03 September 2012

Halaman Belakang

Fahd Djibran pernah menulis dalam buku A Cat in My Eyes : “Masadepan ternyata hanyalah sebuah kursi di halaman belakang, di mana aku duduk sendiri di sana, merasa bukan siapa-siapa, merasa bukan apa-apa.” Tapi bagiku tidak seperti itu, sebuah kursi di halaman belakang bukanlah sebuah masadepan yang sunyi, melainkan masadepan yang ramai oleh imajinasi. Aku ingin duduk di sana, di sebuah kursi di halaman belakang, menikmati suara ricik hujan yang jatuh di selokan kecil, menyaksikan pucuk daun jambu yang kedinginan, melihat ulat yang berjalan pelan-pelan di daun tanaman rambat, merasakan angin dingin yang meniup pohon mangga, dan mulai menulis cerita anak-anak. Aku ingin menulis fabel yang menarik. Menjadikan ayam, burung, rusa, kambing, kodok, dan musang sebagai tokoh utama. Atau menulis kisah-kisah sederhana tentang penjaga mesjid, tukang becak, pedagang kue, janda tua yang hidup sendirian, dan anak yang putus sekolah.

Di halaman belakang itu, aku juga ingin menulis cerita tentang anak yang banyak bertanya, atau anak yang lincah ceria macam Sherina sewaktu kecil, sambil mendengarkan lagu-lagu karangan AT. Mahmud; Ambilkan Bulan Bu, Amelia, dan Paman Datang dari Desa. Kalau saja Pak Kasur masih ada, di halaman belakang itu aku ingin ngobrol dengannya, bertanya tentang banyak hal mengenai anak-anak. Aku ingin tahu seperti apa Pak Kasur ini, sehingga Pramoedya Ananta Toer menyebutnya sebagai Gembala Bocah yang Manis. Aku masih ingat, dalam buku Menggelinding, Pramoedya pernah menulis :  

“Ia turun dari pesawat udara, dan telah mengangalah tertawa persegi mulutnya. Inilah Pak Kasur yang melalui radio telah memikat ratusan ribu kanak-kanak dari seluruh  Indonesia. Dalam bus KLM yang membawanya dari bandara, ia pun telah dapat menawan hati para penjemputnya. Sebentar kemudian rahang telah dibuatnya menggigil dan perut terguncang-guncang oleh tertawa. Bahkan dalam perjalanan udara ia pun telah berhasil memikat hati tiga kanak-kanak Portugis yang hanya kenal bahasanya sendiri.” 

Tak hanya itu, dalam paragraf-paragraf selanjutnya, Pramoedya juga telah menulis : “Di sekolah-sekolah untuk anak-anak yang terbelakang jiwanya, dan yang biasanya sangat nakal-nakal, di Amsterdam dan Zetten, Pak Kasur telah menunjukkan kecakapannya untuk menjadi kawan-kawan mereka yang terkarib.” Kalau dilihat dari tulisan Pram tersebut, luar bisa sekali Pak Kasur ini, beliau sangat berhasil menjadi gembala bocah yang manis. Aku ingin belajar darinya, belajar memahami dunia anak-anak, lalu menuliskannya dalam cerita-cerita menarik yang membuat mereka terkesan.

Tapi memang Pak Kasur telah tiada, yang tersisa hanyalah aku yang duduk sendirian di halaman belakang, yang juga ingin ngobrol dengan Papa T. Bob dan Kak Seto. Konon Papa T. Bob sempat terjerat kasus hukum, tapi aku bukan mau ngobrol tentang itu, melainkan tentang lagu anak-anak ciptaannya yang dulu pernah dinyanyikan oleh Trio Kwek Kwek dan bahkan oleh Agnes Monica yang sekarang tengah bermetamorfosis menjadi seorang diva. Lagu-lagu ciptaan Papa T. Bob selalu ceria, membuat anak-anak bergoyang lincah, menelan jatah hidupnya yang belum lama. Dan pada Kak Seto aku ingin bertanya, “Kenapa akhir-akhir ini banyak anak-anak yang minggat dari rumah orangtuanya?.” Lalu hujan mulai turun lagi yang tadi sempat reda. Dan Kak Seto telah pulang, Papa T. Bob telah pulang, meninggalkanku sendirian di halaman belakang. Tiba-tiba aku gembung oleh imajinasi. Dan aku mulai menulis. [ ]

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…