29 April 2014

Madu Meleleh di Bawah Cahaya Rembulan


Koper dan ransel bervolume 40 liter dikosongkan. Yang dibawa hanya beberapa lembar baju ganti, celana selutut, sandang dalam, dan sebuah kamera entah berlensa apa. Kereta berjalan perlahan meninggalkan kota yang mulai bernuansa merah flamboyan. Dia duduk di dekat lorong, sedangkan istrinya, ya istrinya, duduk di sebelah jendela. Percakapan setengah nada. Tak elok bersuara keras di muka publik, lagi pula malam mulai merambati lorong kereta.

Seminggu yang lalu dia telah berhasil merebut perempuan yang duduk di sebelah dari tangan orangtuanya. Dari bermilyar yang ada, hanya perempuan itu yang akhirnya bersedia menemani siang-malamnya, panas-dinginnya, dan segala yang permanen di dirinya. Rayuan hanyalah riasan menor yang dilekatkan pada kanvas putih. Istrinya tahu itu, tapi ia juga serupa kembang gula yang bermanfaat menumpas segala pahit di rongga mulut.

Dia, dan juga istrinya, belum paham apa yang pernah ditulis Eco tentang Tamasya Dalam Hiperealitas. Malam itu keduanya membicarakan Umberto Eco, Ali Syariati, Camus, Tolstoy, dan Murakami. Membacai arus budaya dan cerita adalah kembang yang bermekaran sejak pagar berdiri kokoh dan akhirnya roboh. Tak mudah bagi radar menemukan penyusup yang bergerak melintas batas demarkasi, maka pertemuan dengan istrinya—dulu, kini, dan nanti—adalah sesuatu yang patut disyukuri, dia tahu ihwal itu.

Sementara organ pendengar berbagi awan-awan gloomy dari musikalisasi puisi Sapardi. Lampu redup, dan kereta terus melaju konstan dalam pelukan malam, maka nikmat mana lagi yang akan mereka dustakan? Istrinya tahu belaka, dia seperti punya kebiasaan akut: sedang berduaan pada suasana romantik sekalipun, dia selalu berbicara tentang kawan-kawannya. 

“Mereka sudara-sudara saya,” begitu katanya. Ya, sodara-saudara-sudara: kata itu berasal dari se-susu dan se-darah. Maka ritus perkawanan sesungguhnya melebihi jargon solidaritas dan kekariban. Ada perasaan intim yang melekat di lereng ingatan, tentang kenangan, impian, ambisi, cita-cita, maupun masadepan yang tengah dan telah dibangun. Kontra definisi terjadi ketika ritus itu akhirnya bergradasi dan kabur. Hidup seperti melesat pada rel dan gerbong yang berlainan dan tak saling kenal. Itu kekhawatirannya. Maka sedapat-dapat, pada istrinya, dia kerap berbicara tentang sudara-sudaranya. Tentang brother dan ikhwah-nya.

Di Yogja, para kamerad perbukuan telah menunggu mereka. Di sebuah station radio berjejaring sosial mereka siap mengudara dan diarsiapkan: inilah honeymoon pertama berbumbu labirin kata-kata.
Kubiarkan cahaya bintang memilikimu. Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya. Gelisah tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu. Entah kapan kau bisa kutangkap….
Kata-kata Sapardi menemani mereka tidur.

***

Muhidin namanya. Dia seorang kerani, dia adalah yang mula-mula menyambut sepasang suami-istri baru itu. Kopi dihidangkan dan pembicaraan datang bergelombang, seperti kawan lama yang baru bertemu kembali. “Bung dan nyonya sudah siap?” kata produser yang datang tiba-tiba. Seorang penyiar muda dan cantik sudah menunggu. Si Bung yang baru punya istri itu panggil saja Fidel. Dan acara dimulai, laku literasi mereka utarakan. 

“Belum terlampau lama sebetulnya, ada sekira enam bulan sebelum saya mengambil perempuan ini dari bapaknya.”

Mulanya Fidel hijrah ke Cibitung, melaksanakan kewajiban. Dia memilih pekerjaan yang lebih baik. Kemudian di tengah segala urusan kantor, dia membereskan kembali buku-bukunya yang berjumlah lima box besar, entah berapa judul, dia lupa menghitungnya. Kontrakannya dekat pohon mangga yang rimbun, tak jauh dari mesjid. Anak-anak tetangga menelan masa kanak dengan gembira. Sebelum dan setelah sholat mereka bermain di pekarangan mesjid. Gaduh memang, namun harap maklum, begitulah laku anak-anak, kewajibannya hanya bermain. Sekolah sesungguhnya adalah sampingan, hanya mengisi waktu luang di pagi hari, biar tidak diledek burung dan ayam jantan yang bersahutan sedari pagi.

Apakah anak-anak itu suka membaca buku? Sekali waktu Fidel bertanya pada dirinya. Namun kemudian ada sedikit keluh, dia tak punya barang sebiji pun buku cerita anak-anak. Kalau buku-buku politik dan novel dewasa dia punya banyak, tapi apa gunanya buku-buku demikian bagi jiwa bocah yang sedang rakus menelan jatah hidup gembira? Namun tak lama kemudian lampu terang menyala dalam kepalanya; dia hendak mendongeng saja. Maka sekali waktu, sehabis sholat, dia duduk dulu di teras mesjid. Seorang bocah duduk di dekatnya, istirahat dari berlari-lari. “Kamu mau mendengarkan dongeng alien yang berkelahi dengan keong racun?” Percobaan pertama gagal, bocah itu menggeleng sambil tersenyum, dan berlari lagi mengejar temannya.

Tak lama datang lagi seorang bocah. Percobaan kedua, “Kamu tahu bajak laut?” Ada anggukan. Kemudian menyusul, “Tahu ga kalo bajak laut itu sebenarnya bukan manusia, tapi burung pemakan bangkai?” Diam. “Kamu mau mendengarkan ceritanya?” Bocah pergi. Percobaan kedua gagal.

Mendung menyerang, langit seperti orang yang belum mencuci muka. Awan gelap bergulung-gulung. Hujan membubarkan anak-anak yang sedang bermain di pekarangan. Fidel beringsut ke dinding mesjid, hampir menempel dengan jendela. Lupakan bocah-bocah miskin imajinasi itu, karena waktu menendangnya ke minggu ketiga di pekerjaan baru.

Ke Krawang dia hanya lewat, namun ke Bekasi (akhirnya) sering datang. Namun dia tak pernah menjumpai Chairil yang menyadur Krawang-Bekasi. Kalaupun penyair bohemian itu masih hidup dan tak pernah tua; paling sedang sibuk mengunjungi gadis-gadis seperti kelakuannya dari dulu. Usia 27 memang terlampau muda untuk meninggal dunia, Chairil tahu. Dan dia kalah terlalu dini, sebelum (barangkali) beberapa maksud sempat diucapkan. “Hidup hanya menunda kekalahan. Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan. Sebelum pada akhirnya kita menyerah”

Seperti air yang mengalir dan berhenti pada sebuah ceruk, cinta juga rupanya diciptakan demikian. Selalu ada halte terakhir yang mendorong kondektur bus untuk membangunkan penumpang yang pulas tertidur atau sibuk dengan gadgetnya. Dalam kedaulatan sepasang manusia yang telah berikrar, bus yang berhenti kemudian melaju lagi membawa dua planet besar, memikul dua ego yang dijaga bersama agar tidak saling bertabrakan. Maka demikianlah, pada sebuah petang yang biasa, Fidel (akhirnya) bertemu dengan perempuan itu.

“Bukan. Saya bukan asli Bekasi. Ari-ari dan banyak kenangan masa kecil ditanam di Bandung. Pekerjaan ayah yang membawa saya ke sini.” Fidel hanya diam. Perempuan itu meneruskan, “Suatu saat saya akan kembali ke Bandung, ke cinta yang sesungguhnya.” Shock therapy pertama. Apa maksudnya dengan ‘cinta yang sesungguhnya?’ Sementara harapan tengah ditabur dan ditanam kepada perempuan itu. Begitulah kodratnya, laki-laki mesti diberi tantangan, seperti layangan yang terbang menentang angin.

Pendek kata panjang perihal, setelah menaklukkan tantangan yang tak sedikit, Fidel akhirnya berhasil merebut perempuan itu dari ayahnya. Enam bulan sebelum ikrar yang teguh diucapkan, Fidel pernah meminta, “Saya belum mampu menjinakkan anak-anak di sekitar kontrakan, kau tentu mau membantunya, bukan?” Hanya dibalas anggukan. Dalam darah yang mengalir di diri perempuan, selalu ada rumah-rumah kecil yang imut milik para kurcaci, juga ada sekawanan liliput yang tengah menggotong seorang putri cantik yang hendak diculik raja zalim, namun kemudian diselamatkan pangeran berkuda putih. Ya, dengan caranya sendiri perempuan seringkali pandai menaklukkan bocah-bocah yang liar sekalipun.

Maka buku-buku kemudian ditata ulang, cerita-cerita anak yang sebelumnya tiada berangsur dikumpulkan. Perempuannya mendongeng, ada juga sebagian anak yang duduk di teras sambil membaca, sementara Fidel sibuk membuat bangku dari kayu demi disimpan di bawah pohon mangga yang semakin rimbun. Istri Fidel tentu punya nama, tapi saya tak mau buru-buru menyebutnya, sementara ini cukup dengan ‘perempuan’ saja.


Laju literasi menggoncang kampung sejak Fidel mengenal perempuannya. Dan kini setelah menjadi istri, bendera semakin tinggi dan berkibar.

***

“Besok lusa atau entah kapan, kalau Bung sudah pulang, pastikan kita tetap berkabar, ya.” Kemudian mereka bersalaman. Fidel dan istrinya kembali ke penginapan, meninggalkan Muhidin dan para kerani perbukuan.

Tidak langsung pulang ke penginapan sebenarnya, sebab lihatlah mereka tengah menyusuri Malioboro, lalu singgah di tenda roti bakar. Di kota yang terlanjur manis oleh cerita-cerita, lima orang pengamen kemudian menghampiri. Beberapa lagu lama dibawakan untuk ditukar dengan sedikit uang. Ada pelangi yang tak hendak beranjak dari langit jiwa pasangan itu, namun saya tak pandai menggambarkannya.

Menjelang dini hari mereka pulang. Di balkon, masih tersisa percakapan setengan nada; tentang sahabat, buku, dan madu. Ada waktu yang bergelombang di belakang, ada jejak yang terserak di setapak jalan yang telah masing-masing lalui. Cinta yang menenteramkan adalah yang mampu memasukkan masalalu ke dalam karung, diikat dan disimpan di gudang. Detak detik tak berjalan surut ke belakang, sementara kehidupan melaju ke depan mendekati titik akhir. Itu normatifnya. Namun siapa yang kuat ketika visual-visual masalalu yang bertentangan dengan suasana jiwa tiba-tiba menghampar di kepala? Pada sebuah titik akhirnya Fidel dan istrinya bersepakat untuk bersama-sama tak pernah membuka ikatan karung yang telah disimpan di gudang. Dan percakapan dilanjutkan di tempat tidur, dengan lebih lirih tentu saja.

Ketika pagi kembali datang, mereka kembali menikmati suasana kota. Yang paling lama menenggelamkan tentu saja pusat penjualan buku. Itu rumah mereka, bau kertas mencucuk hidung dan perasaan yang lepas menderas, larut bersama kata-kata. “Sayang, sudah sore. Hendak ke mana kita setelah ini?” Tarikan tangan adalah ajakan mencegat mobil bak terbuka yang hendak pergi ke selatan: arah pantai.

Maka demi kota yang tengah mandi cahaya, mereka terlentang di atas mobil bak terbuka dan pandangan tegas ke langit. Madu memeleh di situ, di bawah cahaya rembulan Yogya. [irf]

23 April 2014

Surat untuk Hisanori Kato

Kato San yang baik,

Apa kabarmu sekarang?. Sejak terakhir kali kita bertemu di Transjakarta arah Tanjung Priok itu, rasa-rasanya waktu telah melebarkan sayapnya. Belum berlalu lama tentu saja, tapi sejak pertemuan terakhir di tahun 2011 itu, jarak yang membentang telah membawa saya ke warung roti bakar sendirian. Tak ada lagi obrolan-obrolan kita yang membicarakan banyak hal. Penjual roti bakar pun kini telah berganti, dan mulai sepi pengunjung. Apa yang kamu khawatirkan perlahan mulai menjadi kenyataan, selain anak-anak muda, orang-orang tua yang dulu sering kita jumpai pun mulai beralih ke convenience store yang lampunya menyala terang hampir menyilaukan mata. Benar katamu, apa enaknya melakukan transaksi jual beli hanya dengan bantuan mesin pembaca barcode, dan menerima  ucapan “terima kasih” dari pelayan yang tanpa ekspresi?.

Sambil menyeruput kopi hitam dan menyantap roti bakar rasa coklat, saya saat ini sesungguhnya tengah menikmati cuaca Jakarta yang basah karena hujan. Pohon-pohon yang dulu kamu sukai, kini benar-benar telah berkurang, habis dimakan pembangunan gedung-gedung berpendingin. Meskipun memang kota ini pada dasarnya panas karena berada di pesisir pantai, namun kehilangan pohon dengan begitu massif membuat panas menjadi berlipat-lipat. Maka syukurlah, hujan membuat kota ini menjadi lumayan sejuk. Di kotamu sendiri bagaimana?, apakah hujan sedang turun?. Ah maafkan saya yang tidak hafal siklus musim di negaramu.

Kato San, hari Rabu pada tanggal 1 Januari 2014 kemarin, saya hendak pergi ke toko buku yang berada di jalan Matraman. Di halte Senen saya transit dan menunggu bus yang hendak pergi ke arah Kampung Melayu. Rupanya pengalamanmu yang pernah kau ceritakan itu berulang pada saya. Katanya semalam, dalam rangka menyambut malam pergantian tahun, bus ini beroperasi 24 jam, sehingga pada siang hari armadanya sangat terbatas, mungkin para sopirnya masih mengantuk atau ada alasan lain, saya tidak tahu. Tapi yang pasti bus sungguh lama datangnya. Saya tunggu hampir satu jam, namun bus itu tak kunjung datang juga. Maka dengan kesal saya tinggalkan halte dan setengah berlari mengejar angkot jurusan Senen-Kampung Melayu. Tak lupa saya melambaikan tangan kepada para calon penumpang yang masih sabar menanti kedatangan bus yang entah kapan datangnya. Kau kan masih ingat pengalamanmu itu, bukan?

Apakah kau merindukan saat-saat mengamen di bus jurusan Blok M-Kota? Ya, waktu kau dan kawan Jepangmu mulai berteriak, “kami datang dari Jepang, silahkan dengarkan lagu-lagu kami.” Maka saat lagu selesai dan mereka dengan antusias bertepuk tangan dan hampir semuanya memberimu uang, apakah kau berpikir bahwa orang Indonesia memang ramah dan sangat bersahaja-berkawan? Ah, jangan terlampau yakin. Sikap kami, orang Indonesia ini, kepada orang asing memang selalu begitu. Tapi kepada bangsa sendiri, kadang-kadang, jika ada yang ngamen kami langsung pura-pura tidur.

Saya menulis surat ini sambil mendengarkan permainan piano Jaya Suprana membawakan lagu-lagu Ismail Marzuki. Apa kamu tahu musisi yang satu itu, Kato San?. Atau kamu hanya pernah mendengarkan lagu Ondel-ondel Benyamin Sueb saja selama di Jakarta dulu? Hehehe…

Oh iya, sehabis pulang dari toko buku saya mampir dulu di warung nasi Kapau yang ada di Simpang Lima Senen. Barangkali kau pun pernah makan di sana?. Kalau belum pernah, biar saya ceritakan sedikit. Lauk pauk-nya sungguh enak, rasanya pun mungkin cocok dengan lidahmu yang kurang menyukai rasa manis seperti makanan Jawa. Ya, tentu saya masih ingat dengan ceritamu waktu kau mengunjungi Yogyakarta dan untuk pertamakalinya  menyantap Nasi Gudeg. Kau kan bilang waktu itu, “sebenarnya, saya suka yang manis-manis, tetapi kalau makanan manis dicampur dengan nasi saya kurang suka.” Seperti di Restoran Padang yang sering kau kunjungi, di warung nasi Kapau pun kau lebih baik menggunakan jari tangan saja waktu menyantapnya, lebih mantap.

Baru-baru saya mulai rutin lagi menulis di blog bersama seorang kawan. Sekali waktu modem saya hilang, pulsa habis, dan jaringan internet di kantor pun diputus. Akhirnya saya pergi mencari warnet, namun seperti juga wartel yang pernah kau ceritakan, di Jakarta kini susah menemukan warnet. Orang-orang sudah beralih ke smartphone untuk mengakses internet. Dunia benar-benar telah berada di genggaman jari. Setelah berputar-putar keluar-masuk gang, akhirnya saya menemukan warnet yang jaraknya cukup jauh dari rumah kontrakan. Pengunjungnya sepi, dan jaringannya sungguh menjengkelkan; lelet bukan main. Kau mungkin terpesona dengan sikap nrimo sebagian orang Indonesia pada hal-hal yang kadang menjengkelkan, namun ketahuilah itu hanyalah pandangan subjektifmu saja.

Kato San yang baik,

Selama kita berkawan dan membicarakan banyak hal waktu kau tinggal di Jakarta, saya menangkap semacam kebenaran umum, bahwa orang-orang asing yang tidak terlalu lama tinggal di sini, dan tidak terlampau mengakrabi kehidupan sehari-hari, selalu merasakan kesan yang bagus pada Indonesia, khususnya kota Jakarta. Atau semacam apresiasi pada kondisi kontras antara satu budaya dengan budaya yang lain. Maksud saya, seperti halnya turis-turis dari Barat, mereka selalu tertarik dengan hal-hal yang mungkin tidak mereka temui di kehidupan sehari-harinya. Misalnya, mereka terpukau dengan budaya Bali yang religius; persembahan, do’a, dan sesaji setiap hari.

Kau pun saya pikir tak jauh berbeda. Waktu di Jepang orang-orang bilang, “berusahalah dengan baik,” sedangkan di sini seperti yang kau katakan, “janganlah terburu-buru begitu!.” Sebuah budaya yang bertolak belakang sama sekali, kemudian kau terpesona. Tidak ada yang salah memang, karena seperti juga orang-orang Melayu dalam buku Edensor karangan Andrea Hirata—nanti kalau kau ke sini lagi saya pinjamkan, mereka juga terpukau dengan keindahan Eiffel di Paris, bahkan pada nama seorang warga Perancis sekali pun!. Ya, kontras ragam budaya adalah semacam mataair yang tak henti-hentinya mengalirkan ketertarikan-ketertarikan manusia.

Pada kesempatan ini, saya sebenarnya ingin sekali menulis banyak hal tentang Jakarta hari ini, Jakarta yang setelah kepulanganmu ke negeri leluhur, terus berubah dan menyisakan banyak ironi. Saya tidak tahu, kalau kau datang lagi ke Jakarta, apakah kau masih tetap mencintainya atau malah sebaliknya. Bahwa pada akhirnya kau menulis buku tentang kerinduanmu pada Indonesia saya ucapkan terimakasih. Bagaimana pun, setiap orang berhak mengungkapkan perasaan dan pengalaman hidupnya.

Sampai di sini dulu surat saya, Kato San. Lain waktu insyaAllah disambung lagi.

Salam

Denting Piano untuk Sebuah Fragmen

Kau pun tahu, di saat hujan rajin mengguyur Jakarta akhir-akhir ini, frekuensi saya pergi ke warung kopi menjadi meningkat. Tidak melulu minum kopi memang, adakalanya memesan mie rebus atau bubur kacang ijo. Namun apa pun menunya, selalu saja ada orang yang bisa diajak bicara; entah itu si Ijong (penjual kopi), tukang ojek, mahasiswa berkantong pas-pasan, tukang judi bola, pengangguran, atau sekali waktu pernah juga ngobrol dengan seorang perempuan cantik. Masih muda, umurnya sekira terpaut empat tahun di bawah saya. Tak sempat bertanya tentang nama, pekerjaan dan rumahnya, karena pembicaraan dengan cepat bergulir.

Mula-mula saya terpikat dengan kecantikannya, namun selain itu dia juga punya selera musik yang bagus. Darinya saya kemudian tahu kalo Jaya Suprana, seorang tua yang kerap terlihat berat dan ringkih rupanya pernah belajar piano di Jerman. Waktu beliau masih muda, seorang mahapianis Friderich Gulda pernah berkomentar bahwa pianis dari Indonesia ini memiliki bakat musik dan pianistik “extraordinaire”.

Dalam usianya yang sudah lebih dari 60 tahun, kini Jaya Suprana, seperti kata perempuan cantik itu, “mendayagunakan perbendaharaan teknik pianistik termasuk teknik olah warna bunyi, dan belaian jari-jemari ‘extraordinaire’ pada gamitan pianoforte untuk menafsirkan dan menjabarkan mahakarya-mahakarya penggubah lagu Indonesia yang namanya diabadikan dalam sebuah taman pusat kesenian di Jakarta; Ismail Marzuki.”

Ketika hujan mulai reda, dan malam beranjak, perempuan itu mengeluarkan sebuah CD musik. “Kau cobalah dengar ini, semoga suka. Minggu depan kita ketemu lagi di sini.” Kemudian dia pamit tanpa sempat saya dapatkan nomor ponsel atau PIN BB-nya.

Di kamar kontrakan, sambil rebahan di kasur, saya coba putar CD musik itu. Sementara pikiran melayang ke perempuan cantik tadi. Sebentar saya sempat menebak-nebak ihwal nama, pekerjaan dan alamat rumahnya, namun kantuk sudah tiba di pelupuk mata. Dan saya terbang entah ke mana…

***

Saya setengah tak percaya, perempuan cantik itu tengah duduk di bangku kereta. “Hai”, lambaian tangannya mengantarkan saya untuk mendekatinya. “Kamu dari mana?” hanya senyuman, tak ada jawaban. Ya, senyum yang gilang-gemilang, tak jemu dipandangnya, seperti bintang timur yang sedang mengembang. Dia kemudian mengulurkan tangan, “Aryati.” Hampir saja tangannya saya cium, namun siapa yang berani melakukannya pada seorang seni pujaan seperti dia. Dan pembicaraan mengalir seiring kereta yang terus melaju. Tak terasa kereta telah tiba di station Jatinegara, kami harus berpisah. Sebelum turun, dia menyelipkan secarik kertas ke saku kemeja; sebuah alamat rumah.

Maka sudah dapat ditebak kelanjutannya. Kamar kontrakan tiba-tiba sesak oleh rindu. Wajah yang seperti lukisan menerbitkan imajinasi tentang kumbang dan bulan. Ada perasaan terlampau jauh untuk menjangkaunya. Seorang penggubah lagu menulisnya begini, “mungkinkah bulan merindukan kumbang, dapatkan kumbang mencapai rembulan.”

Namun ditakdirkan terlahir sebagai laki-laki tak ada alasan untuk mundur sebelum bertempur. Esok harinya, ketika hari sedang libur, saya meluncur ke alamat yang tertulis di kertas yang diselipkan Aryati. Dalam perjalanan, sepasang mata bola seperti tengah memperhatikan. Barangkali pemilik sepasang mata bola itu bertanya-tanya, “hendak pergi ke mana kau anak muda?” Ikuti saja, kau pun akan tahu siapa yang akan menyambut di pintu rumah itu. Dengan menunaikan kerinduan ini, saya adalah pahlawan bagi diri saya sendiri.

Hujan titik-titik turun. Sekira dua puluh meter dari gang tempat saya masuk, seseorang tengah melindungi dirinya dengan payung. Resam tubuhnya begitu memesona. Dari perempuan dan payung itu lahirlah fantasi, dan bertubi-tubi sehimpunan pertanyaan; Siapa gerangan?, apakah bidadari dari surga atau burung kenari?. Siapa gerangan?, cendrawasih dari bulan ataukah si bintang siang?.

Saya mempercepat langkah hendak mengejarnya. Tepat di depan sebuah rumah, dia membuka pintu pagar. Lalu wajah yang sedari tadi tersembunyi tiba-tiba menampakkan cantiknya. “Aryati!” Senyuman mengembang, dan di beranda rumahnya kami membicarakan banyak hal. Salahsatu yang saya ingat, kami membicarakan kiprah para srikandi bangsa di masalalu. Waktu Jakarta dikuasai Belanda dan sekutu, di tapal batas Bekasi sebagai basis tentara republik, banyak remaja putri yang bahu-membahu membantu para pemuda. Mereka mengangkat senjata, merawat korban pertempuran, dan sibuk di dapur pusat logistik. Dengan simpati yang dalam, Aryati menyebutnya “Melati di Tapal Batas”.

Namun yang paling saya ingat adalah sedikit perdebatan tentang gender. Saya berjejak pada pendapat bahwa pria ditakdirkan berkuasa atas wanita, dan wanita kerap dijajah pria dari dulu, begitu kenyataannya. Siapa yang bisa menyangkal jika wanita adalah perhiasan sangkar madu?. Aryati tak sepenuhnya setuju. Paras cantiknya kemerah-merahan ketika dia mengungkapkan pendapatnya. Di penghujung kuasa katanya, dia berucap, “Benar wanitu itu lemah, lembut, dan manja. Namun adakalanya pria tak berdaya, dia bisa tekuk lutut di sudut kerling wanita.” Jleb!. Begitu menghujam.

Kemudian hari menjadi sore setelah itu. Saya pamit hendak pulang. Aryati mengantar sampai ke pintu pagar. Setengah berbisik dia berkata, “Besok aku hendak pulang ke Bandung Selatan. Entah kapan kita bisa bertemu lagi, bawalah ini sebagai kenang-kenangan,” dia memberikan sebuah sapu tangan. Hujan pertanyaan begitu deras di kepala. Namun sebelum satu pun terjawab, Aryati telah kembali ke dalam rumah.

Sayap ini terasa patah. Jalan pun berat. Bagaimana caranya mendefinisikan perasaan yang baru kuncup, lalu tiba-tiba layu sebelum benar-benar berkembang. Aryati hendak pergi, dan jarak geografis yang membentang telah menghadang di depan. Hujan kembali turun, sekali ini begitu deras. Pandangan kabur. Pada sebuah belokan yang licin kaki terpeleset, dan tubuh menghantam bumi.

***

Setengah sadar saya mengerang memegangi kepala yang membentur tembok kamar. Rupanya tadi saya bermimpi. Sementara laptop masih memutar denting piano Jaya Suprana memainkan lagu-lagu gubahan Ismail Marzuki. [ ]

Lonceng Kematian Toko Buku

Sekira empat tahun yang lalu, di jalan Sumur Batu, persis di sebelah jembatan terdapat kios buku. Tapi kini sudah berganti menjadi warteg.

Mbak penjaga kios itu sering terlihat terkantuk-kantuk. Pengunjung sepi. Seringkali saya dapati, hanya saya sendiri yang tengah melihat-lihat buku yang berjajar memenuhi rak. Saya membeli beberapa buku dakwah dan pergerakan Islam di sana. Dalam benak sering bertanya-tanya, “dengan pengunjung yang sangat minimal, apakah kios buku ini bisa bertahan lama?” Lalu empat bulan setelah itu, kios buku tutup. Dan empat hari setelahnya, buku berganti dengan menu makan sehari-hari.

Alangkah cepat aksara terenggut dari lalu-lintas ekonomi. Saya sedikit menyesali kematian kios buku ini. Namun kenyaatan tak bisa dipungkiri, orang-orang masih lebih membutuhkan makanan daripada sebuhul imajinasi. Setidaknya di jalan Sumur Batu.

***

Kemarin, sehabis menjenguk seorang kawan di rumah sakit Persahabatan, Rawamangun, untuk kesekian kalinya saya sempat juga singgah ke toko buku Eureka di jalan Balai Pustaka. Tidak seperti biasanya. Jika hari-hari sebelumnya toko buku ini sepi, maka saat itu keadaannya berubah; menjadi sangat sepi.

Seorang mbak kasir yang manis melemparkan senyum, namun terasa getir. Hampir semua barang dikenakan diskon. Rak-rak buku banyak yang kosong, CD musik tinggal tersisa beberapa keping, dan majalah-majalah telah hilang. Tangga menuju lantai dua sudah tidak ada, satpam yang biasa membukakan pintu entah ke mana, dia juga tiada. Waktu saya bertanya ihwal beberapa “kehilangan”, mbak kasir manis menjawab, “mau segera tutup mas.” Dari jawabannya tersimpan nada suara tentang pekerjaan yang akan segera lenyap.
Di pojok ada bocah dan ibunya yang sedang membuka-buka buku pelajaran. Sementara di pojok yang lain seorang bapak sibuk memilih buku-buku entah apa. Saya sendiri pada akhirnya hanya membeli sekeping CD Efek Rumah Kaca; Kamar Gelap. Waktu bayar senyum manisnya timbul lagi.

***

Saya telah mencoba sinis, namun tidak bisa. Ihwal kios dan toko buku yang gulung tikar itu saya pikir karena kesalahan strategi. Posisi tempat menjadi kunci. Bukan salah jalan Sumur Batu dan Balai Pustaka, namun jika kita lihat pasar buku di Senen dan Palasari, adakalanya barang seperti itu memerlukan sistem oligopoly, pasar barang sejenis.

Dengan Gramedia sebagai pengecualian (meskipun Gramedia ITC Cempaka Mas tutup juga), contoh lain adalah tentang sepinya toko Gunung Agung yang terletak di depan Markas Marinir di Kwitang. Toko Gunung Agung lama yang terdapat tidak jauh dari halte bus way Senen cenderung lebih ramai, karena di sebelahnya ada beberapa toko buku kecil yang masih bertahan. Tidak bisa dibohongi, bahwa calon pembeli seringkali membutuhkan pembanding sebelum memutuskan membeli suatu barang.

Di jalan Sumur Batu yang nampak hanyalah warung-warung kecil yang menjual rokok dan sembako. Kalau sore tiba, trotoar dan bahu jalan dikusai tenda-tenda biru para penjaja makanan. Toko buku yang telah gulung tikar persis sendirian di tengah kepungan niaga pangan. Pun begitu, meskipun di ujung jalan Balai Pustaka berjajar warung-warung fotocopy dan ATK, namun posisi Eureka dikepung para penjual makanan.

Harga pun tidak bersaing, dengan jumlah koleksi buku yang sangat lebih sedikit dibandingkan toko buku raksasa, Eureka nyaris tidak punya daya jual yang kuat selain interior yang didesain cukup nyaman. Maka lonceng kematian pun berbunyi. Dalam bauran pemasaran kita mengenal empat pilar; product, place, price, promotion. Kiranya teori lama itu masih ampuh mencekik siapa saja yang abai kepadanya.

Maka pada beberapa kasus toko buku yang sepi pengunjung dan kemudian gulung tikar, muncul sebuah kesadaran bahwa selain minat baca yang masih kurang menggembirakan, juga strategi pemasaran menjadi ujung tombak. Idealisme koyak bersama pasar yang sepi, sementara pemasukan harus tetap terjaga demi keberlangsungan hidup.

Waktu mendengarkan Jangan Bakar Buku dari ERK, saya kira lirik ini bisa ditujukan kepada apa pun, termasuk kepada lemahnya strategi pemasaran :
Kata demi kata mengantarkan fantasi
Habis sudah, habis sudah
Bait demi bait pemicu anestesi
Hangus sudah, hangus sudah [ ]

Antara Taman dan Makam

Barangkali tidak kurang dari dua kali saya pernah melihat mobil tangki itu. Pertama di sekitar Monas, malam hari waktu pulang ke arah Pulo Gadung dengan Transjakarta. Yang kedua di Bandung, di gerbang komplek Batu Nunggal, tepat dari pinggir jalan yang bernama Jalan Waas. Mobil tangki berisi air itu bertuliskan “Dinas Pertamanan dan Pemakaman”. Taman dan makam. Kenapa dua urusan ini digabungkan dalam satu organisasi?. Bukankan taman terkait dengan hal-hal keindahan, dan makam berurusan dengan kematian, sesuatu yang sering dipersepsikan menakutkan?.

Bre Redana sempat menulis, bahwa keindahan dan kematian umumnya hanya dilakukan di ranah filsafat. Para filsuf suka menghubung-hubungkan keduanya, katanya. Dia menambahkan, “apakah pencipta struktur birokrasi pemerintahan di Indonesia ‘seprogresif’ para filsuf pemikirannya?”

Pertanyaan itu, di benak saya, sekarang perlahan mulai mencair. Saya menyangka, jangan-jangan yang memutuskan penamaan dinas itu adalah seseorang yang pada malam pergantian tahun duduk di jemuran, melihat kembang api di udara, dan ber-solilokui, nggremeng, bicara sendiri; dalam hati. Dia melihat ulang masalalunya.

Goenawan Mohamad, dalam Caping edisi 26 November 2013 menulis, “Kadang-kadang orang merasa perlu untuk lepas dari sejarah, telanjang kembali di pulau imajiner yang tak bercatat, karena peradaban bisa menakutkan.”

Tapi memang hanya sebatas “merasa perlu”, sebab pada kenyataannya tak seorang pun bisa melepaskan diri dari jubah sejarah yang telah ditorehkan dan mengiringinya. Kita tak bisa lagi “telanjang” seperti waktu baru lahir, sebab jubah sejarah diciptakan seiring pergerakan waktu, dia adalah satuan saat yang diisi dengan laku badan dan pikiran. Laksana air, sejarah mengalir perlahan, dia menghentak jika hanya ada angin sebagai kehendak.

Setiap pribadi mempunyai setapak jalan untuk dilalui sang sejarah, dan terhenti ketika dijemput mati. Maka masalalu tak jarang dianggap penting untuk mengukur sejauh mana “air” mengalir dan “angin” menghentak. Sebagian orang menyebutnya evaluasi, untuk kemudian melahirkan resolusi. Dari evaluasi ke resolusi biasanya terjadi lompatan yang cukup mengagumkan, berisi tentang rencana-rencana hebat yang akan dilakukan. Namun tak jarang resolusi hanya sebuah orgasme akhir tahun yang kemudian mati mengenaskan karena kehilangan konsentrasi.

Bibit-bibit yang akhirnya tewas disembelih waktu itu pada mulanya disemai dari melihat masalalu. Yang terentang di belakang, sesungguhnya adalah kumpulan peristiwa manis dan pahit. Beauty and death. Taman dan makam. Langit jiwa manusia niscaya benderang dan mendung di sepanjang tahun, dia begitu dinamis.

Para mahasiswa melemparkan topi ke udara sambil berpakaian ala Rama Aiphama demi mengalirkan perasaan gembira telah lepas dari “tirani” kampus. Sebagian sibuk berfoto dan cipika-cipiki dengan teman-teman perempuannya. Kelak foto dengan baju kedodoran itu akan dipajang di ruang tamu dengan bangga. Ibunya bergumam, “inilah anakku, dia lulusan terbaik dan bukan sarjana roti wahai kau Iwan Fals!.” Namun tak lama kemudian mahasiswa itu merunduk lesu sebab panggilan kerja belum juga datang, sementara kiriman dari orangtua sudah dihentikan. Cuaca begitu cepat berubah. Di titik ini kita tak memerlukan seorang filsuf untuk menghubungkan bahwa memang taman begitu dekat dengan makam.

Pada masalalu ada kenangan-kenangan manis yang sayang untuk dibuang, ada pula harapan-harapan yang mati terkubur mengenaskan. Manusia hidup di antara dua situasi tersebut. Ada kesuksesan karir, cinta berlabuh di pelaminan, kehadiran anak, dan liburan yang menyenangkan. Namun sekaligus juga ada aib pribadi yang melongsorkan moral, kegagalan wawancara kerja, cinta kandas tersuruk-suruk, dan jatah cuti yang habis tidak dipakai untuk berlibur. Cuaca riwayat kehidupannya senantiasa berubah, dia seperti ingin membenarkan sebuah ungkapan “bahwa yang abadi hanyalah perubahan.”

Saya  teringat pada nama jalan waktu melihat mobil tangki milik Dinas Pertamanan dan Pemakaman di Bandung. “Waas” adalah bahasa Sunda yang secara harfiah berarti terkenang kepada yang pernah dialami. Sekilas scene saya berdiri di Jalan Waas dan membaca tulisan di mobil tangki itu menjadi terkesan puitik. Seperti simbol-simbol yang dihadirkan untuk berlaku adil dalam memperlakukan masalalu.

Beberapa saat setelah masalalu tiba-tiba menjadi masakini, dan masadepan pun telah menunggu. Rangkaian tiga masa inilah yang ditumbuhi taman dan makam. Resolusi kita susun untuk membuat taman, tapi ketika terlahir premature atau bahkan diaborsi, resolusi pun berubah menjadi makam.

Saya tak hendak mengucapkan Selamat Tahun Baru. [ ]

Keping Rindu

Baru-baru seorang kawan semasa SMA datang ke Jakarta. Dia seorang aparat kepolisian yang bertugas di Kalimantan Tengah. Kami bertemu dan ngobrol sampai larut malam bahkan dini hari. Maklum sudah hampir 12 tahun tidak bertemu. Singkat kata panjang perihal, dia mengajak saya untuk kerja di Kalimantan. “InsyaAllah banyak peluang bagus,” katanya. “Baik, biar saya timbang terlebih dahulu,” jawab saya pendek. Lusa setelah pertemuan itu dia pulang ke tempat bertugasnya.

Ihwal ajakan ini saya utarakan kepada kawan lain yang bekerja di Jakarta. Maka masukan dan nasihat menghambur serupa air hujan. Namun di penghujung bicaranya dia bilang, “Jangankan ke Kalimantan, saya mah di Jakarta juga sering kangen ke kampung halaman. Paling lama juga sebulan, setelah itu pasti pulang ke Sukabumi.” Saya hanya mendengarkan saja.

Di kontrakan bu haji tempat saya tinggal, sepulang kerja sudah nampak si Jun, kawan yang berasal dari Padang Panjang. Sehari-hari dia berdagang di ITC Cempaka Mas. Air mukanya nampak tidak sedang gembira, tidak seperti biasanya. Saya tanya, dan begini rupa jawabannya, “gua udah empat tahun ga pulang ke Padang, udah empat kali lebaran ga ketemu sama ibu gua, kangen juga ternyata.” Amboi, rupa-rupanya dia teringat kampung kelahiran.

Dan sore ini, di mikrolet 53 yang hendak meluncur ke Kota, abang sopir memutar lagu-lagu Batak. Tak paham memang saya artinya, namun ada sepotong lirik berbunyi begini, “Oh tanah Batak…oh tanah Batak…” Barangkali si abang juga tengah teringat tanah moyangnya. Seketika saya teringat sebait sajak Saut Situmorang.
O Jakarta metropolis pertama
Dongeng yang jadi silau mata
Makin sayup kini suara ibu
Dalam hiruk pikuk karnaval aspal hitammu
Dalam lamunan sore, saya menerka, rupa-rupanya kota ini telah menerbitkan kerinduan. Jakarta adalah keping-keping jiwa yang merindu pada tanah asal, tempat mula-mula ari-ari ditadah dan ditanam. Ketika tempat ibu mengayun dan menggendong jauh dipisahkan batas dan waktu, Jakarta mewujud sempurna sebagai tempat rantau yang meruncingkan gundah.

Namun di jalanan, hakikat kerinduan lenyap dalam keberingasan. Orang-orang berlomba saling serobot marka. Klakson bersahutan-sahutan sebagai nada usiran bukan mengingatkan. Waktu lampu merah menyala, pengendara terbiasa berhenti di zebra cross, pejalan kaki menyeberang penuh rasa was-was. Dalam macet yang mencekik, para pengendara motor tiba-tiba mengusai trotoar, sedangkan mobil merampas jalur khusus bus. Tak jarang terjadi perkelahian sesama pengendara roda dua, baku hantam di tengah jalan.

Seringkali saya berpikir, mencoba menghubung-hubungkan, bukankah rasa rindu akan kampung halaman mestinya menebarkan kearifan?. Di kampung, di mana keakraban sosial begitu menyengat dalam keseharian, mengapa tak juga menular ketika raga di rantau orang, terutama di jalanan. Mudik sebagai ritual meluruhkan rindu, yang kerap dibayar mahal dengan beratus-ratus tumbal kecelakaan lalu-lintas, kiranya kemesraan bersua dengan karib-kerabat, handai-taulan, tak dibawa di belantara jalanan yang semakin ganas. Sisi kemanusiaan tergadai, hilang entah ke mana, dia muncul lagi hanya ketika berkumpul dengan keluarga.

Keping rindu tidak kita temukan di jalanan yang terburu-buru. Barangkali saya berlebihan, namun penafsiran seperti apa yang terbit demi melihat bapak tua berlari untuk menyeberang, sedangkan lampu jalan tengah merah. Para pengendara tak kuasa menahan sabar melewati beberapa detik kendaraan terhenti. Di jalanan, peradaban tercermin dengan begitu telanjang.

Majalah Tarbawi edisi 15 Februari 2007, dengan begitu menghujam menulis kajian utamanya : Begitu Keluar Rumah Sering Kita Terlibat Pertikaian Murahan. Ya, rumah di sini, dan kampung halaman di sana; dua tempat yang kerap menyuburkan rindu, tak mampu menjadi “penerang” bagi para pengacau jalanan. Mereka seolah menaruh semua cinta, dan melaju dengan jiwa nirtoleransi. Biarlah, biarlah catatan ini disebut hiperbola.

“Kalau kau pergi, anakku. Siapa lagi kan menghibur hati ibu?” Begitu bait pembuka dalam sajak Andung-andung Petualang Saut Situmorang. Ya, di jalanan, kemesraan seperti itu telah tercerabut, tepat ketika “sang anak” pergi ke rantau dan tidak lagi bisa menghibur hati ibu. [ ]

Hanyut Bersama Sulak

Jakarta yang kini sedang sibuk mengatasi banjir adalah kota yang didirikan oleh para pemabuk. Mereka adalah raksasa berkulit bayi yang pada mulanya hanya singgah untuk mengisi air minum dan membeli arak. Ketika kemudian mereka membeli tanah kepada seorang pangeran, mereka mendirikan bangunan bercat putih dan memagarinya dengan meriam. Sempat terjadi beberapakali pertempuran demi memperebutkan kota tersebut, dan pemenangnya adalah para pemabuk itu. Namun tragis, karena penduduk kota kebanyakan jorok, pemimpin para pemabuk akhirnya tewas; bukan di medan pertempuran, namun karena sakit perut.

Cerita pembuka dalam kumpulan cerpen A.S. Laksana ini begitu menghayutkan. Kocak, tapi sekaligus sarat dengan muatan sejarah. Jika ditelusur, minimal di Wikipedia, cerita tersebut adalah sejarah Jan Pieterszoon Coen ketika mula-mula mendirikan Batavia. Sulak, begitu A.S. Laksana biasa disapa, bercerita dengan piawai dan menolak sama. Ketika buku kumpulan cerpennya gagal menjadi pemenang di Khatulistiwa Literary Award, banyak orang yang menyayangkan.

Imajinasi begitu dimanjakan di sini. Bagaimana misalnya budaya sekarang yang kerap mempertontonkan laki-laki bergaya perempuan, dan perempuan bergaya laki-laki; mulanya adalah karena cinta yang bertepuk sebelah tangan antara Belatung dan Fira.

Seorang bos bertabiat hidung belang mengejar-ngejar Fira; karyawati baru yang cantik aduhai. Suatu hari ketika Fira sedang jalan-jalan ke awan, si Belatung (begitu Sulak menamai si bos hidung belang) tanpa disangka sebelumnya, malah masuk ke dalam tubuh Fira yang tengah ditinggalkan pemiliknya. Karena bingung tak ada lagi tubuh yang kosong, akhirnya Fira masuk ke tubuh si Belatung yang juga ditinggalkan si empunya. Mereka akhirnya kawin, dan dimulailah budaya tukar-menukar itu.

Masih ingat Ponari? Batu Ponari yang dipercaya orang-orang karena konon dapat menyembuhkan itu ternyata ada riwayatnya yang memanjang ke belakang. Semuanya sebenarnya bermula ketika seorang pejabat yang tak bisa mengendalikan penguinnya, membiarkan burung tersebut menyelam ke dasar palung seorang penyanyi dangdut. Lalu kegiatan menyelam burung tersebut di tonton banyak orang dan menjadi bawah tertawaan, termasuk anak-anak SMP, lewat layar handphone.

Sulak begitu gesit bertutur dan sesekali mengolok-olok. Pada sebuah cerita yang berjudul Bagaimana Kami Selamat dari Kompeni dan Sebagainya ia menyentil ihwal Kaki-dashi atau kalimat pertama yang seringkali dipercaya sebagai lahan perjudian, pertaruhan bagi setiap pengarang. Begini dia menulis:
Setiap tukang cerita pastilah berniat memukau orang sejak kalimat pertama. Itu pula niatku meski pada akhirnya hanya bisa kudapatkan kalipat pertama yang amat sepele: Kata sahibul hikayat, orang-orang Cina menyukai hujan lebat di tahun baru.
Alur cerita yang sering tak terduga, dan gaya bahasa yang khas membuat buku ini seperti sebuah tendangan di tengah parade buku-buku cerita yang membuat ngantuk. “Saya ternyata bukan anak pertama. Kakak saya meninggal sebelum saya lahir,” begitu kata Sulak waktu diwawancarai oleh sebuah majalah edisi Juli 2013. Jawaban itu ia dapat setelah kakeknya meninggal, dan ia membuka peti milik kakeknya tersebut yang berisi sehimpunan catatan tentang kejadian sehari-hari.

Seperti halnya Sulak yang kaget dengan kenyataan identitas kelahirannya, buku ini pun kurang-lebih demikian; menghimpun cerita yang menghantam ruang imajinasi pembaca. Sulak menegaskan, “Hantu ada, kau tahu, karena kita memikirkannya. Begitu pun taman bunga.”

Selamat berimajinasi! [ ]

Odong-odong dan Bidadari

Waktu adik saya masih kecil, dia gemar mendengarkan Tasya menyanyikan lagu anak-anak ciptaan Abdullah Totong Mahmud. Album Libur Telah Tiba diputar berulang-ulang hampir tiap hari, dia selalu ikut bernyanyi dan hapal semua lagu di album tersebut. Masa kecil yang ceria. Lalu waktu seperti datang tergesa, kini adik saya telah masuk kuliah, Tasya sudah besar, A.T. Mahmud telah berpulang, dan lagu anak-anak pun ikut menghilang. Generasi berganti, dan yang baru telah datang.

Kini yang populer adalah lagu-lagu dari boyband bocah yang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Mereka menari-nari genit sambil menyebut bidadari yang katanya jatuh dari surga. Entah surga yang mana. Anak-anak sudah fasih berucap cinta-cintaan kepada lawan jenis, dengan yakin dan tak ada sedikit pun ragu atau malu. Sesuatu yang dulu begitu tabu dalam laku anak-anak.
Andai kamu jadi gula, aku pasti semutnya, kan ku seberangi lautan samudera, hei hei kali ini aku jadi galau gini, cepat terima aku, cinta pertamaku.
Aih, orangtua mana yang tak geli mendengar lirik seperti ini dinyanyikan oleh anak-anak?. Sekali waktu pernah juga saya mendengar lagu ini dari keponakan yang masih duduk di kelas dua SD. Begitu menghayati dia menyanyikannya.

Masuk gang kumuh, lewat di komplek perumahan, atau tak sengaja bertemu di jalan dengan anak-anak, lagu-lagu orang dewasa saja yang terdengar diperbincangkan oleh mereka. “Noah keren tau!.” Atau “Aku udah punya CD Kotak mah.” Bagi mereka, barangkali A.T. Mahmud dan ibu Sud adalah semacam alien yang telah punah.

Tapi seperti bidadari yang jatuh dari surga dalam lirik lagu boyband bocah, kini hadir odong-odong yang ibarat diutus dari surga untuk mengkampanyekan kembali lagu anak-anak. Serupa bidadari, dia pun anomali. Di tengah jaman yang melimpah oleh permainan anak-anak yang serba digital, odong-odong muncul dengan bersahaja. Di gang-gang kecil, kendaraan kayuh yang dilengkapi kursi-kursi kecil itu memutar lagu-lagu ceria khas anak-anak.

Dalam kesederhanaan odong-odong, bidadari tidak jatuh dari surga, namun lebih dekat dan nyata, dia adalah Amelia. Lagu yang diciptakan A.T. Mahmud itu terinspirasi dari anak kecil yang riang, sering bertanya, tidak bisa diam, dan ingin tahu banyak hal. Gadis kecil itu adalah anaknya Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup di masa Orba yang tak lain adalah sahabat si pencipta lagu tersebut. Sambil duduk di kursi kecil yang turun-naik akibat kayuhan, anak-anak senang mendengarkan ini  :
O Amelia gadis cilik lincah nian / tak pernah sedih riang selalu sepanjang hari / O Amelia gadis cilik ramah nian / di mana-mana Amelia temannya banyak.
Sekali waktu, Roike, anaknya A.T. Mahmud sedang bermain di beranda rumah. Saat ia melihat ke langit dan melihat bulan, ia segera berlari dan menggandeng lengan ayahnya dan diajak ke luar. Tiba-tiba anak itu berkata, “Pak, ambilkan bulan.” Dari situ lahirlah lagu Ambilkan Bulan Bu. Lagu ini tersedia juga di tukang odong-odong. Untuk apa minta diambilkan bulan?, kata si penggubah, dalam bahasa anak-anak; untuk menemani tidur yang lelap di malam gelap.

Bocah matang karena dikarbit, alias dewasa belum waktunya, mungkin geli dengan lagu ini. Mereka merasa telah menginjak masadepan usia, dan saat-saat lugu dan polos telah tercecer di belakang. Bagi mereka, lirik-lirik murni dunia anak-anak barangkali lebih terdengar sebagai rima-rima jaman jahiliyah, di mana kecenderungan menyukai lawan jenis belum menemukan sumbunya. Kondisi ini menyeret banyak orang saling melempar tanggung jawab tentang cara mendidik. Tak ada yang salah dengan roman jatuh hati kaum Adam dan Hawa, namun semuanya selalu membutuhkan saat yang tepat. Anak-anak terus bertumbuh, mekar, berproses menuju dewasa. Peristiwa alami itu akan terguncang jika terlampau dijejali lirik-lirik picisan yang menyerang langit ceria masa kanaknya.

Di tengah situasi orangtua yang gamang antara membiarkan atau mengarahkan, di gang-gang sempit, odong-odong muncul dalam tampilan kendaraan kayuh yang semenjana, mediocre, dan jadul, namun sekaligus mendidik dan menghibur. Di lereng ingatan bocah-bocah yang gembira dan sambil disuapi ibunya, lagu-lagu anak yang liriknya sesuai dengan usia mereka, masuk ke pendengaran dan tak hendak keluar lagi, persis seperti kumbang yang terperangkap di dalam toples.

Anak-anak tak butuh kata-kata romantic yang bersayap, mereka hanya ingin orang tahu bahwa topinya bundar. “Topi saya bundar, bundar topi saya, kalau tidak bundar bukan topi saya.” Sesederhana itu. Atau tentang cicak yang memakan nyamuk, dalam semesta anak-anak, itu adalah peristiwa yang menarik dan perlu dirayakan dengan gembira, “datang seekor nyamuk, hap hap lalu ditangkap.”

Dalam keringat tukang odong-odong yang tengah mengayuh, mengalir rasa terimakasih para pencipta lagu yang karyanya kembali diperdengarkan, setelah sekian lama terasing dari dunia hiburan yang serba karbitan. Lirik-lirik murni kembali mengalun, dan menyapa telinga anak-anak. Sementara di jejak usaha pencarian rejeki, bagi tukang odong-odong; bocah-bocah dan ibunya yang menemani, laksana bidadari-bidadari pembawa rejeki. Dia tidak jatuh dari surga, namun dekat saja, itulah para penghuni gang sempit dan tetangganya. [ ]

Kiamat di Jakarta

(Dengan permintaan maaf kepada Alan Lightman)

***

Bayangkan jika misalnya dunia berakhir pada tahun 2047, dan seluruh warga Jakarta mengetahuinya.

Setahun sebelum kiamat, DPR RI dibubarkan. Orang-orang yang selama ini mengatasnamakan wakil rakyat antri di studio tv menunggu giliran. Bukan untuk menghadiri kuis kebangsaan, melainkan hendak mengakui segala dosa-dosanya kepada rakyat. Seluruh harta hasil menjarah mereka kembalikan ke kas negara, dan mereka pergi ke desa-desa tepi hutan untuk berladang, sebagian lagi menjadi penyapu jalan, takmir mesjid, kondektur bus kota, mengajar di sekolah-sekolah terpencil, penjaga toilet terminal, dan ada juga yang menjadi pengantar koran.

Dosa-dosa personal diselesaikan di rumah. Di depan istri dan anak-anaknya, mereka mengakui pernah berselingkuh dengan penyanyi dangdut, sekretaris pribadi, bintang film, atau dengan sosialita kurang ternama. Mereka pasrah, tapi tak berani untuk harakiri. Sebelum pengakuan itu, pisau dapur dan obeng kembang sengaja disembunyikan. Mereka menangis, sujud di depan anak-istrinya yang tengah bingung untuk membedakan; ini sinetron atau kehidupan nyata.

Para pengembang perumahan dan apartemen tidak lagi beriklan “sebelum harga naik”. Kerjasama dengan Fenny Rose telah dihentikan. Tak ada lagi ambisi untuk membangun hunian-hunian tepi pantai yang indah, atau di sekitar segitiga emas Jakarta yang potensial. Mereka hanya membangun panti asuhan dan panti wreda. Kesadaran mencuat dalam benak, bahwa dunia akan segera berakhir, dan segalanya akan kembali ke pemilik Agung Alam Semesta.

Sebulan sebelum kiamat, orang-orang hilang korban penculikan ditemukan kuburnya. Para penculik dengan rasa sesal yang sangat besar membeberkan semuanya. Detail peristiwa dan kronologisnya mereka tulis dalam sebuah buku tebal. Di dalam buku itu, selain nama-nama korban,  ditulis juga siapa saja yang menjadi dalang penculikan. Misteri keberadaan Wiji Thukul dan pembunuhan Munir perlahan terkuak, dan kemudian menjadi jelas. Para pegiat HAM yang mengikuti peristiwa tersebut sedikit saja, rupanya menjelang kiamat para pegiat palsu telah bertobat dari kemunafikan, dan memilih untuk tidak ikut-ikutan.

KPU dibubarkan, sebab sudah tidak akan ada lagi pemilu yang memakan biaya besar. Partai politik berubah menjadi majelis-majelis keagamaan, kemudian “diakuisisi” oleh para ustadz, kiai, pendeta, dan habib. Ruang publik bersih dari polusi visual. Gambar-gambar caleg menghilang dari pohon, tiang listrik, tembok gang, gapura, wc umum, tong sampah, dan jembatan penyeberangan. Semuanya sebenar bersih.

Supporter sepakbola tidak lagi bermusuhan. Mereka berkumpul di GBK. Dari Bandung, Malang, Surabaya, Medan, Makassar, Solo, Yogyakarta, Samarinda, Tangerang, Papua, Lamongan, Kediri, Padang, Pekanbaru, dan daerah-daerah lainnya, semuanya hadir mengikuti semacam rekonsiliasi nasional. Sebagai tuan rumah, tentu suporter Jakarta ikut hadir juga. Mereka menangis dan saling berpelukan.  Segala dendam dan kebencian luruh, yang tersisa hanya kata maaf. Memaafkan bekas musuh dan diri sendiri; betapa permusuhan itu telah mereka dijalani selama berpuluh-puluh tahun. Di titik ini kesadaran menggetarkan kemanusiaan. Acara dipungkas dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu adalah anthem terakhir di stadion kebanggaan sebelum kiamat datang. Langit pucat mendengarkan deru syahdu lagu.

Acara tv, tidak lagi menayangkan humor-humor stereoform. Acara musik pagi pun sudah dihapuskan. Anak-anak alay berkumpul di Monas dan membuat lingkaran-lingkaran kecil. Di satu lingkaran ada yang bergantian membacakan puisi Rendra, Chairil Anwar, Acep zamzam Noor, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Ajip Rosidi, Taufik Ismail, Sutardji, dan Sitor Situmorang. Seseorang telah memfotocopy naskah-naskah puisi itu, dan mereka mencoba menghayatinya.

Sementara di lingkaran yang lain ada seorang perempuan cantik yang memainkan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu Payung Teduh, Float, Banda Neira, Frau, The Monophones, dan Mocca. Alay-alay tak satu pun yang tahu liriknya, mereka sebagaimana biasanya, hanya bergoyang pelan dan menepuk-nepukkan tangan. Lagu yang hinggap di pendengarannya begitu asing, tak pernah mereka jumpai di studio televisi.

Sungai Ciliwung dibersihkan. Warga yang hidup di bantaran turun ke sungai yang kotor dan memunguti sampah. Sementara pabrik-pabrik yang selalu menggelontorkan limbah pembuangan ke sungai telah ditutup. Sungai merdeka dari kebodohan manusia justru ketika kiamat akan segera datang.

Di Jakarta sudah tidak dijumpai tukang kerak telor dan mie rebus. Para penjualnya telah pulang ke Garut dan Kuningan. Penjual sate pun demikian, mereka tidak lagi mudik, melainkan pulang permanen ke arah barat Sumatera dan timur Jawa. Yang paling banyak tersedia hanya nasi uduk pindang tongkol, hampir di setiap gang, pagi dan petang, ibu-ibu setengah baya masih menjualnya, termasuk mpok Hindun dekat kontrakan saya. Selebihnya tak dapat diharapkan; warung nasi Padang yang masih buka hanya tinggal di Senen, Kebayoran Lama, dan Mataraman. Restoran, café, dan hotel telah tutup.

Dua minggu sebelum kiamat, jalanan tertib, meskipun tanpa kehadiran polisi. Tak ada lagi suara klakson bersahut-sahutan dan umpatan khas kebun binatang. Pengendara mobil dan motor, ketika lampu merah, tidak melewati zebra cross. Ketika para pejalan kaki lewat, mereka melambaikan tangan, saling menyapa, dan tersenyum.

Sekolah dibubarkan, dan warnet ditutup. Anak-anak sekolah tidak ada lagi yang tawuran dan main game online. Mereka bermain bola sepuasnya. Ada pula yang bersepeda keliling kota tanpa takut diserempet mobil yang sopirnya ugal-ugalan dan setengah mabuk. Anak-anak perempuan menanam dan merawat bunga di rumahnya masing-masing. Buku-buku di perpustakaan dipindahkan ke taman-taman kota, dan tukang becak dengan malu-malu mulai membacanya.

Tak ada lagi yang bekerja lembur, sebab semua perusahaan telah ditutup. Dua minggu terakhir dalam kehidupannya, para pegawai, karyawan, buruh, kuli (kasta yang sebetulnya sama) menghabiskan waktu di rumah bersama keluarganya. Mereka memasak bersama, bercanda dengan anak-anaknya, membersihkan rumah, memutar lagu-lagu favorit, dan melepaskan burung-burung yang selama ini mereka pelihara dalam sangkar. Kasih sayang dan perhatian kepada sesama anggota keluarga tumbuh subur di dua minggu terakhir riwayat kehidupan.

Patung yang ada Pancoran, Bundaran Senayan, dan lapangan Banteng, tiba-tiba hidup dan mereka pergi menuju bundaran HI. Patung Selamat Datang pun turun dari singgasananya. Mereka kemudian duduk melingkar di tepi kolam itu, berbincang tentang Presiden Indonesia, Gubernur Jakarta, serta banjir dan macet yang sudah bosan mereka lihat. Ada yang mengidolakan Bang Ali Sadikin, ada pula yang mengkritik sanjung puja warga terhadap Jokowi, yang menurut mereka terlalu berlebihan.

Sehari menjelang kiamat, Jakarta sunyi dan semua warga terdiam, kecuali satu orang. Dia adalah wak Haji yang dikelilingi tujuh orang pemuda. Mereka duduk di tengah jalan Suprapto, Cempaka Putih. Beliau membacakan sebuah sabda yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma, maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat, maka hendaklah dia menanamnya. [ ]

Wangi Hujan

Saya menyukai aroma tanah sehabis hujan, saat bola-bola air masih menggantung di kabel telepon dan pucuk daun. Itu saat yang tepat bagi dua ekor burung untuk terbang menyobek pemandangan awan. Beberapa waktu sebelumnya, angin berhembus kencang, lalu air berebut mencium bumi, melepaskan rindunya. Hari-hari belakangan ini, kerinduan air tumpah juga di Jakarta. Langit kelabu hampir sepanjang waktu. Jalanan becek, dan orang-orang mulai pandai mengumpat.

Arsiran hujan samar-samar terlihat dari jendela kantor yang dikuasai hawa gigil dari pendingin ruangan. Suara klakson dan derum mobil terdengar bersahutan dari jalan raya yang ditawan kemacetan. “Tanabang, Tanabang, Tanabang!,” kondektur bus kota berteriak lantang merayu calon penumpang. Pejalan kaki yang tanpa payung bergerak tergesa. Para pencopet mungkin tengah bersiap melancarkan aksinya. Berlima, berenam, atau bahkan bertujuh; mereka siap memangsa penumpang bus yang kurang waspada.

Adzan ashar hampir dua jam telah lewat, dan hujan membawa kelam yang datang lebih cepat. Komputer sudah dimatikan, tapi kerja belum selesai, dia menagih jatah lagi esok hari. “Pulang Bung, sudah sore,” kawan sebelah hanya mengangkat jempol, pandangannya masih tertuju pada rumus excel. Ada pula suara Benyamin dan Ida Royani dari speaker meja yang lain. Yang punya meja masih sibuk menghitung biaya kuli bongkar muat yang laporannya baru sampai dari kantor cabang. Lamat-lamat memang, tapi saya hafal betul liriknya.

Waktu sampai di lobi, rintik hujan masih turun. Saya menerobosnya sampai masuk ke mikrolet yang hendak berangkat ke Kota. “Mangga Dua, Mangga Dua!. Ayo bu, geser-geser bu!.” Tak sampai lima menit mikrolet telah penuh, lalu meluncur.

Percakapan memenuhi ruang kecil angkutan umum itu. Seorang ibu memulai, “ujan mulu ye mpok, cucian kemarin aje belom pada kering!,” Yang diajak bicara menyahut, “iye, padahal mah udah dikasih Molto, tau tuh, masih wangi apa kagak, soalnye cuma kena angin doang, ga ada mataharinye.” Obrolan ibu-ibu terus berlanjut. Yang duduk di pojok, berhadap-hadapan, dua orang anak baru pulang dari sekolah sore, membicarakan acara live musik pagi. Mereka khawatir hujan turun pas hari H, lalu mengutuknya. Persis di sebelah saya, seorang perempuan muda, berbicara dengan seseorang, lewat ponsel, lawan bicaranya entah di mana. “Halo, masih di Pulo Mas, hujan sayaaang, macetnya jadi parah.”

Saya hanya diam, tak ada orang yang hendak diajak dan mengajak bicara. Seolah-olah saya pendengar setia ragam percapakan mereka. Duduk di belakang sopir menghadirkan pemandangan pinggir jalan yang kurang sempurna, sebab sebagian terhalangi orang yang duduk di dekat pintu, yang menghadap ke belakang. Tapi masih bisa saya lihat sepanjang jalan itu, rahmat hujan mendekap mesra tukang gorengan yang dikerubungi pembeli yang kedinginan. Dingin menghujam, perut segera mengisyaratkan rasa lapar. Gorengan menjadi sasaran. Uap air tampak mengepul dari gerobak tukang mie ayam. Penjual sibuk melayani pembeli yang mulai antri. Penjual sate Padang gesit menjaga bara api yang tengah bekerja menghangatkan potongan daging yang agak keras.

Di tengah gerimis yang masih berkuasa, denyut ekonomi para pedagang makanan itu menemui saatnya. Bagi mereka, hujan bukan untuk dirayakan dengan keluhan, sebab justru ketika pasukan air menyerang, penghasilan mereka cukup menggembirakan. Di titik ini hujan seolah ambigu; diratapi atau disyukuri. Namun barangkali hujan tidak pernah bermuka dua, hanya manusia saja yang menyikapinya berbeda. Di Jakarta, setiap orang seperti selalu membutuhkan kanal untuk mengalirkan keluhan. Dan hujan, seperti juga kemacetan, adalah objek yang tepat untuk dijadikan sasaran segala hamburan kekesalan.

Sebagian penghuni kota ini seolah lupa pada salah satu tokoh kesenian yang namanya diabadikan menjadi nama jalan. Memanjang dari Kemayoran sampai tembus ke Ancol, ya Jalan Benyamin Sueb. Benyamin bersama Ida Royani, pernah dengan riang menyanyikan lagu Hujan Gerimis yang tadi sempat saya dengar di kantor sebelum pulang. Kata “hujan” meskipun hanya sebagai pembuka pantun, namun dapat kita tangkap keriangan itu. Dirayakan dengan gembira.
E ujan gerimis aje, ikan teri diasinin… e jangan menangis aje, yang pergi jangan dipikirin…
E ujan gerimis aje, ikan lele ada kumisnye… e jangan menangis aje, kalo boleh cari gantinye…
Lirik yang sederhana, namun bila mau meresapinya, ini sesungguhnya sama dengan keseharian kita. Pada “yang pergi” adalah juga tentang jemuran yang ditinggalkan rahmat cahaya matahari, tentang jadwal acara musik yang ditinggalkan kepastian cuaca yang cerah, juga tentang jalanan yang ditinggalkan lancar jaya sebab genangan air menghambat laju roda. “Jangan dipikirin”, lanjutnya. Ikhlaskan, lepaskan semua kekacauan hati. Sebab setelahnya, ketika hati telah bisa menerima, selalu ada kesempatan lain yang terhampar menunggu; “kalo boleh cari gantinye.”

Pun demikian dengan hari-hari belakangan ini. Toh dalam seminggu, hujan tidak turun selamanya, adakalanya dua atau tiga hari dalam sepekan matahari bersinar cukup garang. Bersama air yang turun, segala yang “meninggalkan” mestinya ikut luruh, lalu mengalir. Tak ada yang benar-benar hilang dari kehidupan kita, pengganti akan selalu hadir meski dalam wujudnya yang berbeda. Atau jika pengganti pun tidak kunjung datang, ke-ikhlasan sudah lebih dari cukup untuk menambal kehilangan yang sempat disesali.

Di jalan, waktu pulang kerja atau sekolah, ketika fisik dan pikiran telah lelah sempurna, memang tak gampang mengelola emosi. Apalagi kalau hujan. Tapi apakah energi yang mulai menipis itu harus pula digadaikan demi mengalirkan kekesalan?. Ihwal menyikapi hujan, kita bisa belajar dari siapa saja, selain dari lagu tadi, barangkali bisa juga memulainya dari para pedagang makanan kaki lima, yang mencium hujan sebagai wangi yang mengantarkan rejeki. [ ]

Warung Kami Roboh Sendiri(an)

Bu haji, begitu para tetangga memanggilnya, adalah induk semang saya. Saya dan beberapa orang kawan ngontrak deretan kamar miliknya di lantai dua. Gemar berkomentar, begitu kesan saya selama hampir lima tahun tinggal di rumah kontrakannya. Sekali waktu, kawan saya pulang membeli deterjen dari warung sebelah, bu haji berkomentar juga, “Beli deterjen mah mending di Al****rt, belinya sekalian yang banyak, jatohnya jadi lebih murah.” Mulanya kawan saya diam saja, tapi akhirnya dia menjawab, “Ah, bu haji, belanja mah mending di tetangga atuh, kasihan, kalau bukan kita siapa lagi yang akan beli? Kan mereka juga butuh buat makan sehari-hari, dan buat biaya sekolah anaknya. Mahal sedikit mah wajar aja bu haji.”

***

Ada masa, pada beberapa waktu ke belakang, di mana mini market menjadi penunjuk jalan bagi orang-orang yang mencari alamat rumah saudara atau kawannya. “Nah, dari mini market itu, belok kiri, nanti ada rumah berpagar cat hijau. Itu rumahku.” Navigasi semacam itu dulu banyak terjadi. Sekarang ketika mini market jaringannya menggurita, orang-orang mulai agak ragu untuk menggunakannya sebagai penanda. Kini hampir di setiap jalan bermunculan warung-warung modern, minimal dua, karena adanya “persaingan abadi” dua raksasa retail yang warna khasnya hampir sama.

Selain pergeseran sebagai penanda, kini masyarakat pun mulai meninggalkan kebiasaan berbelanja di warung-warung tradisional tetangganya, mereka beralih ke mini market-mini market modern itu dengan beberapa alasan; barangnya lebih lengkap, tempatnya lebih bersih, dan pelayanannya yang ter-standar sesuai SOP. Bahkan sekarang beredar sebuah joke ; jika ingin di sambut ucapan “selamat pagi” datanglah ke mini market.

Ibu-ibu rumah tangga dan para mahasiswa yang biasa melakukan belanja bulanan, yang mulanya hanya datang ke warung-warung tetangga yang cukup besar, kini hampir sudah beralih semua. Tidak ada yang bisa disalahkan dari perilaku konsumen tersebut, sebab pada dasarnya konsumen menginginkan pelayanan yang prima, dan cenderung ingin mengalami berbelanja dengan memilih barang sendiri (swa-layan).  Ada kepuasan di sana. Ada waktu yang cukup untuk menimbang sebelum akhirnya memutuskan membeli barang.

Bandingkan jika berbelanja di warung tradisional yang hampir semua barang diambil oleh di pemilik warung. Kesempatan untuk menimbang, ragu-ragu, antara membeli dan tidak, waktunya sangat pendek, sebab si pemilik warung biasanya menunjukkan air muka yang kurang menyenangkan. Apalagi kalau pemilik warung itu sikapnya “menyebalkan.” Hal ini hampir mustahil ditemui di mini market modern.

Distribusi pun mereka kuasai. Jangankan mengalahkan warung tradisional, bahkan membuat mati perlahan mini market di luar jaringan mereka pun adalah hal yang mudah. Di dekat kontrakan saya di daerah Sumur Batu, ada mini market Badai namanya, para pelayannya sering mengeluh akbat suplai barang yang kerap terlambat, karena para pemasok barang lebih mengutamakan mini market-mini market gurita itu. Belum lagi rayuan-rayuan diskon dan promosi yang seringkali menarik calon konsumen untuk datang lagi berbelanja. Gerakan gurita mini market modern ini dengan cepat merobohkan daya tahan warung-warung tradisional, tak hanya di perkotaan, namun juga merembet sampai jauh ke pedesaan.

Bila dicermati, warung tradisional memang tidak bisa bersaing. Bayangkan sebuah warung yang ditunggui oleh sepasang suami istri. Jika istrinya sedang sibuk dengan urusan domestik rumahtangga; misalnya memasak, mengurus anak, belanja ke pasar, dan mencuci pakaian, tinggal suaminya saja yang melayani para pembeli. Ini sangat darurat dan minimalis. Kalau pun mereka sanggup mempekerjakan satu atau dua karyawan, tentu pelayanannya pun tidak akan sama dengan mini market modern. Belum lagi keterbatasan barang yang dijual. Di titik ini warung tradisional roboh dengan sendirinya karena secara head to head kalah dalam persaingan.

Di sisi lain, jika mengharapkan kebijakan pemerintah untuk membatasi semakin gencarnya serangan mini market modern, ini pun cukup riskan. Kebijakan yang berlaku sekarang, samar-samar, konon membatasi mini market modern hanya di jalan-jalan besar saja. Namun kenyataannya pertumbuhan mini market sangat massif, gencar, bahkan sampai menembus desa-desa. Terlepas dari kebijakan tersebut, gaya hidup masyarakat yang tercermin dalam perilaku berbelanja adalah juga “racun” yang sangat ampuh membunuh warung-warung tradisional. Terlebih sekarang, ketika mini market modern tak hanya menjadi tempat berbelanja, namun juga telah berfungsi sebagai tempat nongkrong sebagai sebuah kebutuhan sosial dan aktualisasi diri, maka dari sudut pandang ini warung-warung tradisional roboh sendirian. Dia telah menjadi anak tiri kebijakan pemerintah dan gaya hidup.

Sebuah pembelaan dengan argumentasi lemah kerap dilontarkan pihak pemilik mini market-mini market modern. Katanya, dengan semakin banyaknya gerai yang dibuka maka akan semakin mengurangi beban pemerintah dalam mengatasi pengangguran. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah mereka membuka gerai tersebut karena kondisi perekonomian masyarakat telah mampu untuk “menghidupi” gerai mereka. Perekonomian rakyat yang berdeyut dan tercermin dari transaksi jual-beli di warung-warung tradisional perlahan mereka terkam dengan rasa keadilan yang tawar.

Kita, termasuk saya, memang tidak bisa lepas dari arus ekonomi dan gaya hidup seperti ini. Namun minimal bisa mengolah rasa dan sebisa-bisa berlaku adil. Mungkin ada barang-barang yang tidak bisa kita dapatkan di warung-warung tradisional milik tetangga, tapi alangkah naïf jika sekadar membeli kecap dan obat sakit perut mesti pergi ke mini market yang mungkin jaraknya lebih jauh dari warung tetangga. Sebab di balik warung tetangga yang lusuh dan kurang penerangan itu, pemilik warung bisa jadi tengah memikul beban biaya anaknya yang sedang sekolah atau sakit. Ada hak tetangga yang harus kita tunaikan, yaitu saling menolong.

Ada kecemasan yang melebihi dari soal rejeki; rasa sosial kita yang perlahan mulai terabaikan. Teringat saya pada sebuah malam waktu pulang ke kampung di pedalaman Sukabumi. Ketika sedang ngopi di warung bersama kawan-kawan lama, seorang remaja lewat dan ditanya oleh kawan saya, “mau pergi ke mana?,” dia menjawab, “mau beli obat nyamuk di In****ret!” [ ]

Misbar di Monas (Catatan JIFFest 2013)

Sejak edisi pertama pada tahun 1999, Jakarta International Film Festival (JIFFest) telah disambut dengan begitu antusias oleh masyarakat, khususnya warga Jakarta. Festival Film ini, yang kerap menampilkan film-film dari berbagai negara, menjadi semacam alternatif tontonan di tengah minimnya produksi film lokal (medio 1999, pertahun hanya ada empat film Indonesia yang tayang di bioskop), dan banyaknya film produksi Holywood yang sangat “popcorn”. Sampai penyelenggaraannya yang ke-12 di tahun 2010, JIFFest tetap menarik minak banyak penonton. Sempat terhenti di tahun 2011 dan 2012 karena masalah dana, JIFFest akhirnya berhasil diselenggarakan kembali di tahun 2013 dengan ada penambahan format yang lebih “merakyat”, yaitu dengan diadakannya open air cinema alias misbar (gerimis bubar), alias layar tancap yang diadakan di silang Monas.

Dari 20 film yang diputar, empat film di antaranya, yakni; Metro Manila, Korean Surprise Movie, National Security, dan Rurouni Kenshin, terpilih sebagai film yang diputar di silang Monas. Masyarakat yang hadir tidak hanya orang-orang yang melek  film dan para moviegoer saja, namun juga para penjual makanan dan minuman, penjual mainan anak, dan para pedagang kaki lima lainnya yang mangkal di sekitar Monas, juga ikut menyaksikan pemutaran film.

Setelah lebih dari sepuluh tahun hanya bisa dinikmati kalangan menengah-atas, pemutaran di silang Monas seperti sebuah keinsyafan, bahwa sesungguhnya selalu ada jalan bagi festival film yang bertitel ‘Internasional’ untuk bisa diakses oleh kalangan yang lebih luas. Karena seperti kata Riri Riza, “Sinema adalah medium yang dapat dengan efektif menangkap kegelisahan-kegelisahan manusia”, maka pertanyaannya; apakah kegelisahan-kegelisahan itu hanya bersarang di kelas menengah-atas saja?, tentu tidak. Semua lapisan masyarakat, dalam hidupnya, tentu mengalami yang namanya kegelisahan tentang banyak hal yang mengitari riwayat hidupnya.

Tapi selain hal-hal “berat” tentang kegelisahan, dalam semangat Jakarta terkini, yang tercermin pada semakin banyaknya taman-taman kecil, trotoar yang diperbaiki, waduk yang direvitalisasi, acara-acara hiburan yang menghadirkan kemesraan sosial, kegembiraan dalam film juga layak untuk dihadirkan. Jika open air cinema ini semangatnya adalah agar masyarakat luas bisa menikmati dan ikut bergembira, maka hemat saya, hal ini justru kurang tergarap dengan baik dalam misbar ini.

Dari empat film yang diputar, semuanya bukan film berbahasa Indonesia. Para penonton tradisional JIFFest yang rata-rata—dalam pengamatan saya—berpendidikan formal tinggi, ekonomi bagus, dan wawasannya luas, tentu tidak kesulitan melahap film apapun yang disajikan penyelenggara. Namun untuk kalangan tertentu (yang ada di Monas, yang telah disebutkan sebelumnya), hal ini bisa terjadi sebaliknya. Dengan kebijakan untuk setiap film asing yang berbahasa Inggris tidak ada terjemahnya, dan untuk film asing lainnya terjemahnya hanya memakai bahasa Inggris, tentu akan cukup menyulitkan masyarakat awam untuk bisa memahami film secara utuh. Alih-alih bisa tertawa dalam setiap dialog yang lucu, mereka justru mengkerutkan kening karena bingung dengan artinya.

Selain masalah bahasa, cerita film pun kurang begitu sesuai menghadirkan kegembiraan masyarakat luas, dan cenderung berat. Namun jika sudut pandangnya menyetujui bahwa berpikir adalah sebuah kegembiraan, maka beberapa film cukup berhasil. Film National Security misalnya, ini mirip dengan deskripsi penyiksaan para aktivis politik 98. Dalam film Korea ini diceritakan, di tengah rezim diktator yang berkuasa, seorang aktivis yang ditangkap dan kemudian mengalami serangkaian penyiksaan. Film ini juga mengingatkan pada film Buenos Aires 1978, yang juga menceritan sejumlah penangkapan dan penyiksaan. Narasi tentang penyiksaan sudah pasti menghadirkan visual kekerasan yang sulit untuk disensor, di titik ini film membutuhkan batasan usia, sedangkan di tempat terbuka seperti silang Monas bahkan anak kecil pun hadir, yang sedikit banyaknya tentu melihat adegan-adegan kekerasan tersebut. Beberapakali saya bilang sama seorang panitia yang kebetulan duduk di sebelah, “ga salah pilih film nih, Bung?.”

Isu kekerasan politik memang pernah terjadi juga di sini, namun kurang dekat dengan keseharian masyarakat pada umumnya. Ada sebuah film yang tidak diputar di Monas, namun termasuk dari 20 film yang diputar di JIFFest, yang sebenarnya lebih dekat dengan keseharian masyarakat pada umumnya, yakni film Mangga Golek Matang di Pohon. Film ini bercerita tentang kehidupan para waria yang teguh memilih jalan hidupnya sebagai kaum minoritas, lengkap dengan kisah stigma dan penerimaan setengah hati dari masyarakat.

Satu hal lagi, ada stand yang menyediakan cemilan gratis bagi para penonton, namun dengan syarat penonton yang hendak mengambil cemilan tersebut harus memperlihatkan akun twitter, dan memastikan telah menjadi follower akun JIFFest. Pertanyaannya adalah apakah masyarakat luas yang “disasar” di misbar ini semuanya mempunyai akun twitter?. Bukan maksud saya hendak mempermasalahkan hal “sepele” seperti ini, namuan kenyataannya para pedagang kakilima tak seorang pun datang ke stand tersebut. Mungkin karena memang mereka tidak tahu, dan bahkan tidak mengerti jejaring sosial dunia maya yang bagi sebagian kalangan telah menjadi makanan sehari-hari.

Dari beberapa hal tersebut, jelaslah bahwa penyelenggaraan misbar yang mulanya mungkin hendak menghadirkan kemesraan sosial yang lebih romantik, namun pada eksekusinya masih kurang tepat sasaran. JIFFest masih terlampau memanjakan kelas menengah-atas yang melek dengan urusan-urusan yang kurang dipahami oleh masyarakat awam.

Namun demikian, apresiasi tetap patut diberikan kepada penyelenggara dan para relawan yang bekerja keras mewujudkan acara ini. Menghadirkan sebuah festival film internasional tentu tidak semudah yang dibayangkan, terbukti dengan sempat terhentinya hajatan (rutin) ini pada dua tahun sebelumnya. Begitu pula dengan ide misbar, yang merupakan sebuah gagasan segar sebagai bentuk usaha untuk “membumikan” film di tengah masyarakat yang beragam latar pendidikan, budaya, dan ekonominya.

Setelah film usai, semua penonton bertepuk tangan dan barangkali berharap hajatan ini kembali terulang di tahun depan. Seperti yang tertulis di brosur; “JIFFest is Back!”, saya pun berharap festival film ini akan kembali datang pada tahun-tahun berikutnya, dan setia menghadirkan kemesraan sosial di tengah kehidupan Jakarta yang terkadang bersumbu pendek. [ ]

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai