02 August 2012

Setapak Kecil Manusia Kiri

Ketika dunia yang melibatkan perasaan purba menampakkan dirinya dalam wujud rasi bintang pari, maka aku semakin yakin bahwa obsesiku adalah membeli tiga box plastik berukuran medium untuk merapikan buku-buku, koran bekas, kepingan film, dan beberapa pakaian usang. Manusia dalam orbit venus dan mars terhubung oleh garis-garis virtual, kenyataan ini hanya membuatku tertawa pahit. Ya, pahit sekali. Ini semacam tragicomedy yang membuatku semakin yakin bahwa cara-cara mainstream dalam membangun relationship semakin kehilangan daya pikatnya. Barangkali benar Ronald Frank adalah seorang pemasar relasi merah jambu yang brilian, tapi percayalah aku tidak tertarik dengan barang dagangannya. Ya, manusia adalah akumulasi rahasia, maka jangan mencoba menggiringku ke titik moderat, karena itu semua akan aku larung dengan asap tembakau dan aksara yang rapuh.

Sekaya apapun pengalaman seseorang dalam meresapi setiap ceruk dan jenak dunia indah pelangi, pada akhirnya yang tersisa adalah dua hal : ampas dan kesejatian. Jangan tanya tentang mayoritas, sebab di mana-mana sampah telah menjadi komoditi hampir setiap pribadi. Dari dulu aku selalu tertarik dengan hal-hal yang beraroma kiri, minoritas. Gelombang yang melawan arus bagiku begitu heroik dan mencerahkan. Maka para pengkhotbah itu sebaiknya balik kanan dan ucapkan selamat tinggal, sebab aku telah ditempa waktu untuk menjadi seorang yang keras dan berkepala batu.

Tapi tentu saja aku bukan robot, sebab langit jiwaku sering juga hujan gerimis, atau bahkan gemuruh badai. Teman hidup yang mengabadi adalah seorang ratu yang aku simpan dalam nampan. Kuperlakukan dia dengan hati-hati, penuh kasih sayang, dan aku cukupi kebutuhannya dengan aktivitas peras keringat yang menjelma menjadi romantic dan melodrama. Aku tidak ingin menghamburkan retorika dengan ratuku, karena memang tidak perlu. Ilmu dan pengalaman menjinakkan hati venus hanya akan menjadi bumerang ketika semuanya berjalan dengan tulus. Percayalah, ketika tulang rusuk atau imam itu telah ditemukan, semua perjalanan dan cerita tentang menyinggahi banyak jiwa tidak akan ada gunanya lagi, kecuali hanya sebagai duri usang yang nyangkut di tenggorokan.

Manusia dalam gelap pencariannya hanya membutuhkan kejujuran, bukan kamuflase interaksi ataupun  setumpuk teori cinta. Air mata dan sakit hati telah menjadi dagangan laris layar televisi, jadi buat apa lagi dibawa-bawa ke dunia nyata?. Setiap orang tahu bahwa memori manusia lebih canggih daripada PC, tapi tidak setiap orang pandai memperlakukan kenangan. Maka lagu-lagu nostalgia dari dulu selalu laris manis seperti pisang goreng. Kalau ada yang menyangka bahwa jarak tempuh dan jam terbang adalah segalanya, maka cobalah untuk berpikir ulang. 

Jangan paranoid dengan yang namanya usia, karena siapa pun pada akhirnya akan membuang jasad usang itu ke liang gelap kuburan. Tali itu telah sangat jelas, maka berpegang teguhlah pada-Nya. Ini memang tidak mudah, karena siapa sesungguhnya yang tidak pernah terperosok ke dalam jurang gelap laku empiris dan fantasi?. Tapi ingatlah sosok Bung Anwar, si penyair bohemian itu yang sudah lama terbaring di Karet. Bahkan dia pun pernah merintih, “Tuhanku, aku hilang bentuk, remuk. Tuhanku, aku mengembara di negeri asing. Tuhanku, di pintu-Mu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling.”

Langit merah jambu telah kelabu oleh hujan meteor, tapi aku tidak akan merayakannya. Aku hanya akan berjalan. Ya, Inilah setapak kecilku. Setapak kecil yang tidak akan pernah membawaku kemana-mana, sebab ini adalah perjalanan ke dalam jiwa. [ ]     
      

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai