19 June 2013

Sudara

Yang ada dalam pikiran saya hanya satu tafsir, satu perkiraan, bahwa menulis memang terkadang mengundang marabahaya. Ini adalah respon terhadap komentar seorang kawan yang berbunyi : “Saya sudah takut menulis.”


Juga hal ini mengundang semacam ke-insyaf-an, yang meskipun tidak saya terima semuanya, bahwa menulis adalah sebuah gerak menabur jejak yang berpotensi dicitrakan sebagai bercak, sebagai noda, sebagai track record yang mungkin akan bisa memburamkan masadepan. 


Alasan ini memang cukup kuat, terlebih bagi tulisan-tulisan yang bertabur metafor, kiasan-kiasan berbahaya nan absurd, dan aroma sindiran berinsting karnivora. Jangankan tulisan seperti itu, bahkan esai dan kolom di koran pun yang sebenarnya benderang masih layak untuk disusupi pengertian-pengertian berbeda dari para pembacanya. Tapi inilah belantara bahasa yang ditumbuhi ribuan pohon kata, setiap kalimat bukan rumus eksakta dengan presisi yang mengagumkan.


Tentu, tak ada secuil pun paksaan untuk menulis. Tak ada sebiji dzarah pun alasan yang patut dipaksaan kepada siapa pun untuk bergiat mencatat. Kalau pun saya masih saja mencoba setia di titian ini, tak lebih hanyalah sebuah cara untuk melarung setiap peristiwa, setiap kegelisahan, dan beberapa batu tapal yang hangus dibakar waktu. Sebab saya tidak menemukan cara yang lebih lirih untuk merayakan hal-hal tersebut. 


Disadari ataupun tidak, pergeseran makin terasa. Baik dalam wujud perspektif, maupun nalar logis-praktis. Penyebabnya beragam, dan salahsatunya adalah pemetaan ulang tentang tanggungjawab. Hormat saya tak berkurang sehasta pun kepada kawan-kawan yang sudah maju ke medan laga, menembus batas kenyataan, yang sudah berhasil menyingkap tirai tebal berbahan obrolan-obrolan masamuda, menuju setapak lain yang lebih syahdu dan dewasa. 


Namun begitu, ini bukan sebuah apologi, bukan pula sebuah nasihat berkarat, hal-hal semacam itu sudah biasa kita cairkan dengan tertawa renyah berderai-derai. Pun di titik ini, dari sudut pandang paling karib, bagi saya tak ada yang berubah sedikit pun. Dalam derajat yang egaliter, hormat dan cinta saya tak pernah berkurang. Mungkin band dari Yogya sudah gatal ingin menuliskan sebuah lirik bagi persahabatan seperti ini, namun lagi-lagi kita buyarkan hal itu dengan saling maklum yang membebaskan.  


Sebait puisi Sitok Srengenge nampaknya lebih cocok ditujukan kepada  manusia lembut dari jenis yang berlainan, namun entah, saya memaknainya lebih luas lagi :


Aku rangkum rahim di mana kau dulu mukim, rentang tangan yang selalu

menjagamu, kubebaskan kau bergerak dan berbiak dalam diriku

Aku kosong abadi yang menghendaki kau sebagai isi.[ ]


juni ‘13    





4 comments:

Unknown said...

ini sindiran buat penulis cewe ya????

Unknown said...

ini sindiran buat penulis cewe ya?

Unknown said...

ini sindiran buat penulis cewe ya?

Irfan Teguh said...

kenapa bisa menafsirkan seperti itu?

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai