23 January 2013

Para Penguasa Warung Kopi [6]

Warung kopi tempat bang Bisma dan kawan-kawannya berkumpul, yang kini mulai mereka tinggalkan karena operasi yang belum sepenuhnya saya ketahui, adalah warung kopi generic khas pinggir jalan. Jangan bayangkan warung kopi itu seperti warung kopi yang ada di Manggar, atau seperti warung kopi yang di sangat komersilkan macam Starbuck. Kopi dengan berbagai merek (mayoritas dikuasai “tiga huruf pertama alphabet” dan “kapal yang rajin menyalakan api unggun”) menggantung di paku atau di sebilah kayu yang melintang. Pembeli tinggal tunjuk saja kopi mana yang mau diseduh, sebab di penjual pasti punya gunting untuk menuangkan serbuk ajaib itu ke dalam gelas transparan lalu menyiramnya dengan air panas. Rasakanlah aromanya, aroma kopi yang dibuat dipabrik, hasil kerjasama yang cantik antara mesin dan buruh berpenghasilan pas-pasan. Ini bukan warung kopi untuk berwisata dan tidak cocok untuk berpose, dipotret, lalu hasilnya dijadikan modal bergaul di facebook dan twitter. Oh lupakan semua itu. Ini adalah warung kopi di mana orangtua para mahasiswa yang ekonominya pas-pasan menitipkan anak-anaknya dari derita kelaparan tengah malam, sebab mie rebus dan gorengan pun menjadi penghuni tetap warung tersebut. Di sini, buku Karl Marx, Pram, Tan Malaka, dan doktrin pergerakan politik kampus sangat cocok untuk disuntikkan ke kepala para mahasiswa yang sedang puber politik, kritis, idealis, dan senang beragitasi sambil memakai jaket almamater; semua hal yang akan cepat berlalu dan hanya menjadi kenang-kenangan ketika jadwal kerja telah memenggal kualitas waktu.

Ketika sedang tidak sibuk menyelidiki operasi sunyi bang Bisma dan kawan-kawanya, saya kadang-kadang duduk di warung kopi bu Risna dan memesan segelas susu cap bendera setengah tiang. Saya belum berani membakar cigarette, sebab masih SMP dan takut ketahuan sama bang Bisma. Saya hanya duduk dan menikmati susu panas sedikit demi sedikit, sambil melamun tentunya. Pembeli yang lain biasanya orang-orang yang lebih tua dari saya; kalau tak mahasiswa, tukang ojeg, supir angkot trayek kampung, dan beberapa pemuda yang kurang jelas identitasnya (mahasiswa bukan, tapi kerja juga engga, inilah mungkin yang disebut pengangguran, yang konon mengerikan). 

Bu Risna adalah spesies ibu-ibu yang sudah lama ditinggalkan jayanya masa muda tapi belum terlalu tua. Anaknya tiga, yang paling besar sudah kelas satu SMA dan sedang berada di titik norak sebab puber yang membuat suaranya nge-bass telah menggiringnya menjadi anak laki-laki yang gampang jatuh hati kepada lawan jenis sebayanya, tipe ABG yang tidak berkarakter. Yang paling menyebalkan adalah kalau dia sedang pedekate, aih gayanya tak lebih seperti ayam jantan mendekati petelur, kalau dia punya sayap saya yakin sayapnya akan dikembangkan dan berjalan miring. Nama panggilannya tak usahlah saya sebutkan, nanti saja. Anak yang kedua masih duduk di SMP kelas dua dan si bungsu di kelas enam SD, ya dua tahun sekali memang, cukup rajin juga bu Risna ini. Semua anaknya berpiranti vertical sama seperti ayahnya, maka kalau bu Risna mau mengklaim dan membanggakan diri bahwa di keluarganya beliaulah yang paling cantik, maka boleh-boleh saja, silahkan mumpung belum tua-tua amat. 

Setiapkali saya duduk di warung kopi itu dan pembeli lain semuanya sudah berusia di atas kepala dua, maka saya seperti petasan cabe yang terperangkap dalam gerombolan dinamit berhulu ledak tinggi. Mereka, para pembeli yang sudah berkepala dua itu (mayoritas mahasiswa juga sudah berusia demikian) , seringkali melirik dengan pandangan yang membuat saya kurang nyaman. Oh status quo, ternyata usia adalah jarak mutlak yang paling laku untuk dijadikan semacam otoritas saling menindas. Yang tua menganggap remeh yang muda, yang muda mengolok-olok yang tua, yang menang adalah ego mereka berdua. Di warung kopi itu saya kerap (orang-orang yang pernah mengunjungi Wikipedia menyebutnya) bersolilokui. Ngomong sendiri dalam hati, dan Farid Gaban menyebutnya belajar tidak bicara. Saya merasa terperangkap dalam tubuh seorang anak SMP, entah kenapa. 

***




Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya dan teman-teman sebaya sepermainan adalah barisan pembenci para orangtua yang tidak pernah mengerti bahwa masa menjelang remaja adalah masa yang perlu dirayakan dengan aksi-aksi menyenangkan dan menegangkan agar jerawat tidak sering muncul di sekitar muka. Tapi apa boleh buat, ternyata tidak semua orangtua dapat memehami yang namanya jembatan zaman. Maka tak heran jika antar generasi seringkali terjadi deadlock. Seorang ibu bisa ribut dengan anaknya yang masih remaja karena memperebutkan remote tv. Anak remaja maunya nonton sinetron “putri yang tertukar dengan panci”, sedangkan si ibu berminat betul sama film India yang punya resep baku : tari dan nyanyi, ya dalam kondisi sesedih apa pun jangan khawatir sebab para penari selalu bersembunyi di balik pohon lalu berhamburan menghibur tokoh yang sedang bersedih dengan tari-tarian ceria sambil pamer pusar yang tak tak sanggup ditutupi baju sari. 



Sore hari, seorang bapak setengah baya santai dan sedap betul menghisap cigarette pertamanya sambil duduk manis di bangku teras rumah. Anaknya baru saja lulus ke Institut Tekhnologi Gajah Duduk jurusan teknik mesin, padahal anaknya lebih berminat kuliah di Institut Kesenian dan Keindahan mengambil jurusan cinematograpy. Dan begituh, kuasa ayah lebih besar daripada minat anaknya. Si bapak berpikir bahwa jurusan teknik lebih menjanjikan demi masadepan yang senang sentosa sejahtera daripada kuliah mengambil seni yang dia pikir masadepannya tak jauh hanya menjadi gembel dan gelandangan kebudayaan. Setahun berlalu si bapak dihidangkan pada satu kenyataan : anaknya DO sebab terlalu sering bolos dan nongkrong di komunitas film indie.



Pada sebuah siang yang bagus oleh baluran rahmat sinar matahari, seorang bocah asyik sendiri memainkan bola dengan kaki dan kepala, bola itu seperti lengket pada kedua kakinya, itulah dia bocah jagoan kampung yang bercita-cita jadi pemain sepakbola profesional. Tapi mimpinya buyar seperti tidur siang yang terganggu suara meriam bambu. Bagi orang kampung yang kondisi ekonominya tidak terlalu menggembirakan bercita-cita menjadi atlet professional ibarat Adam dengan buah khuldi; menggoda tapi tidak boleh didekati, apalagi disentuh. Kalau nekad maka akan ditendang dari dunia mimpi dan tersadar ketika jalur hidup merayap pelan, terukur, dan membosankan melalui hierarki bangku sekolah. Setelah tamat SMA para orangtua akan merasa gembira jika anaknya berhasil masuk pabrik kapitalis dan menghabiskan sisa umurnya dengan menjadi jongos, toh menjadi atlet pun masih bisa dikejar dengan lari pagi di setiap hari minggu yang ramai oleh obrolan para jongos dan beberapa ambtenaar.

Itulah beberapa kondisi yang terjadi karena deadlock. Rentang usia tiap generasi hanya bisa disambungkan oleh jembatan zaman yang bernama pengertian. Dari titik ini pula mungkin bang Bisma dan kawan-kawannya berangkat, mereka mencoba menjalankan sebuah misi suci dalam bentuk operasi terselubung dan rapi demi menjembatani rentang perbedaan antar generasi. Tapi saya belum yakin dengan kesimpulan tersebut, sebab ibarat sebuah puzzle, apa yang mereka lakukan masih jauh dari sebuah lukisan yang sempurna, masih terlalu dini untuk dihujani dengan tafsir tunggal penuh tendensi. Saya harus bersabar, orang sabar disayang bu Risna (loh?, apa hubungannya?). .....


  

04 January 2013

Just Do It

Saya tidak dibayar oleh Nike untuk judul di atas :D. Setelah membaca beberapa tulisan Pangeran Siahaan tentang sepakbola, dan berselancar di kanal-kanal media olahraga, serta dibantu oleh Wikipedia dan semesta Google, maka inilah saatnya untuk mulai menulis lagi :)

***

Seorang kawan, seingat saya, sudah dua kali bertanya : "kenapa harus West Ham?." Mulanya saya bingung harus menjawab apa. Tapi tulisan ini pun bukan pertanda bahwa akan menjelaskan semuanya. Lebih baik ikuti saya dan putar waktu sedemikian rupa sampai menyentuh angka 1988. Ya, bagi yang sudah hidup dan masih ingat, pada tahun itu tentu saja adalah waktu ketika Belanda menjuarai Piala Eropa untuk pertamakalinya, dan mungkin sekali-kalinya, karena sampai saat ini tak pernah lagi keluar sebagai kampiun benua biru. Saya belum genap tujuh tahun dan belum duduk di bangku sekolah dasar ketika Marco van Basten dkk menghibur para peminat bola dengan Total Football arahan Rinus Micheal. Barangkali Tika-Taka Spanyol adalah generasi penerus seni memainkan bola ini.

Kau tahu siapa lawan Belanda di final?. Ya, dialah USSR alias Uni Soviet, sebuah raksasa eropa yang kemudian dimutilasi oleh Gorbachev. Di rumah, orang-orang mendukung negara pemimpin blok timur itu, dan saya sendirian mendukung negeri kincir angin. Saya tidak tahu, apakah orang-orang rumah terkait dengan sentimen bahwa Uni Soviet adalah saudara tua Indonesia ketika di bawah pimpinan Soekarno, dan Belanda adalah antitesisnya yang pernah membuat tidur Soekarno kadang-kadang tidak nyenyak. Tapi final piala eropa 1988 tidak menyoal itu, saya yang bahkan diusia sedini itu hanya bisa menikmati jago-jago laga lapangan hijau dari kincir angin membuat kalang kabut pasukan beruang merah. Hasilnya tak mengecewakan, 2-0 untuk tim oranye, dan yang paling diingat adalah gol Marco van Basten dari sudut sulit dengan tendangan first timenya. Juara!. Rumah sepi, pendukung USSR bungkam.

Lalu Trio Belanda mengusai liga Italia, AC Milan mendapat berkah. Semua gelar dikantongi. Mau apa? : Liga Serie A, Piala Champion, dan Piala Toyota (Piala Antar Club yang dulu hanya mempertemukan juara Piala Champion melawan juara Libertadores). Jangan ungkit tahun 1994, karena akan menyakitkan para pendukung Barcelona, ya tim Catalan itu dibantai 4 gol tanpa balas di final Piala Champion!. Seperti Pepe Ribo yang mendukung Real Madrid sejak berusia 8 tahun, begitupun saya mendukung Belanda, bahkan lebih muda satu tahun dari dia. Ada hal yang terkadang tidak bisa didefinisikan, seperti akhirnya saya dulu sempat menjadi fans AC Milan gara-gara Trio Belanda itu. Bangun tengah malam sempat dibela demi menyaksikan tim dengan jersey yang menyerupai Persipura itu. Dan memang Serie A Italia sedang berjaya di layar kaca kita, lupakan Premier League negeri Ratu Elisabeth, karena dulu mereka hanya dikenal dengan budaya sepakbola menjemukan bergaya kick and rush; tendang dan serbu, jenis sepakbola tanpa seni.

Dan lupa. Dan bosan. Saya sempat bosan dengan sepakbola eropa yang telah menjadi industri sehingga (seperti) kehilangan roh. Lalu saya melupakannya. Hanya sesekali saja melihat highlightnya. Lamat-lamat saya dengar Serie A digerogoti kasus pengaturan skor dan dikuasai para taipan judi. Juventus si Nyonya Tua sempat terlempar ke serie B gara-gara kasus memalukan itu. Beberapa negara eropa limbung digoyang krisis ekonomi, dan Italia pun terjangkit. Penonton sepakbola di negeri pizza mulai menyusut, orang-orang sudah tidak mampu lagi membayar tiket stadion. Tribun sepi penonton. Sementara itu Liga Inggris (di Indonesia) mulai menemukan lampu sorotnya. Orang-orang yang tahu Liga Inggris ketika Denis Irwin, Paul Ince, Cantoca, Zola, Sheringham, dan Fowler masih berjaya pasti tahu bahwa Liga Inggris tidak terlalu gebyar seperti sekarang. Di sini manajemen adalah ujung tombak. Jangan ambil pusing dengan prestasi Timnas Inggris yang begitu-begitu saja, yang penting manajeman klub harus oke, barangkali demikian yang ada di pikiran para tetua klub-klub Liga Inggris. Dengan mendatangkan pemain-pemain dunia kelas wahid dan digosok oleh media, maka bersinarlah Premier League seperti sekarang.

Arsenal and The Damned United :

Kalau ada tim yang lumayan sering ditonton---dalam kondisi saya yang sudah bosan dengan industri sepakbola---, maka itu adalah Arsenal. Gaya permainannya kadang-kadang mengingatkan saya pada permainan Belanda era '88, meskipun mereka padukan dengan speed dan power yang menjadi ciri khas Liga Inggris. Tidak heran memang, sebab klub itu sempat dihuni oleh Dennis Bergkamp dan Marc Overmars, diua punggawa Belanda yang menjadi kesayangan publik Highbury (lupakan Emirates Stadium). Jangan bicara tentang Robin van persie, sebab dia sudah diikhlaskan untuk pergi ke Old Trafford dan mencetak gol hampir di setiap pertandingan MU, biarkan fans Arsenal merindukannya :D. Seorang kawan, dia telah menjadi seorang Gooner sejak usianya belum menginjak bangku kuliah, sempat saya tanya : "kenapa lo suka Arsenal?," dan dia jawab : "karena permainannya tidak seperti kebanyakan klub-klub Liga Inggris yang kick and rush, tapi lebih mendekati total football." Nah, inilah alasan kenapa klub dari London Utara ini lumayan sering saya saksikan.

Saya tidak pernah terlalu tertarik dan respect kepada klub sepakbola mana pun di kolong langit ini (kecuali Persib dengan alasan tradisional tentu saja), sampai akhirnya menemukan film The Damned United. Jangan salah sangka, ini bukan film tentang West Ham United, tapi tentang Brian Clough; seorang pelatih berkebangsaan Inggris yang pernah melatih Hartlepool United, Derby County, Brighton & Hove Albion, Leeds United, dan  Nottingham Forest.

Di The Damned United, tak ada scene yang lebih berkesan selain persiapan Derby County menyambut tim kuat (pada masanya) Leeds United. Bagaimana Brian Cluogh sang pelatih berusaha mempercantik lapangan yang kondisinya memprihatinkan, membersihkan closet dan lorong tempat pemain menuju lapangan, menyiapkan handuk bagi para pemain Leeds, dan membeli dua botol anggur demi menjamu pelatih Leeds yang sangat terkenal : Don Revie. Itu terjadi di Piala FA ketika undian mempertemukan dua klub berbeda kasta tersebut. Bagi Derby County, adalah sebuah kehormatan bisa menjamu tim kuat seperti Leeds, bahkan sesaat setelah undian itu diumumkan di radio, Clough beserta asisten dan anak istrinya langsung ditraktir makan-makan oleh tetua Derby County. Mereka merayakan pertemuan melawan tim kuat itu. Meskipun itu hanya ada di film, tapi respect saya tak berkurang. Derby County telah memberi pelajaran bagaimana caranya menghormati tim lawan, dan bagaimana seharusnya memperlakukan sepakbola; rayakan dengan gairah dan kegembiraan.

Hammers 

Saya duduk di depan tv dan menyaksikan pertandingan West Ham United Vs Arsenal yang disiarkan ESPN. Di Upton Park, orang-orang gemuruh menyanyikan anthem tim London Timur. Penuh gairah dan semangat. Arsenal saya kenal, tapi lawannya?, yang saya tahu mereka bermarkas di London Timur, itu saja. Cara bermainnya penuh determinasi, sama seperti supporternya. Sempat unggul lebih dulu sebelum akhirnya digulung Arsenal 1-3. Beberapa hari setelah itu seorang kawan nge-tag barang dagangan di fb : t-shirt film. Ada satu t-shirt bertuliskan "Green Street Hooligans". Seperti sebuah kebetulan besoknya saya dapat DVD film tersebut di lapak Atrium. Film yang jelek!. Sutradaranya telah menyia-nyikan bahan-bahan bagus yang telah tersedia. Itu hanya sebuah film penuh stereotif tentang pendukung sepakbola yang divisualkan doyannya hanya mabuk dan berkelahi. Tidak ada spirit yang menginspirasi. Memang film itu tentang supporter West Ham United, tapi hanya anthemnya saja yang membuat saya tertarik. Di penghujung film, lamat-lamat Elijah Woods menyanyikan anthem tersebut :

I'm forever blowing bubbles,
Pretty bubbles in the air
They fly so high, nearly reach the sky
Then like my dreams they fade and die

Fortune's always hiding,
I've looked everywhere
I'm forever blowing bubbles,
Pretty bubbles in the air

Lupakan film itu, karena saya langsung membuka Wikipedia (meskipun datanya tidak selalau benar) dan menemukan spirit working class dari West Ham United. Para pekerja galangan kapal (inilah sebabnya kenapa logo klub bergambar palu) mendirikan klub sepakbola yang bernama Thames Ironworks. Karena terbelit masalah finansial, maka Thames Ironworks bangkrut dan berganti nama menjadi West Ham United. Rival abadi WHU adalah Millwall (sekarang berlaga di kasta kedua Liga Inggris), perseteruan dimulai pada tahun 1926; pemogokan umum dimulai oleh para pekerja di East End, yang sebagian besar merupakan pendukung West Ham, tetapi pekerja galangan kapal di Isle of Dogs, yang dipenuhi fans Millwall menolak untuk menunjukkan dukungan mereka, maka hal ini kemudian memprovokasi kemarahan massa. Itu hanyalah sekelumit dari sejarah panjang tentang West Ham United yang sisanya saya simpan di kepala.

Sepakbola telah hadir bukan hanya sebagai permainan belaka, tapi juga meresap menembus batas-batas budaya, menggelorakan gairah, proud, passion, fanatisme, kekerasan, pundi-pundi uang, bahkan mungkin agama. Tidak mudah untuk mengetahui mengapa seseorang mendukung tim sepakbola yang secara geografis dan demografis berjauhan dengan data privatenya, tapi setidaknya bisa diidentifikasi dari karakter dan watak setiap pribadi. Atau yang paling mudah adalah mari kita nyalakan tv dan lihat klub mana saja yang paling sering tampil di layar kaca : bisa jadi banyaknya fans berbading lurus dengan seringnya klub tertentu nongol di tv. Karena pada akhirnya fans adalah penghuni folder-forder dokumen klub dengan judul : "perkembangan pasar". [itp]

Come On You Irons !! # COYI !!

02 January 2013

Lembaga Kehidupan Telah Hancur Sebuah Lagi


Ini adalah salah satu anak rohani Pramoedya Ananta Toer yang terdapat dalam buku Menggelinding. Tulisan-tulisan Pram dalam buku tersebut sangat jarang ditemui di ruang publik. Jika dibandingkan dengan karya-karya Pram yang lain, yang lebih terkenal---misalnya kuartet Buru, tentu catatan ini kalah pamor. Kumpulan tulisan Pram dalam buku Menggelinding adalah tulisan-tulisan awal Pram dalam perjalanan kepenulisannya. Ini hanyalah sebuah usaha untuk mencatat ulang, dan menghadirkannya kembali di sini :


Lembaga Kehidupan Telah Hancur Sebuah Lagi

Sekali ini aku ingin bicara kepada kalian tentang lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia : keluarga!. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan isteri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan. 

Aku telah banyak mengenal keluarga. Dengan mencari hakikat-hakikat yang ada padanya, orang lebih gampang mengerti apakah lembaga kehidupan ini salah pasang ataukah telah bergeser dari tempatnya yang semestinya. Demikianlah pada suatu ketika telah aku perhatikan suatu keluarga yang sebenarnya banyak terdapat di dalam lingkungan kita, banyak juga terdapat di antara kawan-kawan kita sendiri, dan banyak juga terdapat di antara para tetangga kita.

Aku ingin tahu pendapat kalian tentang cerita yang hendak aku bicarakan, cerita tentang lembaga kehidupan yang aku telah perhatikan. Dan sebenarnya demikian cerita itu :

Machmud adalah seorang pemuda yang amat menghormati ibunya. Ia anggap wanita ini sebagai isteri yang ideal : selalu membantu ayahnya dalam tiap kesulitan, siap menggulung lengan baju membantu suami dalam kesempitan keuangan, mendidik anak-anaknya agar kelak tak terlempar dari masyarakatnya mendatang, seorang ibu tumahtangga yang menempatkan segala benda dan hal pada tempatnya yang benar dan layak, dan melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa mengeluh atau meminta pujian. Ibu ini menjadi ukuran baginya untuk mengukur nilai seorang perempuan.

Pada waktu ia menginjak alam dewasa, justru ia membutuhkan bantuan ibunya, wanita yang dihormatinya itu meninggal dunia. Akibatnya adalah tentu : ibu tetap hidup di dalam hatinya.

Kemudian ia kawin. Dengan seorang gadis yang menarik hatinya. Di Jakarta.

Sebelum meninggalkan kampung halaman, embahnya memberinya nasihat :

Machmud!. Aku tak tahu berapa tahun kau akan tinggal di Jakarta. Barangkali engkau pun akan menetap di sana. Kelak engkau akan kawin. Hati-hatilah mencari isteri. Pilihan yang salah akan membuat hidupmu menjadi salah. 

Walaupun pada waktu itu Machmud telah memikirkan kawin juga, tetapi pikiran itu masih merupakan cita, belum menjadi sesuatu yang memastikan dan mendesak. Dan waktu itu, ia telah mendapat penghasilan baik dan berkenalan dengan gadisnya, ia ceritakan halnya kepada embahnya.

Machmud, kata embahnya. Dalam suatu perkawinan, cinta itu tidak benar. Mengapa?. Karena ada dua macam wanita. Yang pertama adalah wanita yang hanya bisa dicintai tetapi tak mampu menjadi isteri yang baik---wanita yang hanya baik menjadi kekasih. Yang kedua adalah wanita yang baik untuk menjadi isteri tetapi mungkin tidak bisa dicintai. Untuk mencari isteri aku ikut berdo’a agar kau mendapat isteri yang memang baik menjadi isteri. Datanglah pada waktu-waktu yang tak tertentu ke rumahnya, dan perhatikan rumahtinggalnya, perhatikan sedang apa ia waktu kau dating. Kalau selamanya atau sebagian besar pada kedatanganmu yang mendadak itu rumahtinggalnya berantakan dan dia tak lakukan sesuatu  untuk membereskannya, betapapun juga engkau cinta kepadanya, tak patut kau teruskan niatmu mengawini dia.

Kolot!. Machmud mengejek surat itu sambil mencibirkan bibir.

Sesungguhnyalah. Surat itu tak menyenangkan hatinya, karena sering ia dating pada waktu-waktu tertentu ke rumah gadisnya. Dan ternyata si gadis tak pernah lakukan sesuatu hal untuk membereskan rumahtinggalnya.ia lihat lantai yang berdaki setebal bukutulis, tiang-tiang pintu yang dekil tak pernah digosok, meja-kursi yang berhamburan seperti kulit pisang. Ia teguk habis the yang disediakan kepadanya, walaupun ia lihat gelasnya Nampak berminyak, dan the berbuih. Bahkan pada suatu kali di pagihari ia dapati si gadis masih tidur, walau hari telah jam delapan.

Tetapi ia dapat memaafkan.

Bila cinta tak dapat memaafkan, tak adalah cinta yang berumur panjang!, pikirnya.

Machmud pun kawinlah.

Ia merasa berbahagia dalam hidupnya pernah mempunyai isteri seperti gadisnya. Pagi-pagi benar waktu baru bangun isterinya telah menyediakan kopi. Kemudian sarapan pun menyusul. Ia berangkat kerja dengan perasaan senang. Di rumah pun ia merasa senang tinggal di rumah, karena kedua mertuanya tak pernah ikut campur dengan urusannya. Bahkan kadang-kadang mertua lelaki dapat diajaknya bicara tentang hal-hal yang sedang menjadi pikirannya. Bila ia pulang isterinya telah menyediakan makanan masakannya sendiri. Kadang-kadang ia kagum melihat amarah isterinya karena ia kehilangan nafsu makan. Ia mengerti, si isteri ingin masakannya mendapat perhargaannya penuh.

Beberapa bulan kemudian keadaan telah berubah. Isterinya tak memasak lagi. Yang memasak adalah babu. Isterinya tak mencuci lagi. Yang mencuci adalah babu. Bila ia bangun tidur, mandi, dan siap hendak masuk kerja, isterinya masih tergolek di ranjang. Tak jarang ia harus berangkat sebelum minum dan mendapat sarapan sebagaimana biasa. Tetapi is mencintai isterinya. Dan cinta itu memaafkan dia.

Kemudian mengandunglah isterinya. Ia manjakan wanita yang ia cintai itu. Ia tak pernah ingatkan wanita itu pada kekurangan-kekurangannya. Di hari-hari libur sering ia lihat isterinya duduk di kursi depan hingga jam sepuluh atau sebelas pagi sebelum mandi pagi. Tetapi ini pun ia dapat memaafkan. Dan waktu anak pertama lahir, ia merasa mendapat anugerah besar dari segala maaf yang telah ia berikan kepada isterinya.

Anak kedua lahir.

Anak ketiga lahir.

Bangkitlah kemudian keinsyafannya, bahwa kemurahan hatinya akan maaf itu menyebabkan isterinya menjadi pemalas. Sejak anak pertama lahir hingga ketiga, belum lagi cukup sepuluh kali isterinya pernah memandikan mereka. Tak cukup duapuluh lima kali isterinya menceboki mereka. Ia lihat di hadapan matanya, anak-anaknya yang tumbuh menjadi liar. Ia bertambah lama bertambah tua, bertambah banyak pengalaman yang diperolehnya, tetapi kemajuan yang layak dan wajar ia tak peroleh : pikirannya mati, dibunuh oleh kekesalan dan kerisauan hati.

Jawaban yang diperoleh dari surat embahnya sederhana saja : 

Soal itu soalmu berdua sendiri. Orang lain tak bisa memutuskan atau menentukan. Itu soal pribadi. Segala nasihat akan percuma. Itulah sebabnya dahulu kami harus menerima isteri pilihan orangtua. Mengapa, Machmud?. Karena orangtua tahu, calon menantunya adalah wanita yang baik untuk menjadi isteri dan menjadi ibu dan menjadi ibu rumahtangga. Di rumahtangganya sendirilah lelaki itu mendapatkan segala-galanya. Kalau tidak ia mencari di luar. Bukan akau menganjurkan kepadamu, tetapi amatlah hinanya bagi seorang lelaki yang kematian akal di rumahtangganya sendiri, hanya berhenti sampai di perjuangan batin. Machmud!. Engkau adalah lelaki, engakau harus tentukan sendiri keadaanmu.

Tetapi Machmud tak mampu membelokkan kedaan isterinya.

Kematian pikir menyebabkan penghasilannya tak pernah memadai bagi keperluan sehari-hari. Dan ia lihat isterinya tak pernah memikirkan betapa sulitnya ia mencari penghasilan. Kadang-kadang di malamhari Machmud duduk termenung di kursi luar. Sekali ia mendapat pikiran yang buruk.

Kita terbagi atas tiga golongan : aku, isteriku, dan aanak-anakku. Tiga golongan yangterpisah. Kalu aku mati, soalnya menjadi gampang---terutama bagiku. Kalau isteriku yang mati, soalnya juga menjadi gampang, karena dengan demikian aku bisa bawa anakku kea rah yang kuidam-idamkan bagi mereka. Tetapi kini segala didikan yang kuberikan kepada mereka dihancurkan oleh ibunya sendiri, oleh embahnya sendiri. Dan kalau anak-anakku yang mati, soalnya juga gampang, aku akan ceraikan isteriku.

Pikiran itu diikutinya terus. Akhirnya ia merasa menyesal waktu sadar---soal kematian. Ia mengharapkan kematian di dalam rumahtangganya sendiri.

Tetapi maut tak dapat dipinta oleh mereka yang masih normal. Jadi Machmud tetap hidup, isterinya tetap hidup, dan anak-anaknya tetap hidup.

Dalam masa enam tahun perkawinan itu, Machmud telah berubah menjadi seorang lelaki yang kurus, tua, kehabisan tenaga dan berwajah muram. Pelipisnya dirujaki uban yang berkilau-kilau bila tertimpa cahaya. Ia diam-diam merenungi lantai bila isterinya memanggilnya kakek, dan mengejeknya, bahwa rambutnya tertumpahi rambut bunga jambu.

Sekali waktu ia pulang ke kampung, embahnya memandangnya dengan memendam perasaan pilu. Dan waktu beberapa orang tetangga menengoknya, dan salah seorang dari mereka bilang :

“Orang-orang muda sekarang cepat amat tua!.”

Machmud merasa hatinya tersayat-sayat. Ia tahu orang yang bicara itu belum lagi dikaruniai uban selembar pun dalam umurnya yang limapuluh enam tahun itu. Dan Machmud sendiri? : duapuluh tujuh tahun!.

Ia sadari : soalnya bukan soal tua. Soalnya adalah lembaga kehidupan---rumahtangga itu!. Ia tahu, ia bukan tua, hanya : tubuhnya layu, jiwanya lemas. Bahkan di masa-masa sulit dan tiada jalan keluar ia masih mengharapkan isterinya suka menyapu atau mengepel lantai, atau membereskan buku-buku yang habis dipergunakannya. Ia masih mengharap hanya berpikir untuk maksud yang baik-baik saja : kebahagiaan rumahtangga, pendidikan anak-anak dan pekerjaannya.

Sebaliknya, rasa-rasanya sudah tua sekali tubuhnya dan sudah saatnya ia meninggal dunia. Ia tak sanggup kerja lagi. Nafasnya antara sebentar dirasainya menyesak. Buku-buku kaki dan tangannya lemas, matanya kabur. Ia berhenti dari pekerjaannya. Ia hanya bertiduran di rumah, siang dan malam. Ia minum banyak pel vitamin. Tetapi angan-angannya tetap mengembara tanpa arah. 

Pada suatu sore dating seorang tamu. Ia masih bertiduran dan tak ada hasrat untuk menemuinya. Isteri masuk ke dalam kamar dan berteriak :

“Tidur saja!. Kerja tak mau!. Makan minum tiap hari!.”

Hatinya menangis. Ia bangkit : Ia kenakan sarungnya dan keluar.

Kawan, katanya. Lebih baik jangan bicara. Engkau dengar sendiri tadi. Pulanglah. Aku tak sanggup menemui kau.

Dan ia pun menggolekkan dirinya di ranjang kembali.

Tidur lagi!. Teriak istrinya waktu masuk ke dalam kamar. Kalau begini terus aku tidak sanggup!. Beri aku ijin kerja, kau akan lihat aku bisa hidup tanpa pemberianmu.
Benar-benar Machmud menangis malam itu. Ia merasa malu mendapat tantangan demikian. Ia mengerti, sekarang sudah sampai waktunya ia memutuskan siapa yang harus mengelak antara keduanya : ia atau isterinya.

Mungkin aku. Aku yang telah kehabisan tenaga ini.

Waktu ia bangkit dari ranjang isterinya tidur di sampingnya dan berkata :

“Kalau engkau pergi dari sini bereskan dulu surat-suratnya.”

Ia ingat peringatan itu telah diterimannya tiga kali berturut-turut dalam setahun.
Baiklah, aku yang pergi, kata Machmud.

Dan keesokan harinya ia serahkan kembali isterinya kepada mertuanya beserta surat permohonan cerai untuk penghulu.

Semua sudah aku pikir, jawab Machmud. Dan tentang pendidikan anak-anak itu, katanya dalam hati, selalu mertua juga yang menghancurkannya. Untuk pindah rumah aku tak mampu.

Dengan menjinjing kopornya ia tinggalkan kampungnya, rumahnya, bahkan tek terpikir olehnya ia belum lagi minta diri dari anak-anaknya. Ia tak tahu mesti ke mana. Seorang kawan yangtak diduga-duganya telah mengajaknya tinggal bersamanya.

Sebuah lembaga kehidupan telah hancur sebuah lagi. Aku ingin kalian ikut memikirkan. Bukan untuk mencari kesalahan antara Machmud dan isterinya, tetapi apakah jadinya masyarakat kita bila begitu banyak lembaga kehidupan hancur. Dan apakah pertanggungan jawab yang berkepentingan terhadap anak-anaknya.

Kalian tahu, cerita ini belum lagi selesai, tetapi masalah pertama telah aku kemukakan kepada kalian. [ ]

Pramoedya Ananta Toer
Majalah Roman No. 5 Th. III
Mei 1956  

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai