10 September 2012

Ciyuuss?.. Miapaah?

Seperti boomerang. Buku-buku dan beberapa majalah yang saya selamatkan dari debu dengan dibereskan ke dalam tiga buah box plastik ternyata membuat saya susah mengaksesnya. Tujuh September kemarin, ketika orang-orang banyak yang memakai baju hitam demi memperingati wafatnya aktifis HAM; Munir, saya mencoba melawan lupa dengan menyusun sebuah tulisan di kepala. Tapi waktu akan memindahkannya ke dalam Ms. Word, saya membutuhkan buku kumpulan puisi Wiji Thukul, dan itu tadi, dia tersekap dalam box plastik, entah yang mana. Sekarang pun begitu, saya butuh buku kumpulan cerpen Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu, tapi boomerang itu menghantam lagi. Sudahlah, akhirnya saya memulainya dengan membakar cigarette dan mulai menulis.

The Beatles menemani dengan pelan. Terkadang saya sangat suka lagu Obladi Oblada. Satu halaman ditutup, satu halaman dibuka. Seperti membaca buku, sebuah definisi sederhana tentang hidup. Baru-baru saya tertarik dengan komunitas pecinta sejarah, tapi kemudian sadar, saya hanya akan sering mempelajari masalalu, dan saya tidak membutuhkannya saat ini. Orang-orang berlesatan mengejar mimpi dan menikmati hidup, maka terkurung dalam kotak persegi dan membaca buku seharian bukanlah ide yang bagus. Sisi sosial harus keluar dari persembunyian, atau pergi ke pantai barangkali ide yang bagus, mencium aroma laut sambil mencari bulubabi terdengar sangat menyenangkan. 

Ketika tukang cukur itu selesai dengan kerjanya, saya pakai lagi kacamata dan mendapati potongan rambut seperti seorang tentara Rusia. Rapi beraroma militer. Menjengkelkan memang, tapi ini bukan tukang cukur mahal, jadi sebaiknya saya mengistirahatkan segala protes. Sambil membaca koran minggu, segelas susu coklat masih panas. Terdengar manis memang, tapi kenyataannya saya sedang mengurangi kopi. Kadang-kadang orang tidak mau dinilai so sweet, maka dicarilah alasan agar ada kesan rebel sedikit. Ketika jenuh mencapai titik didih, kerja seolah-olah bukan rahmat lagi, tapi tekanan yang sangat perih. 

Barangkali bagi oranglain, ini akan mudah saja melewatinya. Tapi saya sampai harus ditemani The Panasdalam demi mencapai difusi. Inipun belum sepenuhnya tercapai. [ ]   

    

   

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…