03 September 2012

Asan Pulang


Akan selalu ada jalan setapak untuk disusuri, menunggu siapa saja yang akan kembali. Liku-likunya senantiasa menuntun setiap jiwa yang berjalan ke sana, ke sebuah tempat di mana kedamaian seringkali bersemayam. Menanti mereka yang merindukan pulang. 

***

Asan telah memenangkan pertarungannya. Dia telah berhasil membunuh sedikit rasa ragu yang sempat hadir. Abi dan Ummi akhirnya melepaskan juga : dia berlayar lagi. Setelah melewati rupa-rupa birokrasi kenegaraan demi bisa melewati garis batas antar negeri, Asan akhirnya sudah siap dengan bekal beberapa koper yang disesaki : terutama oleh harapan. Ya, dia masih punya harapan itu, sebab manusia tanpa harapan adalah mayat berjalan. Dia tinggalkan lagi manusia-manusia yang dicintainya, hangat suasana keluarga, pertemuan singkat dengan beberapa kawan lama, juga berkerat-kerat pengalaman yang bertabur rasa : pahit, manis, kecewa, dan sesak. “Terimakasih, karena dengan itu, pengalamanku semakin kaya saja,” demikian gumamnya. 

Barangkali Asan sudah imun dengan yang namanya perpisahan. Dia telah menjalani semuanya : perpisahan dengan hujan tatapan kekhawatiran, atau bahkan perpisahan yang dilakukan sendirian, tanpa peluk cium orang-orang tercinta, tanpa lambaian tangan, tanpa jabat tangan yang menandai bahwa perpisahan itu telah terjadi. Asan telah melewati perpisahan yang paling sepi. Di langit Jakarta yang kelabu itu, Asan tak berminat melihat ke bawah, ke centang perenang kawasan semrawut ibukota, tempat bermukim para perampok uang negara. Asan melaju dengan deru burung besi, dia melesat meninggalkan sebagian sejarahnya yang tercecer di bawah.

Di depan, di tempat yang tengah dituju, dia akan menjalani lagi semuanya. Bertemu lagi dengan semesta dapur, gelombang, orang-orang asing lintas bangsa, dan sesekali menerima hujan mata uang asing dengan kurs berlipat-lipat lebih tinggi daripada rupiah yang tertatih-tatih penuh payah. Asan, dengan nadi yang masih berdenyut, darah yang masih mengalir di pembuluh dan arteri, nafas yang semakin tak terhitung, dan harapan yang tumpang tindih : bekerja kembali, memulai lagi apa yang dulu pernah diakhirinya. 

***

Dan waktu berlesatan laksana cahaya dhuha yang dijemput terik siang. Detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan tercecer di belakang, meninggalkan siapa saja yang tak pernah benar-benar menghargai arus waktu yang tak pernah bisa difosilkan. Ya, waktu mengulang dirinya setepat-tepatnya. Semua yang telah terjadi, kadang-kadang tak pernah disadari bahwa semuanya akan terulang dalam selubung waktu yang bernama dejavu, atau jadwal yang rotasinya laksana perputaran jarum jam. Asan kembali merasa rindu. Semuanya bisa terdeteksi dari catatan-catatan kecil yang dia lempar di dunia digital jejaring social. Dia seperti sedang meresapi sisi humanisnya :
1.   Edun awak geus cape kieu, hayang geura balik vacation, "lelah menghitung hari"..... sabar-sabar, 20 days to go home ...... home sweet home !!!!!!!!!.
2.  Dua minggu menjelang pulang, waaaaaaaaaaaaaaaaaa, sabar,sabar,sabar, shopping, shopping, shoping. Teu karasa ieu tas opat geus pinuh kieu masih acan ka asup keun keneh ieu barang.
3.     9 hari lagi menuju Indonesia. Packing, packing, mudik, mudik, pulang kampung he he he Alhamdulillah bisa puasa and Ied Mubaraq with my family.
4.     Menghitung hari menuju tanah air, walaupun tak ada seseorang yang menungguku di sana, aku punya keluarga, teman-temanku yang senantiasa menungguku selalu.
Ternyata setelah berkali-kali dan bertahun-tahun dihantam gelombang samudera yang luas dan ganas, Asan tetaplah dia. Juga setelah beberapakali mengalami kegagalan di wilayah perasaan, Asan tetap tak bergeming, dia masih diterangi cahaya optimis dan keceriaan, walaupun waktu membaca yang poin empat, ada sedikit rasa getir yang menyelusup. Jejentik jam terus berputar, perlengkapan dapur terus berbunyi, kapal terus melaju di mahaluas samudera biru, dan Asan terus menghitung waktu, countdown.
Dalam denyut nadi yang larut beserta menu, hidangan, minuman, seragam putih, dan bumbu, Asan senantiasa rajin merawat jiwa, atau setidaknya menyambangi sisi terdalamnya itu. Beberapakali dia melontar rangkaian diksi beraroma guru kebijakan, tapi sepertinya bukan untuk menggurui, tapi lebih kepada menasehati dirinya sendiri. Dengan kata-katanya dia seperti sedang berdiri di depan sebuah cermin besar, dan bertemu dengan kembarannya. Ya, dia menutrisi jiwa dan kesadarannya :
1.  Jadilah seperti akar yang rajin mencari air, menembus tanah yang keras demi sebatang Pohon agar dapat hidup. Ketika pohon itu tumbuh berbunga indah, menampilkan elok pada dunia dan mendapatkan pujian, akar tak pernah iri hati, dia tetap sembunyi dalam tanah. Itulah makna dari sebuah "KETULUSAN dan KEIKHLASAN".
2.  Dalam suatu kesempatan hidup hanya sekali. Dosa janganlah ditambah lagi. Amal janganlah dikurangi. Cinta janganlah dibagi. Gugur bunga karena layu. Gugur iman karena nafsu. Bertaubat karena berdosa. Bersihkan hati sucikan jiwamu. Sholatlah lima waktu. Yang wajib tunaikan dahulu. Yang sunah menyusul selalu.
3.   Life will only come once, so make the most out of it. God didn't give us all things to enjoy life, but life to enjoy all things. A journey of a thousand miles begins with a single step. Mistakes are not intended to drown us; rather, they make us stronger.
***
Lalu tibalah hari itu. Dan memang sangat melelahkan. Kurang tidur karena takut kesiangan di imigrasi, Delay flight di Orlando, was-was takut ketingglan pesawat di Dallas, antrian panjang di LA, meluncur ke Hongkong, dan perjalanan darat ke Sukabumi, ke tempat di mana ari-arinya ditanam. Punggung dan tangannya dibebani semesta merek : Bvlgari, Escada, Elizabeth Arden, DKNY, Hugo Boss, Calvin Kevin, dan entah apa lagi. Makhluk-makhluk itu ikut menyusup pintu imigrasi, siap berpindah tangan kepada relasi-relasi sosialnya.
Kini Asan berdiri di depan pintu rumah, perlahan merasakan kembali suasana yang pernah dikenalnya. “Perasaan apa ini?,” tanyanya. Tapi semua tidak perlu definisi. Cinta terlalu meluap, tumpah, dari kedua orangtuanya yang setiap malam terjaga dalam do’a-do’a panjang demi keselamatannya. Kemudian hari semakin temaram, langit Sukabumi beranjak menjadi hitam. Asan menghirup dalam-dalam suasana keluarga. Dan ketika malam semakin larut, dia pergi ke balkon di lantai atas. Dalam pekat langit yang hanya menyisakan beberapa kelip, dia mulai mencoba melihat hari depan. Hari depan yang berjarak hanya dua bulan lagi. “Akankah semuanya terus berulang?,” bisiknya. Tapi apa pun dan kemana pun, dia akan selalu ingat jalan pulang. Asan tetap akan selalu merindukan orang-orang yang dicintai. Samar, dia mencoba lagi mengingat sepenggal puisi Rumi :
"Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah
Tersebutlah sebentang tanah
Aku akan menemuimu di sana." [ ]
 
---Dedicated to My friend : Ari Saptono

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai