26 September 2012

Hujan Fantasy



"Hujan turun semalaman. Paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
Mereka tidak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba 
Tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita manusia, merasa bahagia.
Mereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara,
Tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia"

(Sapardi Djoko Damono) 

***

Maka daun jendela itu adalah pintu fantasy, tempat anak kecil berdiri menyaksikan hujan yang turun lirih dan magis. Merayakan hujan adalah parade ingatan tentang hal-hal yang belum selesai, atau cerita sederhana yang mengapung di tempurung, seperti arak-arakan awan yang berkarnaval di langit yang murung. Bola-bola air yang menggantung di pucuk pohon mangga, tanaman rambat yang kedinginan, tampias yang berloncatan ke kaca jendela, dan ricik suaranya seperti rekaman masalalu yang menggantung di pojok sunyi.

Barangkali hujan tidak pernah tahu bahwa kehadirannya selalu saja mengapungkan imajinasi, juga misteri yang bisa menjernihkan ingatan, rekontruksi hati, dan do'a-do'a yang tak terucapkan namun menggema dan bersemayam di dasar jiwa yang seringkali bolak-balik, tarik-menarik antara iya dan tidak. Tapi dendam tidak sepenuhnya luruh, gradasi luka menunggu dibasuh titik-titiknya yang dingin dan menyegarkan. Hujan telah begitu dicintai para penyair dan pencipta lagu. Dalam wujudnya yang kelabu, hujan serupa jalan panjang untuk pulang, menyadarkan para pemain peran untuk segera pulang ke dalam pangkuan sejati yang selama ini ia cari.         

Lengkung kurva itu suatu saat akan menyentuk titik nadir, maka sesungguhnya tak ada yang kita miliki selain kisah yang berjejalin di sepanjang titian waktu. Karena wujud waktu bukanlah lingkaran melainkan garis lurus yang terus menderap mendekati jurang, maka dibutuhkan sebuah sudut pandang parabola yang mampu melihat objek meskipun tertutup bukit dan selubung kabut. Seumpama berniaga, para pecinta prosa tidak bisa sepenuhnya bersandar kepada redup-remang kenangan, tapi mesti ada percik sadar-jaga bahwa nanti di penghujung, semuanya tak bisa lari dari perhitungan tentang transaksi yang telah terjadi. Dan kata mundur telah dihapus dari kamus waktu. 

Hujan terkadang terasa romantik ketika air yang tumpah itu membasuh hari-hari yang telah terkontaminasi oleh kompromi. Ketika "Tembok Berlin" runtuh, maka cacat permanen selamanya akan tercatat dalam sejarah, dan hujan hanya mengantar kepergiannya sampai batas antara erat dan lepas. Ya, sebermula hanya jatuh di genting, lalu bergerombol dalam samurai kata-kata, kemudian temaram dalam metafora remuk-redam. Kalau hari-hari ke belakang setiap pagi adalah saatnya menunggu matahari lewat, maka yang menderap ke depan adalah menyambut hujan dari balik jendela. Summer-Autumn?. Ah, seperti di film saja. [ ]



No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…