17 October 2013

Pengisi Kosong Abadi


Aku ceruk cangkir yang membayangkan kau sebagai kopi di pagi hari
Aku cekung cangkang yang menginginkan kau menjadi kerang
Aku rangkum rahim di mana kau dulu mukim
Aku kosong abadi yang menghendaki kau sebagai isi
(Sitok Srengenge)

Kalau suatu saat nanti kamu ke Bandung, maka dari pintu tol Pasteur sebaiknya langsung belok ke kiri, lalu ikuti rute angkot, dan di pemberhentian terakhir, di depan sebuah toko swalayan dekat sebuah warnet, belok lagi ke kiri. Lalu lurus saja dan sebelum Politeknik Pos, sebelum turunan yang agak panjang, tepat di dekat sebuah pos satpam yang mengenaskan, kamu belok lagi ke kiri. Jangan bosan belok ke kiri, sebab aku sudah bosan belok ke kanan.

Maka ketika kamu mendapatkan mesjid Al Falah yang cukup megah, tanya saja mbak-mbak atau mas-mas (kamu lebih nyaman menyebut itu bukan?, daripada teteh dan akang?), atau bisa tanya siapa saja yang kebetulan lewat di sana. Coba saja tanya tempat tinggalku, pasti mereka tidak tahu.

Baru kemarin sore aku pindah ke sini. Di lantai dua, di sebuah kamar bersih dengan penjagaan ketat nuansa pink (terutama ditebarkan oleh warna gorden milik ibu kost), aku dan kawanku membereskan kembali baju, buku-buku, dan sedikit reformasi hati tentang kegagalan, impian, hidup, kecemasan, dan kenyataan yang semakin terasa genit.

Setelah mengucapkan salam dan mengetuk pintu, langsung saja masuk ke kamar, nanti akan aku perlihatkan buku-buku yang selama ini menjadi nutrisi, atau juga basa-basi. Jangan malu-malu, ambil saja apa yang kamu mau. Ada Pramoedya si penantang abadi, Gede Prama sang penikmat keheningan, Emha ahli sindir yang tidak amatir, Sapardi pecinta taman dan hujan, Muhidin yang darahnya dialiri buku, Djenar yang liar, dan ada juga Joko Pinurbo yang puisinya nakal tapi penuh pesona. Tapi maaf, aku barangkali belum punya penulis favoritmu.

Oh iya, aku lupa. Perkenalkan, ini sahabatku yang sering direpotkan dan disusahkan itu. Namanya Laki-laki Aroma Tembakau. Jangan heran kenapa namanya begitu, sebab dia laksana cerobong asap yang tak henti menghisap dan menghembuskan saripati tembakau, asap yang hamil oleh tar dan nikotin seringkali bergulung-gulung dari mulutnya.

Maaf, di sini hanya ada air tawar, karena kami, aku dan Laki-laki aroma Tembakau lebih sering paceklik daripada makmur. Begitu rupa cigarette telah membuat kami menjadi miskin. Minum saja, kalau masih kurang jangan khawatir, di galon masih ada stok beberapa liter. Kalau kamu tidak sedang "berhalangan", aku hanya mengingatkan : sholat ashar dulu. Apa?, kamu lupa tidak membawa mukena?. Tunggu sebentar, aku pijam dulu sama induk semang.

Kamu tahu lagu ini? : it may sound absurd, but don't be naive, even heroes have the right to bleed Ya, ini lagunya Five for Fighting. Pilih saja, terserah, kamu maunya lagu apa. Sebentar aku mau mandi dulu, mau menyusul Laki-laki Aroma Tembakau ke mesjid Al Falah, sebentar lagi adzan maghrib rupanya. Ketika aku sedang di mesjid, kamu pasti masih di situ, duduk atau terbaring melihat langit-langit kamar dan sekelilingnya. Aku tak membayangkan kamu sedang tersenyum, apalagi tertawa, karena aku tidak tahu apa yang akan kamu tertawakan. Yang lebih realistis, kamu pasti sedang istirahat sambil mendengarkan lagu dari komputer milik sahabatku. Jangan buka lemari excel yang paling bawah, karena itu kotak pribadiku, kamu belum waktunya tahu.

Aku lupa kasih tahu, sehabis maghrib aku pergi ke warnet dulu, mau upload tulisan, sesuatu yang membuatku berdamai dengan jiwa, karena dia selalu diberi makan. Nanti kamu akan aku ajak ke lantai atas tempat menjemur baju. Di sana pemandangannya cukup variatif : di arah barat laut kamu bisa melihat sebagian kota Bandung yang gemerlap oleh lampu. Di utara ada kelap-kelip cahaya kecil di sekitar gunung Tangkuban Parahu. Tapi jangan terlalu sering melihat ke tenggara, di situ ada kampusku. Aku tak mau hidup di masa lalu. Malam ini Laki-laki Aroma Tembakau akan tidur di tempat kawannya, jadi kita bisa berbicara sepuasnya.

Iya, kita bicara sepuasnya. Membicarakan apa saja : cinta absurd, kopi pahit, buku tak bernyawa, musik nasi bungkus, film kawin silang antara sex dan hantu, atau bahkan kembang milik ibu kost yang mati gara-gara anaknya lupa menyiram. Tenang saja, semuanya tidak akan ada yang melarang. Kita bisa membicarakan semuanya. Jangan takut mulut menjadi kering, air masih berliter-liter di galon dekat jendela. Atau jika ternyata kita lebih banyak terdiam, biarkan saja hati yang bicara.

Kalau kamu ngantuk bilang saja, nanti aku perpanjang ceritanya, biar kamu tidak bisa tidur sampai langit pagi memperlihatkan lengkungnya, dan aku senang mendengarkanmu menyalahkanku ketika matamu masih merah dan di timur matahari mulai merekah. Kamu cantik kalau sedang marah.

Sekarang sudah siang, udah....mandi dulu sana. Kita jalan menghabiskan waktu, semaumu dan semauku. Kita bisa nonton di ruangan berpendingin, makan, belanja, dan berteduh di taman kota. Jangan lupa kita beli oleh-oleh kecil buat sahabatku si laki-laki Aroma tembakau yang telah berbaik hati tidur di tempat kawannya tadi malam. (Jangan berburuk sangka kawan, tadi malam aku tidur di kamar sebelah yang masih kosong). Sekarang ayo kita pulang. Sudah sore, langit mulai jingga di arah barat. Lalu mobil itu membawa kita kembali ke kamar. Membawa kita, aku dan kamu yang berkeringat dan berdebu. 

Setelah mandi kita bicara lagi, kali ini si Laki-laki Aroma Tembakau akan bergabung, karena kawannya sedang pulang kampung. Jangan khawatir, sekarang aku tidak akan mengganggu tidur nyenyakmu. Selamat tidur dan berkembang. Besok setelah sholat subuh, ketika kamu berdo'a, kamu bisa berbaik hati dengan mendo'akanku dan juga saudaraku si Laki-laki Aroma Tembakau itu : cita-citanya masih jauh, semoga dia tidak lelah menggapainya. Kalau tidak takut gelap, silahkan matikan lampu.
Lagi-lagi Laki-laki Aroma Tembakau berbaik hati. Tadi pagi sebelum dia pergi, dia sempat menyediakan sarapan. Ini buatmu, sebuah buku tipis tulisan Sapardi. Nanti saja dibacanya kalau kamu sudah sampai rumah. Maka hatiku gerimis ketika tadi kita berpisah. Aku melihat mobilmu sampai menghilang. Dan sangat jelas jejakmu di jalan itu. Nanti di buku tipis yang aku berikan, tolong dilihat di halaman 96, aku ingin kamu membacakannya untukku. [ ]      

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai