06 August 2012

Wangihujan Menjelang Malam

Wangi itu mendekapku dalam gigil. Cahaya lampu yang berpendaran dirobek arsiran hujan seperti nuansa sebuah film noir. Aku mencoba menyulut cigarette, tapi dia melarangnya. Mulut menjadi kecut dan asam, hanya tanganku yang merangkul bahunya dalam diam. Tanah yang basah dan wangi permen menyeruak mencucuk penciuman. Langit mulai hitam jelaga, kelip bintang tertutup; tak satu pun. Dalam diam tanpa kata-kata aku ingin menulis, memfosilkan jenak waktu ini untuk dibawa ke masadepan sebagai kenang-kenangan untuk hidup yang begitu biru. Tapi aku sadar, tidak semua kenangan akan menjelma bangunan yang kokoh, adakalanya aku harus mengalah, mengendapkan semuanya demi sesuatu yang lebih penting; lembaga kehidupan yang mengabadi. 

Di sini, di dekat wujudnya yang menebarkan aroma permen, aku melukis impian itu. Segala konflik ingin aku istirahatkan. Aku hanya tajam menatap matanya yang berkilauan nuansa biru. Capucino hangat tinggal setengah, dan pembicaraan belum usai. Memang banyak diamnya, tapi sesekali ada juga pandangan-pandangan terlontar, tentang pikiran yang terkadang kalut, atau pendapat yang jernih. Aku genggam tangannya yang kecil dan sedikit menciut. Aku rasakan ketakutannya yang tersembunyi jauh di balik wajah cerah itu. 

Bulan telah melewati Juni, tapi aku sering ingat Sapardi, begitu juga malam itu. Ya, “Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan---suaranya bisa dibeda-bedakan, kau akan mendengarnya meski sudah kau tutup pintu dan jendela. Meskipun sudah kau matikan lampu. Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan---menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh, waktu menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan.”

Tapi sekarang malam terus beranjak, dan aku harus segera mengantarkannya pulang. Tanpa jaket, akhirnya ranger hijau centil itu meluncur, meninggalkan jejak yang terbaca waktu. Wangihujan di belakangku, membuka jaketnya dan menutupi dadaku yang terus-menerus diserang angin malam. Dalam catatan ini, aku mencoba memfosilkannya. Bukan untuk menajamkan pisau, tapi mencoba menumpulkan konflik yang mungkin akan masih meledak. Semoga saja tidak. [ ]   
     

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai