03 September 2012

Buku : Ku Antar ke Gerbang

Soekarno muda, atau Inggit memanggilnya dengan sebutan Kusno, adalah seorang mahasiswa cerdas yang aktif mengorganisasi berbagai elemen pergerakan kaum muda. Dia kuliah di sekolah teknik di Bandung, yang sekarang bernama ITB. Oleh ayah mertuanya (Soekarno sudah menikah dengan Utari) dia dititipkan di salah seorang kawannya yang tinggal di Bandung. Di kota ini kemudian Soekarno bertemu dengan Inggit dan menikahinya, sementara istrinya yang pertama dia kembalikan kepada orangtuanya.

Sebagai seorang aktivis, rumah Soekarno kerapkali didatangi oleh para mahasiswa, wartawan, karyawan, dan elemen pergerakan lainnya untuk membicarakan strategi perlawan terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Dan oleh sebab itulah, Inggit kerapkali “direpotkan” dengan urusan ini-itu untuk sekedar menjamu tamu-tamu suaminya. Inggit melihat suaminya yang lebih muda itu, sebagai sosok seorang pemimpin masadepan yang akan menjadi pelopor kebangkitan bangsanya, oleh karena itu dia bantu sebisa mungkin setiap kebutuhan yang akan melancarkan cita-cita perjuangan Soekarno muda.

Ketika Belanda mulai merasa terancam oleh sepak terjang Soekarno, maka dia ditangkap dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin. Romantika perjuangan dan kecintaan Inggit pada suaminya dilukiskan oleh Ramadhan K.H (penulis buku ini-sekarang sudah alm) dengan cukup baik. Inggit banting tulang berjualan untuk membiayai suaminya yang sedang di penjara. Dia berjalan kaki dari Ciateul ke Sukamiskin untuk menengok Soekarno sambil membawa makanan. Waktu Soekarno dibuang ke Bengkulu, Inggit pun ikut ke sana. Ikut merasakan keprihatinan hidup di pembuangan sebagai tahanan politik Belanda. Dan di episode-episode perjuangan Soekarno yang lain, Inggit setia menemaninya.

Kisah percintaan di tengah gejolak revolusi itu harus berakhir ketika Soekarno meminta ijin kepada Inggit untuk menikah lagi, karena selama ini pernikahannya dengan Inggit belum kunjung berhasil menghadirkan seorang anak. “Teu sudi kuring mah dimadu, leuwih alus balikkeun we ka kolot kuring” (saya tidak mau dimadu, lebih baik kembalikan saja saya kepada orangtua saya), jawab Inggit dengan nada bicara yang getir. Inggit mengantarkan Soekarno hanya sampai pintu gerbang kemerdekaan.

“Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan”, demikian kata Inggit, mengantar kepergian Soekarno ketika mereka berpisah. Episode kisah ini seperti sebuah pohon kecil di taman luas sejarah Indonesia. Dan penulisan sejarah mainstream, sangat jarang mengangkat pengabdian seorang perempuan asal Ciateul ini. Apakah sejarah hanya berpihak pada orang-orang besar saja?. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai