03 September 2012

3 Bung, 3 Behel, dan Tradisi yang Memudar [2]


Tapi rupanya Bung Joni menuntut balas. Dia tidak tinggal diam diperlakukan semena-mena. Siapa pula Rani? Kapan aku invalid dengan seorang perempuan non muslim? Begitu mungkin pertanyaan-pertanyaan yang hadir di benaknya setelah selesai membaca cerita saya yang 100 persen fiktif itu. Dan alangkah kerennya apa yang kemudian dia lakukan. Dia membalas dengan gagah berani. Tulisan dibalas dengan tulisan. Saya membuka email, dan hadirlah tulisannya itu. Isinya memang kurang ajar betul:

“Sigi oh Sigi. Terbuat dari apa hatimu itu? Apakah kamu buta? Apakah kamu tak melihat kawanku mendengus-dengus macam orang gila waktu cintanya kamu bikin invalid?

Pagi itu aku lihat Bung T***h tengah terduduk di bangku sebuah warung dekat belokan gang. Entah sedang apa. Mungkin sedang menunggu seorang perempuan. Dan benar saja, tak lama seorang perempuan berambut pendek, berkacamata minus, dan giginya memakai behel menghampirinya. Perempuan itu terlihat tersenyum, giginya rapi mirip pagar kelurahan menyambut 17 Agustus…”

***

“Bung, tak bosankah kau menulis yang itu-itu juga?! Menulis perasaan-perasaanmu sendiri? Apakah kau tak tertarik untuk menulis perempuan dari perspektif lain? Tak berminatkah kau untuk menuliskan sesuatu yang lebih berkapasitas, yang lebih menggigit, bukan melulu soal-soal yang remeh seperti itu?!” Tiba-tiba Bung Nova memberondong dengan pertanyaan yang bernada mengadili. Saya langsung berhenti menulis dan menjauhi layar computer. Belum sempat saya menjawab pertanyaannya, dia langsung memberondong lagi:

“Orang-orang yang hidup dalam tradisi menulis tidak melulu kalah oleh perasaan Bung! Kalau pun bercerita tentang virus merah jambu, mereka menulis dengan elegan dan pilihan diksi yang tidak memalukan. Nah, kau sendiri? Lihat dirimu, begitu memalukan! Hanya karena perasaan, kau lalu melupakan hal-hal lain yang lebih penting untuk ditulis! Apa kau kau tak pernah mengikuti berita? Tak pernah bersosialisi dengan tetanggamu? Kemana saja kau ini?!”

Bung Nova terus saja mencecar waktu dia tahu bahwa saya tengah menulis cerita yang alurnya dibuat seolah-olah saya dengan Bung Joni sedang saling membalas tulisan, saling menjatuhkan dalam bidang yang absurd itu. Dia seperti ingin mengingatkan saya untuk ayo lebih baik menulis hal yang lain saja, yang lebih berkapasitas, yang lebih bernyawa, dan lebih selektif dalam pemilihan diksi. “Bung, bukannya aku mau mengurusi usuran kau, tapi coba Bung dengar apa kata Morrisssey. Nah, kau sudah tahu sekarang. Urusan yang begitu mari kita istirahatkan dulu, biar Morrissey saja yang mengurusi.” Saya masih saja terdiam belum sempat menjawab semua serangannya.

Tapi untunglah ada Bung Joni, dia macam advocat yang membela saya saat tersudut diserang, "Hei Bung, tak usahlah kau giring kawan kita ini untuk menulis hal-hal yang kau anggap 'lebih berkapasitas', 'lebih bermutu', dan bla bla bla.., tak usahlah itu. Tak penting Bung. Biarkan saja dia menulis apa yang ingin dia tulis. Tak seorang pun berhak menggiring apa yang akan ditulisnya, lagi pula kau tahu, dia itu kawan kita yang keras kepala, sangat keras kepala. Kau masih ingat film 'Finding Forrester'? Apa kata si William Forrester itu? Dia bilang: menulislah jangan berpikir, menulis dan menulis, berpikirnya nanti saja. Jadi Bung, kalau kawan kita ini sedang bersemangat menulis hal-hal yang berkaitan dengan masalah absurd, kau jangan menjegalnya. Biarkan saja. Kewajiban kita hanyalah menyiapkan bahu untuk menopangnya, bukan malah berkhotbah di depan orang yang keras kepala itu."

Edan. Pembelaan yang sempurna! Ini adalah sebuah bahan yang bagus bagi kisah klasik di masadepan. Dua orang kawan terbaik saling menghamburkan pendapatnya, dan saya berada di tengah-tengah; subjek sekaligus objek. 

Dan tak ada lagi sang juru damai di antara kami selain kopi dan cigarette. Maka meluncurlah saya ke warung membeli sekira enam sachet Kapal Api hitam dan dua bungkus cigarette : A Mild dan Marlboro merah. Saya tak peduli dengan dengan kampanye sebagian musisi rock yang rajin meneriakkan: PMA (Positive Mental Attitude) yang salah satunya adalah menghindari cigarette. Tak berlaku bagi kami. Untukmu duniamu, untukku duniaku. Lalu saya kembali, menyeduh kopi, dan menghampiri dua orang kawan yang tadi sempat berseteru itu. 

Tapi memang Bung Joni itu kurang ajar betul, sudah saya seduhkan secangkir kopi panas dan dibelikan cigarette mantap macam Marlboro merah, tetap saja dia bertanya dengan nada meledek, "Bung, apa kabar Sigi? Kulihat, selera kau boleh juga." Senyum pahitnya ingin sekali saya hantam dengan sebuah pukulan telak. "Ah, kau ini, sejak kapan kau menjadi wartawan infotainment?" Dia hanya tertawa, berderai-derai. Sementara Bung Nova, seperti biasa, hanya tersenyum macam orang sedang sakit gigi.  

Kemudian pembicaraan mengalir terus-menerus seperti tidak akan berhenti. Bung Joni sudah dua kali ke warung demi menambah bahan bakar dan amunisi. Dan entah kenapa, tiba-tiba pembicaraan sampai juga pada sebuah simpul yang tidak direncanakan sebelumnya. Ya, kami bersepakat bahwa tradisi menulis harus tetap kami jaga. Dan satu hal lagi---kami tertawa ketika mengatakannya---bahwa, "being a rebel and being an asshole are two different things!" [irf]


Foto: angelatreatlyon.com

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai