03 September 2012

Anggi di Atas Sajadah


Anggi tidak mengerti, kenapa ibu membawa dia, kakak, dan adiknya pindah ke kota yang lebih sepi. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti. Waktu itu, waktu ibunya dengan setengah tergesa membawanya pergi, yang dia lihat hanya mendung dan rusuh di wajah ibu. Anggi ingin menangis, tapi tidak tahu menangis untuk apa, perasaannya tidak menentu. Lalu mobil mulai berjalan dan membawanya menyusuri jalan yang sempit dan macet. Ketika jalan yang menyebalkan itu habis, dia menghirup hawa segar dan udara terasa dingin di tubuhnya. Di sini, di kota barunya yang sepi dan kecil, bersama ibu dan dua orang saudaranya, dia memulai hidup baru. Langkah pertama untuk menggapai semua mimpinya dia lakukan di kota ini.

***      

Masih jelas dalam ingatanku waktu dia berucap, “Pes, aku tidak bermaksud untuk menggurui atau menasehatimu, tapi anggap saja ini saran dari seorang kawan,” aku terdiam tidak mengerti dengan ucapannya. Dia terdengar menarik nafas panjang, lalu berucap lagi, “Pes, bapakmu mengirim kamu ke sini, sekolah ke kota ini, pasti dengan menaruh banyak harapan. Kepercayaannya padamu sungguh luar biasa. Bayangkan, dari daerah, kamu dikirim ke sini untuk menuntut ilmu dengan setiap bulannya disangoni biaya yang tidak sedikit. Nah, maksudku, jangan sampai kepercayaan bapakmu itu kamu sia-siakan. Jangan sampai kamu bermalas-malasan untuk belajar, atau terlalu banyak bermain tak jelas sehingga pelajaranmu banyak ketinggalan.”

Dia sangat tipikal; rajin dan pandai menyaring pergaulan. Anak-anak betah berlama-lama ngobrol dengannya, apalagi kalau ada tugas yang belum selesai, dia pasti dikerubuti. Prestasinya gilang gemilang, ini tidak lepas karena cara belajarnya yang militant. Pernah suatu hari saya dan kawan-kawan yang lain datang ke rumahnya, mau numpang makan sekalian baca-baca majalah bola. Di siang yang terik dan berangin pelan, waktu seperti itu seharusnya pantas untuk dijadikan tidur siang, tapi saya mendapatkannya  tengah mengerjakan PR matematika dan belajar rumus-rumus fisika. Saya mencoba mengikuti kegiatannya, tapi malah pusing, saya buntu, dan sejak itu saya tahu bahwa pelajaran eksak bukan jalan saya. 

Waktu anak-anak mulai belajar merokok, dia tak bergeming. Asap cigarette telah dikutuk untuk menjauhinya, asap racun itu tidak pernah berhasil mengotori paru-parunya yang disesaki oleh nafas penuh semangat. Dia tahu, ibunya akan sangat kecewa jika mendapatinya tengah menghisap rokok, dan karena dia tak mau menyakiti perasaan ibunya, maka dia menjauh dari penghasil cukai terbesar itu. Sebenarnya sikap dia tidak terlalu berbeda dengan kawan-kawan yang lain, tapi saya dapat melihat, dalam dirinya ada semangat yang tak kunjung padam, ada mimpi-mimpi yang tersimpan dengan rapi, dan dia tengah berusaha untuk mewujudkan semuanya.

Selepas SMA kami sangat jarang bertemu, meskipun kuliah pada kota yang sama. Dia di politeknik, saya di politeknik. Dia eksak, saya tata niaga. Dan jalan hidup manusia tidak pernah disetting sama, kami menempuh jalan, kejadian, dan pengalaman yang berbeda. Sekali bertemu dia sempat cerita, bahwa selepas SMA dia diterima di tiga politeknik yang berbeda, lalu kakaknya bilang, “Anggi, kamu mau belajar atau mau main?, kalau kamu mau benar-benar belajar maka pilihlah Politeknik Kanayakan.” Dan Anggi menuruti nasehat kakaknya, lalu selama tiga tahun dia tenggelam dalam seragam biru di dalam bengkel. Waktu saya baru lulus dari Politeknik Ciwaruga, dalam masa menganggur yang menyesakkan,  kami bertemu lagi. Dia sedang berlibur dari tempat kerjanya di Borneo. Senyumnya tidak berubah, masih seperti dulu, dia selalu mengklaimnya sebagai “senyum Pepsodent”, saya diam saja setiap mendengar klaimnya itu, tak apalah, yang penting kawan senang. Lalu setelah itu kami lama tidak bertemu, sebelum April 2009 menghentikannya.

***

Kini Anggi tengah duduk di atas sebuah sajadah, pada seperempat malam yang sunyi, di kamarnya yang hangat oleh cinta dan kasih sayang. Istri dan anak laki-lakinya masih tertidur dengan pulas, mereka adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadanya. Ini adalah kesendirian yang padat dan syahdu, posisi yang terbalik; biasanya istrinya yang melihat dia dan jagoan kecilnya sedang tertidur, lalu istrinya membaluri kedua laki-laki yang tengah tidur itu dengan do’a. Dinding kamarnya penuh dengan foto si jagoan kecil, dan detak jam terus berbunyi. 

Anggi menarik nafas dalam-dalam, lalu melihat betapa damainya wajah kedua orang yang sangat dicintainya itu. Betapa Tuhan telah begitu banyak memberinya anugerah, di hidupnya yang pernah merasakan kesedihan, ternyata Tuhan menggantinya dengan banyak hal yang lebih baik. Kemudian tanpa sengaja, pikirannya terlempar ke masa-masa penuh perjuangan, ke masa-masa ketika usia (sangat) mudanya dipertaruhkan dengan kesungguhan dan kerja keras.            

Dia terkenang dengan rute yang dulu setiap hari dilalui, dengan dada yang gembung oleh semangat, setiap hari, setiap pagi, dia taklukkan kelok-kelok jalan yang menghubungkan dua titik; Gatsu-Kanayakan. Tangannya perlahan menjadi terbiasa dengan alat-alat mekanik yang keras dan pekerjaan yang penuh resiko. Di situ, di bengkel praktikumnya yang dipenuhi manusia berseragam biru, tidak sejengkal pun semangatnya dia biarkan menghilang. Anggi sadar, di kampusnya, masa muda bukanlah soal menyalurkan adrenalin dengan tumbal waktu yang terbuang dan kemalasan, melainkan hari-hari penuh teori hitungan, tugas, dan latihan. Dan dia sudah siap untuk itu, dari awal dia selalu berjaga di garis depan, mamacu dirinya untuk senantiasa menjadi formula ideal antara usaha dan do’a.

Jejentik jam terus berputar, menggilas waktu yang tercecer di belakang. Sudah hampir shubuh, istrinya terlihat menggerakkan badan sebelum akhirnya terlelap lagi. Jagoan kecilnya belum bangun, di malam yang mulai dijemput pagi, anak kecil itu seperti tidak mau mengganggu ayahnya dengan tangis yang pecah, dia seperti tahu bahwa ayahnya baru saja bermesraan dengan Tuhan, dan sekarang tengah bermesraan dengan dirinya sendiri. Di luar, embun mulai hinggap di daun jambu, mangga, dan rambutan. Embun juga hadir di atap rumah, kubah mesjid, jalananan berdebu, dan semesta lainnya. Anggi belum berhenti, kini pikirannya melayang ke masa-masa SMA, dan tiba-tiba dia tersenyum sendiri. 

Masih sangat jelas dalam benaknya ketika sepatu barunya mempermalukan dia di tanah lapang, sepatu Nike kuning stabilo itu memang kurang ajar betul, skill sepakbolanya hancur dan menyentuh titik paling rendah, di tanah lapang itu, di hadapan kawan-kawannya yang bertabiat bagai gerombolan penghancur mental, dia terjatuh tanpa dijatuhkan lawan. Tawa pun pecah, dengan muka murung dia menepi ke pinggir lapang. Dia pun masih ingat pada sebuah acara di ruangan senam, ketika dia dan kawan-kawannya dianggap underdog, mereka malah bisa memberikan pembuktian terbalik, bahwa merekalah yang layak untuk keluar sebagai juara. Ingat acara itu, dia pun ingat pada cabaret. Kemudian semuanya hilang kembali, suara penjaga mesjid mulai terdengar dari pengeras suara, mengingatkan warga bahwa waktu shubuh sebentar lagi.

Sekarang yang hadir hanyalah rasa syukur. Sambil masih duduk di atas sajadah, dia kemudian mengangkat tangan dan mulai berdo’a. Setelah mendo’akan kedua orangtuanya, kedua orangtua istrinya, kemudian dia lanjutkan dengan do’a untuk keluarganya : 

“Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama”

Dan waktu shubuh akhirnya datang, muadzin mulai mengumandangkan seruan kemenangan. Ketika embun sudah mengusai bumi, Anggi mendekati tempat tidur, membangunkan istrinya. Saat mata istrinya mulai terbuka, Anggi hanya tersenyum, tak berkata apa-apa, tapi senyum itu dapat dengan mudah diterjemahkan, dalam hatinya Anggi berkata, “Bangun sayang, sudah shubuh.” [irf]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai