24 September 2012

Dua Generasi

Sebagian bayangan pohon ketapang terlihat jelas di tanah yang lembab, sebagian lagi di jalan yang beraspal. Saya duduk di luar kamar, menghadap ke jalan yang beraspal itu, dua orang perempuan terlihat berjalan menuju entah ke mana. Kupu-kupu kecil berwarna putih terbang rendah dan hampir menyentuh rumput. Langit cerah tapi udara terasa dingin. Di kejauhan, di sebelah timur, garis barisan bukit terlihat membiru. Pemilik safari empat saku masih di dalam, masih terbaring lemah dengan selang infus dan tabung oksigen. Di dalam, udara terasa padat. 

Afrizal Malna di tangan, dia menjajah ingatan. Kalau saja tidak ada mimpi dan imajinasi, masadepan tidak lebih dari sekedar angka dan deret turunannya. Sunyi, hanya seekor kucing kurus yang duduk kelaparan. Di rumah sakit jarang ada yang buang sampah sembarangan, dan tong sampah tertutup rapat. Di dalam terdengar suara perawat mengganti tabung oksigen, dan percakapan setengan nada. Panas matahari mengendap pada daun-daun pohon lengkeng, angin berhembus perlahan, dan dingin menggigit pelan-pelan. 

Yang duduk menunggu di dalam tidak banyak suara, hanya menunduk, dunianya sudah masuk ke dalam layar ponsel, jejaring sosial telah menyedotnya. Komunikasi berlaksa rupa, derajatnya sungguh mengagumkan, dibutuhkan di setiap halaman waktu manusia. Dalam remang lupa masih saja terdengar suara guru ngaji di kampung, dulu, dulu sekali, beliau pernah berkata, “Bersabarlah, karena sesungguhnya sakit itu menggugurkan dosa-dosa yang telah lalu.” Sementara daun-daun pohon ketapang mulai berguguran seperti ingin memberikan metafora. 

Dua generasi dibatasi tembok dingin dan kaca yang lebar, yang satu terbaring dan yang satu lagi sedang duduk. Apa yang membuat dua zaman bisa berdampingan?, salah satunya adalah pengertian. Dewi Lestari dengan cerdas menulis, bahwa yang sekarang kita sebut embun dulunya adalah bola raksasa yang bening bagai kristal, bahwa yang sekarang kita sebut rumput dulunya adalah pohon raksasa yang tegap berdiri. Terlalu banyak kosa kata yang tidak bisa menghubungkan dua masa, tidak ada kunci pasti yang bisa menyatukan dua generasi. 

Tapi saya bukan Pram yang pulang ke Blora dalam buku “Bukan Pasar Malam”, saya tidak sedang mengenang hal-hal yang telah hilang, saya hanya tengah memperhatikan masadepan yang bersembunyi di balik pohon ketapang. Dan waktu tak pernah surut, bayangan pohon telah bergeser beberapa derajat. Pintu kamar adalah bukti bahwa ada yang datang dan ada yang pergi. Dan pintu itu juga pasti tahu, setelah dzuhur, saya melangkahkan kaki masuk ke kamar. Saya pamit, rahmat kerja sudah menunggu esok hari. Terasa sekali kulit tangannya, kulit tangan pemilik safari empat saku itu telah mulai kendur dan keriput. Dan di luar langit telah berganti, awan hitam mulai menguasai, hujan berhamburan waktu saya masuk mobil. Dalam hati sempat saya merapal pelan sekali :

“Allahumma rabban naasi adzhibil ba'sa asyfi antasy syaafii laa syifaa'a illaa syifaa'uka syifaa'an laa yughaadiru saqaman.”

“Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah penyakit itu dan sembuhkanlah ia, Engkaulah yang menyembuhkan, tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi.” [ ]

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…