggris jauh. Banyak-banyaklah berdo’a.”

“Sia indit deui San? Kabina-bina. Tapi heug teu nanaon, nu penting sia salamet jeung bisa balik deui kadieu nyak, engke urang ngaliwet deui. Tong poho mun balik deui kadieu mawa oleh-oleh,” tulis Ryan dalam bahasa yang akan membuat pening J.S. Badudu.

Sementara komentar Haris pendek saja, “Selamat jalan Bung. Jaga nama baik!” Tipikal seorang militer, singkat dan padat.

Syukron yang tengah bertugas menjaga keamanan di TPS Ciaul tak ketinggalan, “Indit-inditan wae atuh sia teh San, pan geus boga pamajikan, ngajedog atuh di dieu, sing karunya ka kolot maneh!”

Dalam kondisi yang tengah hamil tua, Amie pun ikut mendo’akan, “San, hati-hati ya. Semoga berkah dan bisa secepatnya pulang kembali ke sini. Jangan lama-lama San, anak-anak bakal kangen. We love you heheh…”

Dari Balikpapan Yogi menulis, “Kang Asan bade angkat deui? Titi DJ nyak, tong hilap pesenan abdi; jersey Inggris tea heheh..”

Sementara pak guru Herlan berpesan, “San, omat sing rajin olahraga, beuteng tong budayut teuing, jaga kasehatan. Pido’ana we ti kami, sing salamet nepi ka Inggris.”

Dan saya menjadi pamungkas, “Bung, masih ingat kan kata Rumi? Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah, terbentanglah sebuah tanah, aku akan menemuimu di sana. Semoga lancar dan sukses di sana. Jaga diri baik-baik.” 

***

Yang saya tahu, hidup selalu mengambil kawan-kawan terbaik, satu demi satu. Namun tak bisa ditampik, bahwa setiap orang niscaya berjalan pada setapak yang telah dipilihnya. Dan nasib hanyalah kesunyian masing-masing. Yang tersisa, paling hanya resonansi masalalu, dan silaturahmi yang terus berderap, itu pun jika mau menjaganya. 

Sekira sebulan yang lalu, reuni virtual berbuah kopi darat. Meskipun yang hadir tidak terlampau banyak, namun sudah lebih dari cukup untuk menghimpun bergalon-galon tawa. Setiap yang datang mengumbar masa jayanya waktu di SMA, dan juga yang pahit-pahit yang masih layak untuk dikenang. Sehari tenggelam dalam perbincangan masalalu, lumayan agar tidak masuk ke dalam jamaah orang-orang yang kurang piknik.

Di tengah keriuhan tiba-tiba muncul selenting kabar yang sangat mengagetkan: Asan telah sendirian! Berita itu mulanya datang dari seorang kawan perempuan yang sumbernya entah dari mana, namun dikategorikan A1, demikian info yang saya terima.

Sejenak saya termenung, begini rupa lakon hidup, tak dapat ditebak alur dan likunya. Kawan-kawan yang lain pun demikian, mereka kaget belaka. Tak ada sedikit pun sangka dan anggapan bahwa lembaga kehidupan Asan yang baru dibangunnya akan berakhir dengan begitu cepat. Belasungkawa memenuhi setiap kepala, karena kami yakin bahwa setiap perpisahan pada mulanya pasti menyakitkan. Sembuh dari luka batin adalah urusan waktu, yang melarung adalah saat dan pergantian jaman. 

Asan, kawan kami yang bersahaja-berkawan itu rupanya hendak mempercepat sembuh. Ditempuhnya jarak ribuan kilo demi menggapai penawar luka batin yang tengah merajah dan menjarah dirinya dengan semena-mena. Seketika saya teringat film The Curious Case of Benjamin Button. Dalam perjalanannya menghindari sang anak karena Benjamin terus beranjak menjadi muda, narasi muncul dengan lirih:

“For what it’s worth: it’s never too late or, in my case, too early to be whoever you want to be. There’s no time limit, stop whenever you want. You can change or stay the same, there are no rules to this thing. We can make the best or the worst of it. I hope you make the best of it. And I hope you see thing that startle you. I hope you feel things you never felt before. I hope you meet people with a different point of view. I hope you live a life you’re proud of. If you find that you’re not, I hope you have the strength to start all over again.”

Saya dan kawan-kawan tak banyak komentar ihwal lembaga kehidupan yang hancur berantakan tersebut, namun seperti kata Kapten Mike (Jared Harris) kepada Benjamin, “Kamu bisa saja menghindari takdir, tapi akhirnya kau harus merelakannya.” [irf]

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai