30 September 2012

Pieces

"Sementara teduhlah hatiku 
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi..."

***

Saya baru yakin beberapa menit yang lalu, bahwa hari ini benar sudah memasuki bulan Oktober. Tadi waktu berjalan dari pantry setelah membuat secangkir kopi, saya melewati meja kerja Daniq (nama yang cukup aneh bagi seorang perempuan) yang rapi dan terdengar suara Mocca dari speaker kecil itu : "It is cold, in this October rain, i go to turn on TV, sit on the couch feeling blue...". Daniq sudah sibuk, terlihat dari wajahnya yang cukup serius. Tapi pagi ini hujan tidak turun, mungkin ditunda untuk nanti malam, agar gelap tidak terlalu sunyi dan riciknya bisa menggantikan list lagu yang mulai membosankan.

"Yo, poro konco dolanan ning jobo
Padang mbulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore."


Ipung, yang nama aslinya Purtijo Suwarno, yang meja kerjanya di sebelah saya itu, alisnya sampai naik mendengar saya hafal lagu anak-anak berbahasa Jawa. Dia lupa, bahwa hambatan bahasa telah diterabas oleh yang namanya hujan biru. Sementara anak-anak Logistik, divisi yang menjadi tetangga sebelah ramai oleh variasi lagu dari speaker dan mulut. Empat orang lagunya beda-beda. Kombinasi yang membuat perut menjadi sakit : Abdul and The Coffee Theory, Polyester Embassy, Wali, dan Rama Aipama. Kombinasi yang membuat pagi menjadi kacau.

Saya duduk di depan layar monitor. Bukan untuk bekerja, tapi berpikir dan merasa heran dengan setiap "langkah" yang dilakukan orang-orang. Sampai akhirnya berhenti pada satu simpul, bahwa manusia tidak sepenuhnya menjadi patung lilin. Sementara saya mulai mendengarkan "Sementara".  Dan segala kecewa sementara pecah. Pada beberapa hal yang di ujungnya tidak lagi profan, naluri biasanya lebih dominan daripada berjuta perangkap bunga dan setumpuk kata sayang. Sekilas jadi teringat kata-kata seorang penulis buku, intinya begini; kata-kata manis akan berhenti ketika yang "manis" telah didapatkan. Barangkali ini adalah kejahatan ganas yang paling halus. Dan saya tidak mau terbawa arus derasnya. 

Di Oktober ini, saat lampu-lampu kesadaran menyalakan titik pijarnya, saya mendengar ada yang menderap di balik jendela, ternyata hujan telah datang. Tetes air boleh saja dengan sabar menghantam batu dan akhirnya menyerah dengan visual cekungan di permukaan, tapi sekali lagi inilah manusia; perangkapnya menyerupai jaring laba-laba perak. Di sini masih terngiang dengan jelas, seperti ada seokar lalat yang terperangkap dalam toples bernama kepala. Sebuah pamafrase dari Godfather : "Kesalahanmu adalah tidak mempersenjatai diri dengan sahabat sejati!." Tapi itu terlalu romantik dan utopis. Dalam berjuta sel yang ada pada manusia, entah berapa benih-benih absurd yang tumbuh dan menyala. Maka seperti apa yang pernah saya tulis dulu; "Manusia jangan kecewa kepada manusia, karena manusia adalah akumulasi rahasia." [ ]
Sementara... teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara... ingat lagi mimpi

Sementara... teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara... ingat lagi mimpi




3 comments:

Anonymous said...

Jika kata-kata adalah tameng maka biarkan saja mereka melindungi diri dengan itu. Karena tentang kejujuran hanya hati dan Sang Pemilik yang tahu.

Lalu jika ingin memasuki rumahku, mengapa lewat pintu rumah tetangga?? Kemudian menuliskan paragraph perbedaan pemikiran diseberang dinding. Kamu kira saya akan selalu melewati dindingnya?

Hei bung.. jangan jadi pengecut di balik prosa. Jadilah pemberani dengan menyampaikan kata-kata.

Jika kata-kata adalah tameng maka biarkan saja mereka melindungi diri dengan itu. Karena tentang kejujuran hanya hati dan Sang Pemilik yang tahu.

Irfan Teguh said...

"Manusia jangan kecewa kepada manusia, karena manusia adalah akumulasi rahasia."

Andai saja ada yang tahu...

Irfan Teguh said...

Tapi kenapa mesti pakai nama Anonim?, bukankah ini juga pengecut?, ya setidaknya memperlihatkan identitaslah, biar jelas lawan bicara saya siapa.

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai