03 October 2012

Bosan


"This morning I woke with no memory of the previous day."

***
Hanya poster film yang menempel di dinding kamar dan ragu-ragu yang mencekik. Bukan perkara mudah menulis untuk sebuah buletin remaja mesjid, meskipun hanya sebuah remaja mesjid yang letak geografisnya di kampung, jauh dari peradaban kesadaran tentang membaca dan menulis. Semaju apa pun akses informasi dan komunikasi menembus jantung masyarakat urban, selama kesadaran membaca dan menulis berada di titik nol, maka peradaban tidak bisa benar-benar ditegakkan. Barangkali lebih mudah beretorika dan beragitasi daripada menulis sesuatu yang akhirnya bisa jadi menjadi boomerang. Seperti memakan duri dan nyangkut di tenggorokan ketika apa yang ditulis ternyata jauh dari kenyataan. Maka di titik ini para pengkhotbah adalah peserta uji nyali. Bagaimana tidak, lidah-lidah penebar kata-kata kebenaran suatu hari nanti bisa jadi membunuh diri sendiri. Memang bukan monopoli para ulama, tapi kerak dosa yang begitu pekat sepertinya tidak pantas jika harus menuliskan cahaya, seredup apapun itu. Inilah horror yang sebenarnya. Jika saja tidak pernah ada kata-kata : “Kalau itu telur, meskipun dari ayam, maka ambillah.” Tapi kata-kata itu pun tidak sepenuhnya menghapus horror ini. Dengan rasa takut yang menjajah, akhirnya saya memberanikan diri untuk menulis.

***
"………………………………………………………………………………............…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………"    
***
Beberapa paragraph tersebut telah membuatku menggigil dan bercucuran keringat. Catatan tersebut tak lebih dari sebuah omong kosong si mulut besar. Ya, big mouth strike again. Saya menggigil karena saya tahu, bahwa setelah menulis beberapa paragraph tersebut saya tidak akan ke mana-mana, tetap saja seperti ini, tetap bergradasi dan tidak pernah tegak dalam satu warna yang tegas. Mungkin saya terlalu pesimis, tapi kenyataan seringkali menunjukkan bahwa pesimis dan realistis hanya dibedakan oleh selaput tipis. Saya bosan. Bosan yang menekan mendesak. Sementara ini saya ingin berhenti menulis. [ ]  

 

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai