07 October 2012

Kopi, London, Detik

Dan benar saja, para hooligan West Ham itu telah datang. Dari luar sudah terdengar nyanyian itu. The Hammers nampaknya sedang asyik menanti detik-detik kick-off babak pertama. Saya hitung suaranya, kemungkinan mereka jumlahnya enam orang, dan semuanya adalah fans berat si Palu London. Tapi seorang Gooner tak gentar, meskipun lagu itu terus menggema dari dalam :

I'm forever blowing bubbles,
pretty bubbles in the air,
they fly so high, nearly reach the sky
then like my dreams they fade and die.

Fortunes always hiding,
I've looked everywhere,
I'm forever blowing bubbles,
pretty bubbles in the air!



Setelah muak dengan Serie A Italia yang terlalu sering dikacaukan oleh para mafia judi yang kemungkinan di belakangnya adalah orang-orang Sisilia yang garis darahnya tidak jauh dengan Don Corleone, maka Liga Inggris adalah primadona. Industri, sejarah, dan budaya perlahan melakukan fusi dengan roh bernama klub sepakbola. Ini lebih dari sekedar gaya hidup, sebab sejarah terentang panjang ke belakang. Walaupun seandainya liga lokal dan federasi sepakbola kita waras, tetap tidak akan mampu menghadang laju fans klub sepakbola luar yang kian menjamur. Di sini, media adalah panglima. Dulu, di era 90-an, Liga Italia boleh saja mengusai layar televisi kita, tapi sekarang kamera telah berbalik arah. Ketika Barclay Premier League disiarkan oleh station televisi yang tergabung dalam grup milik seorang taipan dengan jumlah penonton besar, Seria A justru seperti menghilang karena disiarkan oleh TVRI yang "hidup segan mati tak mau".

Tapi itu tak penting, sekarang lihatlah mereka, para hooligan Palu London itu sedang asyik dengan minuman bersoda dan nyanyian yang sepertinya tidak mau berhenti. Ketika saya datang mereka serentak berteriak, "Hei, loser telah datang!." Tapi tentu saja dengan semangat bercanda, olok-olok, dan rindu persahabatan yang meledak.  1 Meriam di tengah 3 Palu, karena ternyata yang tiga lagi adalah fans Fulham, Queen Park Ranger, dan Tottenham Hotspur. Tapi anehnya mereka juga hafal anthem The Hammers. Sementara kawan-kawan perempuan yang juga hadir, seperti biasa, tidak terlalu mengerti sepakbola, paling-paling hanya tahu beberapa pemain yang menurut mereka "lucu"---entah kenapa kadang-kadang para perempuan menyebut laki-laki keren dengan sebutan lucu. 

Tiba-tiba saya sadar bahwa para penonton bola yang hadir malam itu adalah para "hooligan" klub-klub yang bermarkas di London. Hanya pendukung Chelsea yang tidak ada. Ketika kick-off babak pertama dimulai, West Ham langsung menggebrak Arsenal, The Hammers terlihat senang dan bersemangat. Tapi nanti akan terlihat hasilnya, siapa sesungguhnya penguasa London.

***


No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai