21 September 2012

Tempat Pulang

“Yang fana adalah waktu, kita abadi;
Memungut detik demi detik
Merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari, kita lupa untuk apa.”

(Sapardi Djoko Damono) 

***

Pulang senantiasa berkaitan dengan perjalanan atau bepergian. Dan perjalanan mempunyai wilayahnya masing-masing. Jika perjalanan berlain-lainan maka pulang pun mempunyai tempatnya sendiri yang berbeda-beda. Tapi kata pulang selalu identik dengan kedamaian, selalu berjejalin dengan rasa damai yang mula-mula, dan selalu menyiratkan kejujuran yang sejati, di mana segala kepalsuan diistirahatkan di sini.

Karena hidup adalah sebuah perjalanan, maka kematian adalah kepulangan kita kepada Tuhan, kepada Dia yang menghembuskan hidup pada jasad kita. Karena manusia berasal dari saripati tanah, maka seharusnya dengan tanah pulalah raga ini menyatu kembali. Nanti suatu saat tubuh ini akan dimasukkan pada liang sempit kuburan untuk kembali pulang. Di hadapan Tuhan tidak ada lagi yang bisa dipalsukan, semuanya akan terbuka secara nyata dan kita tidak bisa lagi “main mata”. Seharusnya kepulangan kita kepada Tuhan memberikan kedamaian, tapi perjalanan kita selama hidup mengubah keadaan, karena setiap pekerjaan akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam kehidupan sekarang keluarga seringkali ditinggalkan. Kita terlalu disibukkan dengan pencarian tempat-tempat berteduh yang baru. Kemudian keluarga ditinggalkan, padahal di sanalah ayunan pertama bayi kemanusiaan dirawat. Di lembaga kehidupan itu kita mula-mula terlindungi dari terik dan lebatnya pergaulan hidup. Seorang anak tidak jarang lari dari keluarganya karena merasa tidak puas dengan kondisi yang ada, atau mungkin juga “berpetualang” yang tidak jelas ujung-pangkalnya. Seorang anak seringkali merasa telah dewasa dan kemudian melupakan keluarganya. Padahal nanti jika pergaulan hidup dirasanya terlalu berat dan angkuh, dia akan mencari jalan pulang untuk kembali ke pangkuan keluarganya. Dan keluarga hampir selalu akan memberikan kedamaian selama lembaga kehidupan itu belum hancur.

Kenyataannya sekarang lembaga kehidupan itu banyak yang hancur. Suami-istri banyak yang bercerai karena masing-masing dari mereka sudah lupa pada janji setia. Pernikahan awalnya diagung-agungkan, tapi kemudian mereka ludahi sendiri komitmen itu. Masing-masing merasa benar sendiri, padahal dulu mereka berjanji akan setia sehidup semati. Mungkin komitmen bersama dan sebuah hubungan punya masa kadaluarsanya, tapi itu berlaku pada anak-anak yang mereka hasilkan bersama. Sementara orangtuanya sibuk mengurus harta gono-gini, anak-anaknya dengan sepenuh cemas menanti dan berharap agar cahaya damai keluarga itu redup.

Begitu juga dengan persahabatan. Manusia bisa saja sering bongkar-pasang hubungan dengan pasangannya masing-masing, tapi mereka akan tetap abadi dengan sahabatnya. Di mana-mana persahabatan dibangun dengan kesejatian kecuali jika manusianya oportunis, bermental penyempat, dan licik. Persahabatan sejati adalah yang dibangun tanpa pretense materi, infiltrasi, dan gengsi.

Tuhan, keluarga, dan sahabat adalah tempat pulang manusia kepada kedamaian. Sedangkan tempat pulang dalam diri adalah hati, dan kita selalu lalai untuk menjaganya. [irf]

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…