04 September 2012

Keping Bajakan dan Mr. Anderson

Glodok memang surga sekaligus mengerikan. Setidaknya bagi para peminat film dengan kantong pas-pasan. Tempat ini juga sekaligus gorong-gorong yang luas untuk menyalurkan hasrat purba para kolektor atau hanya sekedar penikmat film-film biru. Tapi semenjak kasus Ariel-Luna menemukan lampu sorotnya, pesta mesum perlahan bubar jalan dan bersembunyi di balik laci dan suara-suara penuh bisik. Produksi keping bajakan bergerak cepat melebihi jadwal tayang bioskop. Bisa jadi sebulan yang lalu kau menonton sebuah film dari keping bajakan, dan kemudian terkaget-kaget ketika tahu bahwa film yang sudah kau hafal jalan ceritanya tersebut baru muncul di bioskop, bahkan di Blitz sekalipun. Inilah mesin produksi yang dinyalakan oleh ratusan perempuan---yang kebagian di hilir produksi--- hanya duduk menunduk membungkus keping-keping bajakan tersebut. Jangan berpikir ini terjadi di China.

Saya masih ingat, tahunnya 2006, ketika keping bajakan itu harganya hanya 2000 rupiah. Dan kau tahu?, film-film porno berserakan di lapak-lapak terbuka pinggir jalan. Waktu itu hampir maghrib. Dan ketika adzan mulai terdengar dari pengeras mesjid, saya lihat orang-orang masih bersemangat memilih-milih film di lapak-lapak tersebut. Inilah geger budaya yang paling dahsyat yang pernah saya rasakan. Semacam tabrakan hebat dua polarisasi; antara kesadaran transenden dan hasrat purba yang mengalir di arteri dan urat nadi. Bagaimanapun, manusia bukan sepenuhnya binatang, dia selalu memiliki sisi sadar-jaga yang menyala seperti lampu marcusuar. Tapi lupakan dulu romantika normatif itu.   

Glodok dan keping bajakan itu memang berpihak kepada para maniak film yang kere. Maka jangan bertanya tentang kualitas, sebab saya sudah sembilan kali membeli keping bajakan yang tidak bisa diputar, atau subtittlenya berantakan, atau suaranya hilang sama sekali. Film-film ini bernasib malang, oh bukan, sayalah yang kurang beruntung, sebab mesti membelinya dua kali di tempat yang berbeda. Di Cempaka Mas, Atrium, dan Blok-M, saya akhirnya mendapatkan kembali film-film ini, dengan kualitas yang lumayan bagus : The Persuit of Happyness, No Country for Old Men, The Damned United, The Curious Case of Benjamin Button, Departures, Big Fish, Breakfast on Pluto, There Will be Blood, dan Goodby Lenin.

Membosankan sekali jika kita dilahirkan hanya untuk menjadi seorang kolektor. Sebab syahwat mengumpulkan tidak akan pernah ada habisnya kecuali orang tersebut terjungkal dihajar kematian. Maka semangat yang saya bangun bukanlah semangat mengumpulkan seperti nenek-nenek yang sangat takut kehilangan barang-barang tidak berguna yang dia simpan di bawah ranjang. Tapi "menonton dan menikmati kehidupan". Ya, saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Riri Riza, bahwa; Sinema adalah medium yang dapat dengan efektif menangkap kegelisahan-kegelisahan manusia. 

Tak ada yang lebih menarik melebihi laboratorium sosial. Tempat di mana orang-orang saling tebar pesona, saling mengumbar hasrat purba, saling intimidasi, saling ilfiltrasi, merasa kesepian, diasingkan, rapuh, trauma berkepanjangan, cemas menanti masadepan, atau ada juga yang mengalir begitu saja seolah-olah jiwanya tidak dilengkapi oleh anatomi perasaan. Jika Alan Lightman---dalam buku Einstein's Dreams---hanya mampu menuturkan pesona waktu dengan cantik, maka film adalah sebuah media lengkap yang dapat berbicara banyak hal. Orang boleh berbicara bahwa saya telah teracuni produk budaya yang bernama sinema, tapi percayalah saya tidak akan pernah peduli dengan komentar itu. Maka ketika tahun 2009 mendekati penghujung, festival itu akhirnya tiba. Ya, saya tenggelam 3 Hari di Festival Film

Dan hari ini, tak ada film yang paling saya tunggu melebihi : The Master. Saya sendiri sebenarnya kurang begitu tahu film-film Paul Thomas Anderson. Saya hanya pernah menonton There Will be Blood---kata kawan saya filmnya bagus, itu pun dengan subtittle yang berantakan (maklum skor TOEFL saya sangat menyedihkan). Kemudian datanglah tato itu. Ya, sebuah tato di lengan kiri Joko Anwar---sutradara film Kala, Pintu Terlarang, Janji Joni, Modus Anomali---yang bertuliskan : "Punch-Drunk Love", sebuah judul film yang juga sutradaranya Paul Thomas Anderson. "Ini bukan cuma film romance favorit gue, tapi juga pernyataan pribadi," demikian kata Joko Anwar waktu ditanya tentang tatonya. Yang saya takjub adalah bagaimana sebuah film bisa menjadi "sebuah pernyataan pribadi", yang menurut saya itu bukanlah hal sepele, tapi menyangkut prinsip dan jalan hidup. Dari dua garis yang bersinggungan itulah saya menunggu The Master. Ingin tahu, sehebat apa film Mr. Anderson itu. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai