14 September 2012

Menggebrak Kampung Halaman Konsumtif

Ini bukanlah sebuah catatan yang di dukung oleh data statistik. Tapi kalau saja siang itu, di pertengahan tahun 1999 itu, kau ikut dengan saya naik angkot nomor 14 yang berwarna putih, dan pergi menuju Perpustakaan Daerah Kota Sukabumi, maka akan kau lihat bahwa gedung yang kokoh dan dingin itu hanya dikunjungi oleh empat orang dan saya adalah yang ke lima. Di luar udara cukup panas, menyebabkan penjaga perpustakaan terkantuk-kantuk. Saya masih ingat, buku yang saya baca waktu itu adalah “Robohnya Surau Kami”. Pengunjung yang lain tampak asyik dengan dunianya masing-masing, sebuah dunia yang memancar keluar dari jajaran huruf yang berderet di atas kertas. Lantai yang terbuat dari marmer kelabu dan angin yang terus bertiup pelan di luar, seperti mengajak saya untuk “ayo lebih baik kita tidur saja daripada membaca buku.” Tapi apa boleh buat, A.A. Navis begitu pandai bercerita sehingga rasa ngantuk pergi dengan terpaksa. Saya baru sampai di bagian “Pada Pembotakan Terakhir”, ketika hari tiba-tiba menjadi sore dan perpustakaan akan segera tutup. Setelah menyelesaikan proses administratif untuk meminjam buku, akhirnya saya keluar dan meluncur ke arah Kimia Farma. 

Kau boleh bertanya pada matahari yang bersinar cerah sore itu kalau kau tak percaya, bahwa pusat perbelanjaan sedang sangat ramai dikunjungi manusia multi usia, mereka bagai laron yang keluar dari sarang menuju sinar terang lampu neon. Di depan Yogya, orang-orang berdesakan untuk berebut membeli apa sih nama barangnya saya lupa lagi. Di jalan Ciwangi juga tidak kalah ramainya, pedagang kaki lima yang berjajar di depan pertokokan sibuk melayani para pembeli yang bersemangat. Mata saya seperti tidak pernah kehilangan pamandangan para Ababil yang berdandan gaya dan sepertinya wangi karena berlumuran deodorant dan farfume. Lalu lintas kendaraan macet, klakson bersahut-sahutan, sementara para kusir delman dan tunggangannya berjajar di depan kantor pajak menunggu para pengguna jasa. Lapangan Merdeka selintas seperti Gaziboo Bandung yang sulit untuk membedakan mana yang murni berolah raga, dan mana yang sekedar cuci mata. Kuping saya digoda oleh suara hingar-bingar dari arah Gedung Merdeka yang berada di pinggir lapangan, rupanya anak-anak Ska sedang konser kecil-kecilan. Kau akan yakin dengan hanya melihat baju pantai dan celana kotak-kotak serta topi macam copet, bahwa yang di dalam gedung itu adalah mereka para penikmat musik yang sealiran dengan Noin Bullet, JFGF, Tipe-X, Save Ferris, dan sebuh band yang pernah menyanyikan lagu “Tiger Clan”.

Saya berjalan ke bawah, menuju ke arah jalan Ahmad Yani, dan MasyaAllah ramai sekali. Di sepanjang trotoar orang-orang asyik bertransaksi, yang kasihan para penjual uang kuno yang sangat jarang di datangi peminat. Uang-uang bergambar orang-orang nomor wahid di masanya itu seperti museum kecil tempat anak-anak SD belajar IPS. Para penjualnya seperti tokoh-tokoh pinggiran dalam komik yang setia dengan air muka yang muram. Obral, Cuci Gudang, dan Discount di mana-mana. Matahari dan Ramayana penuh sesak. Ini bulan apa sih?, kok seperti mau lebaran?, sekarang kan masih Juli. Saya yakin lebaran masih jauh, sebab tidak ada pasar tumpah yang sering menyerupai terowongan dan di dalamnya sangat gerah. Saya melihat jam yang menempel setia di lengan sebelah kiri, dan Astaghfirullah : saya belum sholat ashar !!. Setelah menyelesaikan empat rakaat di Mesjid Agung, lalu saya semacam membuat rencana untuk jalan-jalan dulu ke Gramedia, tapi dengan cepat saya sadar bahwa sekarang saya tidak sedang di Bogor, tapi di Sukabumi. Ah, lebih baik ke Gunung Agung saja, tapi Gunung Gede yang berkabut di Utara dengan gagah menyindir saya bahwa Sukabumi belum layak disinggahi oleh toko buku-toko buku besar seperti mereka. Oh, saya jadi teringat Toko Mas Ayu yang menjual kitab kuning dan buku-buku agama yang jumlahnya sangat sedikit, tapi lihatlah saya malas sekali untuk pergi ke sana. Akhirnya saya menghentikan kembali angkot nomor 14 dan meluncur ke Kebonjati. Saya merasa lelah lalu tertidur. 

***

Bung Herlan Balon Zaelani, Bung Ardy Boyo, dan Bung Aditia Bolor Heriyadi sudah menjadi guru yang banyak muridnya, dan hei saya juga kayaknya punya kawan waktu di kelas 2-4 yang sekarang sudah menjadi dosen, siapa sih namanya?, oh mungkin Sisti, ketika saya pada suatu hari yang hangat datang lagi ke Sukabumi. Pusat perbelanjaan sudah semakin banyak dan ramai. KFC, Mc Donald, dan Pizza Hut sudah mulai menjajah perut orang-orang. Tentu saya belum lupa, tahun sedang 2009 waktu saya datang ke SCAPA untuk makan gratis di pernikahan seorang kawan yang kerja di Balikpapan. Pulang dari Bhayangkara tentu saja saya melewati jalan Siliwangi, di pertigaan yang dulunya ada Radio NBS FM, lalu diganti dengan Grapari, lalu sekarang entah diganti oleh apa, mata saya menangkap  ruko yang berjajar dan bagus-bagus, lalu di depan BNI terlihat semacam ada supermarket. Dulu di pertigaan itu agak sepi, dan ada sebuah rumah tua bercat hijau suram yang berdiri di tengah tanah kosong yang tak terurus dan kotor, sedikit menyeramkan karena terlihat bagai tempat untuk membuang anak jin, di bekas tanah kosong itulah ruko-ruko itu kini berdiri. 

Sekarang kau harus mencoba berjalan dari Yogya menuju ke arah MY, nanti di sebelah kiri jalan akan kau temui sebuah toko buku yang namanya saya lupa lagi, tapi yang jelas tidak jauh dari McD. Saya pernah tiga kali membeli buku di sana : yang pertama “Di Tepi Kali Bekasi” karangan Pramoedya Ananta Toer,  “Orang Jawa Naik Haji dan Umroh” karya Danarto, dan “Berhenti Sejenak” karya Bayu Gautama. Pengunjungnya bisa dihitung dengan jari, dan para karyawannya banyak yang mempunyai sorot mata yang kurang bersemangat, mungkin karena tokonya sepi.  Kau pasti tidak tahu ketika pulang dari toko buku itu tiba-tiba perut saya minta isi, lalu tercium aroma ayam goreng tepung dari franchise USA, oh tapi rupanya tempat duduk sudah penuh dan yang antri masih banyak, saya putar haluan menuju tukang mie ayam. 

Siang itu, waktu saya makan mie ayam itu, tidak pernah terlintas sedikit pun di benak saya bahwa pada tanggal 9 Mei 2010, waktu itu hari sedang Ahad, Fikri mengirimkan sebuah pesan yang menyebabkan ponsel saya berbunyi secara tiba-tiba : “Fan, saya jadinya mau buka perpustakaan teh di Sukabumi, sekalian nemenin ortu dan ada UMMI yang masih kekurangan bahan bacaan, kayaknya peluang banget tuh, boleh ga bukunya saya bawa ke Sukabumi?”. Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat mudah untuk di jawab : “Mangga Fik, candak we ka Sukabumi, kayaknya di Bandung juga sudah terlalu banyak yang terjun ke dunia buku”. 

Saya tidak sedang bermimpi kalau mengharapkan Fikri akhirnya berhasil dengan proyek idealismenya itu. Juga tidak sedang berangan-angan kalau kawan-kawan yang sudah menjadi guru atau dosen di Sukabumi ikut mendukung gerakan budaya baca dan tulis tersebut. Kau pasti tahu kenapa sebabnya ekskul HP3 lebih tidak diminati daripada Basket, Epigonen, Paskibra, ataupun Tarung Drajat?, ya karena buku tidak pernah memberikan keramaian dan hingar bingar di luar, tapi dia selalu menawarkan pemikiran ke dalam dan fantasi, dan stigma sudah dari dulu menjadi pakaian resmi para “kutubuku”. Oh sudah malam, sudah waktunya memadamkan bara yang menyala seharian, lagu Efek Rumah Kaca terdengar perlahan dari radio :

“Karena seriap lembarnya, mengalir berjuta cahaya
karena setiap aksara membuka jendela dunia
kata demi kata mengantarkan fantasi
habis sudah, habis sudah
bait demi bait pemicu anestesi
hangus sudah, hangus sudah
karena setiap abunya membangkitkan dendam yang reda
karena setiap dendamnya menumbuhkan hasutan baka.” [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai