04 January 2013

Just Do It

Saya tidak dibayar oleh Nike untuk judul di atas :D. Setelah membaca beberapa tulisan Pangeran Siahaan tentang sepakbola, dan berselancar di kanal-kanal media olahraga, serta dibantu oleh Wikipedia dan semesta Google, maka inilah saatnya untuk mulai menulis lagi :)

***

Seorang kawan, seingat saya, sudah dua kali bertanya : "kenapa harus West Ham?." Mulanya saya bingung harus menjawab apa. Tapi tulisan ini pun bukan pertanda bahwa akan menjelaskan semuanya. Lebih baik ikuti saya dan putar waktu sedemikian rupa sampai menyentuh angka 1988. Ya, bagi yang sudah hidup dan masih ingat, pada tahun itu tentu saja adalah waktu ketika Belanda menjuarai Piala Eropa untuk pertamakalinya, dan mungkin sekali-kalinya, karena sampai saat ini tak pernah lagi keluar sebagai kampiun benua biru. Saya belum genap tujuh tahun dan belum duduk di bangku sekolah dasar ketika Marco van Basten dkk menghibur para peminat bola dengan Total Football arahan Rinus Micheal. Barangkali Tika-Taka Spanyol adalah generasi penerus seni memainkan bola ini.

Kau tahu siapa lawan Belanda di final?. Ya, dialah USSR alias Uni Soviet, sebuah raksasa eropa yang kemudian dimutilasi oleh Gorbachev. Di rumah, orang-orang mendukung negara pemimpin blok timur itu, dan saya sendirian mendukung negeri kincir angin. Saya tidak tahu, apakah orang-orang rumah terkait dengan sentimen bahwa Uni Soviet adalah saudara tua Indonesia ketika di bawah pimpinan Soekarno, dan Belanda adalah antitesisnya yang pernah membuat tidur Soekarno kadang-kadang tidak nyenyak. Tapi final piala eropa 1988 tidak menyoal itu, saya yang bahkan diusia sedini itu hanya bisa menikmati jago-jago laga lapangan hijau dari kincir angin membuat kalang kabut pasukan beruang merah. Hasilnya tak mengecewakan, 2-0 untuk tim oranye, dan yang paling diingat adalah gol Marco van Basten dari sudut sulit dengan tendangan first timenya. Juara!. Rumah sepi, pendukung USSR bungkam.

Lalu Trio Belanda mengusai liga Italia, AC Milan mendapat berkah. Semua gelar dikantongi. Mau apa? : Liga Serie A, Piala Champion, dan Piala Toyota (Piala Antar Club yang dulu hanya mempertemukan juara Piala Champion melawan juara Libertadores). Jangan ungkit tahun 1994, karena akan menyakitkan para pendukung Barcelona, ya tim Catalan itu dibantai 4 gol tanpa balas di final Piala Champion!. Seperti Pepe Ribo yang mendukung Real Madrid sejak berusia 8 tahun, begitupun saya mendukung Belanda, bahkan lebih muda satu tahun dari dia. Ada hal yang terkadang tidak bisa didefinisikan, seperti akhirnya saya dulu sempat menjadi fans AC Milan gara-gara Trio Belanda itu. Bangun tengah malam sempat dibela demi menyaksikan tim dengan jersey yang menyerupai Persipura itu. Dan memang Serie A Italia sedang berjaya di layar kaca kita, lupakan Premier League negeri Ratu Elisabeth, karena dulu mereka hanya dikenal dengan budaya sepakbola menjemukan bergaya kick and rush; tendang dan serbu, jenis sepakbola tanpa seni.

Dan lupa. Dan bosan. Saya sempat bosan dengan sepakbola eropa yang telah menjadi industri sehingga (seperti) kehilangan roh. Lalu saya melupakannya. Hanya sesekali saja melihat highlightnya. Lamat-lamat saya dengar Serie A digerogoti kasus pengaturan skor dan dikuasai para taipan judi. Juventus si Nyonya Tua sempat terlempar ke serie B gara-gara kasus memalukan itu. Beberapa negara eropa limbung digoyang krisis ekonomi, dan Italia pun terjangkit. Penonton sepakbola di negeri pizza mulai menyusut, orang-orang sudah tidak mampu lagi membayar tiket stadion. Tribun sepi penonton. Sementara itu Liga Inggris (di Indonesia) mulai menemukan lampu sorotnya. Orang-orang yang tahu Liga Inggris ketika Denis Irwin, Paul Ince, Cantoca, Zola, Sheringham, dan Fowler masih berjaya pasti tahu bahwa Liga Inggris tidak terlalu gebyar seperti sekarang. Di sini manajemen adalah ujung tombak. Jangan ambil pusing dengan prestasi Timnas Inggris yang begitu-begitu saja, yang penting manajeman klub harus oke, barangkali demikian yang ada di pikiran para tetua klub-klub Liga Inggris. Dengan mendatangkan pemain-pemain dunia kelas wahid dan digosok oleh media, maka bersinarlah Premier League seperti sekarang.

Arsenal and The Damned United :

Kalau ada tim yang lumayan sering ditonton---dalam kondisi saya yang sudah bosan dengan industri sepakbola---, maka itu adalah Arsenal. Gaya permainannya kadang-kadang mengingatkan saya pada permainan Belanda era '88, meskipun mereka padukan dengan speed dan power yang menjadi ciri khas Liga Inggris. Tidak heran memang, sebab klub itu sempat dihuni oleh Dennis Bergkamp dan Marc Overmars, diua punggawa Belanda yang menjadi kesayangan publik Highbury (lupakan Emirates Stadium). Jangan bicara tentang Robin van persie, sebab dia sudah diikhlaskan untuk pergi ke Old Trafford dan mencetak gol hampir di setiap pertandingan MU, biarkan fans Arsenal merindukannya :D. Seorang kawan, dia telah menjadi seorang Gooner sejak usianya belum menginjak bangku kuliah, sempat saya tanya : "kenapa lo suka Arsenal?," dan dia jawab : "karena permainannya tidak seperti kebanyakan klub-klub Liga Inggris yang kick and rush, tapi lebih mendekati total football." Nah, inilah alasan kenapa klub dari London Utara ini lumayan sering saya saksikan.

Saya tidak pernah terlalu tertarik dan respect kepada klub sepakbola mana pun di kolong langit ini (kecuali Persib dengan alasan tradisional tentu saja), sampai akhirnya menemukan film The Damned United. Jangan salah sangka, ini bukan film tentang West Ham United, tapi tentang Brian Clough; seorang pelatih berkebangsaan Inggris yang pernah melatih Hartlepool United, Derby County, Brighton & Hove Albion, Leeds United, dan  Nottingham Forest.

Di The Damned United, tak ada scene yang lebih berkesan selain persiapan Derby County menyambut tim kuat (pada masanya) Leeds United. Bagaimana Brian Cluogh sang pelatih berusaha mempercantik lapangan yang kondisinya memprihatinkan, membersihkan closet dan lorong tempat pemain menuju lapangan, menyiapkan handuk bagi para pemain Leeds, dan membeli dua botol anggur demi menjamu pelatih Leeds yang sangat terkenal : Don Revie. Itu terjadi di Piala FA ketika undian mempertemukan dua klub berbeda kasta tersebut. Bagi Derby County, adalah sebuah kehormatan bisa menjamu tim kuat seperti Leeds, bahkan sesaat setelah undian itu diumumkan di radio, Clough beserta asisten dan anak istrinya langsung ditraktir makan-makan oleh tetua Derby County. Mereka merayakan pertemuan melawan tim kuat itu. Meskipun itu hanya ada di film, tapi respect saya tak berkurang. Derby County telah memberi pelajaran bagaimana caranya menghormati tim lawan, dan bagaimana seharusnya memperlakukan sepakbola; rayakan dengan gairah dan kegembiraan.

Hammers 

Saya duduk di depan tv dan menyaksikan pertandingan West Ham United Vs Arsenal yang disiarkan ESPN. Di Upton Park, orang-orang gemuruh menyanyikan anthem tim London Timur. Penuh gairah dan semangat. Arsenal saya kenal, tapi lawannya?, yang saya tahu mereka bermarkas di London Timur, itu saja. Cara bermainnya penuh determinasi, sama seperti supporternya. Sempat unggul lebih dulu sebelum akhirnya digulung Arsenal 1-3. Beberapa hari setelah itu seorang kawan nge-tag barang dagangan di fb : t-shirt film. Ada satu t-shirt bertuliskan "Green Street Hooligans". Seperti sebuah kebetulan besoknya saya dapat DVD film tersebut di lapak Atrium. Film yang jelek!. Sutradaranya telah menyia-nyikan bahan-bahan bagus yang telah tersedia. Itu hanya sebuah film penuh stereotif tentang pendukung sepakbola yang divisualkan doyannya hanya mabuk dan berkelahi. Tidak ada spirit yang menginspirasi. Memang film itu tentang supporter West Ham United, tapi hanya anthemnya saja yang membuat saya tertarik. Di penghujung film, lamat-lamat Elijah Woods menyanyikan anthem tersebut :

I'm forever blowing bubbles,
Pretty bubbles in the air
They fly so high, nearly reach the sky
Then like my dreams they fade and die

Fortune's always hiding,
I've looked everywhere
I'm forever blowing bubbles,
Pretty bubbles in the air

Lupakan film itu, karena saya langsung membuka Wikipedia (meskipun datanya tidak selalau benar) dan menemukan spirit working class dari West Ham United. Para pekerja galangan kapal (inilah sebabnya kenapa logo klub bergambar palu) mendirikan klub sepakbola yang bernama Thames Ironworks. Karena terbelit masalah finansial, maka Thames Ironworks bangkrut dan berganti nama menjadi West Ham United. Rival abadi WHU adalah Millwall (sekarang berlaga di kasta kedua Liga Inggris), perseteruan dimulai pada tahun 1926; pemogokan umum dimulai oleh para pekerja di East End, yang sebagian besar merupakan pendukung West Ham, tetapi pekerja galangan kapal di Isle of Dogs, yang dipenuhi fans Millwall menolak untuk menunjukkan dukungan mereka, maka hal ini kemudian memprovokasi kemarahan massa. Itu hanyalah sekelumit dari sejarah panjang tentang West Ham United yang sisanya saya simpan di kepala.

Sepakbola telah hadir bukan hanya sebagai permainan belaka, tapi juga meresap menembus batas-batas budaya, menggelorakan gairah, proud, passion, fanatisme, kekerasan, pundi-pundi uang, bahkan mungkin agama. Tidak mudah untuk mengetahui mengapa seseorang mendukung tim sepakbola yang secara geografis dan demografis berjauhan dengan data privatenya, tapi setidaknya bisa diidentifikasi dari karakter dan watak setiap pribadi. Atau yang paling mudah adalah mari kita nyalakan tv dan lihat klub mana saja yang paling sering tampil di layar kaca : bisa jadi banyaknya fans berbading lurus dengan seringnya klub tertentu nongol di tv. Karena pada akhirnya fans adalah penghuni folder-forder dokumen klub dengan judul : "perkembangan pasar". [itp]

Come On You Irons !! # COYI !!

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai