31 August 2012

Punggung Baju Hitam

"And I shan't recover this time. I begin to hear voices, and I can't concentrate. So I am doing what seems the best thing to do. You have given me the greatest possible happiness." (Virginia Woolf)

Kalau Bung turun di halte busway Rumah sakit Islam--Cempaka Putih, Bung boleh masuk ke gang yang gapuranya berwarna merah, di sebelah toko besi, persis di seberang kampus Yarsi. Kira-kira sepuluh meter dari mulut gang, Bung akan mendapati jembatan yang cukup panjang, yang memotong anak sungai Ciliwung yang kotor dan bau busuk. Tepat di ujung jembatan tersebut, Bung boleh belok kiri dan menyusuri jalan setapak yang kotor oleh daun-daun mati yang berguguran dari pohon rambutan yang cukup rimbun. Itu adalah jalan setapak yang buntu, sebab di ujungnya Bung hanya akan mendapati sebuah kursi yang menghadap sebuah rumah yang sederhana dan tidak terlalu bersih, penghuninya entah siapa. Konon rumah itu penuh oleh hantu dan juga dihuni oleh seorang laki-laki yang misterius. Saya tidak tahu persis. 

Setiap sore, atau jika kerja sampai malam, dan saya melewati gang tersebut, maka saya akan mendapati orang yang tengah duduk di kursi yang menghadap rumah sederhana. Hanya punggungnya saja yang terlihat, sebab kursi punya senderan yang tepat di kepala. Sebuah anatomi kursi yang cukup aneh memang. Orang yang duduk di kursi itu, entah kenapa selalu saja memakai baju hitam. Sekali waktu saya pernah bertanya kepada orang-orang yang rumahnya berada tidak jauh dari rumah sederhana, tentang siapa sebenarnya orang yang suka duduk di kursi tersebut, tetapi mereka tak ada satu pun yang tahu. Hanya informasi samar saja; katanya orang yang suka duduk di kursi itu adalah orang gila yang cita-citanya tidak kesampaian. 

Saya jadi penasaran. Maka demi mengobati rasa penasaran, saya coba memberanikan diri untuk mendekati orang yang tengah duduk di kursi dan memakai baju hitam tersebut. Sore menjelang maghrib, sepulang kerja, setelah melewati jembatan, saya langsung belok kiri. Orang yang duduk di kursi jaraknya kira-kira tiga puluh puluh meter. Saya berjalan perlahan dan sedikit mengendap. Bunyi sepatu yang bergesekan dengan daun-daun mati membuat saya melangkah lebih perlahan dan hati-hati. Sementara orang yang tengah duduk di kursi tetap diam tak bergeming. Saya terus melangkah. Kira-kira tujuhbelas meter lagi ke arah orang yang tengah duduk, entah kenapa, tiba-tiba perut saya mules. Kontraksi tingkat tinggi. Keringat dingin mulai keluar. Sialan, makan apa saya tadi?. Atau hanya demam panggung?. Maka saya langsung balik kanan dan ambil langkah seribu, tidak menoleh lagi ke si punggung berbaju hitam. 

Besoknya saya coba lagi untuk mendekati si punggung berbaju hitam. Tapi sore menjelang malam itu dia tak ada. Entah ke mana. Mungkin sedang di rumahnya. Apakah saya langsung pulang?, tentu saja tidak. Karena lihatlah saya akhirnya menuju sederhana itu. Sepi. Halamannya kotor. Rumput tumbuh liar seperti brewok Tom Hank dalam Cast Away. Anak sungai Ciliwung yang berada persis di sebelah rumah itu menebar aroma busuk mencucuk hidung. Penerangan di halaman sangat minim, hanya sinar kecil yang berpendaran dari lampu lima watt di teras depan. Jendela dan pintu tertutup rapat dan bergorden. Pohon beringin besar yang tumbuh di samping rumah membuat suasana semakin mencekam. Rumah hantu yang sempurna. 


Saya dibesarkan oleh zaman ketika infotainment mengusai televisi dan koran. Maka jangan heran jika tindakan saya selanjutnya adalah mengendap-ngendap hendak mengintip lewat jendela yang mungkin saja ada celah gorden yang tersingkap. Lampu di dalam tidak ada yang dinyalakan, atau memang tidak ada alat penerangan sama sekali?. Saya mendekali jendela, ketika hendak melihat ked lam melalui kaca yang berdebu, tiba-tiba lampu di dalam menyala. Reflek saya melompat ke arah pintu dan langsung terduduk  sambil mengatur nafas. Sialan!. Tak ada suara. Hening. Tapi tiba-tiba dari dalam terdengar suara mesin tik. Hari gini masih ada yang memakai mesin tik?. Saya teringat laptop di kamar kontrakan. Mungkinkah saya sedang memasuki lorong waktu?. Mesin tik terus berbunyi. Suaranya merisaukan. Tak terasa hari mulai gelap. Adzan maghrib berkumandang. Suara mesin tik berhenti. Barangkali si penghuni rumah itu sholat. Saya tunggu dia. Setelah sepuluh menit lewat, mesin tik berbunyi lagi. Tapi kali ini disertai suara orang yang sedang bernyanyi. Ya, orang itu bernyanyi pelan. Tunggu, bukankah saya mengenal lagu ini ? :  

“When you were young and on your own. How did it feel to be alone?. I was always thinking of games, there always playing, trying to make the best of my time. But only love can break your heart, try to be sure right from the start…”  

Seperti penuh perasaan dia bernyanyi, tapi entahlah, saya tidak tahu persis, saya bukan juri Indonesian Idol. Saya masih terduduk di depan pintu, takut diketahui si penghuni rumah. Tapi saya harus segera berdiri dan pergi, sebab hari semakin gelap dan saya belum sholat maghrib. Saya tunggu waktu yang tepat. Mesin tik terus berbunyi dan dia terus bernyanyi, kini suaranya semakin keras. Nah, ini dia kesempatan saya untuk pergi. Suara keras dari dalam mungkin bisa menutupi langkah kaki yang mencium bumi. Saya hitung mundur : lima..empat..tiga..dua..satu.., dan hap..saya melompat ke halaman dan berlari meninggalkan rumah hantu itu. (an unfinished story)

 

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai