04 November 2012

Ode to My Cigarettes


"Aih datuk...tak payahlah vocal yang nice, sebab kan die jadi merdu sangat...aih rase nak swimming pulang ke daratan."

"Tak ada yang special selain Bung yang saya undang lewat pulsa yang tinggal 800 rupiah, biar Bung datang tanggal 10 November nanti, biar Bung lihat saya sedang duduk keren di pelaminan, jika memohon saja tidak cukup, maka tindak kekerasan akan diambil."

"Akan awak usahakan Pak Cik, aih lihat Pak Cik duduk di pelaminan rasanya macam lihat bintang kejora...ini sedang di warungkopi, membakar cigarettes dan menyantap tiga kerat gorengan."

***

Nah, hanya kalimat-kalimat seperti itu yang bisa dimasukkan ke dalam botol, lalu botol itu dilemparkan ke laut, dan entah kapan akan ditemukan oleh nelayan yang tersesat. Jadi jauh-jauh hari mereka telah mengibarkan bendera, bahwa saat-saat terbaik menopang bahu adalah ketika terjadi perang puputan. Tak peduli siapa yang duluan maju ke medan laga, bagi saya semuanya sama saja. Satu titian perpindahan episode akan segera dilewati. Bersiaplah untuk hidup yang sering menjelma dalam wujud yang tidak menarik lagi. Tapi kemarin sudah saya putuskan bersama pemburu bulubabi Kepulauan Seribu, bahwa botol air mineral itu akan tetap dipotong dua, dan ke dalamnya kita masih akan menuangkan cairan hitam pekat itu.    

Bersiaplah untuk Desember yang tidak lagi disambut oleh satu tangan, untuk Desember yang kali ini akan menjelma menjadi mimpi-mimpi yang dipeluk erat oleh Tuhan, ya dipeluk erat. Mencatat perjalanan tanggal menuju jurang penghujung tahun seperti terduduk di sebuah dermaga pada suatu sore yang murung, tapi sekaligus puitis. Stagnasi meledak ketika segalanya menjadi pragmatis. Transaksi menjadi hantu dominan dalam setiap sendi, segala yang abstrak dan samar dipadatkan menjadi tablet hisap ketika lokomotif transenden diserang penyakit ringkih.

Anggap saja ini sebagai pembatas bagi halaman-halaman waktu yang entah kapan akan selesai. Dan sekali ini saya menemui hujan yang kembali menebar wangi. Seperti biasa segala kamuflase saya istirahatkan. Dalam wujudnya yang dibalut pendar matahari, perlahan saya menemuinya dan mulai bicara. "Dalam milyaran manusia pun radar selalu bekerja," maka duduklah sebentar di sini, sebab keinginan untuk dimengerti selalu saja menjadi boomerang yang menjegal setiap perjalanan. Ya, try to be sure right from the start. 

Selamat melintas batas kawan, jangan tertipu dengan riuhnya do'a dan tepuk tangan. Mereka hanyalah penonton, sebab kendali ada sepenuhnya di tanganmu. Berangkatlah dengan tidak ragu-ragu, jangan melihat ke belakang kecuali untuk membersihkan sisa nyeri yang mungkin belum sempat terobati. Sekarang, sepotong senandung Melayu telah sah menjadi milikmu. [irf]     

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai