24 July 2013

Kaki Dashi : Kalimat Pertaruhan?


Pukulan pertama seringkali mengagetkan, tapi tidak selalu. Kaki Dashi adalah kalimat mula-mula yang seringkali menjadi pertaruhan para pengarang, para penutur cerita. Dalam novel, roman, ataupun cerpen, kalimat-kalimat permulaan seringkali menjadi batu tapal; apakah pembaca akan tertarik dan melanjutkan atau malah sebaliknya, pergi sambil bergumam, “cerita sampah!.”

Hasan Junus, dalam Riau Pos.co edisi 25 Desember 2011 menerangkan bahwa muasal kata kaki-dashi terdiri dari kata-kerja “kaku” artinya menulis yang berubah menjadi “kaki” sebagai kata-benda yang berarti tulisan, dan kata-kerja “dashi” yang artinya memulai. Adalah seorang Ato Masuda yang pernah mengajarkan bahwa untuk mengenal karya sastra yang bagus bisa dilihat dari kaki dashi yang cemerlang.

Yasunari Kawabata, peraih Nobel Sastra tahun 1968, adalah salahsatu pengarang dalam kesusastraan Jepang modern yang kaki dashi-nya dibaca dan dikenal secara luas. Dalam novelnya yang berjudul Yuki-guni (Negeri Salju) dia membukanya dengan kalimat-kalimat yang terkesan murung  :

 “Kereta api bergerak keluar dari terowongan menuju negeri salju. Bumi bersandar pada gelapnya langit. Kereta api berhenti di statiun.”

Sementara dalam sejarah kesusastraan dunia tercatat bahwa kaki dashi yang terbanyak dibaca ialah sederet kalimat pembuka dalam salahsatu karya Franz Kafka Die Verwandlung. Kalimatnya usil, keji, sekaligus nonjok :

“Ketika Gregor Samsa pada suatu pagi bangkit dari tidur yang resah, dilihatnya dirinya sudah menjelma menjadi seekor serangga besar.”

Ya, seekor serangga!. Bagaimana jika kamu adalah Gregor Samsa?, siapkah menjadi seekor serangga?. Atau siapkah kamu seperti tokoh dalam sebuah cerita Nikolai Gogol yang pada suatu pagi kehilangan hidung. Atau menjumpai anjing milik kamu sendiri yang tiba-tiba bisa berkata-kata. Atau yang lebih parah seperti tokoh dalam karya Philip Roth : seorang professor sastra yang suatu pagi berubah menjadi payudara!.

Secara pribadi, dari beberapa karya sastra yang pernah saya baca, tak banyak yang bisa saya ingat dengan kuat. Ya, saya hanya bisa mengingat dua kaki dashi :

Pertama dalam novel Lolita karya Vladimir Nabokov, pendek saja : “Lolita, cahaya hidupku, api sulbiku.”

Kedua adalah bagian pertama dari roman Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Ini pun pendek : “Orang Memanggil aku : Minke.”

Ato Masuda tidak salah, karya sastra hebat memang seringkali dimulai dengan kaki dashi yang cemerlang, namun tentu saja catatan dan jejak rekam dalam semesta sastra tidak sepenuhnya terjadi demikian. Banyak juga karya sastra gemilang yang kaki dashi-nya biasa saja---kita bisa dengan tekun menggali dan membuktikannya. Ya, memang ini bukan hukum pasti yang memayungi setiap prosa, setiap karya sastra. Sekali lagi, rimba kata-kata bukan hitungan eksakta dengan presisi luar biasa. Yang terbuhul dalam catatan ini, sedapat-dapat hanyalah usaha menghimpun beberapa kalimat pertaruhan dari karya utuh yang telah dilepas ke jalanan oleh para penulisnya yang gagah berani.

Selain dari buku-buku koleksi pribadi yang jumlahnya sangat terbatas, juga ditambah dari cerpen-cerpen yang terserak di beberapa koran nasional, dengan porsi terbanyak diambil dari harian Kompas edisi ahad yang sengaja saya simpan. Berikut himpunan kaki dashi-nya :

1.      Aku tahu, kau mengenal bulan biru. Bulan bulat sempurna kedua pada kalender Masehi di bulan yang sama. [Bulan Biru - Gus TF Sakai] #Kompas, 6 Januari 2013

2.      Kau tak hendak menghitung. Namun, tahun-tahun yang melintas itu setiap kali mengucapkan salamnya kepadamu. Seolah pamit sembari menerakan jejak yang melekat di dinding ingatanmu. [Tradisi Telur Merah –Sanie B. Kuncoro] #Kompas, 27 Maret 2011

3.      Apalagi yang luput untuk diceritakan?. Gelas-gelas kosong, isak tangis surut, pelayat beringsut meninggalkan rumah duka dan ayat-ayat suci menguap di udara. Jenazah masih berbaring kaku, asing dari keajaiban. [Pusara – Yovantra Arief] #Kompas, 3 April 2011

4.      Jangan petuahi kami perihal amal dan dosa. Usah pula berbuih ludah mendongengkan elok surga dan ngeri neraka. Kelaparan lebih mengerikan dari kematian. [Botol Kubur - Arman AZ] #Kompas, 10 April 2011

5.      Dari pagi ke pagi, mulut-mulut itu, satu demi satu, bagai beralih-rupa menjadi toa. [Orang-orang Larenjang – Damhuri Muhammad] #Kompas, 17 April 2011

6.      Nenekku merokok!. Inilah yang membedakannya dengan karakter nenek lain yang umumnya lemah lembut dan imut-imut; salah satunya. Ia juga garang, pemarah, dan suka cakap kotor!. [Nenek - Lie Charlie] #Kompas, 24 April 2011

7.      Aku mendatangimu dengan dua malaikat di kedua sisiku. [Belati dan Hati – Chairil Gibran Ramadhan] #Kompas, 1 Mei 2011

8.      Meski sedang liburan di rumah neneknya di Desa Bangunjiwa, Amir tetap bangun pagi. [Bendera – Sitok Srengenge] #Kompas, 8Mei 2011

9.      Sam tiga hari di Jayapura; dia guru ikatan dinas dari Jawa. [Ikan Kaleng – Eko Triono] #Kompas, 15 Mei 2011

10.      Ketika kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar yang bermandikan cahaya. [Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita – Ayi Jufridar] #Kompas, 29 Mei 2011

11.      Setelah menempuh perjalanan lebih 24 jam dari Perancis-Hongkong-Singapore-Jakarta, Surabaya-Banyuwangi, badan terasa patah-patah. [Sematku Patah di Cungking – Ema Rianto] #Kompas, 12 Juni 2011

12.      Hans, tiap kali kita berdiri di tepi sungai itu, kamu selalu mengatakan hal yang sama, seraya menunjuk permukaan sungai yang kehijauan dan memantulkan bayangan kita; mereka menemukan tubuh Rosa di sini. [Perpisahan – Linda Christanty] #Kompas, 24 Juli 2011

13.      Berita lelayu yang diumumkan desa sesudah shalat subuh, mengejutkan saya. [WiroSeledri – GM Sudarta] #Kompas, 10 Juli 2011

14.      Pada malam hari, ibumu akan menjadi kunang-kunang. [Biografi Kunang-kunang – Sungging Raga] #Kompas, 3 Juli 2011

15.      Begitu Sastri selesai membaca berita dan keluar dari studio, Barbara juga keluar dari cubicle. [Pilihan Sastri Handayani – Sori Siregar] #Kompas, 19 Juni 2011

16.      Ia kembali ke kota ini karena kunang-kunang dan kenangan. [Kunang-kunang di Langit Jakarta – Agus Noor] #Kompas, 11 September2011

17.      Tersembunyi kisah rahasia pada sebatang pohon randu alas tua. Tak seorang pun berani menebangnya. [Ular Randu Alas – S.Prasetyo Utomo] #Kompas, 4 September 2011

18.      Di kampung kami ada seorang pelukis yang unik. Dia hanya akan melukis wajah manusia yang telah sampai pada ajalnya. [Lukisan Kematian – Andry KH] #Kompas, 21 Agustus 2011

19.      Dalam diam aku duduk di taman ini. Di kursi yang sama tempat kencan kita pertama.[Terbukalah – Dewi Ria Utari] #Kompas, 7 Agustus 2011

20.      Jangan sesekali kau dekati batang kayu itu. [Perihal Sebatang Kayu di Belakang Limas Kami yang Ada dalam Hikayat Emak – Guntur Alam] #Kompas, 31 Juli 2011

21.      Ayah adalah ayah dan kita tahu orangtua tidak berubah. [Mudik – Lie Charlie] #Kompas, 13 November 2011

22.      Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para pembantai. [Burung Api Siti – Triyanto Triwikromo] #Kompas, 20 Oktober 2011

23.      Jika hendak tamasya, kami akan pergi ke batas tidur, tubuh pun melayang-layang, terayun-ayun seringan kapas. [BatasTidur – Gde Aryantha Soethama] #Kompas, 23 Oktober 2011

24.      Jam meja memekik-mekik membangunkan Flayya. Tangannya yang selicin pualam itu bergerak spontan hendak mematikan alarm, melanjutkan kembara mimpi dari ranjang kamar apartemennya yang asri. [Epitaf Bagi Sebuah Alibi– Akmal Nasery Basral] #Kompas, 16 Oktober 2011

25.      Belum pernah Siti begitu empet seperti hari ini. [Karangan Bunga dari Menteri – Seno Gumira Ajidarma] #Kompas, 9 Oktober2011

26.      Masjid itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namu, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. [Salawat Dedaunan – Yanusa Nugroho] #Kompas, 2 Oktober 2011

27.      Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. [Dua Wajah Ibu – GunturAlam] #Kompas, 5 Agustus 2012

28.      Aku menunggu setengah jam sampai toko bunga itu buka. Tapi satu jam kemudian aku belum berhasil memilih. [Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata – Putu Wijaya] #Kompas, 17 Juli 2011

29.      “Sabarlah,tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tak mencintaiku lagi setelah ini.”[Serayu, Sepanjang Angin Akan Berhembus…- Sungging Raga] #Kompas, 22 Juli 2012

30.      Ia tiba-tiba muncul di muka pintu. Tubuhnya kurus, di sampingnya berdiri anak remaja. [Hening Di Ujung Senja –Wilson Nadeak] #Kompas, 15 Juli 2012

31.      Sebenarnya tidak ada keistimewaan khusus mengenai keahlian Darko dalam memijat. [Tukang Pijat Keliling – Sulung Pamanggih] #Kompas, 1 Juli 2012

32.      “Ternyata harganya tiga ratus tujuh puluh lima ribu, Pak,” kata Sum kepada lakinya, Uncok. [Tart di Bulan Hujan – Bakdi Soemanto] #Kompas, 18 Desember 2011

33.      Barnabas mulai menyelam tepat ketika langit bersemu keungu-unguan, saat angin dingin menyapu permukaan danau sehingga air berdesis pelan. [Mayat yang Mengambang di Danau – Seno Gumira Ajidarma] #Kompas, 8 Januari2012

34.      Senja Agustus memerah di kaki bukit Petrin, Mala Strana. Langit mengencingi Praha tak habis-habis. [Gerimis Senja di Praha– Eep Saefulloh Fatah] #Kompas, 15 Januari 2012

35.      Aku berangkat ke kotamu pagi ini dengan kereta paling awal, diantar hawa dingin dan kabut bulan Maret yang menusuk tulang. [Renjana – Dwicipta] #Kompas,11 Maret 2012

36.      Aku akan bercerita pada kalian. Bercerita tentang sebuah jembatan. Namanya adalah Jembatan Tak Kembali. Mengapa diberi nama demikian?. [Jembatan Tak Kembali – Mardi Luhung] #Kompas, 1 April 2012

37.      Tak pernah sekalipun aku tampil dengan rok mini dan paha mengundang apalagi bahu terbuka dan dada menantang, tapi mengapa nasib tak berpihak juga?. [Di Persimpangan Pantura – Tantri Pranash] #Kompas, 11 Desember 2011

38.      Ia bergegas. Tangan kirinya menyingkap ujung sarungnya hingga beberapa inci dari mata kaki. [Sehelai Kain Kafan –Mahwi Air Tawar] #Kompas, 4 Desember 2011

39.      Awan hitam merangkak pelan. Awan seperti itu setiap hari mengancam pada musim hujan dan merupakan isyarat tak lama lagi hujan akan mencurah deras. [Kimpul – Sori Siregar] #Kompas, 20 November2011

40.      Sarang lebah bergantung di dahan pohon rambutan yang rimbun bunga—kian hari kian membentuk lempengan bundar, tebal. [Penakluk Lebah – S. Prasetyo Utomo] #Kompas,2 September 2012

41.      Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba. [Seragam – AK Basuki] #Kompas, 12 Agustus 2012

42.      Tidak mungkin sebuah negara dipimpin oleh orang gila, tidak mungkin pula sebuah negara sama-sekali tidak mempunyai pemimpin. [Tangan-tangan Buntung –Budi Darma] #Kompas, 29 Juli 2012

43.      Ibuku adalah perempuan pemilik jiwa yang hangat. [Rumah Tuhan – AK Basuki] #Kompas, 10 Maret 2013

44.      Ombak di pantai Gado-gado, Seminyak, itu sungguh menggetarkan. Di tengah gerimis dan badai kecil, gelombang dan deburnya mengempaskan para peselancar dan mereka yang berenang di sepanjang pantai. [JanurHati – Noorca M. Massardi] #Kompas, 24 Februari 2013

45.      Usai pendeta melantunkan mantra, segelintir kerabat itu pun tergopoh-gopoh pulang. Hanya sanak saudara dekat yang hadir, tak ada tamu undangan, suasana lengang mengambang. [Sumpah Serapah Bangsawan– Gde Aryantha Soethama] #Kompas, 3 Maret 2013

46.      Berbaju hitam, semua orang termasuk dirimu duduk membentuk lingkaran. Kau mulai menghafal beberapa nama : Carmencita dari Meksiko, Soonyi dari Korea Selatan, dan Andy yang lahir di Boston. [Klub Solidaritas Suami Hilang – Intan Paramaditha] #Kompas, 31 Maret 2013

47.      “Bang, bangun, bang!. Ada berita dari rumah-sakit!.” [Piutang-piutang Menjelang Ajal – Jujur Prananto] #Kompas, 12 Mei 2013

48.      Siapa berani membongkar kubur Nyai Laras di atas bukit yang diratakan dengan jalan raya?. [Penjaga Kubur Nyai Laras – S. Prasetyo Utomo] #Kompas, 7 April 2013

49.      Maura membiarkan kancing bajunya tetap terbuka, meski ini bulan Agustus yang dingin. [Ia yang Menyimpan Api di Hatinya – YettiA. KA] #Kompas, 21 April 2013

50.      Sebelum kau bertanya, “Agama apa yang pantas bagi pohon-pohon?,” hujan lebih dahulu berwarna tembaga. [Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-pohon – Eko Triono] #Kompas, 28 April 2013

51.      Hidup ini absurd. Tak layak dijalani. [Panggung Sisyphus – Apendi] #Kompas, 27 Januari 2013

52.      Laki-laki itu berusia setengah baya, berperawakan biasa, berkulit biasa, berwajah biasa, berambut biasa, berbaju dan bercelana biasa, mengenakan sepatu yang juga bisa-biasa saja. [Amin – F. Rahardi] #Kompas, 20 Januari 2013

53.      Orang yang berjalan kaki nampak miskin. Apalagi kalau melangkah di jalanan kota besar macam Jakarta ini. [Antara Menteng-Semanggi – Marselli Sumarno] #Kompas, 16 Juni 2013

54.      Barang siapa pernah keluyuran di kota S pasti tahu, di sana ada sebuah plaza khusus untuk makan-makan, minum-minum, nonton bioskop, main di karaoke, dan hiburan-hiburan lain. [Percakapan –Budi Darma] #Kompas, 23 Juni 2013

55.      Dan salahsatu tanda kebesaran Tuhan adalah diciptakan ihwal lucu, sekaligus ambigu. Seperti peristiwa ajaib yang tiba-tiba muncul di sumur itu [Trilogi – A. Muttaqin] #Kompas, 2 Juni 2013

56.      Di atas jembatan kecil aku berdiri, setengah bersandar ke pagarnya yang rendah, diam memandang aliran lemah Cikapundung. Apa yang dia katakan?, tidak ada. [Cikapundung – Kurnia JR] #Kompas, 9 Juni 2013

57.      Dan berjalan tertatih memapah Lalu. Selalu saja terjadi seperti itu. Padahal sebelumnya Dan berniat untuk maju. Tak lagi mengindahkan tangis Lalu dibelakangnya yang mendayu-dayu. [Dan Lalu – Djenar Maesa Ayu] #Kompas, 26 Mei 2013

58.      Ya, mereka memang akan menjebloskanmu ke rumah sakit jiwa. [Serigala di Kelas Almira – Triyanto Triwikromo] #Kompas, 7 Juli 2013

59.      Orang-orang sudah berkumpul di rumah Haji Kecik. Berdesakan, saling dorong, bagai sedang mengantre beras subsidi pemerintah. [Tiga Cerita Tentang Mayat – Irfan M. Nugroho] #Pikiran Rakyat, 23 Juni 2013

60.      Dara langsung menutup lagi pintu. Tapi asap putih dan bau knalpot terlanjur menyerbu masuk kamar. [To Be or Not To Be –Mona Sylviana] #Koran Tempo, 2 Juni 2013

61.      Ada empat ekor kangguru di kandang---satu jantan, dua betina, dan satu ekor lagi adalah bayi kangguru yang baru lahir. [Hari yang Sempurna untuk Kangguru – Haruki Murakami] #Koran Tempo, 9 Juni 2013 #Dialihbahasakan Oleh Habi Hidayat

62.      Dua belas tahun ia melayari dunia : Australia – San Fransisco – Rangoon – New Zealand –mengendarai angin dan ombak. [Wennington– Rilda A. Oe. Taneko] #Koran Tempo, 19 Mei 2013

63.      “Saudara Jamal Baharudin!.” Suara orang itu sangat ketus. Orang-orang yang menunggu di ruangan sempit itu mungkin tak penting untuknya. [Pendar Cahaya Senja – Ricardo Marbun] #Republika, 18 Maret 2012

64.      Saya tak tahu. Sebenarnya ini surat ke berapa yang ditulis. [Surat – Benny Arnas] #Republika, 2 Oktober 2011

65.      Ia memetik setangkai bunga bangau dari batangnya yang sudah layu dan merunduk di rumpun tanaman itu setiap kali ia mendengar mobil mendekat. [In The Name of The Butterflies – Julia Alvarez]

66.      Bertahun-tahun kemudian, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia mencoba mengenang suatu senja yang begitu jauh ketika ayahnya mengajak dia untuk membuat es. [One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez]

67.      Sophie Amundsend sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dia telah menempuh paruh pertama perjalannya bersama Joanna. Mereka membicarakan robot. [Dunia Sophie – Jostein Gaarder]

68.      Terletak di antara pohon pinus dan riak-riak pesisir Samudra Pasifik, Sea Ranch di California adalah tempat yang indah untuk patah hati. [Honeymoon with My Brother – Franz Wisner]

69.      Lolita, cahaya hidupku, api sulbiku. [Lolita – Vladimir Nabokov]

70.      Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. [Laskar Pelangi – Andrea Hirata]

71.      Mariam baru berusia lima tahun ketika pertama kali mendengar kata harami. [A Thousand Splendid Suns – Khaled Hosseini]

72.      Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara?. [Biola Tak Berdawai – Seno Gumira Ajidarma]

73.      Orang memanggil aku : Minke. [Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer]

74.      Annelis telah berlayar. Kepergiannya laksana cangkokan muda direnggut dari batang induk. [Anak Semua Bangsa - Pramoedya Ananta Toer]

75.      Akhirnya bumi betawi terhampar di bawah kaki, kuhirup udara darat dalam-dalam. [Jejak Langkah - Pramoedya Ananta Toer]

76.      1912 : Tahun terberat untuk pribadi Gubernur Jenderal Idenburg. [Rumah Kaca - Pramoedya Ananta Toer]

77.      Dalam lembaran faks yang sudah mengeriput itu tertulis ZRH. [Partikel – Dewi Lestari]

78.      Tatkala hampir berusia tiga belas tahun, tangan abangku, Jem, patah di bagian siku.[To Kill A Mockingbird – Herper Lee]

79.      Ketika terjaga di hutan kecil dalam gelap malam yang dingin, ia menggapai anak yang tidur di sisinya, menyentuhnya. [The Road – Cormac Mc Carthy]

80.      Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta. [Galaksi Kinanthi – Tasaro GK]

81.      Westchester Avenue terlihat lebih sepi daripada biasanya. [9 Summers 10 Autumns – Iwan Setyawan]

82.      Semua hal yang pernah kuingat tentang Ayahku adalah biasa saja. Sangat biasa. [Sebelas Patriot – Andrea Hirata]

83.      Waktu itu saya dalam perjalanan dengan kereta pos dari Tiflis. [Pahlawan Zaman Kita – Mikhail Lermontov]

84.      Pada suatu malam bulan Agustus yang lembap, dua minggu sebelum ia dijadwalkan melahirkan, Ashima Ganguli berdiri di dapur apartemen Central Square. [The Namesake – Jhumpa Lahiri]

85.      Amerigo Bonasera duduk di Pengadilan Pidana Nomor 3 New York dan menunggu keadilan. [The Godfather – Mario Puzo]

86.      Seandainya kau dan aku sedang duduk di ruangan tenang yang menghadap ke kebun, mengobrol dan mereguk teh hijau dari cangkir. [Memoirs of A Geisha – Arthur Golden]

87.      Para serdadu kuda Troya pasti merasa berdebar-debar pada waktu memasuki kota musuh. Mereka tahu benar apa yang harus mereka garap. [Rafillus – Budi Darma]

88.      Sebenarnya, Barman tua suka mempunyai kekasih semacam Popi. Ia akan memanggil-manggil, “Popi, sayang!.” [Khotbah di Atas Bukit – Kuntowijoyo]

89.      Malam tiba, aku tidak keluar kamar, tapi aku tahu apa yang berada di luar. [Aku Kesepian, Sayang. Datanglah Menjelang Kematian – Seno Gumira Ajidarma]

90.      Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein. [Edensor – Andrea Hirata]

91.      Di satu lorong di kejauhan, menara jam berdentang enam kali dan kemudian berhenti. [Mimpi- mimpi Einstein – Alan Lightman]

92.      Bertahun-tahun kemudian, berpuluh tahun kemudian, seorang pengembara tua berjumpa dengan seorang gadis belia. [Cinta Tak Pernah Mati – Anton Kurnia]

93.      Tukang Pos itu muncul dari balik cakrawala saat senja, mengendarai kuda sembrani bersurai kuning keemasan. [Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia – Agus Noor]

94.      Nick Naylor telah mendapat berbagai julukan sejak menjadi kepala juru bicara Akademi Penelitian Tembakau. [Thank You forSmoking – Christophe Buckley]

95.      Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna. [Dengarlah Nyanyian Angin – Haruki Murakami]

96.      Aku menjadi seperti diriku yang sekarang ini saat berumur 12 tahun, pada suatu hari yang beku di musim dingin 1975. [The Kite Runner – Khaled Hosseini]

97.      Di sudut mejaku, terdapat sebuah buku tua yang berusia hampir empat ratus tahun. [The Man Who Loved Books Too Much – Allison Hoover Bartlett]

98.      Awan hitam yang menggantung sejak dini hari akhirnya tumpah menjadi hujan lebat. [Madre – Dewi Lestari]

99.      Banjir itu datang tiba-tiba. Ibarat kentut. Tak bisa ditahan, tapi perginya lama. [Kronik Betawi – Ratih Kumala]

100.      Aku ingin membuat kampung halaman dari potongan-potongan kuku. [Lubang dari Separuh Langit – Afrizal Malna]

101.      Anak laki-laki itu bernama Santiago. Senja sudah menjelang ketika dia tiba bersama kawanan dombanya di sebuah gereja yang terbengkalai. [The Alchemist – Paulo Coelho]

102.      Kesunyian pekat menyelimuti Moskow. Sesekali terdengar derit roda di jalan yang berlumpur salju. [Kazak – Leo Tolstoy]

103.      Perang selalu memikatku. [Penyerbuan – LeoTolstoy]

104.      Jakarta, 27 Oktober 1986. Malam itu hujan turun deras sekali, di sebuah rumah sakit besar di Jakarta sebuah peristiwa besar akan segera terjadi. [2 – Donny Dhirgantoro]

105.      Saksi mata itu datang tanpa mata. [Saksi Mata – Seno Gumira Ajidarma]

106.      “Ceritakanlah kepadaku tentang kekejaman,” kata Alina kepada juru cerita itu. [Telinga – Seno Gumira Ajidarma]

107.      Sudah setahun Maria menunggu Antonio, tapi sampai hari ini ia belum pulang juga. [Maria – Seno Gumira Ajidarma]

108.      Ketika Salvador diseret sepanjang jalan berdebu di kota yang kering dan gersang itu,angin bertiup kencang menerbangkan pasir dari gurun. [Salvador – Seno Gumira Ajidarma]

109.      “Katakanlah padaku, wahai Fernando,” kata dokter itu sambil melihat hasil foto rontgen. “Bagaimana sampai rosario ini ngendon 20 bulan di perutmu.” [Rosario – SenoGumira Ajidarma]

110.      Lebih dari 1.500 tahun yang lalu, bangsa Yunani kuno menemukan, jika sejenis bebatuan yang berwarna kuning digosok dengan cepat dan bertenaga, akan mampu mengisap, menyedot, dan menarik partikel kecil debu dan kain tiras. [Listrik – Seno Gumira Ajidarma]

111.      Pada jam pelajaran sejarah, Guru Alfonso membawa murid-murid kelas IV ke tempat bersejarah itu. [Pelajaran Sejarah – Seno Gumira Ajidarma]

112.      Pada malam Natal itu, lonceng gereja berkeloneng, dentangnya bergema ke seluruh penjuru Kota Ningi. [Misteri Kota Ningi – Seno Gumira Ajidarma]

113.      Begitulah, belakangan ini aku selalu merasa seperti punya musuh, perasaanku seperti orang berperang---tapi, aku tak tahu siapa musuhku. [Klandestin – Seno Gumira Ajidarma]

114.      Seorang jenderal pensiunan mengenang masalalunya yang gemilang. [Darah itu Merah Jenderal – Seno Gumira Ajidarma]

115.      Ketika kutiup seruling pada senja yang sendu itu mega-mega berarak menyibak waktu dan langit yang masih keemasan terkoyak. [Seruling Kesunyian  – Seno Gumira Ajidarma]

116.      Salazar, aku menunggumu di sini, Salazar, di kafe tua, dekat hotel murahan, di sebuah lorong gelap di Barcelona. [Salazar – Seno Gumira Ajidarma]

117.      Senja telah turun di Los Palos, tapi senja bagaikan belum sampai ke Gunung Legumau, yang tegak membisu dalam sepuhan cahaya keemasan. [Junior – Seno Gumira Ajidarma]

118.      YaTuhan---kepala itu tertancap di pagar Da Silva. [Kepala di Pagar Da Silva – Seno Gumira Ajidarma]

119.      Ada banyak hal yang masih diingat Adelino tentang Paman Alfonso, dan ada satu hal yang selalu diingatnya tentang pohon itu. [Sebatang Pohon di Luar Desa – Seno Gumira Ajidarma]

120.      Telepon itu berdering berulang-ulang, Matari mengangkatnya. “Halo, di sini 2500998.” [Bianglala Biru – Anton Kurnia]

121.      Setelah sembilan bulan sembilan hari mengeram dalam rahim ibuku, aku dilahirkan dengan sebilah keris dalam tubuhku. [Sebilah Kerisdalam Tubuhku – Anton Kurnia]

122.      Kau tahu, aku selalu menyukai tubuhmu yang seperti pohon. [Aku, Kau, Bahamut – Anton Kurnia]

123.      Malam yang gerimis, musik yang menangis. [Gerimis Menetes di Buenos Aires – Anton Kurnia]

124.      Matahari Agustus baru bergulir melewati titik kulminasinya, namun sinarnya masih terasa terik membias di atas untaian rel kereta api. [Zenilda Belum Pulang – Anton Kurnia]

125.      Aku hanya memiliki ingatan samar-samar tentang kabut yang menyelimuti minggu ini. [Sepasang Mata Kelabu – Anton Kurnia]

126.      Jam sembilan pagi Ibrahim terjaga. [KerudungPutih – Anton Kurnia]

127.      Langit mendung malam itu. Rembulan tertutup awan. Gelap. Pekat. [Megatruh – Anton Kurnia]

128.      Senja sedang mekar-mekarnya. Langit yang luas tampak cerah diterangi oleh matahari yang hendak bersembunyi di balik cakrawala. [Insomnia – Anton Kurnia]

129.      Bel berbunyi. Tak ada jawaban. Dia pasti sedang keluar. Ia memutar anak kunci perlahan-lahan. [Malam – AntonKurnia]

130.      Mereka telah mengejarnya selama dua hari, tetapi akhirnya mereka kehilangan jejak di kaki bukit. [Kabut – Anton Kurnia]

131.      Mereka menyebutku orang gila. [Orang Gila – Anton Kurnia]

132.      Cahaya senja yang keemasan jatuh di atas kertas. Aku sedang menulis surat---isinya akan kuceritakan nanti. [Jazz, Parfum & Insiden – Seno Gumira Ajidarma]

133.      Sesungguhnya surat itu takkan begitu menyayat hatiku, kalau saja sebelumnya aku tak mengirimi surat yang berisi sesuatu yang tak enak untuk dibaca. [Bukan Pasar Malam – Pramoedya Ananta Toer]

134.      Setengah tahun yang lalu Eduard juga telah menerima surat dari adiknya, perempuan. Ibu sangat rindu, menanti-nantikan kedatangannya. [Si Pandir – Pramoedya Ananta Toer]

135.      Gadis Bekasi bersama dengan bapaknya pulang dari sawah. Lega hati mereka itu. [Gadis Bekasi – Pramoedya Ananta Toer]

136.                       “Grak-grak,”bunyi ban depan sepedanya menumbuk jagang. [Karena Korek Api – Pramoedya Ananta Toer]

137.      Lebih suka ia memekikkan, meraungkan kesakitan dalam hatinya. Tetapi ia tidak kuasa. Ia laki-laki. [Jakarta – Pramoedya Ananta Toer]

138.      Kapal Manoora berlabuh di Tanjung Priok. Sekali lagi matanya menggerebak : Tanah tumpah-darah. [Terondol – Pramoedya Ananta Toer]

139.      Berkisar hati ini, dari gadis ke gadis. Tiap kali disangka cinta, diharapkan datang. Tetapi bukan, hanya kekaguman. [Bingkisan, Untuk Adikku R – Pramoedya Ananta Toer]

140.      Memang kota kelahiranku miskin. Tetapi dalam satu hal ia kaya,---kaya akan penduduk yang bernama Rono. [Keluarga Mbah Rono Jangkung –  Pramoedya Ananta Toer]

141.      Kawan, engkau sudah pernah dengar nama kampungku, bukan?. Kebun Jahe Kober---500 meter garis lurus dari istana. [Kampungku – Pramoedya Ananta Toer]

142.      Terjadi di sebuah kampung. Tak lebih dari lima ratus meter dari istana. [Lemari Buku – Pramoedya Ananta Toer]

143.      Ia adalah pegawai pemerintahan. Aku pun demikian. Ia sepku, dan aku bawahannya. [Sepku – Pramoedya Ananta Toer]

144.      Tak tahulah aku, namun cerita-cerita dari darat kian lama kian kekurangan garam dan basi---membasi. [Kapal Gersang – Pramoedya Ananta Toer]

145.      Terlepas dari perhitungan politik atau apa pun juga, sistem pendidikan di negeri Belanda jauh lebih baik daripada di Indonesia. [Famili Tanus yang Buta – Pramoedya Ananta Toer]

146.      Sebenarnya, kisah ini sungguh-sungguh tak patut dikisahkan. [Tentang Emansipasi Buaya – Pramoedya Ananta Toer]

147.      Kini terasa bagaimana mendalam cinta seorang ayah terhadap anaknya. [Suatu Pojok Di Suatu Dunia – Pramoedya Ananta Toer]

148.      Dia sudah coba untuk tetap menjadi baik. Dan aku pun sudah berusaha. Selalu, tiada hentinya!. [Sunyisenyap Di Siang Hidup – Pramoedya Ananta Toer]

149.      Anaknya yang selama itu sehat montok dan menghamburkan tawa dan senyum setiap hari, tiba-tiba jatuh sakit. [Jalan yang Amat Panjang – Pramoedya Ananta Toer]

150.      Ada banyak buruh yang berkedudukan baik. Ada banyak kedudukan baik untuk buruh. [Kalil Si Opas Kantor – Pramoedya AnantaToer]

151.      Pengalamannya memang bukan baru bagi dunia dan manusianya yang sudah tua ini. [Sekali Di Bulan Purnama – Pramoedya AnantaToer]

152.      Ada juga terdengar olehnya adiknya kecil Tini itu berseru girang “Mbak Ati datang.” Dan ada juga suara yang dikaguminya dulu---suara yang selalu membangkitkan birahinya. [Demam – Pramoedya Ananta Toer]

153.      Walau sudah lama aku pikirkan namun hingga kini aku tetap tak mengerti. Soalnya ialah: mengapa begitu banyak kesia-siaan dilakukan para wanita untuk menjadi cantik!. [Yang Cantik dan yang Sakit – Pramoedya Ananta Toer]

154.      Sekali ini aku ingin bicara kepada kalian tentang lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia : keluarga!. [Lembaga Kehidupan Telah Hancur Sebuah Lagi – Pramoedya Ananta Toer]

155.      Mereka berciuman dengan dahsyat di atas bukit batu di pulau karang itu sehingga langit mengerjap-ngerjap seperti mata yang terbuka dan tertutup. [Mwwwhh!, Sebuah Komposisi untuk Putih Salju – Seno Gumira Ajidarma]

156.      Terbuat dari apakah kenangan?. [Kyoto Monogatari – Seno Gumira Ajidarma]

157.      Suatu ketika kelak, seorang tukang cerita akan menuturkan sebuah legenda, yang terbentuk karena masa krisi ekonomi yang berkepanjangan. [Legenda Wongasu – Seno Gumira Ajidarma]

158.      Perempuan terindah itu meluncur di atas es, setiap kali melewatiku dari tangannya muncul seekor burung merpati. [Melodrama Di Negeri Komunis – Seno Gumira Ajidarma]

159.      Waktu ia menyeringai aku sudah tahu monyet itu siapa. [Topeng Monyet – Seno Gumira Ajidarma]

160.      Hari sudah gelap, tapi aku belum menurunkan layang-layangku. [Layang-layang – Seno Gumira Ajidarma]

161.      Avi berumur 30 tahun ketika itu, dan inilah kata-katanya. [Avi – Seno Gumira Ajidarma]

162.      Menjelang senja, sebuah mobil sport yang mulus mendecit tiba-tiba di tepi pantai. [Dua Perempuan dengan HP-nya – Seno Gumira Ajidarma]

163.      Senja telah turun di Teges Kanginan. Bayangan pohon-pohon menghitam dan mengelam dilatarbelakangi langit yang makin merah dan muram. [Aku dan Bayanganku – Seno Gumira Ajidarma]

164.      Kisahnya dimulai pada suatu malam, ketika seperti biasa Gorda mencuci kaki, sikat gigi, mencuci muka, dan melompat ke tempat tidurnya. [Dunia Gorda – Seno Gumira Ajidarma]

165.      Ia selalu menjaga malam, agar malam tetap menjadi malam seperti yang paling dimungkinkan oleh malam. [Penjaga Malam dan Tiang Listrik – Seno Gumira Ajidarma]

166.      Da-da, kuda, engkau berlari dengan mulut berdarah. [Komidi Puter – Seno Gumira Ajidarma]

167.      Hanya setahun setelah menikah, Caska dan Berto berhenti bercinta. [(Punggung) Caska dan Berto – Tamara Geraldine]

168.      “Malam ini ngoni semua harus kumpul di rumah. Torang mau doa keluarga.  Please don’t be yourself this time, jangan telat ngana!” [Kamu Sadar, Saya Punya Alasan untuk Selingkuh kan Sayang? – Tamara Geraldine]

169.      Seorang laki-laki dan perempuan muda menyusur Legian, kelelahan, dan memutuskan untuk makan. [Bahasa yang Dimengerti Hati – Tamara Geraldine]

170.      Satu mayat perempuan cantik berbaju merah dengan banyak tetesan darah segar di kepala. [Maaf, Kita Harus Kenalan dengan Cara Seperti Ini – Tamara Geraldine]

171.      Limabelas tahun setelah keluar dari rahim ibu, aku mulai mencoba-coba merokok. [Ibuku Tak Mau Tahu (Segala yang Tak Ia Ingin Aku Warisi) – Tamara Geraldine]

172.      “Aku minta kamu tinggalkan rumah ini sekarang juga.” [Nobody Knows… - Tamara Geraldine]

173.      “I was about to leave at midnight when youdecided to start dancing. It was too sexy for me to just ignore. Hi, my name’sSatya.” [Pengantar Bunga yang Tertahan Pemeriksaan – Tamara Geraldine]

174.      Terlalu banyak yang berubah setelah tahun-tahun muram belakangan ini. Tahun yang kalau bisa kupilih untuk dilewatkan. [U Turn – Tamara Geraldine]

175.      Sempurna!. Apa yang lebih menyenangkan dari berendam dalam aroma bergamot dengan iringan musik, sebotol Ice Vibe, dan sebatang mariyuana?. [Toilet Shower, Good Idea – Tamara Geraldine]

176.      Adalah aku perempuan di kompleks yang tinggal dengan hantu. [Perempuan yang Berteman dengan Hantu – Tamara Geraldine]

177.      Kakiku semakin berat melangkah memasuki gedung tua yang dari kejauhan tadi tidak terlihat serusak ini. [Mengajari Tuhan – Tamara Geraldine]

178.      Namaku Fe. Aku bukan manusia pagi. [Sehari Suntuk Bersama Christiano Ronaldo – Tamara Geraldine]

179.      Selalu, selalu saja jam karet. [Krematorium Itu Untukku – Budi darma]

180.      Penyair besar turun di Statiun Gubeng. [Penyair Besar, Penyair Kecil – Budi Darma]

181.      Dengan menggunakan kunci duplikat, saya berhasil memasuki rumah Bruce Allender. [Sahabat Saya Bruce – Budi Darma]

182.      Dengan tidak diduga, pada suatu siang kritikus Adinan menerima seorang tamu. [Kritikus Adinan – Budi Darma]

183.      Dalam sebuah perang besar-besaran yang tidak sempat dicatat oleh sejarah, seorang prajurit berpangkat paling rendah dengan tidak diduga tiba-tiba mendapat panggilan dari jenderal peperangan yang tertinggi. [Secarik Surat – Budi Darma]

184.      Sebelum malam menggusur ke puncaknya, laki-laki setengah umur menguap beberapa kali, lalu bangkit dari ranjang kayu. [Laki-laki Setengah Umur – Budi Darma]

185.      Sebetulnya urat-urat leher istri tidak perlu menggelembung-mengempis ketika istri melihat suami pulang. [Laki-laki Lain – Budi Darma]

186.      Dalam suatu perjalanan panjang dengan kereta api, dua orang laki-laki duduk di dua kupe yang berdampingan. [Dua Laki-laki – Budi Darma]

187.      Setelah yakin hujan tidak akan turun, Salipan memasang baju, lalu pergi ke toko buku terdekat. [Salipan – Budi Darma]

188.      Saya senang bepergian. Kota besar, kecil, kecamatan, desa, dan sebagainya, bagi saya sama. [Bambang Subali Budiman – BudiDarma]

189.      Adalah seorang laki-laki tua, demikianlah sumber cerita yang kurang jelas menuturkan, merasa senang menerima tamu seorang serdadu. [Senapan – Budi Darma]

190.      Pada suatu hari, di suatu daerah yang tidak begitu banyak penduduknya, seorang laki-laki pulang jauh lebih awal daripada biasa. [Tiga Laki-laki Terhormat – Budi darma]

191.      Sungguh menakjubkan, bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan, perempuan itu membuka jendela dan memandang ke luar. [Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian Itu – Budi Darma]

192.      Tanpa gejala awal, sebagaimana misalnya megap-megap, kejang-kejang, atau muntah darah, pengarang Rasman meninggal. [ Pengarang Rasman – Budi Darma]

193.      Pada saat-saat tertentu, malaikat melayang-layang di atas sana. Itulah saat-saat malaikat mencari manusia yang berdosa. [Manusia yang Berdosa – Budi Darma] . [ ]

itp, 4 Ramadhan 1434

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…