18 October 2013

Khotbah Di Atas Bukit

Alangkah tidak enak menjadi pengangguran, waktu seperti berjalan cepat, meninggalkan saya yang tercecer di belakang, tanpa pekerjaan dan penghasilan. Orang-orang berlomba saling menyalip nasib, sementara jutaan yang lain berdiri di pinggiran zaman, hanya sebagai penonton. Tapi sejak kapan rejeki hanya diberikan kepada orang-orang yang bekerja saja?. Dan di suatu hari yang sangat lembab, di antara deret waktu dalam masa pengangguran, saya masih punya uang, masih bisa membeli buku di kota Bogor. Curah hujan sangat tinggi waktu itu.

Turun dari L 300, langsung singgah di Mesjid Raya Bogor, berlari sambil dihujani air dan angin yang berhembus kencang. Di emperan mesjid, penuh oleh orang-orang yang berteduh, dan hujan seperti tidak memberi tanda-tanda akan cepat berhenti. Setengah jam sudah lewat, tapi langit masih setia menyiram bumi. Jejentik jam terus berdetak, seperti menghitung setiap tetes air yang beradu dengan tanah dan daun. Waktu hujan mulai reda, tukang soto dan tukang bakso diserbu pembeli. Saya menimbang kantong, menghitung uang yang tersisa : mudah-mudahan ada sedikit dana untuk menentramkan perut yang minta jatah. Tapi sepertinya uang yang tersisa hanya cukup buat beli sebuah buku saja. Daripada tergoda, akhirnya saya berlari menuju Gramedia.

Buku Khotbah Di Atas Bukit, karya Kontowijoyo. Kata orang-orang, kata para penikmat sastra, buku ini katanya bagus dan menarik. Tapi saya merasakan sebaliknya : ceritanya tidak menarik dan monoton. Manusia memang punya seleranya masing-masing, lagi pula saya bukan orang sastra, maka wajar saja ; Barman adalah seorang duda yang sudah pensiun dari pekerjaannya. Kemudian dia pergi ke sebuah bukit dan diam di villa. Di sana dia mengalami banyak peristiwa spiritual dan hal baru yang belum pernah sama sekali dia alami, seperti punya banyak pengikut dan bertemu dengan orang misterius. Tentu akan cukup melelahkan kalau saya ceritakan semuanya, jadi cukuplah demikian.

Kontowijoyo telah menghabiskan uang saya, yang tersisa hanya ongkos untuk pulang ke Jalan Baru. Sementara hujan kembali turun dan angin terus menderu. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai