05 August 2012

Siapa yang Mendidikmu? : Secangkir Kopi Pahit

Maka jika memang kamu seorang petarung, tak perlulah memakai topeng. Kamu barangkali berhasil mengukir definisi bintang, atau meredakan pengkhianatan dalam beberapa lumatan yang basah dan gerah,  tapi yang namanya luka di mana-mana selalu sama, jadi istirahatkan saja retorika manis itu. Aku dididik oleh secangkir kopi pahit, kopi yang kadar caffeinnya menendang segala hipokrisi atau basa-basi rahasia yang mengalir di dalamnya cerita non fiksi tentang hati yang tidak hati-hati. 

Sayap masadepan telah patah di sini, di setapak bening yang mulai terkontaminasi oleh larutan kenangan, ego, dan strategi yang salah kaprah. Ini adalah bulan yang tepat untuk saling menyalahkan, untuk saling mengarahkan telunjuk ke dada lawan bicara masing-masing. Rayakan itu, dan lupakan segala yang telah terlewati. Percayalah, ini akan lebih baik dan menyehatkan daripada menyeret-nyeret berlembar-lembar visual dalam kotak kecil ajaib. Menghargai seharusnya bukan dengan jalan melukai, semoga ada yang paham tentang itu. 

Halte disediakan untuk pemberhentian sementara, bukan untuk tempat tinggal selamanya. Tapi jika karakter yang dibawa adalah karakter angkutan umum, maka selamanya (setidaknya dalam rentang waktu yang tidak sebentar) hanya akan menyinggahi halte-hal itu. Di titik ini aku begitu khawatir menjadi pribadi yang kerdil, pribadi yang congkak tanpa mau mengendap. Musuh utamaku bukan usia, tapi manusia, itulah yang sesungguhnya.

Meskipun sekarang, siang ini, aku tidak bisa bertemu dengan yang mendidikku, tapi aku bisa merasakan fatamorgananya. Sekali ini, aku ingin kembali menendang hipokrisi. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai