18 October 2013

Menghilangkan Trauma Persepsi

Buku ini adalah kumpulan materi yang disampaikan oleh KH. Hilmi Aminudin (Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera) kepada para kader partai tersebut dalam berbagai pertemuan. Naskah ini awalnya hanyalah sekumpulan arsip yang tersimpan rapi di Sekretariat Jenderal Arsip dan Sejarah DPP PKS, namun para pengurusnya kemudian berinisiatif untuk membukukan dan melemparnya ke ranah publik, dengan tujuan agar arsip dokumen tidak sekedar menjadi benda yang kaku dan hanya dibuka lagi sewaktu-waktu, tapi berubah menjadi sesuatu yang bisa diakses publik, sebagai pembuktian dari sikap partai yang (katanya) tidak eksklusif, juga sebagai bahan pembelajaran untuk setiap kader partai dakwah itu.

Pertama kali lihat buku ini adalah di toko buku Al Amin, Bogor. Tapi saya tidak merasa tertarik. Beberapa bulan kemudian, setelah berkomunikasi dengan Bung Hamzah (kawan sewaktu kuliah), barulah saya penasaran dengan isi buku ini. Lalu saya balik lagi ke Bogor, dan menawannya sampai sekarang. Isinya adalah tentang arahan-arahan dan nasihat sang ketua Dewan Syuro kepada para kader partai yang bertarung di tengah hiruk-pikuk dan galaunya dunia politik Indonesia. Ide-idenya menurut saya cukup segar dan visioner. Jika kita selama ini merasa heran dan bertanya-tanya mengenai manuver-manuver PKS yang “aneh” dalam berpolitik, maka buku ini bisa memberikan jawabannya.

Yang cukup mengganggu dari buku ini adalah terlalu banyaknya istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan oleh KH. Hilmi Aminuddin dalam menyampaikan taujihnya. Meskipun ada penjelasan dalam bahasa Indonesianya, tapi tetap saja menurut saya mengurangi kenyamanan dalam membaca. Buku ini terbit hard cover dan harganya tidak terlalu tinggi.

Jika kita ingin “melihat” PKS, berarti kita juga harus “melihat” sejarah gerakan Ikhwanul Muslimin a.k.a Tarbiyah yang masuk ke Indonesia. Sebab pengetahuan yang parsial akan menghasilkan pemahaman yang parsial juga. Kini PKS tumbuh sebagai partai politik yang penuh dinamika. Mungkin kurang tepat jika disebut faksi, yang jelas perbedaan-perbedaan di dalam partai tentulah ada, bahkan di dalam jamaah Tarbiyah (sebelum era partai) sendiri perbedaan-perbedaan itu sudah ada. Cukup menarik jika kita mengikuti pendapat-pendapat Ustadz Daud Rasyid, Ustadz Ihsan Tanjung, dan ustadz-ustadz Tarbiyah yang lain, yang berada diluar kepengurusan partai. Baru-baru ini saya mengikutinya di eramuslim. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai