18 October 2013

Norwegian Wood

Haruki Murakami penulisnya, dari namanya pasti sudah ketahuan dia orang mana. Saya beli tanggal 1 Mei 2006, sehari sebelum meluncur ke Cengkareng, sehari sebelum bekerja sebagai jongos. Bandung dingin dan berkabut, di jalan Wastukencana saya menenteng buku bersampul putih itu, menunggu angkot Kalapa-Ledeng.

Tadi siang saya sudah pamitan pada kawan-kawan di Sarijadi. Pada kawan-kawan yang masih menganggur, menunggu rahmat kerja di balik tumpukan koran hari sabtu dan rokok yang jarang terbeli sebungkus. Tapi keberangkatannya diundur, kehabisan mobil katanya. Perusahaan travel laku keras, satu kursi pun tidak tersisa buat calon jongosnya pergi ke bandara.

Angkot datang, saya duduk di bangku paling pojok. Mobil masih kosong, masih harus menunggu, agar setoran dapat terkejar. Tapi para mahasiswa sering banyak yang menggerutu kalau angkot berlama-lama, takut kesiangan katanya, padahal di kampus pun jarang ada dosen. Calo teriak-teriak bikin perhatian agar calon penumpang mendengar, nanti dia bakal dikasih uang recehan sama pak sopir, buat beli rokok, upah dari suaranya itu. Sambil berlama-lama menunggu penuh, saya buka buku Norwegian Wood.

Cerita dimulai dengan orang yang melamun di kursi pesawat, ketika hampir landing di Jerman. Sesekali diganggu pramugari yang bertanya dan menawarkan ini-itu, sehingga membuyarkan lamunan si penumpang. Kondisi bandara yang berkabut digambarkan dengan baik, lalu terdengar lagu The Beatles, mengingatkan kembali penumpang itu pada masalalunya waktu kuliah di Jepang, dan pernik kehidupan lain yang pernah ia lalui. Kemudian cerita bergulir ke belakang.

Harus sabar membaca novel ini, sebab Murakami menulisnya dengan tempo lambat dan terkesan tidak mau loncat-loncat untuk mengakhiri cerita. Orang-orang yang nafas membacanya pendek, mungkin akan cepat dihampiri bosan, atau mata yang tiba-tiba berat disergap ngantuk. Jadi harus latihan “pernafasan” dulu. Saya baru membaca setengah, sebab sehari setelah itu saya menjadi jongos yang sibuk : dikuasai oleh banyak betul pekerjaan dan para konsumen travel yang sumbu kesabarannya sangat pendek. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai