21 September 2012

Kalender Senior

Padahal panitia sholat Idul Adha sudah memasang spanduk yang bertuliskan : “Demi kesempurnaan ibadah dan ketertiban bersama, diharapkan kepada seluruh jama’ah agar tidak meninggalkan tempat sebelum khotbah selesai”. Tapi ternyata pemberantasan buta huruf belum sepenuhnya sukses, bahkan di Jakarta, di jantung pemerintahan republik ini, para buta huruf masih berderet-deret meninggalkan pelataran parkir waktu khotib masih berdiri di mimbar. Saya sudah melupakan Sniper yang masih setia memegang Kalashnikov di lantai 13. Begitupun dengan Jarvis, perempuan cantik yang berdiri di lantai 9 itu sudah saya susutkan ke dalam kalender. Hari ini hampir menyentuh penghujung tahun, November sudah melewati tengah bulan. Kalau diurutkan berdasarkan waktu, 2010 adalah junior, dia datang belakangan. Seniornya sudah berlalu, di 2009 Idul Adha juga pernah datang. Di tahun yang sudah lewat itu, waktu matahari mulai tergelincir ke barat, saya meluncur ke Depok, sudah waktunya menyambangi lagi toko buku Eureka di Margonda. Setengan jam menunggu bus di depan Universitas Yarsi sebelum akhirnya Mayasari datang dari arah Senen. 

Sebenarnya saya mulai agak bosan menulis catatan perjalanan, tapi bus Mayasari langsung tancap gas dan cepat masuk tol setelah melewati kantor sebuah produsen cigarette; Gudang Garam. Dari jendela bus pemandangan terlihat centang perenang, hunian manusia berdesakan seperti sebuah chaos pada antrian daging qurban. Beberapa kubah mesjid terlihat menyembul di tengah kerumunan rumah warga. Apakah itu kesejatian?, atau hanya symbol?. Duduk di jok mobil, menunggu sampai ke tujuan adalah membuang waktu. Orang Jepang biasa membunuhnya dengan membaca buku, tapi buat saya, membaca buku pada sebuah mobil yang sedang berjalan sama saja dengan harakiri, sebab saya akan merasa pusing dan mual, lalu muntah. Mendengarkan music mungkin akan lebih nyaman, tapi kantong celana masih dikuasai berhala teknologi N 2610, ponsel jadul made in Swedia, tanpa dilengkapi media pemutar music. Di sebelah sedang duduk seorang bapak tua, oh tidak, saya tidak suka ngobrol di dalam mobil. Pilihan ketiga adalah tidur.

Bung Joni tidak sedang di kostan, kata penghuni kamar sebelah, dia sedang ikur bazaar di fakultas teknik, dia jualan buku bekas. Perasaan saya mulai tidak enak, bukan apa-apa, lima buah buku Pram belum dia balikkan, jangan-jangan buku-buku itu ikut menjadi korban bazaar. Saya bergegas membelah kampus UI, kurang ajar betul, sudah hampir sepuluh menit bikuni belum juga datang. Mau naik ojeg segan, jarak tempuh pendek diganjar berlembar-lembar uang ribuan. Shelter semakin sesak, kiri-kanan perempuan belaka, mahasiswi-mahasiswi wangi yang baru mekar. Oh, coba kau cium ini parfume, enak betul menjadi mahasiswi, dana talangan masih lancar mengalir dari bank dunia yang bernama orangtua. Bikuni akhirnya datang, di dalam sudah gelap, puluhan pejuang ilmu sudah memenuhinya, saya kebagian dekat pintu. Di shelter fakultas teknik saya loncat, saya semakin panic, dihadapkan pada sebuah kemungkinan buruk tentang kehilangan. Tidak jauh dari patung perahu banyak orang berkerumun, ini dia TKP yang dimaksud. Ternyata bung Joni dan koalisinya buka stand di pojok. Saya meluncur, kira-kira dua meter dari lapaknya, dia terlihat tenang saja, tidak terlihat muka gentar. “Hei Bung, mana buku saya?!.” Gaya tengiknya keluar, sambil membakar cigarette dia menghirup kopi hitam, “tenang saja Bung, sudah laris semuanya”. #$$*!?$%^&*@#!!!!. Saya tonjok mukanya, tapi dia mengelak, kepalan saya menghantam angin. Saya terjang dia sambil meloncat penuh tenaga, dia menghindar dengan cepat, saya menabrak ruang hampa orang. Waktu mendarat, saya kehilangan keseimbangan dan ambruk lalu menghantam bumi. Lalu gelap. Saya tidak sadarkan diri.

“Lenteng Agung…Lenteng Agung….”, tiba-tiba saya dibangunkan oleh suara kondektur. Astaghfirullah, saya masih di dalam bus. Depok sebentar lagi. Mimpi yang penuh emosi, Bung Joni menjual habis buku Pram dengan harga rata-rata di bawah 20 ribu rupiah!!, kurang ajar betul. Saya menguap dua kali, bus memasuki kawasan kampus Pancasila. Seorang pengamen masuk, tapi tanpa alat music di tangan. Dia mengeluarkan gulungan kertas, lalu keluarlah semacam prolog : “Assalamu’alaikum, selamat sore. Bagaimana qurban hari ini?, semoga sampai kepada-Nya.” Lalu dia membuka gulungan kertas dan membacakan puisi ini :

GELAP BERLAPIS LAPIS

Di dalam rumahku
sendiri
aku seperti nabi yunus
dalam perut ikan nun
dalam gelap relung laut
dalam gelap malam berkabut
dalam gelap hati
gelap berlapis lapis
memperdasyat sepi

o, bunda
siapakah mewariskan
berlapis lapis gelap
membalut diri
sedang aku kau lahirkan
dari cahaya cintamu

o, Tuhan
laa ilaaha illa anta
subhaanaka
innie kuntu minadh dhaalimien
hanya kepadamu wahai maha cahaya
di atas segala cahaya
kuadukan gelap berlapis lapis
termasuk bayang bayang
kebodohan sendiri

wahai mahasuci
pancarkanlah cahaya sucimu
yang pernah mensinarkan
berlapis lapis gelap
yang mengurung nabimu
laa ilaaha illa anta subhaanaka
innie kuntu minadh dhaalimien.”

Kemudian berturut-turut menyusul puisi-puisi yang lain, total ada empat puisi. Para penumpang terlihat simpati kepadanya. Dia panen uang ribuan. Dengan penuh takzim, dia berucap lagi, semacam kata-kata penutup, kata-kata yang sama seperti di pembuka :  “Bagaimana qurban hari ini?, semoga sampai kepada-Nya. Amin.” 

Sniper dan Jarvis tentu tidak tahu tentang penyair jalanan itu, sebab si penyair datang pada tahun 2009, tahun yang lebih senior daripada 2010.  Setiap tahun yang bergeser selalu menyimpan jutaan renik kejadian. Kaleidoskop selalu berusaha untuk merekam, memaparkan lagi apa yang telah terjadi. Kawan, keluarga, dan orang-orang tercinta selalu datang dan pergi, seperti pasang-surut air laut yang berkonstelasi dengan cahaya bulan. Apa yang akan terjadi besok?, tentu tak seorang ada yang tahu, semuanya bersemayam dalam pelukan misteri. Apa yang telah terjadi?, mungkin dari sini kita bisa memulai perayaan menulis ini. 

Bus berhenti di perempatan Juanda, hujan bergerak dari langit. Seorang pemuda berteduh di sebuah warung rokok, sementara tukang gorengan menabur bibit harapan.  Saya berlari di jalan tak beraspal, converse hijau diserang lumpur. [ ]



No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai