03 September 2012

Apa yang Kau Cari Asan?



“Kalau dibandingkan dengan Pizza Hut, kampus saya tidak ada apa-apanya. Tempat makan import itu jauh lebih terkenal !”, dengan sedikit hujan lokal yang berhamburan karena semangat yang meluap, Asan menjawab waktu saya tanya : “Hai San, di mana kau kuliah?”.

***

Asan duduk di balkon rumah, langit malam tidak begitu bagus, hanya dua bintang dan sepotong bulan kelabu. Pikirannya jauh melayang ke masalalu, dan sesekali menerobos bayangan masadepan. Cigarette bungkus merah cap iklan kuda telah habis empat batang. RATM dan Bio Hazard sudah dari tadi dibunuh, semenjak ibunya berteriak dari bawah : “Asaaan, apa yang kau dengarkan itu?, macam musik orang gila ?!!, gantilah sama yang slow!”. Tak lama musik pun berganti, liriknya terasa syahdu, Bang Iwan memecah hening malam

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh / lewati ringtangan untuk aku anakmu / ibuku sayang masih terus berjalan / walau tapak kaki penuh darah penuh nanah / seperti udara kasih yang engkau berikan / tak mampu ku membalas / ibu / ibu”. 

Pengganti yang cocok, karena suara ibu tak terdengar protes lagi, mengkin beliau merasa haru mendengarkan lirik itu. Asan membakar lagi cigarette tanpa cengkih, lalu menghembuskan nafas dengan syahdu. Entah kenapa selepas maghrib perasaannya tak karuan, dada terasa hampa, dan kenangan berlintasan di benaknya, seperti hujan meteor yang membedaki langit malam. 

Sudah lima tahun dia dibantai samudera maha luas, terombang-ambing di gelombang dahsyat, dan selama itu juga dia tak pernah berlebaran di rumah. Mungkin kata “rindu keluarga” sudah dihapus dari kamus hidupnya, seorang pengembara harus siap merasa terbuang dan terasing dengan mental sekuat baja. Tapi entah lebaran tahun berapa, dia sempat sholat Idul Fitri di Dubai, hatinya gerimis tak kuat menahan rindu kepada kampung halaman, sementara pemandangan terdekatnya hanya debu pasir yang beterbangan dan sekelompok unta yang ia kagumi. Asan menghela nafas lagi, terlihat seekor cika-cika terbang rendah di hadapannya. Kelip cahaya dari makhluk kecil itu terlihat seperti marcusuar setiap kali dia merapat ke dermaga. Pikirannya terus perlahan berjalan mundur…. : menjadi tukang masak di Hotel milik orang Tionghoa, menjadi Popeye si Pelaut, hijrah ke Dubai, menjadi jongos di sebuah hotel di jalan Pasteur, kuliah setahun di kampus tidak terkenal, dan sekolah bersama kawan-kawan berseragam putih abu-abu. Tampak kilasan-kilasan kejadilan berjejalin di tempurung kepalanya….. : rasanya baru kemarin dia bernyanyi dengan mata pura-pura buta membawakan lagu “Wakil Rakyat”, atau ditampar senior kelas 3 yang ternyata adalah kawan dan tetangganya sendiri, atau menaksir perempuan tinggi semampai yang tak berhasil dia rayu, atau diceburkan ke kolam tempat berkembang biak kodok waktu dia sedang puasa, atau berantem dengan orang Yahudi dan India, atau bertemu kawan SMA waktu jalan-jalan di Dubai, atau erang kesakitan waktu tulang belakangnya bermasalah karena menahan beban wajan raksasa …atau...atau…masih banyak lagi kenangan-kenangan yang berkejaran di benaknya. Kejadian-kejadian itu bermunculan seperti tunas di musim hujan. 

Di usianya yang sudah kepala dua, dan perlahan beranjak menuju kepala tiga, sudah banyak betul peristiwa yang dialaminya, dari yang manis macam madu odeng sampai yang pahit bagai buah mahoni. Sekali waktu pernah saya bercakap-cakap dengannya di sebuah pelataran mesjid, lalu lewatlah seorang pemuda di depan kami dengan jalan gontai dan muka layu seperti tissue jatuh ke air. Dengan gerakan secepat angin musim kemarau, Asan menghampiri pemuda layu itu. Setelah tanya-tanya sedikit, nyatalah bahwa pemuda itu baru saja dikutuk cinta, dan hatinya remuk redam, dia datang ke mesjid untuk mencoba menenangkan rusuh hatinya. Asan menepuk pundak pemuda itu seperti seorang bijak yang sudah kenyang oleh pengalaman, dengan wajah dikondisikan temaram, dia berkata : “Hai Bang, tak usahlah Abang kenangkan cinta yang sudah lalu itu, hanya akan menambah sakit dan rusuh hati saja. Kita orang semuanya pernah sakit hati Bang, saya pun begitu. Saya pernah melamar kerja di sebuah perusahaan travel, tahukah Abang apa yang terjadi dengan surat lamaran saya?, surat yang saya buat dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati itu tak dilihat sedikit pun, dia langsung dibuang ke tong sampah di depan mata kepala saya sendiri!. Jadi Abang, segeralah benahi hati, masih banyak hal lain yang harus dipenuhi haknya. Abang tentu familiar dengan lagunya Aa Gym bukan??”. Setelah menepuk pundak pemuda itu untuk yang terakhir kali, Asan kembali lagi ke tempat saya duduk dan percakapan kami lanjutkan. 

Malam terus beranjak, sudah pukul 22.47, lampu rumah tetangga sudah banyak yang padam, menandakan penghuninya sudah siap memadamkan bara yang menyala seharian. Nanggeleng mulai senyap, yang tersisa hanya angin, asap rokok produksi Philip Morris, kopi hitam, suara Bang Iwan, dan pikirannya yang masih belum mau istirahat. Suara ibunya seolah-olah masih terdengar dengan jelas, suara itu seperti seekor lege yang terperangkap ke dalam botol, dan tidak bisa keluar lagi : berputar-putar dan berdengung. Tadi sore selepas mandi, Asan menghadap Ibu dan Bapaknya. Tekadnya sudah bulat : dia akan berlayar lagi. Dengan kata-kata yang sengaja dipilih dengan ekstra hati-hati, Asan dengan gaya gemulai menyampaikan maksudnya : “Umi dan Abi yang Asan cintai dan hormati, sudah Asan timbang-timbang betul dengan masak. Setelah melewati beberapa purnama, dua kali lebaran, dan satu kali patah hati…(Asan terdiam sebentar, kata-katanya terhenti, lalu menarik nafas), bukannya Asan tak mau berdekat-dekat dengan Umi dan Abi, juga dengan adik-adik tercinta, bukan pula maksud Asan hendak membuang diri karena patah hati, tapi hati Asan sudah condong untuk kembali ke sana, kembali berlayar ke laut lepas, kembali mengarungi samudera maha luas. Asan harap kiranya Umi dan Abi memberi izin dan do’a restu, agar jiwa anakmu ini tenteram meskipun diamuk badai lautan”.  

Sebelum Asan melanjutkan kata-kata, Ibunya langsung menjawab, sendu mendayu-dayu seumpama “Rayuan Pulau Kelapa” dari RRI : “Asan, mimpi apa kiranya Umi semalam?, sampai begini rupa Umi mendapat permintaan dari kau. Baru dua lebaran kau ada di dekat Umi, Abi, dan adik-adikmu yang beranjak dewasa, belum sembuh benar punggungmu itu, sekarang kau sudah mau pergi lagi meninggalkan kami semua?. Apalagi yang kau cari San?. Umi terkadang tak habis pikir, rumah sudah kau punya, kendaraan sudah kau dapat, pekerjaan sudah pula kau punya, lalu sekarang kau mau berlayar lagi?!, mau cari apa lagi San?. Apa kau tidak pernah lihat kawan-kawanmu?, mereka sudah pada punya anak yang lucu-lucu dan bini yang cantik-cantik pula. Apa kau tidak mau hidup seperti mereka?, mau sampai kapan kau hidup membujang?, tak kasihan kau sama Umi, sudah lama betul Umi ingin menimang seorang cucu. Baiknya kau timbang-timbang lagi niatmu itu, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari”. Sementara bapaknya tak banyak cakap, beliau hanya memandang kosong ke arah taplak meja yang berwarna biru dongker. Pandangannya menerawang seperti sedang menebak-nebak isi hati anak sulungnya itu. Asan diam sejenak, pandangannya semakin merunduk, lalu melanjutkan kata-katanya : “Tapi Umi….”, dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, kerongkongannya tercekat, lidahnya kelu, tiba-tiba dia kehabisan kata-kata. “Tapi apa Asan?”, ibunya bertanya menyelidik. “Tidak Umi, baiklah akan Asan renungkan lagi hal ini”. Dia kemudian mohon diri, lalu pergi ke kamarnya di lantai dua, lalu keluar dan duduk di balkon.

Sebenarnya Asan bukanlah seorang perenung, apalagi sendirian di gelap malam, bukan, bukan seperti itu dia dibesarkan, dia adalah seorang yang penuh ceria hidupnya, semangatnya selalu berbinar-binar, dan diam dengan kecamuk pikiran jarang sekali dia lakukan. Tapi malam ini, di tengah kesendiriannya, Asan seperti terlahir sebagai seorang yang baru, seorang yang tengah dihujani banyak lintasan perasaan dan pikiran. Kemarin sore dia bertemu dengan si Ipes, dan sepotong khotbah dia terima : “San, motivasi dan keinginan orang itu cuma dua macam : pertama, praktis dan pragmatis, dan kedua, rumit bagai lorong labirin. Nah kau termasuk yang mana San?, kau selidikilah sendiri”.

Sementara Bang Iwan masih setia bernyanyi, suaranya semakin jernih dan pelan, kata-katanya menerobos gelap malam dan kecamuk dalam diri Asan :

“Memetik gitar dan bernyanyi
Pada waktu tak bertepi
Di atas langit di bawah tanah
Di hembus angin terseret arus
Untuk saudara tercinta
Untuk Jiwa yang terluka

Tengah lagu suaraku hilang
Sebab hari semakin bising
Hanya bunyi peluru di udara
Gantikan denting gitarku
Mengoyak paksa nurani
Jauhkan jarak pandangku

Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta
Walau aku tahu tak terdengar
Jariku menari tetap takkan berhenti
Sampai wajah tak murung lagi

Amarah sempat dalam dada
Namun akalku menerkam
Kubernyanyi di matahari
Kupetik gitar di rembulan
Di balik bening mata air
Tak pernah ada air mata”. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai