25 September 2012

Keributan yang Mereda

Mula-mula entah apa. Sihir kata telah menggiring pada titik yang bernama Republik. Nama di belakangnya ditemukan dengan penuh tertawa, senang yang dibikin sendiri. Seperti kanal tempat mengalirkan segala lahar tak bernama, yang mengalir di lereng pikiran, ingatan, dan imajinasi yang tak seindah puisi. Lalu terkontaminasi dengan kampanye dan khotbah. Beban pesan dipaksakan dari balik bilik catatan. Tak ada yang salah langkah, hanya saja beberapa telah menjadi kriminal, termasuk saya, yang melarikan diri padahal termasuk yang mula-mula memulai. Barangkali namanya pecah kongsi, tapi wajar saja, yang namanya jalan pikiran tak seorang pun bisa memaksakan. 

Agenda-agenda hancur berantakan, dan waktu dihabiskan dengan menebak-nebak jalan pikiran. Yang tak bisa dilepaskan itu bernama manuver dan ilfiltrasi. Menarik memang, sekilas seperti keributan antara Lekra dan Manikebu, tapi ketika produktivitas menurun, dan hanya didominasi oleh beberapa gelintir, keributan menjadi tidak menarik lagi. 

Tapi dalam ketidakteraturan inilah sebenarnya nyawa itu ditiupkan. Melebihi improvisasi jazz, atau lukisan abstrak Afandi. Ada bertanya, perkumpulan macam apa ini?. Tak usah bertanya kawan, menulis saja, dan rasakan arus baliknya. Huruf-huruf yang diaborsi telah banyak berhamburan, dan kisah telah mati sebelum dicatatkan. Itu faktanya, maka saya tidak menyukai arus utama. Seperti status quo yang menunggu untuk digulingkan, maka huruf-huruf samar yang bertenaga selalu puitis untuk dibaca. Saya kadang tertarik dengan arsip dan dokumentasi, seolah-olah induk semang bagi anak-anak ruhani yang berlesatan dari alam imajinasi. Ketika banyak orang menganggapnya hanya sebagai dagelan, saya memilih untuk tetap berdiri. Menunggu dan bertahan dalam kondisi seolah-olah lemah adalah mimpi buruk bagi setiap pribadi yang dibesarkan dalam budaya harakiri.

“Ko gw jadi kaya cewe bego gini sih. Gw adalah perempuan independen. Sekarang duduk aja gw ga bener. “ Kutipan dari film pendek besutan Joko Anwar itu seperti petasan yang dibakar pagi-pagi sebelum mata dan kesadaran sempurna mengenal hari. Orang tidak bisa selamanya berdampingan dengan alter ego-nya. Dia suatu saat harus lepas dan merayakan pilihan. Kenangan dan masalalu adalah bahan bakar terbaik untuk merancang sebuah film puitis yang buruk. Selebihnya bisa dilarung dengan semangkuk mie instant kuah pedas ketika hujan menderas mencium bumi.

Kelak tidak boleh lagi ada penyesalan yang beranjak matang ketika usia digerogoti waktu. Pendar-pendar melankolik harus berhenti pada titik yang tepat, atau dipaksa berhenti dengan cara seorang laki-laki. Maka biarkan semuanya tetap berjalan sewajarnya tanpa menggadaikan sikap. Tidak semua nasihat bervitamin dosis tinggi, adakalanya justru seonggok sampah yang hanya layak untuk dibuang atau dibakar. Kesenangan harus dibuat sendiri, tidak boleh menunggu uluran dari balik jendela. Ini adalah mandiri di level tertinggi dengan mahkota mengkilat bercahaya. 

Tapi matahari tidak pernah memilih tempat untuk menyinari, maka berikanlah yang terbaik, sebab pamrih adalah kamus permanen para buruh. Kelak setiap jiwa akan sadar bahwa minyak dan air selamanya tidak akan sama. Dan tidak ada yang lebih menarik selain cerita-cerita lirih tentang kompleksitas jiwa manusia. Lalu sepi. Yang tersisa hanya suara Aselin Debison membawakan Somewhere Over The Rainbow. [ ] 



No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai